Nona Muda Dan Sekretaris

Nona Muda Dan Sekretaris
11. Karena hujan


__ADS_3


Note: Ini adegan di chapter sebelumnya ya‼️ Yang Elian peluk Artur😁


📢Selamat membaca


"Jangan... Pergi."


Tarikan di ujung kemejanya, menahan Artur untuk melangkah keluar kamar Nona mudanya itu.


Jam tangannya menunjukkan pukul 05.55 pm, dan di luar sana hujan kembali turun mengguyur.


Melihat wajah Elian yang terlihat polos, Artur jadi tak tega. Perlahan, Artur membungkuk, mendekatkan dirinya ke arah Nona mudanya itu.


Secara tak sadar, dia merapikan rambut Elian yang menutupi sebagian wajahnya.


Tidak ingin berbuat semakin jauh, Artur melepaskan jari tangan Elian yang mencengkram kemejanya.


"Maaf, Nona. Saya pamit pulang." Artur menegakkan badannya, dan berbalik.


"Nenek.... El sendiri."


Tangan Artur yang sudah memegang kenop pintu, kembali menolehkan kepalanya ke arah Elian --Nona mudanya.


'*Sepertinya Nona mengalami mimpi buruk.'


'Apa tidak apa jika diam sebentar lagi*?'


Pandangan Artur beralih ke luar jendela kamar Elian. Hujan masih turun deras di luar, kini di sertai petir dan angin kencang.


'Sebentar saja.' Batin Artur.


Langkah kakinya berbalik, mendekat ke arah Elian yang tidur sambil menekuk alisnya.


Artur duduk di sebelah kasur Elian, matanya menatap dinding kamar Nona mudanya yang bercat biru tua. Dan banyak tertempel gambar kartun Jepang (anime).


Duarhhh!!


Suara petir itu membuat Artur terkejut. Elian yang tanpa dia sadari menarik Artur yang membuat wajah mereka berjarak sangat dekat.


Wajah Artur memerah seketika, saat akan melepaskan tangannya dari genggaman Elian, bukannya terlepas, Artur justru semakin di tarik Elian yang tubuhnya sudah bergetar.


'Apa Nona takut petir?'


Berusaha menetralkan detak jantungnya dan berpikir rasional, Artur membiarkan tangannya di genggam Elian. Artur menaikkan selimut sampai ke pinggang Elian.


Mereka berdua tetap pada posisi mereka selama beberapa menit, sampai Artur sendiri juga di buat mengantuk.


Jam 06.30 pm


Badai di luar telah berhenti, langit malam pun dihiasi bintang-bintang yang bersinar.


"Hoaaahheeemm." Mata Elian mengerjap beberapa kali, dia pun bangkit dari tidur nyenyaknya. Merasa ada sesuatu di tangannya, Elian pun menoleh ke sisi ranjangnya.


"Artur?" Elian melepaskan genggamannya pada Artur. Dia pun meninggalkan Artur yang masih tertidur, sementara Elian sendiri masuk ke kamar mandi.


Keluar dari kamar mandi, Elian merasa dirinya segar kembali. Dia pun sudah berganti pakaian, dan rambutnya yang di cepol asal membuatnya terkesan cantik yang sederhana.


Puk puk puk

__ADS_1


Elian menepuk-nepuk pipi Artur, untuk membangunkannya. Dia perlu penjelasan Artur akan hal yang telah terjadi.


Artur yang merasakan ada tepukan di pipinya pun terbangun. Dia mengucek matanya, sebelum akhirnya sadar sepenuhnya.


"Ah, Nona?! Ma-maaf saya lancang, Nona. Saya sembarangan masuk ke kamar Nona. Mohon Nona hukum saya!" Ucap Artur sambil membungkuk saking takutnya dia terkena amukan Nona Muda.


Elian yang dalam mode santai pun mengendikkan bahunya acuh.


"Mau sampai kapan kamu di kamar saya?" Tanya Elian agak ketus. Mendengar itu, Artur langsung ke luar kamar Nona mudanya itu.


"Padahal belum ngomong apa, udah minta di hukum aja." Elian pun mengikuti Artur, turun ke lantai bawah.


Sampai di lantai bawah, Elian melihat Artur yang hendak keluar dari pintu utama rumahnya.


"Mau kemana kamu?" Tanya Elian yang masih di tangga yang menghubungkan lantai bawah dan atas.


"Saya pamit undur diri, Nona." Alis Elian terangkat, tangannya ia letakkan di pinggangnya.


"Saya belum izinkan kamu pulang. Duduk." Artur pasrah, dia pun duduk di sofa panjang yang ada di ruang tamu. Elian pun duduk di sofa singlenya.


"Saya harap kamu punya penjelasan logis tentang apa yang terjadi." Tuntut Elian. Artur kemudian menjelaskan secara detail tentang apa yang terjadi, kecuali tentang dirinya yang merapikan rambut Elian.


