
Selamat membaca‼️
Sampai di parkiran, Artur sudah siap dengan membukakan pintu mobil untuk Nona mudanya yang terlihat tengah berjalan mendekat.
"Kalau bisa, aku akan mengantarmu sampai ke pelaminan El. Dan aku yang menjadi mempelai prianya." Ucap Louise yang berjalan mendampingi Elian.
"Sebelum itu terjadi, lebih baik kau bangun dari mimpi siang bolong mu." Lagi-lagi Elin membalas dengan omongan pedasnya.
"Yah... Mimpi itu memang indah, ingin aku wujudkan segera."
Tanpa menghiraukan Louise, Elian masuk ke dalam kursi penumpang. Dan pintu mobil di tutup oleh Louise.
"Berhati-hatilah, El. Aku tak bisa menjagamu sementara waktu." Pesan Louise kepada Elian yang membuka jendela mobil.
"Siapa yang perlu perlindungan darimu."
"Hehe, aku tau kamu kuat El. Tapi tidak selalu, aku bisa melihat sisi rapuh mu."
"Hei, siapa namamu?" Tanya Louise ke Artur yang sudah duduk di kursi kemudi.
"Saya Artur Daffodil, sekretaris Nona Elian." Balas penuh hormat Artur.
"Ya, aku tau kau sekretarisnya. Tidak perlu sombong akan hal itu." Artur yang tidak terlalu paham akan maksud Louise pun memilih tersenyum canggung.
"Artur, kau jangan terlalu dekat dengan Elian. Dia milikku," bisik Louise dengan tatapan tajam yang mengancam.
"Saya mengerti, Tuan Louise."
"Baguslah kalau kau mengerti." Louise kembali menegakkan badannya, yang mulanya membungkuk.
"Tolong jaga Nona Elian. Kalau sampai saya lihat dia lecet sedikitpun saat saya kembali dari luar negeri, saya akan memberi perhitungan denganmu." Melihat aura menakutkan dan nada mengancam, membuat Artur gugup dan menelan ludah.
"Baik, saya mengerti."
"Artur, jalan." Perintah Elian, yang di angguki oleh Artur. Mobil pun melaju membelah jalanan kota yang tengah ramai.
"Sampai jumpa, my first love."
👻👻👻
Tepat ketika sampai di parkiran kantor, hujan lebat turun. Beruntung, mobil terparkir di basemen yang letaknya di bawah tanah. Hanya orang-orang berpangkat tinggi yang meletakkan kendaraannya di sini, sementara yang lainnya parkir di tempat parkir biasa yang tanpa atap.
"Apa Nona kedinginan?" Melihat Elian mengusap-usap bahunya, Artur berinisiatif memberikan jasnya ke Elian dengan menyampirkannya di pundak kecil Elian.
"Terimakasih." Elian pun mendahului Artur, berjalan menuju ke ruangannya.
Artur POV
Entah kenapa aku merasa, sejak kepulangan Nona El dari restoran tadi, Nona terlihat murung. Lebih murung dari tadi pagi, saat aku mendapati dirinya menangis karena kematian seseorang.
Jika aku tak salah mengira, Nona sedih karena akan berjauhan dengan kekasihnya, Tuan Louise.
Setelah Nona masuk ke dalam ruangannya, aku benar-benar tidak ingin mengusiknya. Takutnya aku terkena dampak dari amarahnya sama seperti yang sebelum-sebelumnya.
Belakangan ini, aku mulai terbiasa akan sikap dingin Nona Muda. Atau omongannya yang pedas melebihi cabai sekilo.
Namun, tadi aku pertama kali melihat sisi lain Nona Muda. Dirinya ternyata bisa menangis. Di balik raut wajahnya yang senantiasa menampilkan ekspresi datar, ternyata juga bisa menangis.
__ADS_1
Aku di buatnya salah tingkah karena aksinya yang tiba-tiba memelukku. Tanganku pun tergerak untuk menenangkannya.
Perasaan macam apa ini? Aku tidak bisa melupakan pelukan itu. Dan wajahku memerah setiap mengingatnya.
Tidak. Aku tidak mungkin menyukai Nona Muda kan? Hal itu tidak boleh terjadi. Itu sangat tidak profesional. Bagaimanapun hubungan kami hanya sebatas atasan dan bawahan.
Bipp Bipp
Sebuah pesan masuk. Setelah ku cek, ternyata dari grup alumni SMA ku. Mereka membicarakan tentang acara reuni.
+6281xxxxx
Hei @ArtDaf
Kau harus hadir kali ini.
+6287xxxxx
Benar, sudah sejak lama Artur tidak menampakkan hidungnya.
