
"Jangan memanggilku dengan sebutan itu, Louise!"
"Maaf-maaf. Yang ingin ku bicarakan hari ini, hanya ingin bertanya tentang kabarmu saja."
"Kabarku baik." Meskipun kesal, Elian tetap menjawab pertanyaan Louise.
"Syukurlah." Melihat raut wajah Louise yang nampak sedikit kusut, Elian pun balik bertanya.
"Bagaimana denganmu? Wajahmu seperti pakaian yang belum di setrika. Pasti ada yang membuatmu merasa buruk."
"Hm... Elian memang orang yang pengertian."
"Hei, aku hanya menebak. Jangan salah paham ya." Louise terkekeh, dia memandang ke arah luar restoran. Dirinya memang sengaja memesan meja yang di dekat jendela restoran di lantai dua, menampilkan bangunan-bangunan pencakar langit lainnya.
"Kamu tau, El?" Sebelum melanjutkan ucapannya, Elian sudah memotongnya.
"Tidak peduli."
"Aku akan ceritakan sedikit beberapa hal yang terjadi padaku beberapa tahun terakhir."
Elian memandang lurus ke arah Louise, mendengarkan apa yang Louise ingin ceritakan.
"Sebulan setelah wisuda, aku terpaksa meninggalkanmu. Pergi jauh ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan."
"Jujur saja, aku merasa sangat kehilangan. Kamu adalah satu-satunya orang yang mengerti diriku, satu-satunya orang yang menemaniku saat sulit."
"Baru berselang dua bulan, aku mendengar kabar bahwa ayahku menikah lagi. Rasanya aku sangat membencinya, dan membenci perempuan yang dinikahinya."
"Padahal, baru sebulan keluarga kami berduka atas kematian ibuku. Bajingan itu justru menikah lagi, dan sengaja mengirim ku ke luar negeri agar tak merusak rencananya!"
Elian yang melihat Louise mulai menunjukkan emosinya, menenangkannya dengan menggenggam tangannya. Mendapat perhatian Elian, Louise tersenyum hangat, dimana senyum itu hanya untuk Elian, di luaran sana dia di kenal dengan kekejamannya.
"Saat itu, aku sangat ingin kembali ke rumah. Mendobrak pintu dan mengacau di kediaman. Sayang sekali, aku tidak mendapat ijin untuk kembali ke negara ini."
"Karena tidak ingin berlama-lama di negara asing, aku menyelesaikan studi dalam waktu tiga tahun, yang seharusnya empat tahun. Dan aku langsung ke negara ini, ingin melihat keadaan kedua adikku yang ku tinggalkan."
"Kamu tahu, El? Di kediaman, aku mendapati Lionel-- adik pertamaku tengah di kurung di gudang. Pakaiannya lusuh, banyak bekas luka memar dan sabetan di sekujur tubuhnya. Hatiku teriris, hal apa yang telah ku lewatkan selama itu?"
Elian masih diam mendengarkan, tangannya semakin di genggam erat oleh Louise.
"Dan adik keduaku-- Lyana, dia di perlakukan seperti pembantu oleh perempuan yang di nikahi ayahku. Aku pun segera pergi membawa kedua adikku dari rumah neraka itu.
Ayah yang mengetahui hal itu marah besar, tapi karena hasutan iblis perempuan itu ayah bajingan itu akhirnya tidak menganggap kami lagi. Membuang kami begitu saja."
"Setidaknya, ayah mu masih memberi kalian uang kan?" Tanya Elian. Louise menggelengkan kepalanya.
"Tidak, El. Dia sudah lepas tangan dari tanggung jawabnya sebagai seorang ayah. Tapi beruntungnya aku masih bisa menyewa rumah kecil dengan sisa uang di tabunganku.
Dan untuk membiayai hidupku dan kedua adikku yang masih bersekolah, aku bekerja di suatu perusahaan. Dan sekarang, aku menjadi Presdir di perusahaan milikku berkat usahaku sendiri."
"Permisi, ini pesanan Anda. Selamat menikmati." Seorang pelayan menyajikan dua gelas anggur merah. Serta dua piring steak.
"Aku tidak minum minuman alkohol, Louise." Peringat Elian.
"Tenang saja, El. Kandungan alkoholnya rendah. Ayolah, setelah sekian lama kamu seharusnya menyambut kedatanganku."
"Hm, baiklah."
__ADS_1
Louise lagi-lagi tersenyum, dia tak bisa menghentikan bibirnya untuk terangkat. Dia begitu merindukan gadis di hadapannya ini.
"Berhenti menatapku layaknya orang mesum, Louise."
"Hahaha, maaf El. Tapi aku hanya seperti ini padamu saja loh," Louise mengusak rambut Elian.
"Apa peduliku? Cepatlah makan steakmu." Elian mulai memotong steaknya dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
"El, apa kamu sudah punya kekasih?" Louise menatap ke arah Elian dengan serius.
"Tidak. Apa gunanya mereka? Yang terpenting adalah uang." Mata Louise langsung berbinar-binar, penuh dengan harapan.
"Ekhem, begitulah."
"Jam makan siangku akan berakhir, jangan hanya menatapku Louise. Makanan mu akan dingin nanti."
"Suapi aku." Wajah Elian seketika terangkat, keningnya pun turut berkerut.
"Kau bukan anak TK."
