Nona Muda Dan Sekretaris

Nona Muda Dan Sekretaris
17. Sakit Gigi


__ADS_3

Selamat membaca ❤️


"Apa Nona mau langsung cek ke dokter gigi?"


"Tidak," ucap tegas Elian.


"Lebih baik langsung di periksa dokter kan?" Mata Elian menyipit, menatap Artur penuh dengan aura permusuhan.


"Baik, Nona. Tapi saya tidak yakin Nona bisa pergi ke kantor besok."


"Wait. Pertama-tama, siapa yang ijinkan kamu untuk masuk ke rumah saya sembarangan?" Tanya Elian.


Artur tergagap, saking paniknya dia langsung menerobos masuk ke rumah atasannya sendiri.


"Maaf, Nona. Saya terlalu panik dan tanpa pikir panjang saya langsung masuk ke rumah Nona. Saya mendapat telepon dari Senior Laila kalau Nona sakit, jadi saya bergegas kemari untuk memastikan." Jelas Artur panjang lebar, yang membuat Elian menguap mendengarnya.


"Ya, paham kok."


"Jadi?" Elian menatap Artur dengan wajah penuh tanda tanya.


"Apanya yang jadi?" Tanya Elian balik.


"Apa Nona akan segera bersiap ke dokter gigi?"


'Ni anak bersikukuh banget dah.' Batin Elian.


"Engga, saya gak mau."


"Apa Nona takut dokter?"


"Kamu ngeremehin saya?" Mata Elian menatap tajam ke arah Artur. Artur menghela nafas, ternyata lebih susah mengurus Nona mudanya di saat sakit.


"Tentu tidak, Nona El. Saya pikir itu alasan Nona untuk tidak pergi ke dokter gigi."


Nyuutt


Gusi Elian terasa berdenyut. Dan rasanya itu sangat sakit.


"Eughhhh....," lenguh Elian.


"Apa sangat sakit Nona?" Tanya Artur. Elian mengangguk, dan hal itu sedikitnya terlihat seperti anak kecil di mata Artur.


"Karena Nona tidak bisa menahan rasa sakitnya, bagaimana kalau kita ke dokter gigi?"


"Enggaa."


"Baiklah kalau Nona bersikukuh, saya tidak akan memaksa. Tapi untuk besok, Nona tidak akan bisa masuk ke kantor." Elian terdiam mendengar ucapan Artur.


Ting!💡


Sebuah ide terlintas di kepala Artur untuk membujuk Nona mudanya itu.


"Sayang sekali, berarti Nona akan melewatkan acara makan bersama besok."


"Hah? Besok kan tidak ada acara apapun. Jangan berbohong Artur."


"Saya akan membuatkan acara makan khusus untuk Nona, jika Nona mau pergi ke dokter gigi hari ini." Wajah Elian terlihat penasaran, Artur pun melanjutkan aksi membujuknya.


"Akan ada makanan kesukaan Nona El. Ada mie goreng, hamburger, dan..."


"Apa ada puding?" Tanya Elian yang memotong omongan Artur.


"Tentu, Nona! Akan ada puding buah kesukaan Nona." Ucap Artur dengan penuh keyakinan.


"Jam berapa ke dokter gigi?" Tanya Elian. Artur bernafas lega, akhirnya bujukannya berhasil.

__ADS_1


"Lebih cepat lebih baik, Nona."


"Oke, sekarang saja." Melihat pakaian Elian yang masih berpakaian kantor, Artur berpikir Nona nya itu belum mandi.


"Loh kenapa diem di sana? Ayo!" Ujar Elian yang sudah di ambang pintu, sementara Artur masih berdiri di dekat sofa.


"Apa Nona tidak akan berganti pakaian atau mandi, mungkin?" Tanya Artur dengan hati-hati.


Elian melipat kedua tangannya di dada.


"Tanpa mandi pun saya cantik," ucap Elian dengan senyum penuh percaya diri.


Lagi-lagi Artur dibuat menghela nafas oleh kelakuan Elian. Namun, Artur akui Nona muda nya itu tetap cantik meski dalam keadaan apapun.


Akhirnya, Artur menghampiri Elian yang berdiri di ambang pintu. Setelah pintu di tutup dan terkunci, mereka pun menuju ke dokter gigi.


Selama perjalanan, tidak ada percakapan diantara keduanya. Elian yang diam karena menahan rasa sakit pada gusinya, dan Artur yang tidak ingin mengganggu Nona mudanya.


Sampai di dokter gigi, yang kebetulan sedang sepi, Elian langsung mendapat antrean yang selanjutnya. Ditemani oleh Artur, Elian berhadapan langsung dengan dokter gigi.


