
Elian langsung membuka pintu ruangannya secara tergesa-gesa. Dan mengagetkan Artur yang tengah berdiri di depan pintu.
"Nona--."
"Jangan banyak bicara. Sekarang kita ke ruang rapat!" Tanpa melanjutkan omongannya, Artur mengikuti langkah kaki Elian-- Nona mudanya.
Sampai di ruangan, ternyata semua orang sudah duduk di tempatnya.
"Ekhem, maaf atas keterlambatan saya." Ucapan Elian penuh dengan nada tegas dan tidak ada satupun yang berani langsung menatapnya, kecuali jika mereka dipersilahkan berbicara.
"Ti-tidak masalah, Nona."
Elian pun kemudian duduk di kursi khusus untuknya, dan diikuti Artur yang berdiri di sampingnya.
"Bisa di mulai?" Tanya Elian dengan tatapan yang mengintimidasi lawan bicaranya.
"Baiklah, Nona. Tapi, maaf sebelumnya bolehkah saya bertanya?" Ujar seorang lelaki muda yang duduk di barisan kanan. Elian pun mengangguk sebagai persetujuan.
"Apa Nona mengganti sekretaris?"
"Oh, aku lupa memperkenalkannya. Dia sekretaris baru saya, Artur Daffodil. Jika ada masalah bisa hubungi dia. Ada pertanyaan lagi? Jangan membuang waktu saya."
"Tidak ada, Nona."
"Baiklah, rapat kali ini mengenai inovasi terbaru produk kita." Jelas seorang pria paruh baya yang duduk di dekat Elian.
*Setelah rapat
Usai dengan kegiatan rapat, Elian kembali ke ruangannya. Artur pun telah duduk di mejanya.
"Apa aku akan di pecat? Apa ini akan menjadi hari pertama sekaligus hari terakhirku bekerja?" Gumam Artur. Dia merasa sedikit khawatir, mengingat tadi dia sempat memasuki ruang pribadi yang telah Laila peringatkan.
Artur memeriksa jadwal yang Laila berikan tadi pagi. Tampaknya selain rapat, tidak ada banyak kegiatan yang harus dilakukan.
Karena tidak ada hal yang bisa dia lakukan saat ini, Artur memilih mengambil sebuah kertas kosong dan menggambar di atas kertas putih itu.
Sementara di dalam ruangannya, Elian tengah berdiri menghadap kaca transparan yang ada di belakang meja kerjanya. Di lihatnya pemandangan hiruk pikuk kota yang bisa di saksikan dari lantai 15.
✨💸💸💸✨
Tak terasa, langit pun telah berubah berwarna jingga. Mentari sebentar lagi akan kembali ke peraduannya, dan tergantikan oleh satelit bumi -- bulan.
Elian mengemasi barang-barangnya dan kemudian keluar dari ruangannya, setelah sekian lama berkutat di depan laptop dan menghadapi setumpuk kertas akhirnya dia bisa bebas.
"Ah! Kamu mengagetkan saya!" Jantung Elian rasanya hampir meloncat dari tempatnya. Bagaimana tidak terkejut? Tiba-tiba sudah mendapati Artur yang tengah berdiri tepat di depan pintu.
"Maafkan saya, Nona. Saya berjanji tidak akan memasuki ruang pribadi Nona muda lagi. Tolong jangan pecat saya."
Mendengar ucapan Artur, tiba-tiba ide jahil terlintas di pikiran Elian.
"Kamu mengecewakan saya, Artur. Kamu sudah melanggar peraturan yang sudah Laila katakan." Balas Elian sambil memasang wajah datar. Dia tetap mempertahankan ekspresi datarnya, meskipun di dalam benaknya dia sudah tertawa melihat wajah pucat Artur.
"Saya benar-benar minta maaf, Nona. Saya tidak akan mengulanginya lagi. Mohon Nona tidak memecat saya."
"Ekhem. Karena masih bisa di toleransi, saya maafkan. Tapi tidak ada lain kali, kecuali saya mengijinkan." Elian cukup puas telah mengerjai Artur.
"Terimakasih Nona, terimakasih. Saya tidak akan melanggarnya, saya berjanji." Artur berkata sambil membungkuk ke arah Elian.
"Cukup. Kamu sudah bisa pulang." Elian berjalan meninggalkan Artur yang terlihat mengelus dada.
"Pfftttt, hahahaha. Dasar sekretaris baru! Sepertinya dia mudah di kerjai, hehe." Tawa Elian meledak ketika dirinya sudah berada di dalam mobilnya.
Sedangkan Artur baru saja mengemasi barangnya, dan mendapat telepon dari temannya.
__ADS_1
"Aku sedang senggang, bisa kita bertemu di tempat kemarin?"
"Oke."
*Di cafe dekat perusahaan
"Wajah mu pucat sekali? Apa pekerjaanmu begitu berat?" Baru saja Artur duduk, dia sudah di sodorkan segelas kopi oleh temannya.
