Nona Muda Dan Sekretaris

Nona Muda Dan Sekretaris
14. Malaikat


__ADS_3

"Ada apa ini? Ribut sekali."


Semua atensi refleks tertuju ke sumber suara. Orang itu turun dari lantai atas, lantai VIP.


"Sepupu, ada perlu apa kemari?" David mendekati orang tersebut yang ternyata sepupunya.


"Tidak boleh? Kan aku direktur hotel ini, kenapa aku tidak boleh menghadiri acara yang dibuat di tempatku?" Ketus perempuan itu.


"Ah aku tidak bermaksud begitu. Maaf jika kami membuatmu terganggu."


"Aku kemari karena tamu kehormatan ku mau melihat acara ini. Kalian lanjutkan saja."


"Kalian, perkenalkan dia sepupuku, direktur di hotel ini. Namanya Zoya Graciana."


"Selamat malam semua, semoga kalian bisa menikmati pesta yang dibuat David, dan semoga fasilitas yang kami sediakan membuat kalian ingin menginap di sini lain hari." Ucap Zoya sembari mempromosikan hotelnya.


"Huh, ku kira ada yang akan membelamu. Lagipula, siapa yang akan membelamu pecundang?" Jonas mengangkat Artur dengan menjambak rambutnya. Perhatian kembali tertuju ke Jonas dan Artur yang tak kunjung selesai.


"Bagus sekali, bisa mempermalukanmu di depan orang berkuasa. Apa kau masih punya muka setelah ini?"


"Apa ada masalah, David?" Tanya Zoya yang melihat kerumunan di dekat Artur dan Jonas.


"Tidak ada, sepupu. Itu hanya candaan di antara kami para lelaki."


"Lelaki memang aneh," cibir Zoya.


"Nona? Anda mau kemana?" Tanya Zoya, melihat tamu kehormatannya mendekati kerumunan itu.


"Nona Zoya, saya ada hal penting sebentar."


"Ah baik!"


"Artur, tidak.... hiks." Tangis Camelia yang tidak bisa menerobos kerumunan.


"Hm? Artur?" Gumam Nona kehormatan tersebut.


"Lihat! Siapa yang akan membantumu! Sadar pada posisimu bodoh!"


Artur sudah terlihat kacau, dirinya meringis kesakitan karena rambutnya yang di cengkram kuat oleh Jonas.


"Saya." Atensi orang-orang termasuk Jonas pun teralihkan mendengar suara perempuan. Perlahan, kerumunan itu menepi, memberi jalan pada perempuan itu. Perempuan yang benar-benar cantik dan elegan, membuat para lelaki maupun perempuan terperangah.


"Siapa dia?"


"Apa dia datang untuk Artur?"


"Tidak mungkin Artur kenal dengan perempuan cantik itu."


"Dia benar-benar seperti Dewi yang turun ke bumi."


Perlahan Artur mendongak, melihat siapa yang datang. Matanya membulat seketika, begitu dia mengenali siapa orangnya.


"Dia orang saya." Ucap perempuan itu di hadapan Jonas. Jonas yang sempat terpesona beberapa saat pun kembali pada kesadarannya.


"Jangan mengaku-ngaku, Nona. Nona cantik ini siapa?"


"Huh, lucu sekali seekor anjing menggonggong di depan harimau." Seperti biasa ucapan pedas selalu keluar dari bibirnya.


"No-nona," ucap lemah Artur.


"Apa maksud dari perkataan mu itu! Kau hanya wanita cantik yang ada di rumah bordil!"


"Ha? Dia gila?"


"Dia kan tamu kehormatan direktur hotel."

__ADS_1


"Hei! Ada apa ini?" Tiba-tiba Zoya datang membubarkan kerumunan.


"Kau! Jangan sembarang berkata bahwa Nona Elian adalah wanita di rumah bordil! Petugas! Petugas! Usir dia dari hotel saya! Dan blacklist namanya dari daftar tamu di hotel kita!"


"A-apa yang terjadi?! Itu bukan- aku bukan, hei lepaskan aku!" Akhirnya Jonas ditarik keluar oleh petugas.


"Maaf atas ketidaknyamanan yang Anda alami, Nona. Saya berjanji itu tidak akan terjadi lagi. Mengenai kerjasama yang dilakukan, semoga Nona tidak membatalkannya." Zoya menunduk ke arah Elian dan menatap tajam ke arah David.


"Baik, sediakan ruang istirahat dan baju ganti pria. Saya akan membawa sekretaris saya dari sini."


"Baik-baik, akan segera kami sediakan." Lewat matanya, Zoya mengkode ke salah satu pelayanannya, dan pelayan itu mengangguk paham.


"Perlu bantuan?" Elian mengulurkan tangannya ke arah Artur.


"Terimakasih, Nona Muda. Maaf, sudah sangat merepotkan Nona."


Artur pun menggenggam tangan Elian, dan dirinya segera berdiri.


"Siapapun yang berani menyentuh orang saya, saya pastikan dia tidak akan sampai rumah dengan selamat." Ancam Elian, yang terdengar sampai ke penjuru ruangan ballroom. Seisi ruangan dibuat bungkam olehnya, aura mencekam mengelilingi ballroom sekarang.


"Nona Zoya," panggil Elian.


"Ya Nona, ada yang perlu saya lakukan?"


"Sita semua ponsel dan kamera yang ada di ruangan ini. Hapus semua rekaman yang menyangkut sekretaris saya."


"Baik Nona, saya mengerti. Petugas! Sita semua alat elektronik yang mereka bawa!"


