
"Tidak perlu." Ketus Elian, kini moodnya benar-benar buruk karena paksaan Laila. Elian benci di paksa!
Artur yang mendengar jawaban Nona mudanya hanya bisa tersenyum, sudah terbiasa akan sikap ketus Elian seminggu terakhir.
Tak lama kemudian, acara dansa pun di mulai di tengah-tengah ruangan yang sudah di siapkan.
"Daffodil, semangat!" Ucap Laila yang sengaja berpapasan dengan Artur dan Elian.
"Terimakasih, Senior Laila. Saya akan berusaha sebaik mungkin." Elian memutar malas matanya, entah kenapa dia merasa Laila ingin mendekatkan Artur pada Elian sendiri.
"Nona El, silahkan pegang tangan saya." Artur mengulurkan tangan kanannya. Dan di sambut oleh tangan Elian.
Musik pengiring dansa pun mulai di putar dan memenuhi seisi ruangan. Banyak pasangan yang mulai bergerak sesuai alunan musik. Sementara yang lajang hanya bisa tersisihkan dan menonton.
"Sshh." Desis Artur ketika kakinya terinjak oleh high heels milik Nona mudanya.
"Jangan salahkan saya, salahkan kamu yang memaksa." Bisik Elian, walau dalam hatinya dia tertawa jahat melihat Artur yang menahan kesakitan. Elian beberapa kali memang sengaja menginjak kaki Artur, dia masih tidak bisa menghilangkan rasa kesalnya.
"Saya mengerti, Nona."
Semua gerakan dansa bisa Elian lakukan berkat bimbingan Artur, tinggal satu gerakan yang tersisa. Gerakan dimana pinggangnya di tahan oleh pasangan dansa dan badannya di jatuhkan ke belakang.
Saat gerakan dansa itu, lantai yang Elian pijak licin.
Brukh
Laila yang melihat itu, langsung mengkode petugas untuk mematikan lampu dan menyorotkan sinar lampu ke arah dirinya bersama suaminya.
Sementara itu, Artur terjatuh dan menimpa Elian yang berada di bawahnya. Beruntung tidak ada yang tahu, karena penerangan yang hanya menyorot Laila.
"Maaf Nona, saya tidak sengaja." Artur segera berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah Elian yang terduduk.
"Ya, saya yang salah menarik kamu." Elian pun menerima uluran tangan Artur.
Tak lama kemudian, penerangan kembali seperti semula. Riuh tepuk tangan pun terdengar.
Elian melirik ke jam tangan yang terpasang di tangannya, menunjukkan pukul 21.30. Merasa waktu semakin larut, Elian memutuskan untuk pamit pulang.
"Laila, saya pulang duluan. Masih ada urusan kantor besok pagi."
"Baiklah, hati-hati di jalan. Terimakasih sudah mau datang ke pesta resepsi saya, Nona El." Ucap Laila sopan, tentu saja itu karena ada suaminya yang berdiri di sebelahnya.
"Terimakasih sudah mau datang ke pesta kecil-kecilan kami, Nona Elian." Tambah Fajar, suami Laila.
"Tidak perlu merendah, Tuan Fajar. Kalau begitu karena sudah larut, saya dan Artur pamit."
Kemudian, Elian dan Artur pun ke parkiran. Sampai di depan mobil, Artur yang hendak membuka pintu mobil dengan tangan kirinya terhenti. Melihat wajah Artur yang menahan sakit, Elian pun menarik tangan kiri Artur.
"Tangan kiri kamu terkilir. Biar saya yang bawa mobilnya."
"Tapi Nona...."
"Turuti saya, jangan membantah." Artur pun hanya bisa pasrah. Dia duduk di kursi yang bersebelahan dengan kursi pengemudi.
__ADS_1
"Maaf sudah merepotkan Nona Muda." Ucap tulus Artur di tengah-tengah perjalanan menuju rumah Elian.
"Ya. Itu juga salah saya."
"Nona, bolehkah saya bertanya?" Elian melirik sekilas Artur lewat ujung mata, lalu mengangguk.
"Apa Nona tidak suka tempat ramai seperti pesta tadi?" Pertanyaan ini terus menghantui pikirannya sejak tadi.
"Ya."
"Lalu, apakah Nona lebih suka sendirian di tempat sunyi?"
"Ya."
"Bukan bermaksud menggurui Nona. Tapi menurut saya, Nona itu tipe orang introvert."
"Sudah tau."
"Sejak kapan Nona tahu?"
