
Di rumah terlihat orang begitu ramai, Aku berlari secepat kilat menuju rumah. Aku tersentak kaget melihat Ibu menangis tersedu-sedu. Pikiran Ku melayang.
Kondisi Ayah semakin parah. Udah banyak para Dukun yang mengobatinya tetapi tidak ada hasilanya.
Pak Alang yang selalu ada di samping Ayah terlihat sedih.
Ada yang mengatakan tak ada kesempatan untuk Ayah sembuh seperti sedia kala.
Dukun itu bilang raja makhluk halus/ gaib itu tak mau berdamai, Katanya. Nyawa ganti nyawa.
Aku merasa terhenyak mendengar itu semua, meskipun Aku tahu hidup mati seseorang hanya Allah yang tahu.
Di dalam kamar ada Atan Ipin/ Atuk Ipin. beliau adalah khilafiah di desa Ku, dan beliau adalah Atan/Atuk dari sebelah Andung/ nenekku.
Terlihat beliau sedang membaca ayat-ayat Al-Qur'an di samping Ayah.
Aku merasa seperti Ayah telah tiada, tidak ada sama sekali pergerakan dari Ayah, cuma ada nafas aja yang terlihat, badan Ayah sudah tinggal tulang.
Memang bangsat tu makhluk halus. makhluk itu menyiksa Ayah habis-habisan. Aku sangat benci. Ku ingin membantu Ayah dan meringankan sakit yang diderita Ayah,Tapi. kayak mana? Aku hanya bisa menangis meratapi semua yang terjadi.
Aku merasa anak yang tak berguna. Aku menyalahkan diriku yang tak bisa melakukan apapun. Aku cuma hanya bisa melihat dan melihat keadaan Ayah. Aku cuma menangis dan menangis melihat Ayah yang sedang menahan sakit.
Di dalam hati aku berkata. seandainya Aku bisa melihat makhluk halus itu pasti udah Aku bunuh mereka, apa maksud mereka membuat Ayah Ku seperti ini. Apa mereka enggak tahu Kami semua masih kecil-kecil, kami masih membutuhkan perlindungan dan kasih sayang Ayah. apa mereka enggak punya hati dan perasaan. itu lah pikiran Ku waktu itu.
Seragam sekolah masih melekat di tubuhku.
"Ju, ganti pakaian mu dulu." kata tetangga A, dan menyadarkan lamunan Ku.
Aku tak menjawab, Tapi aku anggukan kepala pelan dan beranjak masuk kedalam rumah, Aku melihat adik-adik Ku pada tidur siang. Abang-abang Ku entah di mana?
"Ju, makan dulu, nanti kamu sakit lagi." ucap tetangga A.
Aku hanya mengangguk kepala pelan, aku menuju dapur, perut yang tadi terasa kelaperan sekarang hilang sudah di telan bumi yang tak bersahabat itu.
Selera makan ku sudah hilang.
Menangis adalah satu-satunya yang ku inginkan sekarang, sebalik pintu dapur Aku menangis sejadi-jadinya, Aku takut seandainya ayah pergi meninggalkan Aku dan saudaraku, Apa yang akan terjadi, Siapa yang mengajar ku mengaji, siapa yang akan mengajarkan ku bermain musim, Ayah telah berjanji ingin mengajarkan ku bermain musik. kalau tak ada Ayah siapa yang mengasi kami makan, siapa yang bercerita sebelum kami semua tidur, siapa yang harus Aku panggil Ayah lagi, Siapa siapa siapa.
__ADS_1
Ya Allah Kami masih kecil, sembuhkan lah Ayah ya Allah, aku enggak mau kehilangan Ayah ya Allah, di dalam hati aku memohon sambil menangis tersedu-sedu.
"Nak, ko malah nangis, Bukan nya makan.?" tanya Ibu, dengan senyuman yang membuat hatiku sejuk.
"Iya Bu, Ayah. . . . ." kata ku sambil menangis.
"Ayah, enggak apa-apa, kita doakan semoga Ayah cepat sembuh dan bisa bermain bersama kita lagi." jawab ibu, sambil membelai rambut panjang ku.
"Ya sudah, sana makan dulu, Ibu mau buat bubur untuk Ayahmu."
