
Sesampainya di kebun milik keluarga kami Aku dan yang lain pun berlari ke pondok yang belum jadi itu, pondoknya cuma berdinding setengah dan ajap/seng. Atap terbuat dari daun Nipah. karena asik berlari si keriwul terpeleset dan menangis. ha ha ha ha
"Ibu, ati Yuni atit. . . . . ." Yuni ke Ibu sambil menangis.
Si keriwul itu namanya Yuni atau juga boleh di panggil Atik Jao, panggil kesayangan Ayah. lau panggilan kesayangannya Ayah ke Aku Ayank. lau untuk Yani suntal, Abang pertama Kabel, Abang yang kedua endot. memang agak aneh si nama-nama yang di kasih Ayah Ku itu, tapi itu lah panggilan kesayangan Ayah untuk kami semua sampai sekarang Aku memangil saudara ku dengan panggilan kesayangan Ayah, itu kenang-kenangan dari Ayah.
Ibu pun menghampiri Yuni yang sedang menangis kesakitan, kakinya masuk kedalam tanah, tanahnya tanah gambut hitam.
"Uuuuhhhh . . . . anak Ibu, yang manis jangan nangis, nanti kita memanen jagung, setelah itu kita rebus apa Yuni mau." bujuk Ibu ke Yanu.
"Yuni, mau Ibu." Yani dengan girangnya menjawab perkataan Ibu.
"Ya, udah bersihin dulu kakinya. setelah itu baru kita memanen jagung." kata Ibu, sambil mengendong Yuni ke parit/ sungai kecil, untuk mencuci kaki Yuni.
"Kakinya kan udah bersih, Yuni pakek sendalnya ya." Ibu sambil menyodorkan sendal jepit ke Yuni aliyas rambut mie instan.
ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha
Ibu dan Yuni menuju ke belakang pondok untuk memanen jagung, biyar nanti ada yang bisa di makan lau udah capek bermain.
"Kakak, ayok sini dengan Ibu, kita memanen jagung aja, lau yang itu nanti aja." Ajak Ibu, Aku yang lagi asik menggali ubi jalar, Aku pun meninggalkan perkerjaan Ku dan bergegas mengikuti Ibu.
"Ayok . . . nanti di kakak rebus ya Ibu, oea, Yani mana? Ibu."
"Tu, di sana dari tadi asik mengikuti Ayahmu." jawab Ibu.
"Suntal/ Yani, kau gapain di situ.?" jerit ku
__ADS_1
"Lagi bantuin Ayah memanen cabe kakak Ku yang cerewet dan bawel." jawabnya sambil menjulurkan lidahnya kearah Ku.
"Ooooo . . .gitu. .ya udah Aku, Ibu, dan Yuni memanen jagung." balas Ku.
Ayah dan Yani memetik cabe, Aku, Yuni dan Ibu. memetik jagung, sedang kan abang-abang ku itu, berlari kesana-kemari.
Habis memetik jagung Aku dan Ibu mengupasnya untuk direbus. jagung yang kami panen adalah jagung kampung. Sedang kan Yani sudah lumayan banyak panen cabenya, bisa di bilang udah hampir penuh goni yang sepuluh kilo itu.
"Ayah, Yani udah banyak memetiknya, ni coba Ayah lihat." Yani menyodorkan cabe yang sudah dia petik tadi.
"Wah, anak Ayah memang pinter. ya udah masuk kan aja kedalam goni itu." kata ayah sambil menunjuk goni yang berisi cabe hasil petikan Ayah.
"Baik lah Ayah." melangkah ke arah goni, dan memasukan cabe yang dipetik tani tadi.
Yani sangat semangat membantu Ayah memetik cabe walaupun terik matahari udah hampir tengah hari.
Aku sedang mengumpulkan kayu untuk merebus jagung, Aku juga membuat tungku dari kayu yang ada. semua bahan sudah ada Aku pun menyalakan api dan mulai merebus jagung.
"Iya." jawab Ibu. Ibu enggak bisa kemana-mana karena adik-adik Ku yang dua itu, si Abi dan Gunawan.
Ubi jalar yang belum selesai Aku cabut. Aku pun mengalinya lagi dengan tanggan dan kayu, dengan usaha yang kuat akhirnya lumayan banyak ubi panenan ku.
Tampa rasa letih Aku pun pergi keparit/ sungai kecil, untuk mencuci ubi. setelah itu Aku pun kembali ke pondok dan merebus ubi yang ku bawa tadi.
Rebusan ubi dan jagung, Ku tunggal. Aku menuju ke Ayah dan Yani.
"Ayah, ubinya juga di panen Ayah?" taanya Ku.
__ADS_1
"Iya, Nak. nanti biyar bisa di bawa pulang juga."
"Oke, Ayah."
Aku beranjak meninggalkan Ayah dan Yani, Aku menghampiri abang-abang ku.
"Ulung, Anah. ayok bantu aku mengali ubi di sana." Ajak Ku ke abang-abang ku.
"Iya, ayok Ling" Si Afrizal mengajak Abangnya.
Kami bertiga menuju tempat ubi, dan dengan semangat kami mengali ubi. Cuma dua baris yang sanggup Aku dan Abang-abang Ku panen. lumayan banyak hasil panen Aku dan Abang-abang Ku, Aku dan Abang-abang Ku mengumpulkan hasil panen dan cukup banyak, hampir dua goni yang dua puluh kilo itu.
Lelah dan capek Aku dan Abang-abang Ku pun mengangkat hasil panen dan di bawa ke pondok.
"Ah. . . .akhirnya selesai juga." kata Ku sambil duduk dekat Gunawan.
"Ibu, Abang dan ulung capek, Abang mau minum lah."
Afrizal enggak pernah meninggalkan Abangnya, Afrizal berbagai minum dengan ulung, ulung yang sedang bermain dengan Abi.
Ibu menyodor kan ubi dan jagung yang Aku rebus tadi, sebelum makan Aku dan Abang-abang Ku mencuci tangan dan kaki terlebih dahulu, setelah itu barulah kami menikmati rebus jagung dan ubi.
"Ju, coba panggil Ayah dan adikmu, waktu udah hampir tengah hari." Ibu yang dari tadi asik melirik ke arah Yani dan Ayah, tapi gak ada Munjul juga.
"Iya, Bu." Aku beranjak dari tempat duduk menuju ke arah Ayah.
Di sepanjang jalan Aku sambil memakan jagung.
__ADS_1
"Ayah, Ibu bilang waktunya makan siang."
"Ya, ini Aya udah selesai, Nak, coba bawa ini, biyar Ayah bawa Nenas." Ayah menyodorkan cabe yang beratnya sekitar lima kilo, ke arah Ku.