Nassib Gadis Yatim & Miskin

Nassib Gadis Yatim & Miskin
Sorenya ....


__ADS_3

pukul 12.00 siang Aku udah berada di rumah, Aku bermain dengan adik-adik Ku. Yuni yang imut dan comel juga tembem, rambutnya yang keriwul kayak mie instan endomi hahahahah. Yuni lah yang beda dari yang lain. sedangkan adik ku yang laki-laki juga comel, pendek sontot, iihh mengemaskan. lau di ingat-ingat. itu semua udah menjadi masa lalu yang sangat berharga.


" Yuni jangan jauh-jauh mainnya." kata ku sambil mengendong si bontot.


"Yuni, jangan keluar." kata ku lagi, karena Yuni nak ke depan pintu.


"Yani, Yani .... hoi apa gak dengar orang manggil apa?" Sewot aku jadinya, kenapa tidak coba yang ku momong sekali tiga bocil.


"Iya , ,... sabar Napa kak. Yani kan sedang gerjakan Pr, kak." balas Yani, sambil berjalan ke arah Yuni.


"Ya, nanti aja kerjain tugasnya, kita momong adik-adik dulu, Ibu kan lagi masak untuk makan siang." kata ku.


"Iya, deh, Yuni biyar sama ku aja mainnya." Yani langsung membawa Yuni kekamar, kerjain tugasnya sekalian jaga adiknya.


"Ya, wudah sana."


Yani anak yang periang, rajin dan pandai di sekolah,Yani selalu dapat juara atau rengking. beda dengan ku, ku cuma sering dapet rengking lima besar tau gak masuk sepuluh besar.


Tak berapa lama Kami bermain, Ayah dah pulang dari mencari ikan, hari ini Ayah pulangnya siang, munkin ayah menjual ikan dulu baru pulang kerumah.


Terlihat wajah letih Ayah yang baru pulang dari mencari ikan. ayah terduduk di samping pintu tengah, antara dapur dan ruang keluarga. seperti biasa Ibu selalu membuat kue kesukaan ayah, Ayah kami itu sangat suka kue basah.


"Mas ,.,., capek ya? ini kuenya dan air putih." kata ibu, sambil menyodorkannya.


"Terima kasih, Ibu." jawab Ayah.

__ADS_1


"Iya, Ayah, dah kewajiban seorang istri melakukan semua ini."


"Anak-anak mana? ko enggak kelihatan?" tanya Ayah lagi.


"Ada, anak-anak di depan bermain."


"Ooh, Ayah, lihat anak-anak dulu, di depan."


Ayah adalah segalanya bagi Aku, Abang dan adik-adik Ku. Ayah tak pernah pilih kasih sama anak-anaknya. Ayah selalu mencerminkan sifat baik kepada sesama manusia, apa lagi kepada orang tuanya, saling tolong-menolong sesama saudara dan tetangga, sopan dan santun, dan juga penyayang. Ayah adalah orang yang sangat berjasa dalam hidupku.


"Anak-anak, Ayah, lagi pada gapain?" tanya Ayah, menuju kearah kami semua.


"Ayah ,,,, ayah ,,,,, Ayah udah pulang?" tanya ku ke ayah, sambil menghampiri Ayah, dan mencium punggung tanggan Ayah.


"Sini, sama Ayah." ayah pun mengendong nya,..


Si bontot, melihat kakaknya di gendong ayahnya, dia pun merangkak kearah ayah dan bergantungan di kaki celana Ayah. Karena melihat si adik ingin di gendong juga Yuni pun turun dari gendongan ayahnya.


"Secarang diliran adik yang endong." kata Yuni si rambut kayak mie instan itu.


"Anak ayah, pinter." Kata ayah sambil mengusap kepala Yuni.


"Ini anak lajang ayah, tuah ayah, sayang ayah." Timang ayah ke anak lelakinya itu.


"Ini juga anak lajang ayah, cepat besar dan bantu Ibu ya, lau dah besar saling menjaga ya anak-anak Ayah." kata ayah lagi.

__ADS_1


"Iya, Ayah, itu pasti." Jawab Ku, dengan senyuman.


Dari jauh terlihat si Abang pulang dari bermain dan sambil berlari-lari kerumah.


"Ayah, dah pulang?" Tanya Afrizal si Abang itu.


"Udah, dari tadi ayah pulang nak. Abang dari mana aja?" Tanya Ayah.


"Abang, Tadi, pergi main-main sama teman Ayah."


"Abang, apa udah makan?" Tanya Ayah lagi ke Abang.


"Udah, Ayah . . "


"Oooo, ya wudah."


"Ayah, Abang minta uang untuk jajan boleh?" Kata si Abang.


"Abang, mau beli apa, ha." kata Ayah Sama Abang.


"Mau beli jajan Ayah, boleh ayah?" Abang sambil memelas di depan kami semua.


"Ni, jangan beli yang enggak boleh di makan ya " kata ayah sambil menyodorkan uang dua ribu.


"Makasih, Ayah." Abang pun berlari pergi.

__ADS_1


__ADS_2