Nona Muda Dan Sekretaris

Nona Muda Dan Sekretaris
15. Dinner


__ADS_3

Selamat membaca❤️


✨✨✨


"Kamu lapar?" Tanya Elian.


"Tidak, Nona." Elian memandang Artur dengan tatapan tidak percaya. Kemudian, matanya beralih ke jam tangannya.


"Ini udah lewat jam makan malam. Di ruang atas ada tempat makan yang bagus." Elian mengatakan itu sambil menatap Artur. Artur hanya mengangguk, tidak paham akan maksud perkataan Nona mudanya itu.


"Kamu paham maksud saya?" Tanya Elian yang sudah merasa kesal.


"Paham, Nona."


"Memangnya apa maksud perkataan saya?"


"Maksud Nona, di ruang atas ada tempat dengan pemandangan bagus."


Elian menghela nafas panjang, lalu memijit pelipisnya.


"Kamu perlu belajar lagi." Tanpa persetujuan Artur, Elian menarik tangan Artur menuju lantai atas.


"Nona, bagaimana dengan klien Nona? Apa pertemuannya sudah selesai?" Tanya Artur, pada Elian yang berjalan di depannya.


"Sudah," jawab cuek Elian.


Sampai di ruang makan, ruangan itu kosong tanpa pengunjung.


Jelas saja, ini adalah ruangan privat yang tadi digunakan untuk pertemuan Elian dengan direktur Hotel.


Elian memilih meja yang ada di dekat kaca transparan. Di balik kaca tersebut, ada pemandangan kota di malam hari. Kelap-kelip lampu jalan dan pengendara yang berlalu lalang di jalan.


Langit malam juga tak kalah cantiknya. Dengan bulan purnama yang menggantung dan bintang-bintang yang bertebaran.


'Untung aku bukan manusia serigala.' Batin Elian.


"Nah Artur, kamu bisa duduk di seberang saya." Ucap Elian yang melihat Artur tak kunjung duduk.


"Ta-tapi Nona, ini sudah berlebihan bagi saya." Elian tau, Artur merasa terbebani. Namun, Elian tetaplah Elian. Dia bersikukuh pada keinginannya itu.


"Saya tau, pasti kamu tidak suka dengan hotel yang sudah memberikan kesan buruk untukmu kan? Dan kamu mau segera pergi dari sini." Artur gelagapan, dia tidak bermaksud menolak permintaan Nona nya.


"Bukan, Nona. Maksud saya bukan begitu. Maaf jika saya menyinggung Nona." Elian tersenyum evil, dan tetap menyuruh Artur duduk.


Akhirnya Artur menuruti keinginan Nona nya. Pandangannya terus menatap ke bawah. Dia merasa sangat banyak merepotkan Elian. Artur berhutang budi.


"Maaf atas kesalahan saya, Nona." Artur membuka suara, yang mengalihkan perhatian Elian yang semula ke pemandangan luar kini ke arah Artur.


"Saya lalai akan kewajiban saya sebagai sekretaris Nona. Padahal, Senior Laila sudah mengingatkan saya untuk mengaktifkan ponsel selama 24 jam, untuk berjaga-jaga jika Nona memerlukan saya."


'Laila si cerewet itu, terlalu mengada-ada.' Ucap Elian dalam benaknya.

__ADS_1


"Saya yang seharusnya ikut datang ke pertemuan klien, justru memilih datang ke acara reuni teman SMA."


'Setelah mereka memperlakukan mu seperti sampah, kau masih menganggap mereka teman?!'


"Dan saya justru di tolong oleh Nona, saat seharusnya saya dihukum karena melalaikan tugas. Saya malu pada diri saya sendiri." Elian hanya mengangguk-angguk, membenarkan apa yang diucapkan Artur.


"Saya kecewa pada Anda, Artur Daffodil." Artur sudah siap akan konsekuensinya, dia tidak berani mengangkat wajahnya didepan Elian.


Padahal, baru saja ia mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lumayan besar. Dan sekarang kemungkinan dia akan di pecat.


"Saya akan memecat Anda...." ucap Elian, yang membuat bahu Artur merosot.


"... Jika Anda kembali mengulangi kesalahan yang sama." Wajah Artur terangkat. Dia menatap bingung atasannya itu.


Sementara itu, Elian tampak sibuk membolak-balikkan menu makanan yang ada di tangannya.


