Nassib Gadis Yatim & Miskin

Nassib Gadis Yatim & Miskin
00p:";"


__ADS_3

Pukul 10.45 Aku sampai ke rumah, aku langsung Menganti seram sekolah dengan pakaian rumah.


Di rumah banyak tetangga yang menjenguk Ayah. setiap hari rumah di penuhi dengan orang yang selalu datang melihat Ayah, karena bagi orang kampung itu adalah penyakit yang aneh.


"Kakak, udah pulang." tanya Ibu, yang duduk bersama orang yang ada di sana.


"Udah dari tadi Bu, si Gunawan sini sama Aku aja." sambil mengambil adik yang ketiduran di pangkuan Ibu.


"Masukan aja adeknya di ayunan ya, Kakak."


"Iya, Ibu, adek Abi mana?"


"Tadi, di belakang main sama kakaknya." jawab Ibu.


"OOO . . . .ya udah Bu, kakak ke belakang dulu lihat adik-adik." kata Ku, sambil bejalan menuju belakang.


Ku lihat adik-adik Ku pada asik bermain, mau tau main apa? Dulu itu adik-adik Ku bermain jual sayur-sayuran, dan alat-alat masaknya dari tanah itu Lo, pokoknya seru.


Asik melihat canda tawa adik-adik Ku, Aku pun tersenyum melihat mereka bahagia, Aku, Abang-abang, dan adik-adik Ku hidup dalam serba kekurangan.


Jajan seribu harus berbagi dengan adikku yang bernama Yani, waktu itu beli permen masih bisa lima puluh piya/ perak uang logam. masih bisa beli es lilin harga seratus piya/ perak, uang logam. uang lima ratus piya/ perak itu udah banyak bagi Aku dan saudaraku dulu, apa lagi mendapatkan uang jajan seribu piya/ perak. makan dengan seadanya, Aku dan saudaraku selalu makan berbagi, makan dengan garam aja, Aku dan saudaraku juga sering cuma makan ubi-ubian, jagung, dan sagu. Tapi, walaupun makan dengan seadanya, kebahagiaan yang di rasakan sangat lah nyata dan bahagia lah pokoknya.


Aku bersyukur dilahirkan di dalam keluarga yang selalu kekurangan tetapi tak pernah kekurangan kasih sayang.


hidup bergelimang harta belum tentu kita mendapatkan kebahagian, biyar lah hidup serba kekurangan tetapi hati dan pikiran damai dan tenang, ikhlas, sabar dan selalu lah bersyukur dengan apa yang kita punya dan kita miliki, walaupun sikit tapi kita harus menyukuri nikmat yang di beri oleh Allah, dan jangan iri dengki sesama manusia, apalagi Sesama saudara, karena itu sifat tak terpuji bagi Allah, kalau ingin kebahagian selalu datang ke rumah kecil kita coba lah selalu menyukuri nikmat yang Allah berikan kepada kita, apapun bentuknya, baik yang bersifat baik ataupun bersifat buruk, seperti kita kena musibah, ajian silir berganti, dan banyak lagi yang lainnya, tetapi dengan ikhlas dan sabar insyaallah, semua itu akan di ganti dengan kebahagian yang tak pernah terpikir oleh kita. terkadang kebahagian, kekayaan, kehebatan, kecantikan, dan jabatan, kedudukan, pangkat, itu semua juga lah ujian yang Allah berikan ke kita tergantung kita menjalaninya, tetapi kali kita mendapatkan itu semua jadi manusia yang taat kepada perintah-Nya, perbanyaklah bersedekah, jangan sombong, dan terutama bentulah sanaak saudara kita, apa lagi adik beradik, bantu lah saudara kandung atau saudara jauh yang sedang kesusahan, insyaallah itu akan allah balas dengan berlipat ganda.


Ini teruntuk diri ku sendiri . . .


Pukul 12.23 Ibu melaksanakan sholat Zuhur, Ayah yang sedang berbaring di kamar, di jaga oleh Abang ku Afrizal.


Aku di dapur memasak, menyambal goreng ikan, dan rebus daun ubi. sedangkan adik-adik Ku masih bermain.


"Ju, apa dah selesai." tanya Ibu, yang habis selesai shalat.


"Udah Ibu, Tapi. sambal belacan nya (sambal terasi). belum kakak buat, kan kalau kakak yang buat takut enggak enak Bu." jawab ku sambil memindahkan sayur ke dalam mangkok.


"Oooo . . . . . sambalnya biyar Ibu aja yang buat." kata Ibu, ibu pun mengambil batu giling dan membuatnya. buatan sambal Ibu itu ia the best banget pokoknya, sampai sekarang, walaupun beliau sekarang enggak di rumah . . . . . jadi rindu omak .. . .