Karena Ibu yang gomong jadi Aku enggak bisa bantah, dengan isakan Aku menuju sangai/ penutup makan, aku makan dan Ibu melihat ke arah ku dengan seulas senyum i bibirnya, senyum yang artinya Ayah baik-baik saja.
Aku teringat ada janji dengan teman-teman.
"Ibu, kakak rumah Desi, sebentar ya." selesai makan Aku mencuci piring yang lumayan banyak.
"Pergi lah, jangan terlalu dipikirkan Ayah akan sembuh kok." kata ibu, untuk menguatkan ku.
"Iya, Bu." Ku jawab dengan suara pelan, Tapi masih di dengar Ibu.
Desi dan yang lain telah bermain. Aku lihat semua teman-temaku bermain sambil ketawa dan bergurau, tadi lagi sedih sekarang jadi senang dan Aku pun tersenyum, dan melupakan bahwa tadi aku menangis dan sejenak melupakan bahwa ada musibah.
"Iya, habis kamu lama sih." jawab Desi.
"Iya, maaf, di rumah lagi rame orang."
"Ooooo . . . gimana keadaan Ayahmu?" tanya Eme.
"Tadi aku lihat kau menangis kan?" tanyanya lagi.
"Iya, penyakit Ayah semakin memburuk, Dan. kata duku itu Ayah ku tak punya kesempatan lagi, Nyawa ganti nyawa kata nya." jawab ku panjang lebar.
"Masak kamu percaya Ju, hidup mati hanya Allah yang tahu, ya kan Woi." jawab Desi mencelot.
"Iya, Aku tau Des, Tapi entah mengapa . . . . .. ah . . sudah lah . .aku sini mau main bukan mau curhat, apa kalian enggak gasi aku main ha." omel ku, menghilangkan rasa sedih.
"Ya elah Ju, ya wudah kita main aja dari pada sedih-sedih kan lebih baik main." jawab Yati si anak kepala sekolah.
__ADS_1
Sejenak aku merasa bahagia bersama teman-teman ku, bermain lompat-lompat karet adalah permainan kesukaan ku walaupun setinggi apapun pasti bisa Aku jangkau.
Bosan dengan permainan yeye/lompat karet, Kami ganti dengan permainan tali Jepang,. cara mainnya karet itu DI ikat ujung ke ujung jadi menyatu setelah itu Tarok di kaki dua orang yang saling berhadapan,.
Masih banyak permainan yang kami main waktu itu, kami juga bermain kuaci dan guli/ kelereng, main umpatan lidi di tanah, main kinking, dan juga main buah Simbang dari kulit kerang itu Lo, ada pake bola, ada juga tidak. pokoknya seruh deh.
Saking asiknya bermain tak terasa waktu sudah sore, semua kesedihan hilang sejenak.
"Waoi . . . aku pulang dulu ya, nanti Ibu nyariin aku." ucapku, Aku beranjak dari duduk mau pulang.
"Bareng pulangnya Napa Ju." kata Yati.
"Iya ni, kita pulang bareng bertiga aja." Eme yang Nibung.
"Ya, ayo. . . . "
"Hemm. . . . .kami pulang dulu ya San, besok kita jumpa di sekolah." jawab Yati.
"Oke. " jawab Desi.
"Dah dah . . . .kami pulang dulu, awas nanti ada hantu di sebalik pintu kamar mu Des. . . ." ucapku sambil melenggang dan melambaikan tangan.
"Weeeelll . . . . enggak takut. . ."
"Tu di samping ada kain putih Des." kata ku, sambil mengejutkan nya.
"Memang kau ya Ju, kawan kurang DDI hajar, Ku lempar kau nanti pakek kulit kerang ini." jawab nya kesel, di hampir terjatuh kerena kaget.
"Ha ha ha ha. . . . .coba kalau bisa." tantang ku ke Desi.
"Kita pulang atau main lagi." ucap Yati.
"Entah ni Iju, usil aja kerjaannya." timbung Eme.
"Kita tinggal aja yuk Me." ajak Yati ke Eme.
"Iya ayok, kami pulang Ju."
__ADS_1
"Eeh. . . . .tunggu woi. . . ." sambil berlari mengejar Yati dan Eme.