Nassib Gadis Yatim & Miskin

Nassib Gadis Yatim & Miskin
Mimpi buruk


__ADS_3

Sore itu cuaca sangat lah indah, matahari tenggelam dengan meninggal kan warna yang sangat indah, di iringi kicauan burung dan Koko ayam. membuat suasana desa jadi damai, belum lagi dengan bunyi beduk bertanda magrib, dulu tak ada kedengaran suara azan cuma terdengar suara beduk.


Begitu terasa kental perdesaanya. susah di ungkapkan secara detail, Aku sangat menyukai waktu itu, Tapi. sekarang enggak pernah ku rasakan lagi.


Terlihat Ibu dari pigi/ sumur dan menenteng satu ember air ke rumah.


"Ju, jagain adik-adik ya, Ibu mau sholat."


"Iya, Bu."


Aku dan Yani berbagi tugas.


"Yan, coba lihat Ayah di kamar." suruh ku.


"Iya, kakak."


Gunawan duduk di depan ku, sambil mengoceh sendiri, sekali-kali aku mendangkapi ocehannya.


Tak berselang lama Pak Alang datang.


"Assalamu'alaikum." ucap Pak Alang, dan memasuki rumah.


"Waalaikumsalamwarahmatullah,"


"Ibu mana Ju?" tanya Pak Alang.


"Masih sholat Pak Alang." jawab ku singkat.


"Ulung nya mana Ju?" tanya Pak Alang, karena tak terlihat ada ulung/ Abang pertama di sini.


"Di kamar Ayah, Pak Alang."


Pak Alang berjalan menuju kamar di mana Ayah berbaring.


"Amah . . . " panggil Ibu. Pak Alang tak menjawab hanya seulas senyum di bibir saja.

__ADS_1


Pak Alang masuk ke kamar, Pak Alang menghela nafas dalam-dalam, melihat keadaan Ayah.


Malam semakin larut, Pak Alang pulang.


Tah kenapa malam ini Aku kepengen banget tidur di samping Ayah.


Aku mengambil bantal dan tidur dekat Ayah.


Dalam tidur itu Aku bermimpi, sangat aneh dan menyeramkan, Aku pikir itu hanya mimpi, rupanya seperti nyata.


Sekitar pukul 22.45 Aku terbangun dan melihat sekeliling, kenapa banyak orang? ada apa? apa yang terjadi?.


Aku berusaha mengumpulkan nyawa ku, Aku masih antara sadar dan tidak.


Terlihat banyak yang sedang mengaji, Dan Ku lihat Ibu menangis.


Apa yang terjadi?


Apa ayah?


Tidak tidak


Aku cuma terdiam melihat semua kejadian itu, Ku lihat Ayah yang sedang menggeliat menahan sakit dan terdengar seperti tulang retak, bunyinya seperti krek krek krek seperti itu lah bunyinya Ku dengar waktu itu. dari dalam tubuh Ayah.


Aku beranjak dari duduk dan pergi ke ibu.


"Ibu, Ayah kenapa?" tanya ku, dengan wajah yang masih gantuk.


"Enggak tau Nak, Ayahmu entah kenapa, dari tadi kayak gitu."" kata ibu sambil menangis, melihat kondisi ayah seperti itu.


"Ibu, Aku tadi bermimpi tentang Ayah."


"Mimpi apa Ju?" tanya tetangga A.


"Aku lihat Ayah di pukuli, Dan di cambuk juga oleh makhluk berjubah hitam, di sebuah ruangan, dan aku ingin menolong Ayah, Tetapi. Aku di tahan oleh dua makhluk serba hitam dan aku enggak bisa bantu Ayah, Aku juga memerontak tapi tenaga orang itu lebih kuat, Apa arti nya itu ibu?

__ADS_1


"Munkin itu petunjuk, bahwa orang itu enggak mau berdamai." jawab tetangga A


"Entah lah, Ibu juga Enggak tahu, hanya Allah yang maha tahu, semoga ayah cepat sembuh." ucap ibu, dan mendoakan Ayah.


"Aminnnn. . . ." jawab Aku dan tetangga yang lain.


Pagi yang indah itu berubah menjadi tegang dan kehawatiran, dengan kondisi ayah semakin hari semakin parah.


Andung/ nenek, Ibu dari Ayah, sedari tadi menangis dan meratapi anaknya yang tergeletak tak berdaya itu.


Andung enggak menyangka anak yang selalu ada untuknya itu sakit parah, anak yang selalu mengerti keadaannya, anak yang selalu lebih awal menjenguknya di hari raya, dan anak yang selalu meutamakannya.


Andung merasa terpukul dan terjatuh kelantai, Andung duduk sambil menangis.


Andung merangkak masuk kedalam kamar di mana ayah berada.


Andung enggak sanggup lagi menopang kakinya untuk berjalan ke kamar anaknya yang terbaring lemah.


"Ya Allah, Tan oi apo lah melantak kau Tan oi, Iko omak, Nak." Andung menguncang badan Ayah sambil menangis,


Tak ada respon sedikitpun dari Ayah,.


Kondisi ayah sekarang, mata melotot dan seluruh badan seperti di pelintir dan tulang nya berbunyi, seperti krek krek krek krek.


Andung semakin menjadi menangis dan meraung, tak sanggup melihat keadaannya.


"Ya Allah, ya Robbi, angkek lah penyakit Anak ku ya Allah, kasihanilah anakku ya Allah, anak-anak e padi masih kocik ya Allah." ucap Andung, sambil mengadahkan tanggan ke atas, beliau terisak-isak dalam tangisnya.


"Udah lah, Andung kasian ayah." ucapku, sambil memeluk Andung yang bersimpuh di depan Ayah.


Andung mengangkat kepalanya dan melihati ku.


"Oooo . . . Ju oi. . . tuan masih kocik-kocik, tapi Ayah kau sakii supo Iko ha, sapo yang nak memboi tuan makan, sapo yang melindungi kau dan adik-adik dan Abang-abang kau Ju oi, Andung tak bisa bayangkan doh." ucap Andung, sambil memegang pipiku,


Tak terasa air mataku jatuh mendengar ucapan Andung.

__ADS_1


"Insyaallah, Ayah akan sembuh Andung." jawab ku, untuk mendengarkan hati ini.


Andung hanya tersenyum dan mengusap kepala Ku.


__ADS_2