Nassib Gadis Yatim & Miskin

Nassib Gadis Yatim & Miskin
Berkebun


__ADS_3

Ayah yang membawa Nenas cukup banyak, dan Aku membawa cabe sedangkan Yani membawa parang.


"Alhamdulillah, sudah sampai, bawa sini capenya." kata ayah sambil mengambil cabe yang ku bawa.


"Ini, air di minum dulu ayah Afrizal." Kalau di depan anak-anaknya, ibu selalu memanggil Ayah dengan sebutan Ayah Afrizal.


"Makasih, Ibu." cuma dengan senyuman Ibu membalasnya.


Ayah beranjak ke parit/ sungai kecil, untuk memberikan diri.


Ayah melaksanakan Sholat Zuhur di dalam pondok, sedang Aku dan saudara yang lain bermain di samping pondok yang gak kena panas. Aku, Yani, dan Yuni asik bermain jual-jualan, Abang-abang Ku asik bermain tanah, Tanah di galinya setelah itu di buat berbentuk macam mainan seperti mobil-mobilan, dan jugaa buat sumur main-mainan.


Kebahagian yang tak pernah terulang kembali, walaupun badan penuh keringat, kaki dan tangan penuh dengan tanah, panas-panasan, walaupun capek, Tapi waktu itu sangat-sangat bahagia, Tampa ada beban, kebersamaan, canda gurau bersama, ketawa bersama, bermain bersama. memang sangat indah waktu masa kecil dulu.


Tak terasa Ayah dan Ibu udah selesai sholat, asiknya bermain sehingga enggak ingat waktu, Abi dan Gunawan sedang tidur siang.

__ADS_1


"Zal, bawa adik dan Abang mu sini, kita makan siang lagi." Panggil Ibu,


"Iya, Bu, jawab Ku." Aku yang jawab, Abang Ku, karena asik main enggak dengar Ibu manggil.


Setelah semua berkumpul Ibu mengeluarkan nasi dan lauk yang di bawahnya tadi. Kami makan dengan sangat lahap. Dengan hembusan angin membuat kenikmatan makan menjadi bertambah. lauk kami hari ini adalah, goreng ikan asin Sembilang, sambal belacan/ terasi, rebus daun ubi dan tumis kangkung sayurnya, dan ikan tangkapan Ayah kemaren.


Waktu itu Aku dan saudara Ku sangat bahagia sangat, waktu itu cuma bisa jadi kenangan yang tak kan pernah terlupakan seumur hidupku, sampai saat ini. walaupun Aku udah mempunyai anak Dua.


Sorenya kami pun membereskan semua peralatan makan tadi dan memyusun asil panen, Karen hari udah petang/ sore. waktunya pulang ke rumah.


Dalam perjalanan pulang ke rumah satu keluarga kecil yang masih utuh itu berjalan kaki dalam keadaan bahagia dan senang, ketawa bersama, main kejar-kejaran di. sepanjang jalan, Aku dan Yani yang selalu seperti kucing dan tikus, Abi selalu ketawa dan mengoceh sendiri di atas sepeda, sepada yang didorong Ayah, sedangkan Gunawan tidur anteng dalam gendongan Ibu. sungguh kebahagiaan yang tak bisa di ulang kembali.


"Yani, pendek juga kecil . . . . " ejek Ku sambil berlarian.


"Kakak yang enggak punya etika." balas Yani sambil melempar tanah ke arah Ku.

__ADS_1


"Biyar, yang penting kak, bisa buat Yani kesel." sambil menghindari lemparan Yani.


"Iiihhhh . . . . . Kakak resek banget sih. .. ."


"Kenapa sih, Aku punya kakak kayak kamu kak."


"Yebelin, cerewet, tukang buli adiknya, iihhh pokoknya yebelin." kata Yani sambil menghentakkan kakinya ke tanah, dan bibirnya sepanjang jemuran.


"Ju, ko kayak gitu sama adiknya, tu lihat adiknya merajuk." kata Ayah.


"Maaf, Ayah. habis enak garain Yani."


"Ju, coba lihat Yuni, udah jauh jalannya, cepat kejar." Aku berlari mengejar Yuni yang menyusul abang-abangnya.


Di sepanjang jalan satu keluarga kecil itu sangat menikmati jalan pulang. berjalan kaki sambil menikmati terbenamnya matahari, keindahan alam yang sangat menakjubkan, Aku dan keluarga ku sangat menikmati pemandangan itu, Aku dan keluarga ku sangat menikmati perjalanan ini. beryanyi, bermain, dan berlari itu lah yang Aku dan saudara Ku lakukan.

__ADS_1


__ADS_2