![OB Spesial [Markhyuck Ft. Noren]](https://asset.asean.biz.id/ob-spesial--markhyuck-ft--noren-.webp)
Keesokan harinya haechan kembali bekerja, ia membiarkan chenle berjalan sebebasnya namun tetap dalam awasannya takut-takut balita itu diculik
Saat didepan gedung ia tak sengaja bertemu Mark dan juga Lucas, dari jauh saja Mark terlihat sangat tampan memang idaman siapapun
"Paman baik!" Chenle berlari menyapa Mark, haechan yang terkejut tiba-tiba saja chenle berlari jadi ia ikut berlari untuk memastikan keamanan balita itu
"Hey, bear nya paman baik how are you?" Mark mersih tubuh chenle pada gendongannya
"I'm okkie paman bagaimana dennan paman?"
"Paman baik mana bunda mu?" Chenle celingak-celinguk mencari keberadaan ibunya ternyata ibunya sedang berlari kearahnya
"Ituu!!" Chenle menunjuk haechan yang berlari dengan deru nafas yang tak terkontrol
"Astaga chenle! Jangan tinggalkan ndaa bagaimana jika kamu diculik" haechan mengomel sambil menetralisirkan nafasnya
"Sowwry ndaa lele hanna innin beltemu paman baik"
"Baiklah sekarang turun kita harus kebelakang biarkan paman baik bekerja" perintah haechan, sungguh melihat Mark ia merasa canggung sekarang
"Okkeee" chenle merosotkan badannya dari Mark dan mendekati ibunya namun
"Maaf menganggu" tiba-tiba datang Harvey disitu
"Harvey!? Kenapa kau kemari"
"Aku hanya ingin mengajak sarapanmu dan juga chenle"
"Emmm tapi aku harus bekerja dan aku juga sudah sarapan" jawab haechan
"Maaf menyela, anda siapa?" Tanya Lucas
"Perkenalkan saya harvey calon suami dong- em maksud saya haechan" jawab Harvey sambil tersenyum manis
Mark yang mendengar ucapan 'calon suami' dirinya langsung merasa panas entah mengapa terasa ada gejolak panas dihatinya ia langsung pergi dari sana diikuti dengan Lucas
"Oh begitu? Jadi apakah boleh nantiku mengajakmu untuk makan siang saja?" Tanya Harvey dengan terpaksa haechan menyetujuinya
Haechan bekerja seperti biasanya bersama renjun, seperti biasa juga ia mendapat perilaku kekerasan oleh karyawan ingin sekali rasanya haechan melaporkan hal itu tapi haechan tak sejahat itu
"Chan jujur Ama gue, sebenernya Lo ada rasa ga sih sama pak minhyung?" Tanya renjun membuka pembicaraan
"Bakal dibilang boong gasih kalo gue bilang engga? Boong kalo gue ga ada rasa setelah pak minhyung baik banget ke gue tapi gue sadar dia bantu karna gue juga karyawan dia jadi ya sewajarnya aja" ucap haechan sambil mengangkat kedua bahu
"Maaf Chan tapi kalo Lo mau milih Lo milih pak minhyung apa bapaknya chenle?" Ucap renjun ragu ragu takut pertanyaannya menyinggung perasaan haechan
__ADS_1
Haechan terdiam ia tak bisa menjawabnya....
"Ah maaf Chan kalo pertanyaan gue terlalu menyinggu-
Ga njun, gue tau gapapa" belum selesai renjun berbicara haechan sudah memotongnya
Haechan lebih memilih untuk berlalu dari hadapan renjun tak mengucapkan sepatah kata pun, renjun merasa haechan marah padanya ia merasa bersalah sekarang
"chenle ayo ikut ndaa kita makan siang diluar" haechan memakaikan jaket pada putranya dan tak juga lupa membalut dirinya sendiri dengan jaket
"Chan Lo mau kemana?" Tanya renjun yang melihat haechan hendak pergi
"Emm.... Gue ada janji sama bapaknya chenle buat makan siang bareng, gue duluan ya njun" haechan langsung pergi dari hadapan renjun. Renjun semakin merasa bersalah jika seperti ini haechan benar-benar marah sampai tak mau berbicara padanya
Haechan bertemu dengan Harvey didepan kantor Mark, Harvey sudah siap dengan mobilnya
"Maaf ya jadi menunggu lama" ucap haechan tak bersemangat
"No problem, jadi? Ayo" Harvey membukakan pintu mobil untuk haechan
Semua itu tak luput dari perhatian Mark dari kaca gedung bagian atas, ia menatap dengan sendu haechannya sudah pergi sepertinya benar kata Jeno ia sudah terlambat.
