
Dengan gaun cantiknya, Elian berjalan melewati beberapa tamu lainnya untuk menghampiri sang penggelar acara.
"Akhirnya yang di tunggu-tunggu datang juga!" Sambut seorang wanita yang langsung memeluk Elian.
"Lepasin, Laila. Sesek nih."
"Ah maaf-maaf. Aku kira kamu gak bakal datang ke resepsi pernikahan ku."
"Kalo terus di teror sampe ngirim gaun ke rumah, siapa yang gak bakal datang." Sindir Elian ke pada Laila yang hanya tersenyum tanpa dosa.
"Eh, kamu sendiri? Gak ngajak pasangan?" Tanya Laila, sambil mengarahkan pandangannya ke penjuru arah.
"Ck, dia masih di mobil."
"Ku kira kamu bakal sendiri. Baguslah! Kalo ngajak orang kan setidaknya gak kelihatan ngenes banget gitu." Ceplos Laila, mata tajam Elian hanya bisa menatap ke lawan bicaranya, yang terdiam begitu menyadari ucapannya.
"Eh itu Daffodil! Ganteng plus keren!" Tunjuk Laila ke arah pintu masuk. Pandangan Elian pun ikut mengarah ke sana.
Perlahan, Artur mulai mendekat hingga sampai di depan Elian dan Laila.
"Selamat atas pernikahannya Senior Laila."
*Flashback b**eberapa hari sebelum acara pernikahan Laila**
"Halo," jawab Elian ketika ponselnya itu berdering.
"El ! Ingat hari pernikahanku enam hari lagi! Kamu harus datang, kalo enggak aku dobrak pintu rumahmu!"
"Oke, tenang. Aku datang kalo jadwalku gak padat."
"Ah gak ada tapi-tapian! Wajib datang!"
Tut tut
*Keesokan harinya
Dering ponsel Elian berbunyi, tertera nama "Si Cerewet" di layar ponselnya. Karena tahu akan hal yang akan di sampaikan orang itu, Elian sengaja tidak mengangkatnya.
Beberapa detik kemudian, ponselnya kembali senyap. Elian pun menghela nafas. Sejak beberapa hari lalu dia selalu di telpon dan di kirimi pesan oleh Laila. Tentu saja, hal itu berkaitan tentang kehadirannya dalam resepsi pernikahan temannya itu dalam lima hari mendatang.
Tenang karena ponselnya tak lagi berdering, kini suara telepon yang ada di dalam kantornya yang berbunyi.
"Nona muda, ada telepon untuk Anda." Suara Artur yang sedang berada di luar ruangannya.
"Sambungkan."
"Selam--."
"Elian! Kenapa kamu gak jawab teleponku hah?! Sengaja ya! Aku tahu, aku bukan orang yang sederajat denganmu. Tapi kamu gak perlu menghindar dari teleponku juga! Aku marah sama kamu, Elian Anastasio!"
"Laila, aku masih punya banyak kerjaan. Aku tutup dulu ya."
"Aku paham El. Kamu gak mau bicara sama aku kan? Kan!"
"Bukan begitu, La. Tugas di kantor masih banyak, nanti aku telpon lagi ya."
Tut tut
Elian memijit pangkal hidungnya, telinganya sedikit berdengung. Karena ada hal yang harus ia katakan ke sekretarisnya, dia pun keluar ruangannya.
"Artur," panggil Elian. Artur yang namanya di panggil pun, langsung berdiri di hadapan Nona mudanya.
"Ada yang bisa saya bantu, Nona muda?"
"Oh itu, tolong kalau Laila yang nelpon bilang saya sibuk ya."
"Baik, Nona muda."
__ADS_1
*H-2 sebelum resepsi pernikahan Laila
Hari ini, Elian memutuskan untuk meliburkan diri. Pagi ini, dia melakukan jogging di lapangan yang ada di dekat rumahnya. Dia hanya ingin me refresh pikirannya dari hal-hal yang memusingkan.
Entah di rumah ataupun di kantor, dia selalu mendapat telepon dari mantan sekretarisnya.
Beruntung, Artur mau menggantikan kehadirannya di kantor untuk hari ini.
Lelah yang menderanya, membuat Elian mendudukkan dirinya di bawah salah satu pohon yang cukup rindang. Baru saja, Elian hendak menutup matanya, dia di kejutkan oleh kehadiran seseorang.
"Eli! Kamu lari juga? Tumben gak ke kantor?" Lelaki itu kemudian duduk di sebelah Elian.
"Santai sehari gak masalah kan, Erland?"
"Baguslah, biar kamu ada waktu buat dirimu sendiri."
"Terus kamu gak masuk kuliah?" Tanya Elian kepada Erland, matanya menjurus ke langit biru yang cerah.
"Nanti sore sih. Btw, kalo udah magang nanti, boleh magang di perusahaan Eli?"
"Hm, boleh."
"Eli, kamu katanya ganti sekretaris ya?" Pandangan Elian pun beralih ke Erland.
"Kok tahu?"
"Jangan nanya balik, El. Bener atau enggak?"
"Iya, darimana kamu tahu?"
"Sekretaris Laila kemarin sore datang ke rumahmu. Pas banget aku juga lewat sana, Laila nanya kamu ada di rumah atau enggak. Dari sanalah dia cerita, kalo dia udah resign dan kamu ganti sekretaris." Elian mengangguk-angguk, membenarkan apa yang Erland ucapkan.