"Dengan menyentuh orang saya, Anda sudah menyinggung saya Nona Zoya." Peringat Elian dengan aura mengintimidasinya, dan jangan lupakan tatapan tajam bak elangnya yang membuat siapapun yang ia tatap akan terasa panas dingin.


"Saya minta maaf sebesar-besarnya, Nona Elian. Sebagai ganti rugi atas apa yang terjadi hari ini, saya akan menggratiskan Anda serta orang Anda untuk menginap di sini kapanpun Anda mau." Ucap Zoya sambil tersenyum, meski di dalam hatinya dia sudah ketar ketir ketakutan.


"Pegang janji Anda, Nona Zoya."


"Saya mengerti, Nona."


"Apa kamu lumpuh?" Tanya Elian pada Artur.


"Tidak, Nona. Saya masih bisa berjalan, terimakasih atas perhatiannya."


"Hm."


Elian pun berjalan mengikuti instruksi pelayan tersebut, diikuti Artur yang berjalan di belakangnya.


"Artur, maafkan aku yang gak bisa melindungimu." Ucap Camelia yang berpapasan dengan Artur.


"Tidak masalah, jangan menyalahkan diri Lia."


"Apa kamu siput, Artur?" Gertak Elian.


"Iya, saya akan lebih cepat Nona." Artur pun mempercepat jalannya. Meninggalkan Camelia yang masih menatap ke arahnya.


"Kau! Kau berhutang penjelasan denganku!" Ucap Zoya pada David.


"Hehehe, sepupu aku tak terlibat apapun."


"Tapi dia tamu mu! Kau yang mengundangnya! Berikan penjelasan atau aku akan melaporkan aibmu ke orang tuamu."


"Oke, aku mengerti."


✨✨✨✨


Di dalam ruang istirahat, Artur mengganti pakaiannya yang sudah kotor dengan yang baru. Elian pun menunggunya di sofa, sambil memainkan ponselnya.


"Apa ada yang terluka?" Tanya Elian setelah Artur keluar dari ruang ganti.

__ADS_1


"Tidak ada Nona."


"Bodoh! Kau tidak bisa menyembunyikannya dengan baik." Elian menarik tangan Artur ke wastafel. Dia mencuci rambut Artur yang terkena alkohol, meskipun tidak memakai shampo. Setelahnya, dia memakaikan plester pada pipi Artur yang sedikit tergores.


Artur yang diperlakukan demikian merasa seolah ada kupu-kupu yang hinggap di perutnya, dan dia merasakan degup jantungnya yang berdetak tak normal.


"Kemari, saya bantu keringkan rambutmu." Elian menarik Artur agar duduk di bawah sofa, dan dirinya di sofa. Agar memudahkan Elian mengeringkan rambut Artur dengan handuk.


"Tidak perlu repot-repot, Nona. Saya bisa melakukannya sendiri."


"Jangan membantah, Artur."


Artur pun hanya bisa pasrah, dia duduk dengan tenang sementara Elian mengusap-usap rambutnya yang basah.


"Kamu terlalu mudah ditindas," cibir Elian sembari masih mengusap rambut Artur. Artur yang mendengar hal itu terdiam, dia tidak bisa menyangkalnya.


"Kamu harus berubah Artur, menjadi lebih kuat."


"Saya sudah terbiasa Nona El. Terimakasih perhatian Nona."


"Bukan berarti kamu akan diam saja saat ditindas, dasar bodoh!" Gertak Elian, dia sengaja menarik rambut Artur, sehingga yang ditarik pun meringis.


"Apa rambut kamu ditarik kuat sama anjing tadi?"


"Ah, tidak terlalu Nona."


"Teruskan drama berbohong mu, Artur. Dan rambut ini akan saya cukur habis." Artur tidak bisa berbohong lagi, dia tidak ingin kepalanya gundul.


"Sedikit sakit, Nona." Elian pun menyudahi kegiatannya, dia beralih mengambil hairdryer dan memakaikannya pada rambut Artur.


"Terimakasih banyak atas bantuan hari ini, Nona El. Saya tidak akan melupakannya sampai kapanpun." Ucap tulus Artur, saat Elian sudah selesai mengeringkan rambutnya.


"Saya akan mengajarimu cara menjadi kuat, Artur."


"Saya sudah kuat, Nona."


"Sekali lagi kamu berbohong, saya cukur habis rambutmu."


"Baik-baik, Nona. Akan saya lakukan."


Tiba-tiba Elian memegang kedua pipi Artur, menatap ke wajah Artur. Wajah Artur memerah, dia mengalihkan matanya ke sembarang arah.


"Tenang saja, Artur. Kamu tidak akan ditindas jika ada di dekat saya. Kamu tahu? Dengan uang dan kekuasaan semuanya bisa kita lakukan." Ucap Elian, dan Artur seolah terhipnotis oleh perkataan Elian.


"Berarti.... Selain menjadi sekretaris saya, kamu juga jadi murid pribadi saya." Ucap Elian, setelah itu dia berdiri dari tempatnya menuju ke pintu keluar.


"Kamu lapar?"


✨💸💸💸💸✨


Hai hai‼️‼️👻


Siapa yang masih nunggu cerita ini 🤭🤭


Ok terimakasih sudah berkunjung dan like ya😍😍🤩


Kalo ada pertanyaan bisa komen😉


See you next chapter 👋👋👋



INI ELIAN ANASTASIO (NONA MUDA) VERSI FAN ART


__ADS_1


INI JUGA ELIAN ANASTASIO VERSI MANUSIA YA‼️


__ADS_2