Om Doni, I Love You

Om Doni, I Love You
Menaklukkan Pria Dewasa


__ADS_3

Di kediaman om Devan, kedua orang tua Lila dan Lili tersebut nampak sibuk mondar-mandir di teras rumah megah milik keluarga om Devan. Pasalnya, kedua putri kembarnya hingga sore hari belum juga pulang ke rumah dan ponsel mereka berdua sama sekali tidak dapat dihubungi.


"Ma, sudah mencoba menghubungi Mirza atau Attar?" tanya om Devan yang nampak sangat khawatir. Laki-laki paruh baya itu takut, jika sang putri bungsu nekat menemui pria dewasa yang lebih pantas menjadi om-nya Lili daripada kekasihnya.


"Sudah, Pa. Tetapi ponsel mereka juga enggak ada yang aktif? Papa kayak enggak tahu mereka aja, mereka itu kan sangat kompak, Pa." Tante Lusi menghela nafas panjang, "sudahlah Pa, bentar lagi juga mereka pulang. Ayo kita masuk," ajak tante Lusi.


"Masalahnya papa khawatir kalau si adik tuh nekat nemuin si Doni, Ma," balas om Devan yang masih enggan untuk masuk kedalam rumah, " Nezia sudah Mama hubungi juga?" tanya om Devan menegaskan.


Mamanya si kembar Lila dan Lili itu mengangguk, "sudah, Pa. Nomor Nezia juga enggak aktif," balas tante Lusi, seraya menatap sang suami. "Memang kenapa sih, Pa? Doni, kayaknya anak yang baik? Keluarga Sanjaya juga sudah kita kenal dengan baik kan, Pa?" selidik tante Lusi pada suami tercinta.


"Iya, Mama benar. Keluarga Sanjaya memang baik dan perusahaan kita sudah menjalin kerjasama yang sangat lama dengan mereka tapi masalahnya, Doni ...." Om Devan menggantung ucapannya.


Tante Lusi mengernyitkan dahinya, "karena selisih usia mereka berdua, yang terlalu jauh?" tanya tante Lusi.


Om Devan menggeleng, "bukan hanya itu, Ma." suami tante Lusi itu menghela nafas panjang.


"Papa pernah mendengar kisah cinta Doni sama kekasihnya yang tidak mendapatkan restu dari nyonya Sanjaya, hingga akhirnya putra bungsu mereka, yaitu si Doni patah hati dan trauma. Dia tidak mau menjalin hubungan dengan wanita mana pun, Ma." papar papa tiga anak tersebut.


"Masak sih, Pa?" tanya tante Lusi, yang tidak percaya dengan kisah Doni.


Om Devan mengangguk, "benar, Ma. Begitu besar dan dalam cinta Doni pada mantan kekasihnya kala itu dan papa khawatir, di saat dia menjalin hubungan dengan putri kita tapi hatinya masih untuk sang mantan." Om Devan menerawang jauh.


Tante Lusi menggeleng, "Papa kejauhan mikirnya," kata tante Lusi seraya tersenyum, "siapa tahu aja kan, putri kita bisa mengalihkan dunia Doni hingga pemuda itu dapat melupakan masa lalunya?"


"Biasanya, tipe cowok macam Doni itu setia lho, Pa. Begitu sudah mencintai seseorang, dia akan benar-benar mencintai dengan sepenuh hati dan tidak tega melihat wanita yang dicintai itu merasakan sakit," lanjut tante Lusi.


"Setia kayak papa, gitu maksud Mama, kan?" suami tante Lusi itu menatap sang istri dengan penuh cinta.


"Emm,,, enggak juga, sih. Papa, biasa aja menurut mama," goda tante Lusi, yang langsung mendapatkan cubitan di pipinya dari sang suami.


Laki-laki yang terkenal play boy di masa mudanya itu tetap menggeleng, "papa enggak yakin, Ma. Yang jelas untuk saat ini, papa tidak setuju jika adik dekat-dekat sama Doni," kekeuh om Devan mengakhiri perbincangannya dengan sang istri.