Elian mengangguk-angguk di tempatnya, merasa penjelasan Artur dapat di terima akal.


"Baiklah, kamu bisa pulang. Tapi rahasiakan apa yang terjadi hari ini, dan apa yang kamu lihat di kamar saya."


"Saya mengerti, Nona."


Artur berdiri dari duduknya dan mengundurkan diri pada Elian. Karena motornya masih tertinggal di kantor, dia pun ingin memesan taxi.


"Artur." Merasa dirinya terpanggil, Artur berbalik, mendapati Nona mudanya yang berdiri di belakangnya.


"Tidak perlu, Nona. Lagipun itu sudah tanggung jawab saya, jadi Nona tidak punya hutang ke saya."


"Kamu mengajari saya?" Tanya Elian yang mulai meninggikan suaranya.


"Ti-tidak Nona."


Elian berjalan mendekat ke arah Artur, lalu menarik Artur masuk kembali ke rumahnya.


"Sebelum saya antar kamu, saya mau makan dulu." Artur hanya bisa memasrahkan diri, dia mengikuti langkah Elian yang menuju dapur.


"Kamu makan nasi?" Tanya Elian pada Artur yang sudah duduk di kursi makan.


"Saya makan apa saja, Nona."


"Apa saja? Saya kasih makan piring mau? Lumayan hemat, banyak piring bekas yang gak kepake." Artur melongo, apa Nona nya berusaha untuk bercanda?


"Saya gak bercanda. Kamu bisa makan nasi kan?"


"Bisa, Nona."


"Ok, kamu tunggu saja di sana." Elian pun mulai menyiapkan bahan dan alat untuk membuat nasi goreng. Sedangkan, Artur memerhatikan apa yang di lakukan Nona mudanya itu. Dia dibuat kagum oleh Nonanya itu. Bukan hanya cekatan dalam bekerja, ternyata Nona mudanya juga cekatan dalam memasak.


Selama beberapa menit, akhirnya aroma masakan Elian mulai tercium sampai ke hidung Artur.


Dua piring nasi goreng Elian sajikan di atas meja makan. Dia kemudian duduk berhadapan dengan Artur.


"Makan," titah Elian.

__ADS_1


"Tidak perlu, Nona. Saya tidak lapar."


Kruyuuut


"Ucapan dan kenyataan memang berbeda," cibir Elian yang mendengar suara dari perut Artur.


"Makan. Itu hukuman kamu." Artur yang hendak menolak pun mengurungkan niatnya. Dia ingat, tadi meminta untuk di hukum karena masuk sembarangan ke kamar Nona Mudanya.


Dia pun menyuapkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya.


'Enak!'


"Bagaimana rasanya?" Melihat reaksi yang terlihat dari wajah Artur, bisa Elian tebak jika hasil masakannya cukup memuaskan.


"Nona sangat berbakat," puji Artur. Elian yang di puji menaikkan bahunya acuh, kemudian mulai memakan nasi goreng buatannya.


"Terimakasih untuk makanannya, Nona." Ucap Artur ketika sudah menghabiskan makanannya.


"Biar saya yang cuci, Nona."


Tanpa perintah Elian, Artur membantu Elian mencuci piring dan peralatan makan lainnya yang digunakan.


Usai di dapur, Elian pun bersiap mengantar Artur pulang dengan mobilnya.


"Maaf sudah banyak merepotkan Nona."


"Lain kali jangan merepotkan saya," balas Elian. Artur dibuat tersenyum canggung oleh ucapan ketus Elian.


Di dalam mobil begitu hening, tidak ada yang memulai pembicaraan. Elian yang terfokus pada jalanan, dan Artur yang merasa tidak enak pada Elian.


"Rumah kamu dimana?" Artur menoleh ke arah Elian yang tengah menyetir.


"Di jalan Camelia."


"Sendiri?" Artur dibuat sedikit bingung, kenapa tiba-tiba Nona mudanya itu bertanya perihal pribadinya?


"Iya, saya tinggal sendiri,Nona. Saya menyewa apartemen."


"Orang tua kamu?"


"Orang tua saya telah lama bercerai, Mama saya menikah lagi dan saya hanya punya ayah seorang sekarang. Ayah saya tinggal di luar kota, untuk menjalani pengobatan." Elian bisa melihat di balik senyum Artur ada luka yang ia tutupi. Luka yang mendalam.


"Maaf bertanya hal itu, Artur."



**Ini adegan sewaktu Elian narik Artur😍 sebagai bonus aja


✨💸💸💸💸✨


Terimakasih sudah mampir di ceritaku🙏😘


Pembaca yang bijak adalah pembaca yang menghargai penulisnya 😇


Jadi jangan lupa like ya, kalau perlu komen silahkan komen🤩


Sekian dari chapter ini


See u next chapter 👋👻**

__ADS_1


__ADS_2