Nassib Gadis Yatim & Miskin

Nassib Gadis Yatim & Miskin
Kebahagian


__ADS_3

Pukul 4.30 azan berkumandang, bertanda subuh telah tiba. Ibu dan Ayah, segara menunaikan ibadah shalat subuh berjemaah, habis sholat seperti biasanya Ayah dan Ibu akan membaca surah Yasin dan Al-Khafi, Ayah dan Ibu adalah pasangan yang sangat harmonis, apalagi dalam agama dan mendidik anak-anaknya.


Pagi Minggu yang cerah, seperti hatiku yang sedang bahagia, karena hari ini Ayah Ku enggak kerja jadi ini kesempatan Aku dan saudaraku yang lain untuk bermain dan berjalan dengan Ayah.


Ibu sedang asyik membuat kue dadar, hampir setiap hari ibu membuat kue. setiap pagi Ayah sarapannya kue, jadi setiap pagi Ibu ku membuatnya untuk Ayahku tersayang.


Ibu tak pernah lelah membuat kue. terkadang kue kering maupun basah, Ayah tak terbiasa makan nasi di pagi hari.


Pukul 06.00 pagi Aku sudah bangun dan membuka jendela, karena pintu udah di buka tadi sama Ayah.


Aku pun kekamar mandi untuk membersihkan diri, Tak sengaja Aku lihat Ayah yang sedang duduk sambil memakan kue dadar buatan ibu.


"Ayah, assalamu'alaikum. . . .. " sapa Ku, sambil menghampiri Ayah.


"Waalaikumsalamwarahmatullah. . . Anak gadis Ayah udah bangun?"


"Hehehhehe. . . . . .baru bangun Ayah, Dan. juga baru siap mandi." jawab Ku sambil garuk-garuk kepala yang gak gatal itu.


"Oooooooo. . . ... Adik-adik dan Abang-abang. belum pada bangun?" tanya Ayah.


"Ha ha ha. ya belum lah Ayah." jawab ku.


"Hem Hem. . ya wudah, Ayah mau kebawah. Meu siap-siap untuk ke kebun." kata ayah, sambil beranjak dari tempat duduknya.


"Ayah, kakak, ikut ya." Aku memelas ke Ayah dengan gaya memohon. ha ha ha ha


"Coba tanya Ibu sana? lau mau kita semua ke kebun, mumpung ini Ayah enggak kerja dan mumpung hari Minggu." kata Ayah memberi saran.


"Oke, Ayah. kakak tanya Ibu dulu ya." kata ku sambil berlari ke dapur.


Berlari menuju dapur dengan kegirangan.


"Ibu, apa masih masak." tanya Ku.


"Bentar lagi juga selesai." jawab Ibu sambil mengaduk gulai.


"Nanti, kalau sudah selesai biyar kakak yang mencuci piring nya ya, Ibu." Aku sambil melihat-lihat cara ibu memasak.


"Ya, kakak." balas Ibu.

__ADS_1


"Oya. Ibu, ini kan hari Minggu, gimana lau kita ikut Ayah ke kebun." tanya Ku ke Ibu.


"Hem Hem. . .boleh juga, apa kakak udah bilang sama Ayah." tanya Ibu.


"He he he. . .sudah Ibu. makanya, kakak tanya Sam Ibu, he he he he he .... mau ya Ibu." kata Ku lagi


"Ya, udah bilang sana sama Ayah, kita ke kebun pagi ini. dan tolong Ibu siapin yang mau di bawa ya kakak "


"Siap, Bos. . . .he he he. . ." sambil cengengesan Aku itu.


"Ehh. . kakak, banguni dulu adik-adik dan Abang-abang sana. bilang kita mau ke kebun, pasti cepat bangunya." kata Ibu.


"Iya, Ibu." jawab Ku sambil menuju ke kamar.


Sesampai nya di depan pintu kamar, Aku bukannya masuk tapi.


"Wii woi. . . kebakaran-kebakaran." teriak ku, sambil mengedor pintu kamar.


"Kakak, kamu gapain, ko kayak gitu membanguni saudranya." kata Ibu, di dapur, dapur dan kamar enggak palah jauh.


"He he he he he. ..maaf Ibu, habis susah di banguni." ha ha ha ha ha Aku sambil ketawa.


"Ya, memang ada maling ko. . . .maling enggak mau bangun. ha ha ha ha ha ha."


"Emang, resek kakak ini ya, orang enak tidur kok." dengan wajah kesel Yani menjawab, dan dengan keadaan yang masih mengantuk.


"Ha ha ha ha. . .. emang kenapa, ha. apa kamu mau di tinggal."