"Wah . . ..dah siap sambalnya Bu, ih pasti enak." kata ku sambil mencowel sambalnya.

__ADS_1


"Enggak, baik anak gadis makan dalam batu giling." ujar Ibu, dan ibu memindahkan ke dalam piring kecil.


"Hehe hehe he . . .habis baunya enak dan pas di cicip juga enak." sambil membawa sambal ke tempat makan, dulu makanya di lantai beralasan tikar, enggak palah jauh dari dapur.


Kalian mau tau, dulu Aku memasak pakek kayu, pakek tungku. lau mau masak cari kayu, biasanya Ayah nyetok kayu di Pao di atas tempat masak.


"Ju, panggil adik-adik dan Abang-abang mu, untuk makan sinag."


"Iya, Bu." Aku pun beranjak ke arah belakang.


"Hai . . . . . . . bidadari kecil dan pangeran tampan, waktunya kita makan siang." kata Ku, sambil mengendong si Abi dan mengandeng si keriul.


"Kakak, Yani beresin ini dulu, nanti Yani nyusul deh." Yani sambil membereskan tempat bermain.


"Oke, bidadari pendek dan bocil." kata Ku sambil ketawa cekikikan.


"Kakak kurang akhlak,"


"Hehe hehe . . . walaupun kurang akhlak, tetap juga aku kakak mu."


Yani tak menjawab, Tapi dia gejekin aku.


Sebelum makan Aku mencuci tangan kedua adik-adik.


Selesai makan, adik-adik Ku pada tidur siang.


"Ibu, Ayah udah makan?" tanya ku.


"Udah barusan Ibu kasi."


Ku lihat ayah yang terbaring lemah di atas kasur yang munkin tak layak di pakek lagi, walaupun tak layak di pakek lagi, Ibu ku sangat lah cerdas, yang tak layak di gunakan bisa jadi layak di gunakan.


Aku pandangi wajah Ayah, semakin hari semakin kurus, Ayah juga enggak terlalu mau makan.


Aku raba pipi Ayah yang sudah mulai kelihatan tulang pipinya, waktu itu Aku menangis melihat kondisi Ayah.


"Ayah, cepat sehat ya, Ayah kan janji mau masuin kakak ke pesantren, Jadi. Ayah harus sehat biyar Ayah yang Gantar kakak ke pesantren." kata ku sambil menangis,


Ku lihat mata Ayah terbuka dan melihat ku dengan tatapan penuh kasih sayang, ku lihat di mata Ayah ada sesuatu yang ingin Ayah katakan, Tetapi apa daya Ayah enggak bisa berbicara, lau di bilang ayah kena penyakit struk, tapi kata dokter tidak.

__ADS_1


Lama aku menunggu Ayah, dan berbincang Tampa ada balasan dari Ayah.


"Ibu, kakak pergi main dulu ya." karena aku masih termasuk anak-anak, waktu itu aku memang sering bermain. sama teman-teman.


"Cepat pulang nanti ya." kata Ibu yang lagi menyusui si bontot itu siapa lagi kalau bukan si Gunawan.


"Siap mak bos . . . " Aku pun berlari menuju rumah Tina aliyas sindun.


"Tina . . . . . .main yuk." ajak Ku, aku langsung masuk kerumahnya.


"Assalamu'alaikum, Bu Seri. Tina nya man?" sambil celingak-celinguk.


"Tina, itu di samping lagi main pondok-pondokan."


"OOO . . . .kalau gitu aku kesana dulu ya Bu Seri." sambil berlari keluar rumah.


"Hoi . . . main kok enggak gajak sih."


"Ya, namanya juga baru mau mulai mainnya." sambil memasang atap pondoknya.


"Aku bantu ya, dan aku juga ikut main." kata ku lagi , sambil membantu membuat dinding pondoknya dari pelepah sawit Daan pisang.


"Boleh . . . tapi bantuin aku mencari kayu, kita buat pintunya."


"Oke. . . . . .batang sawit aja kita buat, kan enggak pala jauh kita nyarinya." usul ku.


"Boleh juga, ayok."


"Yang lain apa enggak main?" tanya ku.


"Enggak, Desi enggak boleh keluar oleh ayahnya."


"Iya ya, Ayahnya Desi ko garang kali." sambil memotong pelepah sawit.


"Mana ku tau." jawab sindun alias Tina.


"Udah segitu udah cukup tu Tin." karena udah terkumpul empat batang pelepah sawit.


"Ayok,."

__ADS_1


pondok yang Aku dan Tina buat sudah jadi, kami pun bermain dengan suka ria.


Tak terasa waktu udah jam lima sore, kami pun berpisah pulang kerumah masing-masing.


__ADS_2