
"Kamu perlu seorang sekretaris."
"Ya, aku tau."
"Kalau kamu tau kenapa tidak mencarinya!"
"Aku malas."
"Dasar pemalas! Aku heran kenapa kamu bisa menjadi CEO?"
"Kau tidak bodoh kan, Laila? Aku yang mendirikan usaha ini, aku yang merintis semuanya dari nol. Jelas saja aku yang menjadi pemimpinnya."
"Baiklah, aku lupa. Tapi kamu gak perlu mengataiku bodoh, Elian."
"Kenapa gak netap di sini aja sih, La? Kamu cocok jadi sekretaris ku."
"No, baby. Bentar lagi aku nikah, harus ikut suami dan jadi ibu rumah tangga."
"Ngapain nikah?"
"Buat keturunan pastinya. Daripada kamu yang jomblo."
"Sudahlah, La. Kalo kamu mau minggat ya minggat aja. Gak usah recokin hidup orang."
"Besok!" Alis Elian mengernyit, pandangannya fokus ke Laila yang menjabat menjadi sekretarisnya sekarang.
"Besok ada banyak pelamar yang mau nempatin posisi sekretaris. Tinggal pilih aja."
"Laila, lagi-lagi kamu berbuat seenaknya. Emang kamu udah dapet ijin dari aku?"
"Itu juga buat kebaikan kamu, El. Ingat besok jam setengah sepuluh pagi udah di kantor."
"Yang atasan siapa yang bawahan siapa?" Sindir Elian yang diabaikan oleh Laila.
"Ok see you tomorrow! Aku mau fitting baju pengantin sama calon suamiku." Laila kemudian keluar ruangan tersebut.
"Beruntung sekali," gumam Elian yang masih duduk di kursi kebesarannya.
❤️❤️❤️
Pagi hari, di kantor pusat sudah ada 10 pelamar yang menunggu di ruang tunggu. Mereka adalah orang-orang yang sudah melalui tes di bagian HRD(Human Resource Departemen).
Jam masih menunjukkan pukul sembilan, dan tentu saja Si CEO belum terlihat.
"Kemana ini anak? Awas aja sampe kesiangan," gerutu Laila sambil beberapa kali mengecek jam tangannya.
Tidak terasa, 30 menit sudah berlalu. Karena kesal, Laila langsung masuk ke ruangan CEO, mengecek apa bosnya itu sudah datang.
"ELIAN!" Si pemilik nama mendongakkan kepalanya dan tersenyum.
"Apa? Gak ketok pintu dulu?"
"Hehe, maaf lupa. Kamu gak bilang udah di kantor? Aku tunggu dari tadi kamu gak kelihatan. Yang mau melamar juga udah pada datang dari jam tujuh pagi. Setidaknya kalo udah ada di kantor itu bilang. Memang kamu gak pulang semalam?" Elian menutup telinganya, sekretarisnya ini memang cerewet. Mungkin beberapa hari lagi akan menjadi mantan sekretarisnya.
"Memang nginep." Laila membuka mulutnya tak percaya akan apa yang Elian sampaikan.
"Beneran? Segitu semangatnya?" Mata Elian menutup sejenak, yang kemudian terbuka kembali.
"Bukan karena itu. Ada masalah yang harus di selesaikan secepatnya." Laila hanya mengangguk mendengar jawaban itu.
"Jadi? Boleh aku langsung panggil satu persatu?" Elian menggunakan tangannya untuk mengisyaratkan bahwa Laila boleh pergi.
__ADS_1
*Sementara itu di tempat yang sama
"Aku deg-degan."
"Sama. Ini kan pemilihan sekretaris untuk CEO muda yang naik daun saat ini."
"Iya, aku tahu. Tapi di koran, majalah, atau internet, tidak ada satupun yang tahu wajahnya bagaimana."
"Sepertinya dia orang tertutup."
"Yang aku tahu, namanya Elian."
"Apa dia laki-laki?"
"Tentu saja. Tidak mungkin perempuan. Di lowongan itu tertulis Mr. Elian."
Cakap-cakap para pelamar. Dari banyaknya pelamar yang berbincang. Hanya dua orang yang nampak tidak merespon apapun yang para pelamar lain bincangkan. Dua pria itu nampak fokus dengan dirinya sendiri.
"Tidak peduli apakah dia pria atau laki-laki, yang kuinginkan hanyalah pekerjaan," gumam salah satu dari kedua pria itu.
