Nona Muda Dan Sekretaris

Nona Muda Dan Sekretaris
16. Derita Elian


__ADS_3

Selamat membaca❤️


"Apa kamu sudah makan siang?" Artur berbalik, menatap Nona nya yang duduk di kursi kebesarannya.


"Belum, Nona."


'Kenapa Nona bertanya ya?'


"Oh." Artur ternganga mendengar balasan Elian.


'Jadi Nona cuma berbasa-basi? Aku berpikir terlalu berlebihan.'


"Jam istirahat tidak satu jam, Artur. Silakan keluar dari ruangan saya."


"Ha? Oh, baik Nona." Artur tergagap, dia kira Nona nya tidak suka berbasa-basi. Secepat kilat, dia keluar dari ruang kerja Elian.


Jam Pulang


"Rasanya semakin sakit. Ughh," keluh Elian. Dia berjalan keluar dari ruangannya.


"Nona belum pulang?" Mata Elian melirik ke arah sampingnya. Ternyata Artur juga masih belum pulang.


"Ya."


"Apa perlu saya antar sampai parkiran, Nona?" Elian menahan sesuatu yang sangat sakit sedari tadi pagi, dia hanya menggeleng untuk menjawab pertanyaan sekretarisnya itu.


"Baik, sampai jumpa besok Nona." Tanpa menjawab ucapan Artur, Elian langsung melenggang pergi begitu saja.


"Siksa derita macam apa ini?" Ucap Elian sambil bersandar di pintu mobilnya. Tangannya memegang pipi kanannya, merasakan sesuatu di dalam sana tengah berkedut.


Segera, Elian masuk ke mobilnya dan melajukan kendaraannya menuju ke apotek terdekat.


"Siapa yang bilang lebih baik sakit gigi daripada sakit hati?!"


"Ini kebalikannya, ughh."


"Tuhan, belum saatnya hamba mu ini menerima siksaan macam neraka." Oceh Elian sepanjang perjalanan.


Dari dirinya terbangun di pagi hari, dia sudah merasakan keanehan pada giginya. Dia tidak menyangka jika dibiarkan akan semakin sakit.


Sesampainya di apotek terdekat, Elian menyatakan keluhannya dan membeli obat yang di rekomendasikan oleh apoteker.


Setelahnya, Elian kembali melajukan mobilnya, yang kini menuju rumahnya.


Beberapa menit berkendara, akhirnya Elian sampai di tujuan. Usai memarkirkan mobilnya, Elian segera masuk ke rumahnya. Dia langsung meminum obat yang baru saja di beli nya.


Ddrttt ddrtttt


Elian yang tengah terduduk di sofa, mendapati ponsel yang berada di sebelahnya berdering. Tertera nama 'Laila' di layar ponselnya.


"Halo?"


"Elian! Gimana kabarmu? Udah lama rasanya gak ketemu ya?"


"Ya, udah seabad. Sampai aku tinggal tulang kerangka." Elian mendengar desisan dari sebrang telponnya. Kepala Elian menyender pada bantalan sofa, rasa sakit gigi nya masih belum mereda.


"Saya serius, Nona Elian."


"Ya, kabar..ku baik. Gimana ...kabarmu?" Balas Elian dengan suara agak tersendat.


"Kenapa suaramu kayak kepotong-potong? Sambungannya jelek ya?"


"Aku sakit gigi." Jawab Elian dengan pelan.


"Apa?"


"Sakit gigi."


"Ha? Sakit gigi? Dari kapan?"


"Tadi pagi. Laila, gak bisa ya kamu ke sini? Rasanya sakit kayak mau mati."


"Tapi gak mati kan?"


"Serius."

__ADS_1


"Serius mati?"


"Kamu mah gitu, aku lagi sakit juga." Rengek Elian pada Laila.


"Hubungi aja sekretaris mu."


"Apa hubungannya sama dia?" Perlahan Elian merasakan kelopak matanya mulai memberat. Apa ini efek samping dari obatnya?


"Dia sekretaris mu, kan tugasnya juga termasuk kayak pengasuh kamu. Dulu aku juga gitu, ngurusin kamu yang kayak bayi pas lagi sakit."


"Nggak, nggak mau." Mata Elian mulai berair, dan mulutnya menguap beberapa kali.


"Atau perlu aku yang hubungin dia?"


"Hmm," Elian benar-benar tak sanggup menahan kantuk yang menyerang dan menutup matanya.


"Halo? Halo El? Kamu mati suri? Aku hubungin Daffodil ya!"


Tut....


Sambungan telepon pun terputus.


Di lain tempat


Di apartemennya, Artur bersama temannya, Nugraha tengah mengobrol santai. Sambil ditemani secangkir kopi, mereka berbincang mengenai hal-hal yang telah terjadi.


"Kelihatannya kau nyaman sama kerjaan mu yang sekarang ya?" Tanya Nugraha.


"Iya, gajinya besar hehe."


"Tapi kelihatannya kau gak cukup tidur. Lihat kantong matamu yang udah kayak setan."


