
Kreek
Elian membuka gorden kamarnya, hingga sinar matahari menembus kamarnya. Di putarnya lagu Jepang berjudul "Love Letter" milik Yoasobi, yang ada di ponselnya. Serta di setelnya hingga volume full, sehingga musik memenuhi kamarnya.
Rambutnya yang terurai panjang, diikatnya asal-asalan dan meninggalkan poni yang menutupi keningnya.
Kemudian dia masuk ke kamar mandi yang ada di kamarnya. Dia pun memulai ritual mandi paginya dengan perasaan bersemangat.
Keluar dari kamar mandi, Elian memakai setelan jasnya dan merapikan rambutnya, tak lupa menambahkan bedak di wajahnya dan lipstik berwarna senada dengan warna bibir merah mudanya.
Usai mempersiapkan semuanya, Elian pun turun ke lantai bawah, masih dengan musik yang terdengar dari dalam tasnya. Sampai di dapur, Elian pun menyiapkan sarapan untuknya sendiri.
"Nasi goreng spesial jadi!"Dengan lahap Elian memakan masakannya. Jam menunjukkan pukul 8 pagi setelah dia selesai menghabiskan makanannya.
"Uang... Aku cinta uang!" Suara Elian yang bernyanyi sambil mencuci piring dan peralatan makan lainnya.
Inilah sisi yang jarang terlihat orang lain. Tentu saja, yang tahu sisi kekanakan Elian hanya Laila seorang. Setiap manusia punya banyak kepribadian, sama seperti Elian. Mungkin jika di kantor dia terlihat garang, dingin, dan tak berperasaan. Namun berbeda jika dia hanya sendirian seperti di rumah ini, atau ruangan rahasia yang ada di kantornya.
"Huh! Semua persiapan siap! Melaju ke kantor! Bummm!" Elian menginjak gas mobilnya, dan meninggalkan pekarangan rumahnya.
Sampai di parkiran, Elian membuka pintu mobilnya dan menapakkan kakinya. Perubahan aura dan sikap Elian berubah 180 derajat. Tidak ada senyuman, tidak ada nyanyian kecil. Hanya ada ekspresi datar dan langkah tegap disertai aura penuh wibawa.
"Selamat pagi, Nona El." Sambut Artur yang sudah berdiri di depan ruangan CEO.
"Ya, selamat pagi." Elian langsung berlalu masuk ke ruangannya.
Dia kemudian duduk di kursi kebesarannya dan meregangkn otot-ototnya.
"Coba aku cek, yang semalam belum habis." Elian membuka laptopnya dan mengklik sebuah video.
✨💸✨
Tok tok tok
"Masuk!" Artur pun masuk ke ruangan Nona Mudanya. Berencana untuk mengingatkan akan ada klien yang mengajak Nona mudanya untuk makan siang bersama.
Betapa terkejutnya Artur melihat meja Nona mudanya berserakan banyak tisu.
'Bukankah Senior Laila bilang, Nona El tidak suka hal kotor?'
Artur menggelengkan kepalanya, mengusir pertanyaan yang timbul di pikirannya.
Artur melangkahkan kakinya ke arah Elian. Dia kembali terkejut, melihat mata Nona mudanya yang sembab.
"Nona! Nona Muda kenapa? Apa ada hal yang membuat Nona menangis? Siapa yang melakukannya? Apa perlu saya beri pelajaran, Nona?"
Elian mengeluarkan sisa ingusnya dengan tisu. Kemudian berdiri di depan Artur.
"Artur!" Seketika Artur menegang mendengar bentakan Elian.
"Y-ya Nona? Apa saya ada salah, Nona El?"
__ADS_1
Tanpa aba-aba, Elian menubrukkan dirinya ke arah Artur. Artur yang tiba-tiba mendapat pelukan dari Elian pun kaget bukan main.
"A-ada hal apa yang terjadi, Nona?" Elian menggeleng masih sambil memeluk Artur. Artur pun di buat sedikit gugup dan salah tingkah.
"Huaaa! Artur! Dia mati!" Ucapan Elian membuat Artur melongo tak mengerti.
"Mati? Siapa yang mati, Nona El?"
"Koro sensei!"
'Hah? Siapa?'
"Apa dia sosok yang penting bagi Nona El?"
"Iya!" Walau awalnya ragu, Artur menepuk-nepuk punggung Elian bertujuan agar Nona mudanya itu tenang.
"Baiklah, nanti saya akan antar Nona El ke pemakamannya. Tempatnya dimana, Nona El?"
Mendengar hal itu, membuat Elian melepaskan pelukannya. Mengelap ingus yang tertinggal.
"Dasar bodoh! Kamu keluar dari ruangan saya!"