"Selamat pagi, maaf sudah menunggu lama. Bagi yang mau masuk silahkan masuk, tapi mohon satu persatu." Laila berdiri dengan anggun dan senyum yang terpatri di wajahnya.
Seorang wanita masuk lebih dahulu, beberapa menit kemudian wajah yang ia tampilkan adalah tegang.
"Hei, bagaimana?" Tanya teman yang duduk di sampingnya tadi.
"A-aku tidak tau. Maaf, aku duluan." Gerak-gerik wanita itu tertangkap jelas oleh pelamar lainnya.
"Dia kenapa? CEO nya galak?" Bisik-bisik para pelamar, kecuali dua pelamar pria itu. Sedangkan, Laila tetap menampilkan senyumnya. Dia tau, kelakuan atasannya itu memang sangat menakutkan sejak dulu.
"Silahkan pelamar selanjutnya."
Satu persatu pelamar mulai masuk. Kebanyakan dari mereka keluar dengan wajah yang sama, yakni tegang.
"Artur Daffodil." Elian membaca nama pelamar pria itu. Tampaknya, Artur juga sedikit terkejut melihat CEO yang dia kira laki-laki ternyata perempuan.
"Maaf, saya kira anda laki-laki. Mengingat yang tertera di lowongan adalah Mr. Elian." Ucap sopan Artur.
"Salah ketik," balas singkat Elian.
"What was your previous job?"
"I was also a secretary in a small company."
"Then, why did you resign?"
"Because i want to find new experiences in new place."
"Or maybe you don't feel comfortable where you used to work?"
"Of course not."
"What make you worthy to be here?"
"Because i have experience in that field. And i want to dedicate my self to this company."
"What if you don't feel right for this job?" Elian terus mencecar Artur dengan pertanyaan, tak lupa mata tajam, wajah sinis, dan aura yang ia keluarkan membuat Artur sejujurnya tak nyaman. Pantas saja para pelamar tadi keluar dengan wajah tegang.
"I will keep trying my best." Jawab Artur dengan wajah yang memandang lurus ke arah CEO di depannya.
"Alright, you can go out." Artur pun keluar, sampai di luar dia menghirup udara sebanyak-banyaknya. Seolah di dalam ruangan tadi tidak tersedia udara. Aura yang CEO tadi keluarkan memang menakutkan.
__ADS_1
"Gimana? Mau lanjut lagi?" Tanya Elian pada Laila yang berdiri di depannya.
"Masih ada satu lagi."
"Ok. Suruh masuk."
Seorang pria memasuki ruangannya, dan Elian kembali mengetes pelamar tersebut sama halnya seperti yang lainnya.
✨💸💸✨
"Gimana wawancara tadi?" Tanya seorang pria kepada pria lainnya, yang tak lain adalah Artur.
"CEO nya sedikit buat aku bergidik."
"Hahaha. Dia laki-laki? Biasanya CEO laki-laki memang punya aura yang menakutkan."
"Justru bukan. CEO nya adalah seorang perempuan."
"Kau yakin?"
"Aku benar-benar yakin, karena aku lihat dengan mata aku sendiri."
"Baiklah, semoga kau diterima."
Mereka kembali menyeruput secangkir kopi di sebuah cafe yang dekat dengan perusahaan tempat Artur melamar tadi.
"Bagaimana CEO nya?" Artur menatap linglung ke arah temannya.
"Maksud mu?"
"Dia perempuan yang cantik? Aku dengar dia merupakan CEO muda, jadi dia pasti masih muda kan?"
"Ya, dia masih muda. Dan dia memiliki aura yang menakutkan saat tadi mewawancarai ku. Bahkan pelamar lain juga terlihat tegang setelah keluar dari ruangannya."
"Setidaknya pesaingmu berkurang, Artur."
"Ada satu orang lagi yang aku yakini merupakan pesaing berat."
"Siapa?"
"Aku tidak tau namanya. Namun dari wajahnya memancarkan ketegasan dan kewibawaan. Dia terlihat sangat tenang di antara pelamar lain."
Beep beep
Artur dengan segera mengecek ponselnya. Dan dia dibuat terkejut oleh email yang baru terkirim.
"Wajah kau kenapa Artur?"
"Aku gak nyangka. Nugra, ini mimpi?"
"Sayang sekali, bukan. Kenapa?"
"Aku di terima!"
✨💸💸💸💸
**Hai! Terimakasih yg udah mau mampir
Kalo suka bisa di like, dan komen.
Banyak kata yg mau author bilang sih, tapi nyatanya gak satupun keluar hehe
__ADS_1
oke sekian dulu, see you next time**!