"Tinggal keman?" tanya Yani yang tiddur kembali.


"Ibu, dan Ayah. mau ke kebun dan kamu tinggal ya Yani." kata ku sambil beranjak dari depan kamarnya.


"Eh eh eh eh. . . . kakak resek banget sih. ya Yani enggak mau di tinggal lah. Oeya, apa Ayah enggak kerja kakak?" Yani baru sadar bahwa Ayah enggak kerja.


"Enggak, Ayah dan Ibu lagi siap-siap nak berangkat ke kebun. siapa lambat, pasti di tinggal. bay bay bay." kata Ku sambil ketawa ha ha ha ha ha.


"Ihhhhhhh kakak yebelin." kata Yani, sambil ke kamar mandi.


"Ju, mana Ayah." tanya Abang Ku yang nomor dua.

__ADS_1


" Tu di bawah, lagi memasang tempat duduk di sepeda." kata Ku.


Waktu itu sepeda lah alat untuk berpergian, motor/Honda susah di jumpai waktu itu, cuma satu-satu yang punya, siapa yang punya Honda waktu itu. Dia udah termasuk orang paling terkaya. apalagi mempunyai TV. orang yang mempunyai sepeda juga dah termaksud orang berada, Dan. tak ada namanya aliran listrik, dulu cuma pakek mesin/ jenset bahasa sekarang.


Karena semua udah selesai dan beres, waktunya untuk berangkat.


"Abi dan Gunawan duduk di sepeda ya, dan yang lain jalan ya." kata Ayah, sambil menaikkan adik-adik Ku kesepedanya.


"Siap Ayah." jawab kami serempak.


Dengan semangat empat lima kami satu keluarga berjalan kaki pergi menuju kebun. dalam perjalanan Aku dan Yani selalu berdebat, dan Abang-abang ku main kejar-kejaran di sepanjang jalan.


"Ulung, coba kejar Aku." kata si Abang yang nomor dua ke Abang yang pertama.


Abang pertama pun mengejar adiknya, yang sudah hampir jauh itu. Abang Ku itu ada kurang-kurangnya. bisa di bilang ada ganguan jiwanya. meskipun begitu kami tetap saling menyayangi satu sama lain. Ayah dan Ibu melihat kami bahagia, Ibu dan Ayah pun tersenyum, kebahagian itu enggak perlu dengan kemewahan atau apalah itu. tapi dengan kita menyukuri apa pun yang kita punya insyaallah rasa bahagia itu selalu datang.


Sedangkan Aku dan Yani, kayak kucing dan tikus.


"Yani . . . .. .jelek kayak ketek." Ejek Ku kepada Yani.


"Iiiihhhhh. . . . . .kakak jahat"


"Ayah, kakak di ejeinnya Yani, kata kakak Yani jelek kayak ketek." Adu Yani ke Ayah.


"Ayank. . .. jangan lah kayak gitu sama adiknya." kata Ayah sambil mendorong sepeda.


"Hehe he he. . . maaf Ayah." jawab Ku, sambil menarik baju Yani.


"Iiihhh. .. .dasar tukang gadu.," bisik ku ketelinga Yani.


"Ibu. . . . .kakak yebelin dan kurang kerjaan, Ibu. Yani, tendang kakak ya Bu, biyar sampe ke pelanet peluto." nyenyel Yani dengan keadaan kesel, karena di jahili kakaknya.


"Ha ha ha ha. . . . . anak-anak Ibu ini, ada-ada saja tingkahnya. ya udah coba sana Yani coba tendang kakaknya biyar sampai ke pelanet peluto itu yang Yani bilang tadi." Ibu sambil berjalan beriringan dengan Ayah, Ibu yang memegang bakul nasi.


"Ok, akan Yani buat Kakak berada di pelanet peluto itu, biyar tau rasa kakak enggak ada kawan." Yani sambil berlari mengejar Ku.


"Ha ha ha ha ha . . . coba saja kalau bisa." Aku juga berlari menjauh.


Aku dan saudara yang lain tak sadar jalan yang kami tempuh sejauh tiga kilo, teryata udah sampai di depan kebun sendiri. yang tadi kami banyak melewati kebun-kebun orang. Dengan indahnya pemandangan hutan dan buah-buahan yang ada di setiap kebun orang itu. di sepanjang jalan banyak sekali pohon tebu, ubi, pisang, ubi jalar, nangka, jambu air, dan sayur-sayuran yang menghijau. buah-buahannya ada yang udah masak, ada juga pentilnya. membuat suasana jadi sejuk dan indah.

__ADS_1


__ADS_2