"Kalau begitu, waktu mu akan kamu habiskan bersamaku di sini." Elian memilih mengalah, dia memotongkan steak untuk Louise. Dan sengaja dengan ukuran yang cukup besar.
Louise yang sudah membuka mulutnya, langsung di suapi oleh Elian dengan steak untuk besar itu.
"Uhuk...uhuk." Elian tersenyum puas, dia hanya menyodorkan red wine ke arah Louise.
"Kamu perhatian sekali, El. Tahu saja aku lapar, dan memberiku ukuran yang besar." Louise tau, Elian kesal. Namun, di mata Louise Elian yang sedang kesal terlihat imut menggemaskan.
"Jadi, hal apa yang membuatmu buruk Louise?" Tanya Elian setelah melahap habis steaknya.
"Apa sekarang kamu mulai peduli dan khawatir tentangku, El?" Goda Louise.
"Hehe, begitu ya? Hal yang membuatku gusar belakangan ini sudah hilang."
"Begitukah?" Elian hanya mengangguk-angguk.
"Aku mendapat informasi, kalau kamu mengganti sekretaris pribadi. Dan dia laki-laki, apa benar?"
"Iya. Laila sudah berumah tangga, tidak bisa bekerja lagi."
"Ekhem... Lalu kapan kamu menyusul Laila untuk menikah?"
"Aku tidak berpikir untuk menikah seumur hidupku."
"Baiklah, itu keputusan mu. Tapi siapa yang tahu ke depannya, kan?"
"Aku tetap bersikukuh tidak menikah, Louise. Menjadi lajang dengan banyak uang adalah impianku sejak lama." Balas Elian sambil tersenyum kecil, yang mampu membuat Louise salah tingkah melihat manisnya Elian.
Secara tidak sengaja, Louise melihat sudut bibir Elian yang ada bekas makanan. Dia pun berinisiatif mengambil tisu, dan mendekat ke arah Elian.
"Hei, apa yang kau lakukan?"
Louise tidak menjawab pertanyaan Elian. Dengan lembut dia membersihkan sudut bibir Elian, dan membuang tisu tersebut setelahnya.
"Kamu masih sama seperti saat kuliah saja, El. Makan selalu berantakan."
"Kau sangat mengingat banyak hal tentang masa kuliah ya?" Sindir Elian.
__ADS_1
"Hanya tentangmu, Elian Anastasio." Elian yang mendengar rayuan gombalan Louise hanya mengangkat acuh bahunya.
"Jika.... Suatu saat nanti aku datang melamarmu, apa reaksimu El? Apa kamu menerimanya?" Tatapan hangat nan teduh Louise layangkan ke arah Elian, tangannya kembali menggenggam lembut tangan Elian yang ada di atas meja.
"Aku akan melayangkan wajan ke wajahmu, agar kau tersadar dari mimpimu."
"Hahaha, lebih baik aku tidak pernah terbangun dari mimpi indah itu."
Elian mengalihkan pandangannya ke arah jendela restoran. Cuaca yang tadinya panas terik, kini telah berganti dengan gumpalan awan hitam di langit.
"Sebaiknya aku segera pergi, hujan akan turun. Kau sebaiknya juga begitu, Lupis." Mendengar Elian memanggil nama kecilnya, membuat Louise tersenyum bahagia.
Elian pun berdiri dari duduknya, hendak meninggalkan ruangan VIP tersebut. Namun, tiba-tiba tangannya di tarik. Dan dirinya jatuh ke dalam pelukan Louise.
"Louise... Kau..."
"Biarkan seperti ini sebentar saja, El."
Elian menghela nafas pasrah, dia mengerti, Louise pasti telah mengalami banyak hal berat dan butuh sandaran.
"Panggil aku dengan sebutan tadi, sekali lagi." Pinta Louise.
"Yang mana?"
"Jangan pura-pura lupa, Lilian."
"Hm... Lupis." Louise semakin mengeratkan pelukannya, tidak ingin kehilangan bidadarinya lagi.
"Aku akan ke luar negeri lagi, El. Bisakah kamu menjaga kedua adikku untukku?"
"Tentu, sebagai seorang teman aku akan membantumu." Louise pun akhirnya melepaskan pelukannya, walau dia enggan melakukannya.
"Padahal aku masih ingin tinggal di sini. Melihatmu, bersamamu. Tunggu aku, El. Setelah urusanku selesai, aku akan datang bertemu denganmu."
"Siapa yang mau menunggumu," ucap Elian dengan ekspresi datar.
"Sampai saat itu, kamu jangan dekat dengan laki-laki manapun."
"Hei, kau hanya teman bisnis. Cemburu tidak akan ada gunanya."
"Aku hanya memperingatkan saja. Kalau El mau pergi sekarang, aku akan mengantarmu ke parkiran."
"Baiklah, terimakasih."
"Ah! Sebelum itu, aku memberimu ini. Jangan sampai hilang."
Louise memasangkan sebuah kalung yang indah pada leher Elian.
"Anggap saja itu aku, yang akan bersamamu selalu."
"Kau terlalu rempong, Louise."
โจ๐ธ๐ธ๐ธโจ
Hai โผ๏ธ
Ada yg nunggu cerita inikah?๐ป
__ADS_1
Terimakasih bagi yang udah nungguin dan like๐๐
See you next chapter ๐๐