
Tok tok tok
"Masuk!" Dengan menguatkan hati, Artur pun memasuki ruang Nona muda.
"Ada beberapa dokumen yang sudah saya cek dan tanda tangani, bisa kamu simpan. Setelah makan siang akan ada rapat, kamu ikut saya ke ruang rapat nanti, Laila." Ucap Nona muda yang masih menutup matanya sembari menyenderkan punggungnya di kursi putar.
"Saya pusing sekali, bisa tolong ambilkan minyak kayu putih di lemari kaca, Laila?" Tanpa berkata, Artur menuruti perintah Nona mudanya. Tangan Nona muda yang sudah terulur, langsung disodorkan sebotol minyak kayu putih.
"Terimakasih."
"Bisa saya bantu, Nona?" Alis Elian mengernyit, telinganya mendengar suara berat khas pria.
"Kamu sakit, La? Suaramu kok berubah?" Tanya Elian, dan matanya masih tertutup rapat.
"Ekhem. Saya Artur Daffodil, Nona." Mata Elian seketika terbuka lebar, beberapa kali dia mengerjapkan matanya. Matanya menatap intens Artur.
"Oh, saya kira Laila. Kamu bisa keluar." Ucap Elian, tangan kanannya mengisyaratkan Artur untuk keluar. Dan tangan kirinya digunakan untuk memijat pelipisnya.
"Apa Nona sedang tidak enak badan? Bisa saya bantu, Nona muda?" Mata Elian melirik sebentar ke arah Artur, namun kembali menutup.
"Tidak perlu. Kamu bisa keluar."
"Baik Nona muda. Jika ada yang perlu saya bantu, silahkan Nona muda beritahukan." Elian mengangguk-angguk, Artur pun kemudian keluar dari ruangan Nona muda tanpa bantahan.
Keluarnya Artur dari ruangannya, Elian langsung mencengkeram dada kirinya. Dia merasa penyakitnya kambuh, penyakit jantung yang ia derita sejak lahir memang menyulitkannya. Tidak ada orang yang tahu, kecuali orangtuanya.
"Semoga Nona muda cepat sembuh." Ucap Artur, yang terduduk di kursinya.
*Jam makan siang
Karena tidak melihat Nona mudanya keluar dari ruangan, Artur berinisiatif untuk mengecek ruangan CEO.
Tok tok tok
Setelah sekian lama mengetuk pintu, Artur tak kunjung mendapatkan jawaban. Alhasil, dia langsung membuka pintu.
Nihil.
Tidak ditemukannya keberadaan Elian--Nona mudanya.
"Nona? Apa Nona di sini?" Mata Artur menelisik setiap sudut ruangan, namun tak melihat tanda-tanda keberadaan Nona mudanya.
Hingga fokus matanya terkunci pada sebuah pintu berwarna biru tua, yang letaknya di sudut ruangan. Saat akan melangkah mendekati pintu itu, langkahnya terhenti.
"Keempat. Jangan memasuki ruangan pribadi yang ada di ruang kerjanya."
Artur ingat. Laila memperingatinya tentang ruangan pribadi itu kepadanya. Namun, Artur juga tidak punya pilihan. Jam makan siang akan segera berakhir, jika dia tidak mencari Nona Muda, bisa-bisa rapat nanti akan tertunda.
Meskipun sedikit gemetar, tangan Artur membuka pintu bercat biru tua tersebut.
__ADS_1
"Nona?" Kepalanya melongok ke dalam ruangan. Di lihatnya Nona mudanya yang terbaring di kasur dengan mata yang tertutup. Artur pun memberanikan diri untuk mendekat.
"Nona? Ini sudah jam makan siang, sudah waktunya makan. Setelah makan siang, akan ada rapat."
Karena sang atasan yang tak kunjung bangun, Artur mengguncang badan Elian. Sama saja, Elian tetap tidak bangun.
"Nona? Nona, apakah anda pingsan?" Raut wajah Artur berubah panik.
"Nona? Nona?! Apakah anda pingsan?"
"Bagaimana membangunkan orang pingsan?"
Dengan cepat Artur mengeluarkan ponselnya, dan mencari Google.
"Mengguncang tubuhnya dengan keras, memanggil dengan suara keras, menepuk atau mencubitnya, jika tidak bernafas lakukan RJP (Resusitasi Jantung Paru)."
Artur pun mulai mengikuti instruksi yang tertera di layar ponselnya. Mulai dari mengguncang badan Elian, memanggil Elian sampai berteriak, membuat suara-suara berisik, bahkan sampai menepuk-nepuk pipi Elian.
Sayang sekali, Elian sama sekali tidak bereaksi. Artur memerhatikan dada Elian yang naik turun, itu menandakan jika Nona Mudanya masihlah bernafas normal.
Ketika Artur mengecek jam tangan yang ia pakai, dia terkejut karena waktu makan siang tersisa lima menit lagi. Dan setelahnya akan ada rapat.
