Nona Muda Dan Sekretaris

Nona Muda Dan Sekretaris
12. Bertemu teman lama


__ADS_3

Selamat membaca‼️


"Maaf bertanya hal itu, Artur."


"Eh ti-tidak perlu meminta maaf Nona. Saya sudah mengikhlaskan semua yang terjadi."


Artur terkejut, ini pertama kalinya dia mendengar permintaan maaf dari Elian secara langsung.


"No-Nona, motor saya tertinggal di kantor. Nona bisa turunkan saya di parkiran kantor saja, tidak perlu sampai rumah."


Elian melirik sekilas ke arah Artur, kemudian kembali fokus ke jalanan malam yang licin.


"Mulai besok pakai mobil kantor."


"Saya baru sebulan bekerja, Nona El. Saya rasa itu tidak---."


"Membantah?" Belum rampung Artur berbicara, namun sudah di potong oleh ucapan Elian.


"Tidak, Nona. Akan saya lakukan."


Setelah itu, tidak ada perbincangan lagi diantara mereka. Hingga akhirnya mereka sampai di parkiran apartemen yang ditempati Artur.


"Terimakasih Nona El, sudah mengantar saya. Maaf banyak merepotkan, Nona El."


Setelah pamit dan turun dari mobil, Elian dengan mobilnya kemudian meninggalkan parkiran. Sementara Artur masih berdiri memandang kepergian mobil Nona mudanya itu, yang semakin hilang dari pandangan. Sebelum akhirnya masuk ke dalam bangunan berlantai 10 tersebut.


✨💸💸💸✨


Seminggu setelah kejadian di hari itu, semua masih berjalan baik-baik saja. Nona mudanya yang masih bersikap ketus dan jutek. Dan Artur yang terbiasa dengan sikap Elian. Setiap dia mengingat kejadian di kamar Elian, Artur dibuat salah tingkah.


Sejak saat itu pula, Artur kadang-kadang memerhatikan Elian entah itu dari dekat atau jauh. Seperti saat ini, dalam ruangan workshop suatu perusahaan, Artur yang sedang menatap ke arah Elian yang berjarak beberapa meter darinya.


Mata tajam bak elang milik Elian menatap fokus ke layar proyektor yang tersuguhkan di panggung, mengingatkan Artur jika setiap Nona mudanya itu kesal pasti akan menatap dengan tatapannya yang menusuk.


Rambut Elian yang panjang, terurai dengan kesan yang indah dan elegan. Di ruangan yang gelap ini, wajah Elian tetap putih bersinar di bawah penerangan layar proyektor.


Dan juga bibir tipis berwarna merah muda itu, yang selalu melontarkan kalimat pedas ataupun ketus.


Entah kenapa, Artur merasa Nona mudanya itu perempuan yang paling langka yang pernah dia temui. Nona mudanya itu bagaikan cantik yang sesungguhnya.


"Artur." Panggil Elian yang sudah berdiri di hadapannya. Workshop sudah berakhir baru saja, dan karena banyak melamun Artur tidak menyadari kalau lampu sudah menyala dengan terang.


"Ah iya, Nona? Apa kita akan ke kembali ke kantor? Atau ke perusahaan Cloud?"


"Langsung ke perusahaan Cloud."


"Baik Nona."


♥️♥️♥️


Akhirnya, setelah melakukan kunjungan ke perusahaan Cloud, Elian dan Artur kembali ke perusahaan Nemesis -- perusahaan milik Elian.


Sampai di pos nya, Artur langsung mengecek ponselnya. Pasalnya sedari tadi ponselnya bergetar tiada henti.


"Oh ternyata dari grup alumni SMA."


Artur baru ingat, hari ini ada reuni dengan teman sekelasnya semasa SMA. Sesuai dengan instruksi mantan ketua kelas, letak reuni adalah di hotel Bunga Malam jam tujuh.


Tentu saja, Artur akan datang. Dia tidak ingin di cap sebagai seorang pecundang.


Jam 7— Hotel Bunga Malam


Semua teman sekelas Artur sewaktu SMA telah datang. Suasana di dalam ballroom hotel pun sangat ramai. Ada yang membawa kenalannya, pasangan, bahkan ada yang turut membawa anaknya.

__ADS_1


Namun, Artur berdiam diri di sudut ruangan. Dia kali ini benar-benar dikucilkan, bahkan sebelum pesta reuni di mulai. Meskipun diabaikan, Artur tetap tenang dengan bersandar pada dinding.


"Hei lihat siapa ini!" Sapa seorang pria sambil menepuk pundak Artur. Beberapa orang lainnya pun mendekat, untuk melihat pertunjukan yang menarik bagi mereka.


"Huh, ternyata Si Pecundang."


"Hahaha, beraninya Artur datang!"


"Siapa yang mengundangmu, bodoh?" Ucap sekumpulan laki-laki, yang dulunya sering menindas Artur. Dan diketuai oleh Jonas.


"Lihat pakaiannya begitu lusuh, apa belum di setrika?"


"Mana pasangan mu, pecundang?" Tanya Jonas sambil merangkul Artur, sesekali mengusak rambut Artur.


"Wah, kasihan sekali Artur."


"Siapa Artur?"


"Dasar pikun! Dia teman sekelas kita sewaktu SMA."


"Kenapa dia berani datang, jika hanya jadi sasaran bully?"


"Ketua kelas sudah mengundang semua teman sekelas."


Walaupun banyak ucapan yang merendahkan dirinya, Artur memilih mengabaikan hal itu. Dia tidak ingin membuat masalah di acara ini. Dia harus mampu mengontrol emosi. Artur ingat ada satu pepatah, 'Diam itu emas' yang walaupun Artur tidak kaya raya karena diam setidaknya diam tidak akan menimbulkan masalah.


