
Selamat membaca❤️
"Apa nanti malam kamu bisa nganter aku ke airport?"
"Coba aku cek jadwal ya."
"Kalau senggang, kamu bisa kan?"
"Nanti saya info, jangan ganggu saya di jam makan siang."
Tut ....
Elian memutuskan sambungan telepon dari Louise.
"Nona?" Panggil Artur.
"Hm?"
"Apa tidak masalah kalau mematikan sepihak telepon dari Pak Louise?"
"Tidak apa, dia bukan atasan saya. Jangan banyak bicara, saya mau makan." Ucap Elian ketika Artur hendak bertanya lagi.
Akhirnya mereka berdua makan tanpa bicara.
Usai makan siang, Elian merasa sangat lega sekaligus puas. Selama seminggu ini dia hanya makan bubur ayam, dan itu membosankan.
"Nanti saya minta cleaning service untuk membersihkannya." Ucap Elian yang melihat Artur merapikan peralatan makan.
"Baik, Nona."
Selesai makan siang, Elian menuju ke ruangannya.
"Apa Nona tidak akan menelpon Pak Louise lagi? Sepertinya tadi ada urusan dengan Beliau?" Elian menoleh ke arah sampingnya, lebih tepatnya pada sekretarisnya.
"Itu urusan saya. Sekarang kamu bisa kembali ke meja kamu."
"Saya mengerti, Nona."
Sampai di ruangannya, Elian duduk di kursi kebesarannya. Dia membalikkan kursinya, sehingga terlihatlah kaca transparan yang memperlihatkan pemandangan langit yang cerah.
Di pikirannya, terlintas sekelibat bayangan tentang kenangan di masa lalunya. Yang membuat bibirnya sedikit tertarik ke atas.
"Sudah lama ya? Gimana sama kabarnya di sana?" Tanya Elian pada dirinya sendiri. Mengingat 'hal itu' Elian merasa hatinya sedikit terluka.
Elian menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir kenangan yang tiba-tiba datang. Tangannya kemudian tergerak untuk mengambil ponsel yang ada di atas mejanya.
Di cek nya jadwal hari ini, yang sudah Elian foto tadi.
"Malam ini kosong, tapi males juga keluar rumah," gumam Elian.
"Apa gak usah aja ya? Lagian dia cuma rekan bisnis."
Bingung dalam memutuskan pilihan, Elian pun akhirnya menelpon Artur lewat telepon kantor.
Tok tok tok
"Masuk."
"Nona memanggil saya?"
"Iya," balas Elian yang bersandar pada mejanya.
"Kamu boleh duduk." Mendengar perkataan Nona muda nya, sontak saja Artur menggelengkan kepalanya.
"Saya berdiri saja, Nona."
"Duduk." Tegas Elian, hal itu membuat Artur tak mampu berkutik lagi dan akhirnya duduk di sofa.
__ADS_1
"Saya mau minta saran kamu."
"Saran apa Nona?" Elian yang lelah bersandar di meja, kembali duduk di kursinya.
"Apa menurut kamu saya perlu mengantar rekan bisnis ke bandara?"
"Maaf sebelumnya, apa yang Nona maksud rekan bisnis itu adalah Pak Louise?" Mata Elian menatap ke arah Artur yang bertanya.
"Iya, siapa lagi."
"Menurut saya, menjaga hubungan antar rekan bisnis itu penting Nona. Apalagi jika rekan bisnis sendiri yang memintanya." Mendengar hal itu, Elian melipat kedua tangannya di dada. Wajahnya terlihat serius berpikir.
"Jadi menurut kamu, saya harus pergi nganter dia?"
"Itu hanya saran saya Nona. Keputusan ada di tangan Nona." Ucapan Artur membuat Elian menghela nafas panjang.
"Apa ada masalah Nona?" Tanya Artur saat melihat Nona mudanya nampak lelah.
"Ya, masalahnya saya malas." Ucap Elian sambil menaruh kepalanya di atas meja.
"Ya?" Sontak saja Artur kaget. Elian yang biasanya nampak tegas dalam bertindak, ternyata bisa merasakan malas juga.
"Saya capek, pokoknya males. Lagian dia bukan atasan saya." Artur bingung menanggapi keluhan Elian.
'Aku harus jawab apa? Salah ngomong bisa aja Nona marah.' Batin Artur.
"Bagaimana kalau kamu saja yang mengantar Louise?"
'Apa? Mungkin aku harus segera keluar dari ruangan ini.'
"Bukannya Nona yang dimintai kehadirannya? Saya hanya sekretaris Nona."