"Sekarang bukan saatnya wawancara." Sindir Elian agar Artur menutup mulut, dia kesal terus di tanyai hal tidak penting.
"Saya mengerti, maaf menganggu konsentrasi Nona."
Berselang beberapa menit, mobil pun sampai di depan gerbang rumah Elian.
"Biar saya yang buka gerbang Nona."
"Ikut saya." Elian berjalan mendahului Artur, dia mengajak Artur untuk masuk ke rumahnya.
"Kamu tunggu di sini." Artur pun terduduk di sofa ruang tamu, menunggu Elian yang pergi ke lantai dua.
Tuk tuk tuk
Bunyi derap langkah kaki dari lantai atas. Refleks, mata Artur mencari sumber suara. Yang ternyata berasal dari Elian, yang kini tengah memegang kotak obat.
"Buka sepatu kamu." Tanpa membantah, Artur membuka sepatunya dan juga kaus kakinya. Terlihat jelas memar berwarna keunguan di punggung kakinya.
Ulah siapa? Tentu saja ulah Elian yang sengaja menginjak kaki Artur saat berdansa tadi. Merasa kejahilannya sedikit berlebihan, Elian pun mengoleskan obat pada luka di kaki Artur. Dan kemudian membalut luka itu dengan perban.
"Nona Muda, maaf sudah banyak merepotkan. Saya bisa merawat luka saya sendiri."
"Untuk tangan kiri mu, tukang pijat akan segera datang menyembuhkannya."
Perasaan Artur seketika buruk, dia takut nanti tangannya justru akan sakit bertambah parah.
"Tenang saja, dia profesional."
"Nona, apa Nona tidak mempekerjakan satpam atau pembantu di rumah Nona?" Elian menoleh ke arah Artur. Dia mengangguk membenarkan ucapan Artur.
"Saya ingin hemat uang, dan tidak suka di ganggu orang lain." Sebelum Artur bertanya, Elian langsung menjawab.
'Apa Nona El kekurangan uang?' batin Artur.
__ADS_1
Tak berselang lama, tukang pijat yang Elian telpon pun datang bersama asistennya. Elian pun menyajikan empat cangkir teh di meja.
"Oh ini hanya terkilir. Saya akan menyembuhkannya sekarang." Tukang pijat itu pun membaluri tangan kiri Artur dengan minyak, kemudian memijat perlahan bagian tangan Artur yang terkilir.
Melihat wajah Artur yang menahan sakit, Elian mengulurkan tangannya ke hadapan Artur. Artur pun mengerutkan keningnya, tak mengerti apa yang Nona mudanya perbuat.
"Pegang tangan saya. Nanti akan sedikit sakit." Peringat Elian. Artur pun menurut, tangan kanannya menggenggam tangan kiri Elian.
Kretak!
Bunyi persendian tangan Artur. Cengkraman di tangan kiri Elian pun semakin menguat.
"Tangannya sudah tidak terkilir lagi. Sekitar dua hari, baru bisa beraktivitas seperti biasa." Jelas tukang pijat tersebut.
"Terimakasih pak." Elian pun menyodorkan sebuah amplop berisi uang ke tukang pijat itu.
Usai dengan urusannya, tukang pijat serta asistennya pun pergi meninggalkan rumah Elian.
Kini tersisa mereka berdua. Suasana canggung pun menyergap mereka.
"Ekhem, terimakasih atas bantuan Nona. Saya tidak akan melupakan kebaikan Nona."
"Baiklah."
"Maaf sebelumnya, kenapa Nona bisa tahu nantinya saya akan kesakitan saat di pijat?"
"Saya sudah pernah terkilir dan tukang pijat itu yang menyembuhkannya."
"Nona Muda, saya mohon pamit undur diri. Hari sudah larut."
"Baiklah, kamu masih bisa pakai motor?" Tanya Elian, mengingat Artur yang mengendarai motor menuju ke rumahnya.
"Tentu, Nona. Saya hanya terkilir biasa, bukan lumpuh."
"Oh saya kira. Berhati-hatilah."
"Besok saya akan datang ke kantor. Terimakasih untuk perhatian Nona El."
"Ya."
Artur pun menaiki motornya, dan meninggalkan rumah Elian.
✨💸💸💸💸✨
Hai! Apa kabar kalian semua‼️
Ingat tinggalkan like dan komen‼️
Satu like sangat berharga bagi aku
Terimakasih sudah mau mampir dan yg udah like🙏😍
Jumpa di next chapter 👻👋
__ADS_1