"Banyak kerjaan yang harus di urus, kadang juga harus lembur sih."


"Kau gak keberatan? Gaji tinggi pasti tekanan tinggi juga kan?"


"Aku tetep harus ambil risikonya. Gimanapun, aku harus nanggung biaya pengobatan ayah." Raut wajah Artur tenang ketika menjelaskan hal itu, namun matanya mengisyaratkan adanya kekhawatiran dan rasa lelah.


"Hebat kau Tur, jadi anak berbakti. Jarang ada anak laki-laki kayak kau. Aku akui kau ganteng, rajin, berbakti pula." Puji Nugraha.


Artur dan Nugraha sudah berteman sejak masuk dunia perkuliahan. Dan Nugraha tentu tau, Artur berjuang keras untuk hidup.


"Laper gak? Aku buatin mie kuah nih." Ucap Artur.


"Boleh."


Aroma mie kuah menyeruak dan membuat perut semakin lapar. Segera setelah mie siap, Artur menyajikannya dalam mangkok.


Ting Ting Ting Ting


"Hape kau bunyi, Tur."


"Siapa?"


"Senior Laila. Siapa tuh? Pacar?" Goda Nugraha. Artur yang baru saja datang dari arah dapur sambil membawa 2 buah mangkok pun segera mengangkat teleponnya.


"Halo, ada keperluan apa Senior Laila?"


"Panggil Laila aja gapapa. Daffodil, tolong cek El- eh maksud saya Nona Elian. Dia sakit."


"Nona Elian ada dimana?"


"Di rumahnya. Saya titip Nona Elian ya, Daffodil !"


Tutt....


Laila pun menutup teleponnya. Artur segera mencari nomor telepon Nona mudanya itu dan meneleponnya. Meski di telpon berulang kali, Nona nya itu masih tidak mengangkat telepon.


"Kenapa, Tur? Mukanya tegang banget," tanya Nugraha yang sudah mulai memakan mie nya.


"Ini, nelpon atasan tapi gak diangkat-angkat." Jawab Artur sambil masih berusaha menghubungi Elian.


"Ada urusan kerja?"


"Iya urusan kerja."

__ADS_1


"Urusan kerja apa sampai lembur? Kalo emang gak diangkat, langsung aja datangin bos mu." Artur menatap Nugraha sejenak, kemudian mengangguk.


Dengan secepat kilat, Artur memakan mie miliknya dan bergegas keluar pintu.


"Tolong cuci piring ya, Gra." Ucap Artur yang kemudian menutup pintu.


"Iya. Apalah daya aku yang seorang babu." Balas Nugraha.


Dengan menggunakan mobil kantor, Artur menuju ke rumah Nona Elian.


Setelah menghabiskan waktu sekitar 15 menit, Artur akhirnya sampai di rumah Nona mudanya.


Di lihatnya pintu rumah Elian yang tertutup. Artur pun mengetuk-ngetuk pintu.


"Permisi, Nona El?" Tidak mendengar jawaban, Artur mencoba memencet bel pintu.


"Nona El ada di rumah?"


Hening. Tiada sahutan dari si pemilik rumah.


Karena si pemilik tak kunjung membukakan pintu, Artur kemudian mencoba membuka pintu.


Cklek


"Gak ke kunci?" gumam Artur.


Perlahan, langkah kakinya memasuki ruang tamu Elian.


"Permisi."


"Nona El ada di rumah?"


"Nona El?"


Matanya mengedarkan pandangan, dan akhirnya terfokus ke satu titik.


Di sofa, terbaring Nona mudanya yang sebelah tangannya masih memegang ponsel.


Artur mendekat, dia melihat Nona nya yang tengah tertidur pulas.


'Kata Laila, Nona El sakit?'


Tangan Artur pun tergerak menuju ke dahi Elian.


"Gak panas," gumam Artur.


Meskipun sedikit ragu, Artur pun berusaha membangunkan Elian. Hingga tak sengaja tangannya menyentuh pipi Elian.


"Eughh...." keluh Elian. Matanya mengerjap menyesuaikan cahaya yang masuk ke retinanya.


"Nona El sakit apa?" Kesadaran Elian perlahan pulih, dan mendapati sekretarisnya kini tengah berdiri di hadapannya.


"Artur? Ngapain kamu di sini?"


"Saya dengar dari Senior Laila kalau Anda sakit. Jadi saya datang kemari," jawab Artur. Elian yang mendengarnya hanya mengangguk.


Elian menyentuh bagian pipinya, dan ternyata masih sakit.


"Nona sakit apa? Sudah minum obat?"


"Sudah, tapi rasanya masih sakit." Keluh Elian.


"Di bagian apa Nona merasa sakit?"


"Gigi."


"Apa Nona mau langsung cek ke dokter gigi?"


Bersambung.....



Siapa yang kangen sama Artur 😍


__ADS_1


Bonus picture si Nona muda, Elian💕


*Gambar diambil dari Pinterest


__ADS_2