Mark beranjak dari tempatnya ia mengambil kunci mobil dan keluar dari gedung ia ingin pulang ke rumah, kalian sudah pasti tau alasan Mark pulang kan? Seperti yang dikatakan Jeno
Mark mengendari mobilnya seperti orang yang kesetanan, asmaranya hancur menyalahkan dirinya sendiri seharusnya ia menyatakan isi hatinya lebih dulu sebelum orang itu
"BUBU!!" Mark menggebrak pintu utama seperti biasa ada beomgyu entah kenapa anak itu suka sekali didepan pintu
"Kenapa sih bang!? Kaget woi" beomgyu berteriak karena dikagetkan oleh Mark
"Bubu mana?"
"Didapur tuh" saut beomgyu ketus, mark langsung berlari kearah dapur. Menatap punggung sang ibu yang sedang sibuk dengan panci dan kompornya
"Bubu~" panggilan sayu Mark mampu membuat ibunya menoleh dan tersenyum manis disana
"Kemari" taeyong sudah pasti tau masalah yang ditimpa anaknya, ia merentangkan tangannya. Sudah kewajibannya bukan? Ia ibunya
Mark menghampiri ibunya dan memeluk erat sang ibu, ia sangat membutuhkan itu. ibunya memang paling bisa membuatnya tenang
"Astaga putraku menjadi seperti ini jika asmaranya hancur kkk pantas saja lebih memilih untuk workholic daripada main perempuan" gurau taeyong sambil mengelus punggung Mark yang tubuhnya lebih tinggi darinya
"Bubuuu bagaimana inii" Mark merengek-rengek, membuat Taeyong tertawa
"Bubu dengar dengar dari Jeno, haechan belum menerima tawaran calon suaminya kan? Masih ada kesempatan untuk Abang"
__ADS_1
"Tidak mungkin! Dia pasti menerima bubuu~" sungguh Mark sangat lucu sekarang
"Memangnya Abang sudah terima jika haechan bersama suaminya?" Pertanyaan taeyong langsung membuat Mark menggeleng ribut
"Abang tidak mau berjuang? Abang tidak mau jadi orang paling berani hm? Bukankah Daddy sudah mengajari Abang untuk jadi orang paling berani melawan apapun?"
"Tapi.... Apa yang harus Abang perjuangkan bubu? Lalu nanti jika Abang kalah?"
"Itu konsekuensinya abangg" ucapan Taeyong mampu membuat putranya terdiam dan menghela nafas pasrah
"Baiklah bubu, Abang usahakan"
.
.
.
.
Haechan dan juga Harvey sudah sampai direstoran yang tampak mewah dan eksotik, seperti restoran kebaratan
"Ingin makan apa?" Tanya Harvey sambil membalik-balik buku menu
"Emm terserah saja" jawab haechan, Harvey mulai memesan makanan pada sang pelayan
Sembari menunggu, Harvey berusaha mengajak ngobrol haechan meski hanya dijawab seadanya
"Harvey bagaimana jika aku tidak bisa menerimamu?" Mendengar ucapan haechan Harvey hanya tersenyum teduh
"Bukankah aku sudah mengatakan berkali-kali bahwa aku tak pernah memaksamu, semua hal yang dipaksakan hanya berakhir berantakan. Aku hanya tak ingin luput dari tanggungjawab yang sudah seharusnya aku tanggung" seharusnya haechan menyimpulkan Harvey berbuat hanya untuk tanggungjawab kepada chenle bukan untuk mencintainya, Harvey itu baik dia tampan dan juga mapan namun haechan merasa bahwa dirinya tak bisa menerima pria bule itu entah mengapa hatinya berkata Harvey bukan orang yang cocok untuknya
"Sekali lagi terimakasih Harvey, kau benar benar baik namun...." Haechan menghentikan kata-katanya
"Namun apa? Lanjutkan saja tidak apa-apa, kamu berhak mengambil keputusan" ucap Harvey
"Sepertinya aku tak bisa menerima tawaranmu, maaf" cicit haechan
Mendengar ucapan haechan, sekali ayo Harvey tersenyum ia hanya bis tersenyum ia tak marah tak meminta alasan sedikitpun namun ada sedikit kekecewaan dimatanya bukankah Harvey termasuk pria sia-sia? Entahlah doa kan yang terbaik untuknya
"Maaf bukan maksudku tak menerima semua tanggung jawabmu, aku sudah memaafkanmu untuk masa lalu. Aku merasa bahwa aku bisa untuk sendiri dan maaf menyia-nyiakan usahamu selama ini" haechan semakin menunduk dan memeluk erat chenle ia takut Harvey marah pada orang egois semacam dirinya
"Tidak apa-apa, aku mengerti setelah ini aku tak akan mengganggumu lagi. Tapi bolehkah sesekali aku bertemu dengan chenle?"
"Hu'um bagaimanapun kau ayahnya" ucap haechan jelas membuat Harvey sedikit senang setidaknya ia masih berhubungan baik dengan haechan walau jika kembali ke masa lalu mereka hanya akan menjadi teman seangkatan yang tidak terlalu akrab
__ADS_1
Setelah itu mereka makan dan Harvey kembali mengantar haechan ke kantor Mark, mereka juga sempat bertukar nomer telpon
tbc....