+6285xxxxx
Huh, si pecundang itu hanya berani membaca pesan. Tidak berani menjawab!
+6281xxxx
Aku lupa, bukankah dia dulu pecundang? Apa masih pecundang sampai dewasa?
Aku menggenggam erat ponselku. Aku di buat selalu menghindari reuni oleh mereka, menyebutku pecundang. Memang ku akui, aku adalah orang yang mudah di tindas ketika SMA.
Kalau kalian mengira aku tidak berani datang, maka akan ku patahkan ekspektasi kalian.
^^^02. 50 pm√^^^
Ketua kelas
Di hotel Bunga Malam. Jam 7 malam, satu minggu lagi.
Usai membaca balasan dari mantan ketua kelas, aku langsung mematikan ponsel. Aku yakin mereka tengah membicarakan ku, jadi biarkanlah.
Artur POV END
Jam pulang kantor akhirnya tiba. Artur tidak melihat tanda-tanda Nona mudanya akan keluar ruangan. Dengan segenap keberanian, dia pun mengetok pintu.
Tok tok tok
Karena tidak ada jawaban, Artur kembali mengetok pintu.
Nihil.
Tetap tidak ada jawaban dari Nona Mudanya. Dan Artur kembali mengetok pintu, meskipun hasilnya tetap sama.
"Nona? Nona El?" Artur pun terpaksa membuka pintu ruangan atasannya itu.
Dia mendapati Elian tengah terlelap dengan kepala yang berada di atas meja di antara lipatan tangan.
Langkahnya menuntun dirinya untuk mendekat ke arah Nona mudanya. Artur melihat jasnya masih tersampir di bahu Elian.
__ADS_1
Melihat wajah teduh Elian, tangan Artur tergerak untuk mengelus kepala Elian.
"A... Apa yang aku lakukan?" Tersadar dari perbuatannya itu, Artur segera menjauhkan tangannya dari kepala Nona Mudanya.
"Nona El, sudah waktunya pulang." Panggil Artur, yang tak diindahkan oleh Elian.
"Nona? Nona El? Nona muda?"
"Eunghhh... Berisik!" Elian mengigau, matanya masih tertutup rapat dan tak ada tanda-tanda akan bangun.
"Sudah waktunya pulang, Nona."
Artur menggelengkan kepalanya, dia baru ingat satu hal aneh. Nona mudanya jika sudah tertidur pulas hanya bisa di bangunkan dengan mie goreng.
"Saya akan mengantar Nona pulang. Maaf jika saya tidak sopan."
Dengan hati-hati, Artur menggendong Elian di punggungnya. Kemudian dia berjalan menuju basemen.
Sampai di mobil, Artur menaruh Elian di sebelah kursi kemudi dan memakaikannya seltbealt. Merasa sudah cukup aman, Artur pun duduk di kursi kemudi dan melajukan mobilnya.
Di sepanjang jalan, Artur sesekali melirik ke arah Elian. Untuk memastikan agar kepala Elian tak terantuk di jendela mobil.
Tuk
Saat melirik ke sampingnya, ternyata kepala Nona mudanya tersandar di jendela mobil. Dengan tangan kirinya, Artur memindahkan kepala Elian agar bersandar di pundaknya.
Wajah Artur memerah seketika, namun dia juga tidak bisa membiarkan kepala Elian terbentur di jendela.
Perjalanan terasa sangat panjang kali ini bagi Artur. Pasalnya kepala Elian menyender di pundaknya, membuatnya sedikit tidak fokus.
Sampai di depan rumah Elian, Artur turun untuk membuka gerbang. Setelah itu kembali ke dalam mobil, meletakkan mobil milik Elian di pekarangan rumahnya.
"Nona, Nona sudah sampai di rumah." Artur mengguncang tubuh Elian, namun lagi-lagi tidak ada reaksi.
"Huh... Semoga nanti Nona tidak marah." Artur kembali menggendong Nona mudanya di punggungnya. Dia memasuki rumah dan menaiki tangga menuju kamar Elian.
Tok tok tok
Krieeet
Di bukanya pintu kamar, dan dengan lembut Artur meletakkan Elian di kasur.
"Saya sudah mengantar Nona sampai rumah dengan selamat. Sekarang saya pamit undur diri."
Saat akan berbalik badan, ujung kemejanya di tarik Elian.
"Jangan..... Pergi."
✨💸💸💸💸✨
Hai hai hai!
Ada yg nunggu update kah?😭👻
Terimakasih bagi yg udah nunggu cerita ini, dan bagi yg udah mau mampir, like and koment.
Makasiiiih banyak-banyak 😘
__ADS_1
Sekian dari chapter ini,
See you next chapter 😍👋