"Benar." Artur tersenyum lega, dia berpikir Elian mengerti maksudnya.
"Saya kan rekan bisnisnya, bukan sekretarisnya. Kenapa saya harus mengantar dia? Memangnya dia gak punya sekretaris?" Dumel Elian. Ini pertama kalinya Artur melihat Elian mengoceh panjang lebar.
"Apa maksud kamu?"
"Saya akan menemani Nona untuk mengantar Pak Louise." Akhirnya Artur memberikan jalan keluar yang terbaik.
"Nona hanya perlu mengantarnya ke bandara, kan? Saya yang akan mengemudi, Nona tenang saja."
"Masalahnya saya ingin istirahat di rumah." Elian tersenyum ke arah Artur, dan Artur pun menanggapi dengan senyuman.
"Apa saya perlu bertanya pada Senior Laila?"
"Ya, sudahlah. Nanti jemput saya ya, kita ke rumah Louise. Dan jangan ngerepotin Laila."
"Baik, saya mengerti Nona." Ucap Artur yang kemudian berdiri dari duduknya.
"Kalau sudah tidak ada keperluan lain, saya akan kembali ke meja saya, Nona El." Elian pun mengarahkan tangannya ke pintu keluar, mengisyaratkan bahwa Artur di perbolehkan keluar dari ruangannya.
✨✨
Jam 7 malam
Artur sudah berada di rumah Elian, mereka bersiap untuk pergi menjemput Louise.
"Dimana kita akan menjemput Tuan Louise?"
Elian yang tengah duduk di sofa mengecek ponselnya, dan menghela nafas sejenak.
"Di apartemennya."
Mereka berdua akhirnya menuju mobil, dengan Artur yang mengemudi dan Elian yang duduk di sebelahnya.
"Apartemen Tuan Louise lokasinya dimana, Nona El?" Artur melirik ke arah Elian, sebelum kembali menatap ke arah depan.
__ADS_1
"Di Apartemen CxY, lokasi di jalan Bumi Putera."
Artur mengangguk mengerti, mobil pun melaju meninggalkan pekarangan rumah Elian.
Selama perjalanan, tidak ada percakapan yang terjadi. Artur melirik ke arah Nona mudanya, Elian. Dilihatnya Elian yang tengah tertidur dengan posisi kepala menyender di jendela.
Tangan Artur terulur meraih kepala Elian, untuk membenarkan posisi kepala Nona mudanya itu.
Beberapa menit kemudian, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.
"Nona El, kita sudah sampai." Artur mengguncang badan Elian dengan perlahan.
Mata Elian kemudian terbuka, lalu menengok ke arah Artur.
"Oh udah sampai? Kita turun."
"Saya juga ikut ke dalam, Nona?" Artur menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, ayo kita tidak punya banyak waktu."
Elian kemudian melepas seltbealt nya, begitu juga Artur.
Mereka berjalan menuju lobby apartemen. Sampai di lobby, Elian duduk di kursi yang tersedia di sana. Lalu dia mengambil ponselnya, dan menelpon Louise.
"Saya sudah di lobby, segera turun."
"Kamu ngapain masih berdiri?" Tanya Elian yang melihat Artur masih berdiri tak jauh dari dirinya.
"Tidak apa, Nona. Saya berdiri saja."
"Ya sudah."
Kali ini Elian tidak memaksa Artur untuk duduk.
Tak lama kemudian, Louise datang dengan koper di tangannya.
"Hei, udah lama nunggu?" Sapa Louise ke Elian, tak lupa dengan senyum hangatnya.
"Iya lama," balas Elian ketus.
"Sorry, El. Tapi...." Louise mengarahkan pandangannya pada Artur.
"Selamat malam, Tuan Louise."
"Dia ikut?" Elian mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Louise.
"Aku kira cuma kita berdua, El."
"Udah mau aku antar. Kan kamu juga punya sekretaris, kenapa harus aku yang nganter kamu ke airport?"
Louise tersenyum kembali, dan tanpa aba-aba dia memeluk Elian. Dan hal tersebut membuat Elian terkejut.
"Masa kamu gak mau nganter pacarmu? Aku bakal lama loh di luar negeri." Elian melepaskan pelukannya, menatap aneh ke arah Louise.
"Louise, kita bukan dalam hubungan pacaran. Kita mantan."
__________________________________
Terimakasih sudah baca❤️
Jangan lupa klik like ya!😍
Dan tinggalkan komentar!😉
Siapa yang kangen Elian&Artur
__ADS_1