Tiba-tiba lampu menyorot ke arah panggung yang tersedia di ballroom hotel tersebut. Ada si mantan ketua kelas yang sudah berpakaian rapi berdiri dengan gagahnya.


"Selamat malam, kawan-kawan saya tercinta. Sebagai mantan ketua kelas IPS 3, saya David mengucapkan terimakasih karena kalian sudah bersedia datang ke acara reuni ini."


"Sebelumnya, saya juga berterimakasih kepada sepupu saya yang telah bersedia untuk menyediakan ballroom ini. Semua ini telah di sediakan oleh sepupu saya, yang menjadi direktur di hotel ini. Saat ini, dia di ruang VIP bersama tamu kehormatannya. Mungkin bila ada waktu dia akan datang kemari."


"Baik, tanpa basa-basi lagi, mari kita langsung mulai pesta reuni pertama kita!!"


Riuh tepuk tangan memenuhi seisi ruangan tersebut. Mereka pun membentuk kelompok masing-masing. Ada yang menyanyi di panggung, ada yang pamer kemesraan, ada yang sudah mengambil makanan dan minuman, atau sekedar berbaur di antara lainnya dengan obrolan ringan.


Sementara di pojok ruangan, Artur berdiri sendiri. Untungnya kumpulan Jonas sudah meninggalkannya, entah kemana Artur tak peduli.


Artur menyibukkan diri dengan bermain ponsel, kebetulan Nona mudanya mengirimkan pesan yang lupa Artur balas. Bisa Artur tebak, Nona Mudanya pasti akan marah-marah nantinya.


Nona Muda Elian


Saya perlu kehadiran kamu nanti, 'jam 07.30 pm


^^^Maaf saya baru membalasnya, Nona El. Batre hp saya lowbat dan sekarang saya sedang menghadiri acara reuni di hotel Bunga Malam. Mohon Nona menghukum saya nanti.^^^


^^^07.20 pm✓^^^


Pesan yang terkirim pada pukul 06.30 pm tadi, baru terbaca sekarang. Di karenakan baterai ponselnya lowbat tadi, Artur tidak mengetahui adanya tugas dari Elian.


"Hai, Artur." Mendengar namanya dipanggil, Artur menegakkan kepalanya yang tadinya menunduk. Dia mendapati si bunga kelas saat SMA dulu, Camelia.


"Hai, Lia." Artur ingat, dulu Camelia satu-satunya orang yang mau berbicara dengannya, selain David.


"Kenapa kamu gak berbaur sama yang lainnya? Malah sendirian di sini." Camelia berdiri di samping Artur sambil bersandar di dinding. Artur akui, wajah cantik Camelia tidak berubah dari dulu.


'Meski lebih cantik Nona El.'


'Apa yang ku pikirkan?!' Batin Artur.


"Ya, seperti dulu." Camelia tertawa kecil, kemudian menepuk-nepuk bahu Artur.


"Aku yakin, kamu sudah berubah Artur. Dulu kamu selalu datang ke sekolah dengan tampilan berantakan. Lihat sekarang, kamu lebih rapi dan.... ekhem ganteng." Puji Camelia sambil memalingkan wajahnya di kata terakhir.

__ADS_1


"Terimakasih pujiannya, Lia."


"Gimana kabarmu, Ar?" Artur menoleh ke arah Camelia, lalu tersenyum.


"Baik. Lia sendiri?"


"Buruk. Pekerjaan ku membuatku pusing, banyak tekanan dan desakan. Dan rasa rindu untuk seseorang yang begitu berat." Camelia menoleh ke arah Artur yang sedang mengecek ponselnya.


"Semua pekerjaan memang berat, Lia." Balas Artur yang sudah menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.


"Terus, kalo rindu sama seseorang gimana?" Alis Artur terangkat sebelah, tidak begitu paham dengan pertanyaan Camelia.


"Gimana apanya?"


"Hahaha, sudahlah Artur tidak akan paham."


"Rindu seseorang? Apa sama seperti kerinduan pada orangtua?" Mendengar pertanyaan Artur, Camelia tidak bisa menahan tawanya.


"Hahaha, kamu benar-benar polos Artur, memang berbeda dari yang lainnya."


Melihat wajah kebingungan yang ditunjukkan oleh Artur, Camelia pun menjelaskannya. Tentang rindu.


"Rasa rindu itu sama seseorang yang kamu cintai, yang kamu sayang. Menurutku, berbeda dengan rasa rindu pada orangtua."


"Apa bedanya? Bukannya sama-sama orang?" Camelia menutup wajahnya, Artur kelewat polos atau bodoh tentang perasaan?


"Jelas beda. Rindu sama orang tua itu karena memang sedarah. Yang ku bilang itu, rasa rindu sama orang yang gak sedarah."


"Teman?" Tebak Artur, Camelia menggelengkan kepalanya.


"Orang yang kita perlakukan sebagai orang yang istimewa di hati kita."


✨💸💸💸💸✨


Bisa kalian tebak, yg di maksud Camelia itu apa ?


Camelia sebenarnya rindu sama siapa nih?🤭🤭


Ingat like ya teman-teman 😍


Satu like sangat berharga bagi aku


Terimakasih yang sudah mau mampir, like dan komen cerita ini.


🙏😘


See you next chapter 👋👋😉


👇👇👇👇👇 Nih ada bonus gambar Artur waktu datang ke acara reuni‼️‼️♥️♥️


Ganteng gak ganteng gak? Ganteng lah kesayanganku 🤣🤣👻👻



ARTUR DAFFODIL



INI CAMELIA SI BUNGA KELAS🖤


Apa dia akan menjadi orang ketiga antara Artur dan Elian????


Nantikan aja ya 🤩🤩🤩🤩

__ADS_1


__ADS_2