"Aku harus bagaimana?" Artur mengacak-acak rambutnya.
"Ah, aku baru ingat! Tanya Laila saja." Artur keluar dari ruangan itu, dan menuju mejanya untuk mengambil ponsel.
"Halo, maaf mengganggu." Sapa Artur.
"Eh.... Ini Artur."
"Artur?! Ngapain lo nelpon-nelpon gue lagi, hah?! Denger ya! Gue udah bahagia sekarang! Minggu depan gue nikah! Jangan harap gue mau balikan sama mantan songong kayak lo!"
"Eh? Maksud saya, saya Artur Daffodil, sekretaris baru Nona Elian." Artur kaget tiba-tiba mendengar suara bentakan dari Laila. Mengira dirinya adalah mantan Laila.
'Artur yang malang,' batin Artur.
"Oh sorry-sorry. Kamu yang salah, nyebut nama setengah-setengah. Kenapa nelpon? Ada masalah sama Elian?"
'Tetap saja, laki-laki selalu salah.'
"Nona muda tidak kunjung bangun. Bagaimana cara membangunkannya dari pingsan?"
"Dia bukan pingsan, Daffodil. Dia tidur. Astaga anak ini merepotkan sekretaris barunya. Apa akan ada rapat setelah jam makan siang?"
"Nona Laila tahu?"
"Aduh jangan panggil Nona, saya bukan orang dari keluarga atas. Panggil nama saja. Mengenai kebiasaannya itu, saya sudah hafal. Cara membangunkannya dari tidur suri, coba kamu bawakan dia mie goreng. Itu paling ampuh buat bangunin dia. Oh ya, dia tidur di mana? Jangan bilang di ruang pribadinya? Kamu masuk ke ruang pribadinya?! Dia memberimu ijin? Kalau tidak, hati-hati kamu akan di pecat. Baiklah, saya ada urusan. Semoga kamu berhasil membangunkannya."
Tut
__ADS_1
Sambungan telepon terputus. Artur menghela nafas panjang, merasa hari pertamanya sedikit berat. Dia pun kemudian keluar ruangan pribadi Elian, dan membeli mie goreng.
Dengan sepiring mie goreng di tangannya, Artur kembali memasuki ruang pribadi Elian.
"Nona, saya bawakan Anda mie goreng."
Hidung Elian berkedut, matanya pun perlahan membuka. Aroma mie goreng langsung membawanya ke alam nyata.
"Ada bau mie goreng," gumam Elian yang baru terbangun dari tidurnya.
"Artur? Kenapa kamu di sini?" Ucap Elian yang masih setengah sadar.
"Maaf menganggu tidur Nona muda, tapi jam makan siang akan berakhir, dan rapat akan segera mulai."
Setelah beberapa saat mengumpulkan nyawa, Elian sadar akan satu hal.
"KAMU MASUK KE RUANG PRIBADI SAYA!! CEPAT KELUAR!!"
Artur yang tiba-tiba dibentak, terkejut. Dan langsung meninggalkan ruangan CEO dengan terburu-buru.
"Eh, mie gorengnya mana?" Elian bangun dari duduknya, dan mengambil piring yang berisi mie goreng, yang di letakkan di atas meja.
"Ehm, dari mana dia tahu aku suka mie? Atau jangan-jangan........ Dia penggemarku?!"
Ddreeetttt Dreetttt
Suara dering ponsel membuat Elian mengalihkan perhatiannya.
"Eh? Dari Laila?"
"Hal--,"
"ELIAN!! Kau ini benar-benar menyusahkan sekretarismu! Aku bahkan sampai membentaknya tadi! Aku kira dia mantanku, Artur Mahesa! Kamu ini, kapan berubah?! Dia nelpon aku, katanya kamu susah di bangunin, dia ngira kamu pingsan! Segitu kebo nya kamu! Sekali tidur mirip mati suri! Oh ya! Kayaknya kamu harus ikut rapat bentar lagi, aku tutup telponnya ya. Eh, Daffodil ada kasih mie goreng? Itu aku yang nyuruh, jangan negatif thinking ya!"
Tut Tut
"Oh, ku kira dia penggemar beratku. Eh?! Tadi Laila bilang aku harus rapat?!"
Dengan kecepatan kilat, Elian menghabiskan sepiring mie goreng. Kemudian memakai jas kebesarannya secara tergesa-gesa.
"AKU LUPA SEKARANG RAPAT!!"
💸💸💸✨✨
📢Ingat like ya! Dukung karya penulis dengan memencet tombol like♥️
Siapa penggemar berat mie? Khususnya mie goreng?
Aku dong paling depan😘🤣
__ADS_1
Sekian chapter kali ini, dan terimakasih sudah berkunjung ke ceritaku.
Next bakal aku kasih picture, cast dari tokoh² ya