"Terima kasih. Iya, ada beberapa hal yang terjadi."
"Bagaimana dengan bos mu? Apa dia wanita kejam?"
"Eh..... Menurutku dia wanita tegas. Dan pemarah." Ucap Artur, serta di bagian akhir yang sengaja ia kecilkan suaranya.
"Semoga saja kau betah bekerja di sana."
"Oh ya, kenapa tiba-tiba memanggilku? Apa kau ada masalah dengan pacarmu?" Goda Artur.
"Hei Artur, kaum jomblo diam saja. Kau tidak akan mengerti tentang masalah asmara orang lain." Artur menampilkan ekspresi datarnya. Yang membuat Nugra tersenyum canggung.
"Hehe, itu kenyataannya Artur. Sampai saat ini kau masih saja sendiri, kapan akan punya gandengan?" Sindir Nugra sambil menyesap kopinya.
"Aku cukup bergandengan denganmu saja. Kenapa harus bergandengan dengan perempuan? Apa hanya untuk pamer kemesraan?" Balas Artur menyindir temannya itu.
"Aku bukan penyuka sesama. Maaf, cintamu ku tolak lebih awal."
"Siapa yang menyatakan cinta?!"
"Kau, barusan." Artur mengusap kasar wajahnya. Bisakah temannya ini berpikir lebih normal?
*Di lain tempat
Di dalam rumahnya, tepatnya di dapur. Elian tengah berkutat dengan peralatan masaknya. Wajahnya dihiasi senyum manis yang seakan tak akan pudar.
"Baunya harum, Eli. Pasti enak."
"Jelas saja! Itu ku buatkan khusus untukmu!"
Dengan gemas, lelaki itu mengapit hidung Elian. Yang membuat Elian kesusahan bernafas.
"Sakit, Erland!"
"Hahaha, iya maaf. Siapa suruh kamu imut?"
Erland pun duduk di tempat yang sudah Elian sediakan. Kemudian memasukkan sesuap nasi goreng itu ke dalam mulutnya.
"Ini ewnak!"
"Kalau makan, jangan bicara Erland." Kelakuan Erland membuat Elian menggelengkan kepalanya.
"Kamu seharusnya istirahat setelah bekerja, Eli. Bukan malah menyiapkan nasi goreng untukku."
"Ada pepatah berkata, tamu adalah raja. Jadi karena kamu tamu, aku akan meladenimu. Yah, meskipun tamu tak diundang." Sindir Elian, yang hanya di tanggapi cengiran konyol oleh Erland.
"Eli, apa kamu tidak merasa kesepian?"
"Em? Kenapa tiba-tiba bertanya?"
"Ah tidak, bukan apa-apa. Aku hanya bertanya. Saat yang seumuran denganmu kebanyakan sudah menikah dan memiliki pasangan, kamu bahkan tidak punya pacar. Yah.... setidaknya carilah pacar, agar kamu tidak seperti jomblo ngenes di luaran sana."
Saat akan menyendokkan nasi lagi ke dalam mulutnya, piringnya di tarik oleh Elian.
"Sepertinya kamu mulai banyak bicara ya, Erland? Sayang sekali, sepertinya nasi goreng ini sekarang menolak masuk ke perutmu, sebaiknya ku buang saja!"
__ADS_1
"Eh... Eli! Jangan membuang makanan! Itu dosa. Lebih baik ku tampung di perutku."
"Lebih baik ku beri kucing daripada memberikannya kepada orang bermulut busuk sepertimu!"
"Ah iya-iya, aku minta maaf Eli. Sebaiknya kita bicarakan baik-baik, nasi goreng itu tidak berdosa!"
"Apa urusanmu?! Cepat pergi dari rumahku! Dasar tamu tak diundang!" Elian menyeret Erland menuju pintu gerbang rumahnya, dan menutup akses Erland untuk masuk ke dalam.
"Haish! Dasar nenek pemarah itu! Aku hanya berbicara fakta dan dia mengusirku dengan tidak terhormat!"
"Awas saja kamu, Erland. Akan ku cabik-cabik kamu, jika berani menginjakkan kaki kotor mu itu kembali ke rumahku."
✨💸💸💸✨
Apa kabar semua?!
Yey aku double update 🤣
Ada yang mau kalian sampein?
Ini picture Elian alias Nona muda. Tapi terserah kalian, mau bayangin dia kayak gimana. Ini gambarannya.
Elian:
-Cantik
-Pemarah
-Jahil
-Pelupa
-Keras kepala
Dan ada lagi yang lain
Cast nya si Artur Daffodil
Artur Daffodil:
-Ganteng
-Baik
-Pengertian
-Terlalu polos
Nih aku kasi bonus picture 😍‼️
Pembaca yang baik adalah pembaca yang menghargai karya penulis.
Jadi ingat selalu like ya!
Terimakasih juga untuk kunjungan kalian di ceritaku ini.
Jumpa next chapter 📢
__ADS_1