
Pagi Sabtu, Dimana hari ini pengumuman kelulusan semua murid.
Walaupun beberapa hari yang lalu semua ujian Nasional sudah selesai.
Keadaan Ayah pun semakin memburuk, tak ada tanda untuk bisa sembuh.
Semua murid berkumpul di dalam kelas.
"Woi, teman-teman ku yang caeem dan chomel kayak marmut." Desi yang baru masuk kelas dan menyapa kami seperti itu.
"Hei. . .tu mulut atau keresek sih." jawab ku, kesel kali mendengar ocehannya pagi-pagi.
"Ya tu, bukannya mengucap salam." timbal Yanti.
"Memang kantung sampah di jalan ini anak." jawab Eme sangat lah hadeh. . . . .
"Iiihhhh . .. . . kalian pada kenapa sih?" tanya nya, Desi sambil menghampiri teman-temannya.
"Kamu tu ya, punya otak enggak." jawab Eme ketus mulai kesel .
"Ya punya lah, lau enggak punya berarti bodoh dong." jawab nya Tampa menyadari ucapannya.
"Lau punya, enggak usah kayak gitu, apa kamu merasa enggak deg-degan, ha . . .?" ucap Eme yang masih kesal.
"Ya, enggak lah, emang kenapa harus deg-degan?" tanyanya balek.
__ADS_1
"Eh. . . .emang goblok kau ya Des, apa kau lupa hari ini kita melihat kelulusan kita." dengan mengatur nafas, karena Eme dah terlalu kesal sama tu anak.
"Waduh. . . . aku lupa, sorry lah." sambil menepuk jidatnya dan ketawa.
"Emang kamu tu ya."
"He he he he he he he he he he."
Buk Ila dan kepala sekolah memasuki ruang kelas.
"Assalamu'alaikum, anak-anak." ucap Bu Ila.
"Waalaikumsalamwarahmatullah, Bu." jawab serentak semua murid.
"Baik lah anak-anak, Jadi. selama enam tahun kalian di sini dan bersama Ibuk, jadi kalau kalian udah lulus tolong jangan pernah lupain Ibuk guru Dan Pak guru kalian di sini ya, dan pengambilan ijazah kerumah kepala sekolah ya." kata Ibuk Ila.
"Assalamu'alaikum, anak-anak. Alhamdulillah, kalian semua lulus dan kalian harus bersyukur, dan lanjutkan ke jenjang selanjutnya, ketika anak-anak masuk kesekolah yang baru tolong jaga perilaku dan sopan lah sesama kawan, hargai guru dan taati guru, jangan jadi anak yang pelawan ya, ingat carilah ilmu itu walaupun sampai ke negri seberang, capai lah cita-cita kalian dan jangan lupa hormati orang tua kalian Tampa mereka kalian tak ada apa-apanya. Ilmu itu sangat penting, Tapi ilmu Tampa adap pun tak ada gunanya, jadi imbangi." ucap kepala sekolah panjang lebar.
"Siapa yang mendaftar ke Sanawiah, dan siapa yang masuk ke SMP, apa ada yang ingin masuk pesantren?" tanya Buk Ila.
Banyan juga yang mengangkat tangan yang ingin masuk ke Sanawiyah termaksud Aku dan teman-teman ku.
Ada juga yang ke SMP, dan juga ada ke pesantren.
Semua murid bahagia dengan kelulusannya, ada yang mengucapkan Alhamdulillah, ada juga yang hampir menangis, dan ada juga yang berpelukan sangking senengnya.
__ADS_1
Semua murit bersalaman kepada Buk Ila dan kepala sekolah.
Buk Ila dan kepala sekolah meninggalkan kelas, semua murid di persilahkan pulang.
"Ya Allah, Alhamdulillah, ya Woi, kita pada lulus semua." ucapku.
"Alhamdulillah, ya." kata Yati.
"Hore . . . . .kita lulus semua dan nanti kita makan miso di warung Wak Imis." Desi loncat-loncat kegirangan.
"Woi, bukannya bilang Alhamdulillah, mala kayak gitu." omel Eme lagi.
"Ya kan tak apa, kan bayar sendiri-sendiri." ucap Desi sambil memelas.
"Ya udah enggak salah juga kan kita juga dah lama enggak makan bareng." jawab ku, bukan maksud nak membela Desi, tapi memang sih kami udah jarang makan bareng, semenjak ujian Nasional itu.
"Enggak usah ribut deh,. . ... . katanya mau makan miso bareng ayok . . . . ." kata Yanti sambil menarik tangan ku dan tanggan Desi.
"Ko cuma, Iju dan Desi aja di ajak." ucap Yati sambil merajuk.
"Lah . . . . tanggan Ku kan cuma dua, ayok loh." Yanti melepas tanggan aku dan Desi, Dan menarik tanggan Yati dan Eme.
Di perjalanan menuju ke warung Wak Imis, kami bersenda gurau. saking senengnya.
Sesampai di warung kami pun memesan miso, Kami lau makan miso tu ya, pedes kurang pedes, sampai-sampai bibir kami pada merah semua dan hidup pada meler. ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha
__ADS_1
Aku dan yang lain pun pulang ke rumah masing-masing.