Om Doni, I Love You

Om Doni, I Love You
Om Kesayangan


__ADS_3

Setelah mendengarkan rekaman suara Lili dan menyimpulkan sendiri apa yang dikatakan oleh gadis centil yang mulai mengalihkan perhatian Doni, pemuda matang itu menjadi tidak berselera untuk makan.


Doni terus kepikiran dengan ucapan Lili, bahwa gadis itu sedang di pingit. "Siapa calon suami Lili? Papa kira-kira tahu enggak, ya?" tanya Doni pada dirinya sendiri.


"Ah, pasti papa juga belum tahu. Kalau papa sudah tahu bahwa anaknya pak Devan itu sudah memiliki calon suami, papa dan bang Adi enggak akan menjodoh-jodohkan aku dengan Lili." lanjut Doni bermonolog.


Doni menghela nafas dengan berat, Bos Muda SANJAYA GROUP itu kemudian berdiri dan berjalan mondar-mandir seperti orang linglung. Doni benar-benar tidak tahu, apa yang harus dia lakukan saat ini.


"Busyet! Kenapa aku jadi kepikiran gadis centil itu, sih! Bodo amat dia mau di pingit atau mau nikah sama siapa? Bukan urusanku juga!" gerutu Doni dengan kesal, putra bungsu papa Sanjaya itu kemudian kembali menyibukkan diri dengan berkas-berkas di atas mejanya.


Netra Doni memang fokus pada berkas di tangannya, tetapi tidak dengan pikiran pemuda matang itu yang masih memikirkan ucapan Lili. "Sialan! Ada apa sih dengan aku? Kenapa jadi enggak bisa fokus, gini?" kesal Doni, yang meletakkan kembali berkas ditangannya ke atas meja dengan kasar.


Doni bangkit dan berjalan menuju jendela kaca yang terdapat di sisi ruangannya, dia berdiri menghadap ke jalan raya dan melihat sibuknya lalu lintas di ibukota dari ketinggian kantor Doni yang berada di lantai lima belas.


Pemuda matang itu membolak-balikkan hati dan pikirannya, mungkinkah dia sudah mulai menyukai gadis belia yang dimata Doni masih kekanak-kanakan?


Doni menarik nafas dalam-dalam dan kemudian menghembuskan dengan kasar, nampak putra sulung papa Sanjaya itu menggelengkan kepalanya berkali-kali.


Saking asyiknya menatap keluar jendela kaca dan kalut memikirkan tentang Lili, Doni sampai tidak menyadari bahwa abang iparnya telah masuk kedalam ruangan. "Ehm,,," Adiputra berdeham, setelah menunggu cukup lama, namun Doni masih berdiri terpaku menatap keluar.


"Salah satu tanda kalau kita cinta dan sayang pada seseorang adalah, kita akan merasa kehilangan setelah dia tak nampak lagi di depan mata. Kita juga akan merasakan rindu, meski baru sebentar saja tidak bertemu," ucap Adi seraya tersenyum, suami dari Tanti itu kemudian mendekati adik iparnya.


Doni langsung menoleh kearah sumber suara, "ck,,," Doni berdecak, "sejak kapan, Abang masuk?" tanya Doni.


Sejak kamu berdiri disini, Om Doni sayang," balas Adiputra tersenyum jahil, sambil menirukan suara centil Lili.


Sontak, Doni tertawa terbahak, "ih, najis Abang!"


Adiputra pun kemudian ikut tertawa.


Setelah tawa keduanya mereda, Doni dan sang abang ipar duduk di sofa.


"Bang, apa Bang Adi pernah mendengar kalau putrinya pak Devan itu akan dijodohkan?" tanya Doni akhirnya yang membuang gengsi dan rasa malu.


Adiputra mengernyitkan kening, "dijodohkan? Enggak mungkin lah, Dik. Lili 'kan baru masuk kuliah? Mana mungkin pak Devan punya pikiran seperti itu?"


"Iya juga sih, Bang," balas Doni seraya mengangguk-angguk.

__ADS_1


"Kenapa kamu tanya seperti itu, Dik?" tanya Adiputra sambil menatap Doni dengan penuh selidik, "apa, karena hal itu kamu jadi melamun tadi?"


Doni menggeleng, mencoba menyembunyikan perasaan yang mulai hadir meski masih samar dan belum diakui oleh putra bungsu papa Sanjaya tersebut.


&&&&&


Di kediaman om Devan yang megah, Lila dan Lili yang baru saja sampai langsung naik ke lantai atas dan pamit sama kedua orang tuanya hendak beristirahat.


Sesampainya di atas, Lili bukannya masuk kedalam kamarnya sendiri, namun mengikuti langkah saudari kembarnya dan masuk kedalam kamar Lila.