"Ehm.... Sekretaris mu cewek atau cowok?"
"Kenapa kepo?" Erland kesal pertanyaannya dijawab dengan pertanyaan. Dia kemudian mencubit kedua pipi Elian, yang membuat Elian mengaduh kesakitan.
"Iya-iya, aku jawab. Tapi lepasin dulu, pipiku makin lebar nanti!" Erland patuh, dia melepaskan cubitannya. Dan meninggalkan bekas merah di kedua pipi putih Elian.
"Dia cowok."
"Kamu gak ada apa-apa sama dia kan, selain hubungan sekretaris sama bos?" Selidik Erland.
"Enggak. Lagian kenapa emangnya? Kamu cemburu?" Erland langsung memalingkan wajahnya, dan buru-buru bangkit dari tempatnya.
"Aku gak cemburu ya! Lagian Eli itu udah tua, kenapa Erland yang muda nan tampan ini harus cemburu ke orang tua?" Tanpa aba-aba, Erland langsung lari meninggalkan Elian.
"ERLAND! AWAS AJA KAMU, BOCAH!"
Selesai jogging, Elian langsung pulang ke rumahnya. Di depan gerbangnya, dia mendapati Artur yang tengah berdiri membelakanginya.
"Artur? Kenapa kamu di sini?" Mendengar suara Nona mudanya, Artur langsung balik badan.
"Eh... itu Nona. Senior Laila tadi pagi ke kantor membawa paper bag. Dia meminta saya mengantarnya ke Nona muda." Elian menghela nafas panjang, kemudian mempersilahkan Artur masuk ke rumahnya.
"Kamu mau teh atau kopi?" Tanya Elian yang sudah berdiri di wastafel dapur.
"Tidak perlu, Nona. Saya datang hanya untuk membawa paper bag."
"Minumlah." Elian menyodorkan secangkir teh kepada Artur, sedangkan Elian sendiri juga membuat secangkir teh untuknya sendiri.
"Tidak perlu repot-repot Nona muda." Elian tidak merespon penolakan Artur. Dirinya beralih membuka dua paper bag yang Laila berikan.
Ada gaun cantik dengan perpaduan warna merah dan putih.
"Tunggu!" batin Elian.
Ternyata di paper bag satunya di dalamnya ada tuxedo hitam dengan kemeja putih.
__ADS_1
Derdtttttt derdtttttt
"Halo, Laila." Sapa Elian lewat telepon.
"El, kamu udah dapat paper bag yang Artur kasih kan?"
"Udah. Maksud kamu kirim dua paper bag apa?" Sementara Elian menelepon, Artur meminum teh yang di sajikan untuknya.
"Well, itu artinya kamu harus bawa pasangan. Ajak aja si Artur atau Erland tetanggamu itu."
"Ngapain aku harus bawa bocah itu ke acara resepsi?" Bisik Elian agar tak terdengar Artur. Dia kemudian berdiri dari duduknya, dan meninggalkan Artur di ruang tamu.
"Karena udah aku kirim, jadi gak bisa di tolak. Bawa pasanganmu, siapa aja boleh asal jangan kakek-kakek."
"Gimana cara dapetin pasangannya dalam dua hari? Duh, aku sibuk dua hari lagi Jadwalku padat, La."
"Aku gak mau dengar alasan apapun! Ada nasi gratis loh, bener mau di lewatkan?"
"Fine! Aku datang."
"Bawa--."
"Iya-iya, bawa pasangan. Udah ya, ku tutup telponnya."
Tut tut
"Huh, dasar bawel."
Elian kemudian kembali masuk ke ruang tamu, dirinya ragu untuk bertanya ke Artur perihal menjadi pasangannya untuk di bawa ke resepsi pernikahan Laila.
"Ekhem, Artur." Panggil Elian.
"Ada hal lain Nona?"
"Bagaimana cara menjelaskannya ya? Itu... mengenai resepsi pernikahan Laila. Kamu di undang?"
"Tadi pagi saya mendapat undangannya dari Senior Laila."
"Eh... Saya minta tolong itu..." Ucap Elian sedikit tersendat-sendat.
"Untuk menjadi pasangan Nona muda di hari resepsi Senior Laila?" Tanya Artur, yang tentunya membuat Elian bernafas lega.
"Iya, bagaimana? Kamu mau?"
"Tentu saja, Nona! Eh, maksud saya itu sebuah kehormatan bagi saya." Elian tersenyum tipis melihat reaksi Artur yang bersemangat.
"Baiklah, bawa satu paper bag ini. Dan pakai tuxedo itu untuk dua hari lagi." Artur mengangguk dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
"Saya yang akan menjemput Nona, jangan khawatir Nona."
"Baiklah, dua hari lagi kamu kemari. Dan kita berangkat dengan mobil saya."
💸💸💸✨✨
Terimakasih yang udah mau mampir‼️😍
Jangan lupa like ya
Ini gaun yang di pakai Elian waktu ke acara resepsi pernikahan Laila.
Anggap aja ini Artur yang pake tuxedo. Ganteng ya ? Ganteng lah🤣😍😍
OK SEKIAN DARI CHAPTER INI
__ADS_1