Setelahnya, dilakukan pemeriksaan oleh dokter tersebut.


"Gusi Nona membengkak karena bakteri," ucap dokter tersebut.


"Bagaimana cara supaya saya besok sudah sembuh?"


"Nona bisa meminum obat yang saya sarankan. Dan harap untuk tidak makan-makanan yang terlalu keras sementara waktu. Mulut Nona akan dibersihkan secara keseluruhan juga, untuk meminimalisir bakteri."


"Lakukan sesuai ketentuan, Pak Dokter." Elian menatap ke arah samping, lebih tepatnya ke arah Artur yang barusan berbicara.


"Saya belum menyetujuinya," bisik Elian ke telinga Artur.


"Semakin lama Nona sembuh, semakin lama pula acara makan khususnya diadakan." Jawab Artur dengan senyum di wajahnya.


'Dasar senyum setan.' Batin Elian.


"Apa rasanya lebih baik, Nona?" Tanya Artur yang sedang menyetir. Kini mereka dalam perjalanan ke rumah Elian seusai ke dokter gigi.


"Hmm."


"Tapi, lebih baik Nona beristirahat beberapa hari. Saat Nona sudah sembuh, baru saya akan menyiapkan acara makannya."


"Kamu bilang besok!" Artur menggelengkan kepalanya, dan itu membuat Elian mendengus kesal.


"Kalau besok, Nona kan belum sepenuhnya sembuh. Takutnya gusi Nona makin membengkak dan rasa sakitnya semakin parah. Apa Nona mau setelah acara makan itu, Nona harus menahan sakit lagi tapi lebih lama." Jelas Artur.


"Memang seberapa lama?"


"Sebulan, mungkin." Pertegas Artur. Raut wajah Elian sedikit kaget.


"Karena itu, Nona perlu mengikuti instruksi Dokter." Elian menyandarkan punggungnya pada kursi mobil. Dia akhirnya tidak berbicara lagi, dan mengikuti kemauan sekretaris nya itu.


Seminggu kemudian


"Hari ini hari yang ku tunggu,"


gumam Elian yang sedang bercermin. Pantulannya di cermin terlihat rapi dengan pakaian kantor yang melekat di tubuhnya.


Dengan mengendarai mobil, Elian menuju ke rumah keduanya, kantor.


"Selamat kembali ke kantor, Nona El." Sambut Artur yang melihat Elian dari kejauhan.


"Saya kan libur seminggu aja, gak perlu disambut kok." Balas ketus Elian, yang kemudian melewati Artur.


Artur tersenyum mendengar balasan Elian. Nona nya sudah kembali ketus, artinya semua berjalan normal lagi.

__ADS_1


"Artur," panggil Elian.


"Ya, Nona El?"


"Jangan lupa janji kamu," peringat Elian.


"Tentu Nona. Saya akan segera menyiapkan acara makan khusus untuk Nona."


Elian mengangguk dan kemudian berjalan menuju ruang kerjanya.


Jam makan siang


Tok tok tok


"Masuk."


"Nona, saya sudah siapkan makanannya." Ucap Artur yang baru memasuki ruang kerja Elian. Mendengar hal itu, dengan secepat kilat Elian membereskan mejanya.


"Ayo, makan bersama saya." Ajak Elian sambil menyamakan langkahnya dengan Artur.


"Tidak perlu, Nona."


"Kamu belum makan, kan?"


"Setelah mengantar Nona, saya akan makan."


"Ini perintah, saya tidak menerima penolakan."


"Tapi, Nona...."


"Shutt shuut. Saya tidak suka mengulang perkataan saya."


Artur pun pasrah, dia memilih untuk mengikuti perintah Nona mudanya itu.


Sampai di tempat yang dituju, Artur segera menggeser kursi untuk Elian. Di meja berukuran persegi itu, sudah tersaji makanan kesukaan Elian. Mulai dari mie goreng, hamburger, puding buah, dan beberapa makanan lainnya.


Melihat Artur yang tak kunjung duduk, Elian pun menyuruhnya duduk.


"Kenapa masih berdiri?"


"Saya akan makan nanti, Nona."


'Ini manusia atau batu sih? Keras banget.' Batin Elian.


"Duduk di seberang saya, Artur Daffodil." Mendengar Elian mengucap nama panjangnya, itu artinya Elian sedang tidak ingin dibantah.


"Baik, Nona."


"Selamat makan."


Ddrrrttt ddrrttt


Saat akan melahap makanannya, ada telpon masuk dari ponsel Elian.


"Ada perlu apa, Louise?"


"Apa nanti malam kamu bisa nganter aku ke airport?"


❤️



Elian lagi ngambek😂


__ADS_1


Artur masuk ke ruangan 😍


__ADS_2