"Aku mau tidur, Li? Aku capek banget hari ini?" keluh Lila.


"Bentar dong? Bantuin aku, dulu?" pinta Lili.


"Bantu apalagi? Tinggal nunggu kabar dari Mirza, 'kan?" balas Lila.


"Bukan masalah papa, La?" rajuk Lili.


Lila mengernyitkan dahinya, "terus?"


"Om Doni? Aku lupa belum pernah minta nomor om Doni, La?" sesal Lili, "padahal aku kangen banget tahu, La? Aku pengin telepon om Doni?" lanjut Lili.


"š˜Žš˜°š˜°š˜„ š˜š˜„š˜¦š˜¢," ucap Lili sambil menghambur memeluk Lila.


"Ck,,," Lila berdecak seraya melerai pelukan kuat Lili, "biasa saja kali, Li," balas Lila.


"Udah, buruan cari nomor telepon kantor Pusat SANJAYA GROUP," titah Lila.


Gadis centil yang sedang kasmaran dengan pria dewasa itu segera mengambil ponselnya dari dalam tas, jari Lili terlihat lincah menari di atas layar ponsel untuk mengetik di kotak pencarian.


"š˜ š˜¦š˜“š˜“, ketemu!" seru Lili dengan girang, "sini ponsel kamu, La," pinta Lili seraya menyerobot ponsel dari tangan saudari kembarnya.


Lila hanya bisa mendengus kesal dan kemudian beranjak menuju ke kamar mandi, karena sejak datang tadi Lila belum sempat ke kamar mandi dan berganti pakaian.


Setelah mencatat nomor telepon yang dia dapatkan dari hasil searching di internet di ponsel Lila, Lili kemudian segera mendial nomor yang didapatnya itu.


Tut,,,

__ADS_1


Tepat pada dering pertama, panggilan dari Lili diterima oleh suara merdu wanita di seberang sana. "Halo, selamat siang. Dengan PT. SANJAYA GROUP, ada yang bisa kami bantu?" sapa resepsionis


"Selamat siang mbak, maaf mengganggu waktunya. Bisa minta tolong, sambungkan dengan pak Doni?" pinta Lili dengan sopan.


"Maaf, ini dengan siapa? Apakah sudah membuat janji sebelumnya, dengan pak Doni?" tanya resepsionis.


"Sampaikan saja pada pak Doni, kalau saya, Lili. Calon istrinya pak Doni," balas Lili.


"Oh baik, bu Lili. Mohon tunggu sebentar," balas resepsionis dengan sopan.


Putri kesayangan om Devan itu pun nampak sabar menunggu, setelah beberapa saat terdengar suara laki-laki yang sangat dia rindukan dari seberang sana. "Halo,,,"


"Om ... akhirnya, hari ini aku bisa dengar suara seksi Om," ucap Lili dengan riang.


"Hai, Bocah. Kenapa pakai ngaku-ngaku calon istri segala?" suara Doni terdengar kesal, tetapi Lili tidak ambil pusing.


"Ya 'kan, memang benar Lili calon istri, Om," balas Lili penuh harap, "Om, Lili mau š˜š˜Ŗš˜„š˜¤š˜¢š˜­š˜­ dong?" pinta gadis centil itu dengan suaranya yang manja.


"Enggak, enggak. Aku lagi sibuk," tolak Doni.


"Om, please ... bentar aja?" rajuk Lili, "berapa nomor, Om?" lanjut Lili bertanya.


Hening, tidak terdengar suara apa-apa dari seberang sana.


"Om? Masih di sana, 'kan?" tanya Lili.


"Iya, catat!" titah Doni singkat. Doni kemudian menyebutkan deretan angka, yang merupakan nomor ponselnya.


"Lili ulang ya, Om?" Lili kemudian mengulang nomor yang disebutkan Doni, "benar 'kan, Om?" tanya Lili memastikan.


"Iya, ya sudah tutup teleponnya. Aku mau lanjut kerja." tanpa menunggu balasan dari Lili, Doni langsung memutus sambungan telepon dari Lili.


Lili yang kesenangan karena mendapatkan nomor Doni, sampai mengabaikan laki-laki dewasa di seberang telepon karena fokus Lili ada pada layar ponselnya yang kini sedang menampilkan nama 'Om Kesayangan' pada panggilan video yang dituju.


Terdengar nada sambung dari ponsel Lili, gadis itu masih sempat merapikan hijab sambil menunggu panggilan videonya di angkat oleh pemuda dewasa pujaan hati Lili.


Sementara jauh di sana, tepatnya di kantor Doni. Pemuda itu tersenyum-senyum sendiri setelah memberikan nomornya pada gadis belia yang dianggapnya masih ingusan tersebut.

__ADS_1


tobe continue,,,


__ADS_2