"Menu apa yang Anda pilih Artur?" Elian mengabaikan wajah terkejut Artur.


"Apa maksud Nona?"


"Saya tidak suka mengulang perkataan saya, Sekretaris Artur."


Mata Artur berkaca-kaca, dia kembali menundukkan kepalanya. Elian tersenyum tipis melihat reaksi Artur. Elian yakin, pasti Artur tengah menahan air matanya.


"Silahkan menangis, tidak ada yang melarangnya disini." Ucap Elian dengan nada yang sedikit lembut.


"Permisi, saya mau pesan." Panggil Elian pada seorang waitress di sana. Elian menyamakan pesanannya dengan Artur. Dia sendiri tidak tau, apa yang Artur akan pesan.


Dan jika ia kehilangan pekerjaan ini, Artur bingung kemana lagi ia mendapat pekerjaan yang gajinya setara dengan yang ditawarkan di perusahaan ini.


"Terimakasih, Nona. Saya tidak akan mengulangi kesalahan yang sama." Ucap Artur yang telah mengangkat wajahnya.


Elian merasa de javu. Dia pernah melihat seorang lelaki menahan tangis di hadapannya. Namun, lelaki itu bukanlah Artur. Segera, Elian mengenyahkan pikiran tersebut.


"Kamu terlihat seperti anak kecil yang kehilangan mainan," sindir Elian. Artur tersenyum mendengarnya.


"Terimakasih Nona El."


"Kamu sudah bilang itu dua kali," balas Elian dengan diakhiri tawaan kecil.


"Saya tidak menyangka Nona sebaik ini." Wajah Elian kembali jutek mendengar ucapan sekretarisnya itu.


"Jadi maksud kamu selama ini saya jahat?" Artur panik, dia salah berucap pada atasannya yang sensitif.


"Ti-tidak Nona. Nona salah paham, maksud saya..."


"Maksud kamu, saya gak ngerti apa yang kamu bilang?" Artur ingin menyerah rasanya menghadapi Nona mudanya ini.


"Bukan, Nona El. Saya kira, saya akan langsung di pecat mengingat Nona yang biasanya tegas kalau ada pelanggaran atau kelalaian dalam bekerja."


"Saya pikir kamu perlu biaya untuk pengobatan ayah kamu," jawab Elian.

__ADS_1


"Terimakasih, Nona."


Tak lama kemudian, makanan datang. Mereka makan dengan tenang tanpa berbicara.


Seusai menyantap hidangan, Elian dan Artur ke tempat parkiran.


Mereka pun berpisah di sana.


Keesokan harinya


Di kantor, semua berjalan seperti biasanya. Namun, Artur merasa ada sedikit keanehan yang terjadi pada Elian.


"Apa Nona sehat?" Tanya Artur yang kini tengah berada di ruang kerja Elian.


"Ya." Artur benar-benar heran, padahal kemarin malam Elian sudah lebih lembut padanya. Ya, meskipun tetap berwajah jutek.


'Apa karena Nona belum sepenuhnya memaafkan yang kemarin?' Artur merasa gusar di benaknya.


"Apa Nona perlu kopi?" Tanya Artur lagi. Elian mengusap pipinya sendiri sebentar, kemudian menatap Artur.


"Tidak suka." Usai berkata demikian, Elian memberikan beberapa dokumen ke Artur.


"Baik, kalau begitu saya pamit undur diri Nona."


Elian hanya menanggapinya dengan anggukan kepala. Artur pun menghilang di balik pintu ruang kerja Elian.


"Ah kepalaku pusing," gumam Elian.


Jam makan siang


Kriiieeett


Pintu ruang kerja Elian terbuka, spontan saja mata Artur tertuju ke atasannya yang baru saja membuka pintu.


"Nona mau makan apa? Biar saya pesankan." Ucap Artur menawarkan bantuan.


"Tolong belikan bubur ayam."


"Baik, Nona."


Tok tok tok


"Masuk." Beberapa menit menunggu, akhirnya Artur datang dan membawakan pesanan Elian.


"Ini pesanan Nona El."


"Terimakasih." Beberapa saat sebelum Artur akan memegang kenop pintu, Elian menghentikannya.


"Apa kamu sudah makan siang?"


TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA DAN MAMPIR ❤️✨

__ADS_1


__ADS_2