'Eh, maksudnya?' Otak Artur tidak bisa memahami keadaan sekarang. Yang tadinya Nona mudanya memeluknya sambil menangis, tiba-tiba berubah marah dan mengusirnya.
'Apa salahku? Niatku untuk mengantar ke pemakaman, ada yang salah?'
"Nona El saya datang untuk mengingatkan Nona. Jam makan siang sekarang, ada klien yang mengajak Nona makan bersama."
"Baiklah, siapkan mobil saya. Tempatnya dimana?"
"Di restoran D`e Luna, Nona El. Nanti saya antar Nona ke sana. Kalau begitu, saya pamit undur diri." Artur yang hendak membuka kenop pintu terhenti mendengar suara Elian.
"Artur." Panggil Elian.
"Ada hal lain, Nona El?"
"Rahasiakan ini dari siapapun." Artur yang mengerti pun mengangguk paham, kemudian keluar dari ruangan CEO cantik itu.
"Bodoh! Emang mau nembus dimensi? Buat datang ke pemakaman koro sensei!" Namun jujur saja, Elian merasa lebih baik dan merasa terhibur dengan keluguan Artur.
*Di restoran D‘e Luna
Beruntung, Elian sudah menghilangkan bekas sembab yang ada di sekitar matanya. Dia pun kini sedang berjalan ke arah meja yang sudah di pesan.
"Maaf membuat Anda lama menunggu, Mr. Louise." Mendengar namanya di panggil, pria itu memandang ke arah sumber suara.
Di lihatnya Elian yang berpakaian rapi dengan setelan jasnya. Terlihat elegan dan berkelas.
'Setelah sekian lama, semakin cantik.'
"Tidak masalah, Nona. Saya juga baru sampai, silahkan duduk."
__ADS_1
"Apa Anda sudah memesan, Mr. Louise?"
"Tentu. Porsi dua orang."
Elian mengangguk, di perhatikannya Louise yang semakin tampan dari beberapa tahun lalu. Dia akui Louise adalah satu satu pria tampan yang pernah dia temui, dan memberi rating 90.
Mata tajam bak elang, di sertai alis yang tebal. Bulu matanya pun lentik nan panjang. Garis rahang yang terlihat tegas, hidung yang mancung, jangan lupakan bibirnya yang berwarna merah menggoda. Serta ada tahi lalat di bawah mata sebelah kirinya.
"Apa Nona sibuk? Saya minta maaf jika menganggu jam makan siang, Nona Elian."
"Tidak sibuk. Jadi tidak perlu meminta maaf."
Hening beberapa saat, Elian sedikit merasa terganggu karena Louise. Sejak percakapan berakhir, Louise seolah tak melepas pandangannya pada Elian.
"Apa ada hal yang perlu di bicarakan, Mr. Louise? Sebagai klien saya, pasti ada hal yang ingin di bicarakan sampai mengajak saya makan siang bersama." Ucap Elian, sekaligus menerangkan jika Elian tidak ingin waktunya di sita hanya untuk omong kosong atau hanya untuk berkencan.
"Bisakah kamu tidak bicara formal, El? Ayolah, kita sudah lama tidak bertemu." Elian yang mendengar itu mendengkus, bukannya di sini dia hanya akan membahas bisnis?
"Apa maksud Anda, Mr. Louise? Kita di sini bukannya untuk membahas bisnis?"
"Aku merindukanmu, apa kamu tidak merindukanku?"
"Maaf, tapi apa Anda mabuk Mr. Louise? Atau ada riwayat penyakit jiwa?" Bukannya tersinggung dengan perkataan Elian, Louise justru tertawa.
"Hahahaha, omongan kamu selalu pedas, gak berubah dari masa kuliah dulu."
"Lupakan masa lalu, Mr. Louise. Sekarang saya hanya fokus pada pekerjaan saya."
"Melupakan? Bagian mananya yang perlu ku lupakan, sayang?"
"Berhenti bermain-main, Mr. Louise."
"Huh... Tampaknya hanya aku yang merindukanmu. Tapi tak masalah! Karena Lili sudah di sini, ini sudah cukup untuk membalas kerinduanku."
Ini Cast LOUISE YA‼️ Pastinya ganteng😍😘
✨💸💸💸✨
**Hai! apa kabar kalian!
Terimakasih sudah mau mampir😍
Ingat, tetap hargai penulis😤
Tinggalkan jejak berupa like ataupun komen ya‼️🤩
Yuk yang bisa tebak ada hubungan apa Elian sama Louise waktu kuliah dulu?
Siapa yang bisa nebak?👻
__ADS_1
Ok sekian dari chapter ini, see you next time 👋**