__ADS_1


Laki-laki paruh baya yang masih terlihat tampan itu kemudian merangkul pundak sang istri dan menuntunnya untuk masuk kedalam rumah, tanpa menunggu kehadiran kedua putri kembarnya.


&&&&&


Sementara di sebuah kafe tempat tongkrongan para anak muda, terlihat lima remaja sedang menikmati kopi sambil bercanda ria. Suara tawa riang mereka bahkan terdengar mendominasi area tersebut, mengalahkan alunan musik yang diperdengarkan dari audio kafe.


"Kalian tahu enggak, wajah om Doni tuh kayak yang nahan-nahan gimana ... gitu, waktu aku pepet terus," terang Lili seraya terkekeh senang.


"Sumpah, aku jadi gemes pengin nyium om tampan itu. Wajahnya memerah tahu, gemesin banget," lanjut Lili sambil meremas tangannya sendiri dengan gemas.


"Halah, palingan kalau om Doni serius pengin nyium, kamu juga bakalan keder dan langsung lari, kan?" olok Mirza.


"Haha,,, iya, benar." balas Lili dan saudari kembar Lila itu kemudian menceritakan kejadian sesaat sebelum dirinya kabur dari ruangan Doni.


"Kan aku lagi enak-enak duduk tuh di pangkuan om Doni, sambil menikmati kegugupan dia. Eh, tiba-tiba om Doni deketin wajahnya gitu dan bilang mau French kiss?" Lili menerawang jauh seraya senyum-senyum sendiri.


Lila dan yang lain mengernyitkan dahi.


Lili mengangguk pasti, "beneran, La. Habisnya, om Doni selalu ngatain aku bocah. Ya, aku kan jadi tertantang untuk menunjukkan padanya kalau aku ini udah dewasa?" balas Lili.


"Rasanya gimana, Li. Duduk di pangkuan om-om sambil dikasih kiss," Mirza menatap Lili seraya memainkan kedua alisnya dan tersenyum tengil.


"Ya enggak tahu, lah. Orang aku enggak mau?" balas Lili seraya mengerucutkan bibirnya.


"Jadi, kamu langsung kabur gitu aja? Setelah om Doni bilang, mau mencium kamu?" tanya Attar penasaran, setelah mendengar cerita dari Lili.


"Ya iyalah, Bang Attar? Mana boleh kami melakukan French kiss? Kecuali, jika om Doni sudah melamar aku?" balas Lili seraya tersenyum lebar, menampakkan deretan giginya yang putih dan rapi.


"Tetap aja enggak boleh, Li? Dilamar aja kan belum sah secara hukum agama?" protes saudari kembarnya, "kalau sudah dinikahi, baru boleh," lanjut Lila berceramah.


"Tuh, Li. Dengerin kata ustadzah Lila," timpal Mirza.

__ADS_1


"Tadi kamu duduk di pangkuan Om Doni itu juga belum boleh lho, Li?" imbuh Nezia.


"Iya, ya. Berarti, aku kebablasan dong tadi waktu godain om Doni?" sesal Lili, "tapi gimana ya Nez, aku kalau deket sama om Doni, suka kebawa perasaan," lanjutnya, antara menyesal tetapi juga menikmati.


"Dasar, Lili! Kalau deket sama cowok, pasti langsung baper! Makanya cowok kamu banyak, sering gonta-ganti!" omel Mirza.


"Kayak kamu enggak aja, Za! Kamu juga sama kan, sering gonta-ganti cewek!" cibir Lili.


"Udah, udah. Kalian berdua, sama aja." lerai Attar, "sekarang, apa lagi yang harus kami lakukan untuk membantumu?" tanya Attar seraya menatap Lili.


"Bisa minta tolong bujuk papa enggak?" pinta Lili.


"Enggak!" seru yang lain serempak.


"Ck,,, kalian enggak bestie," Lili berdecak kesal.


"Kalau bantu bujuk om Doni, mungkin kami bisa." balas Mirza, memberikan solusi.


"Bantu gimana maksudnya?" tanya Lili.


"Agar om Doni segera melamar kamu dan berjuang untuk mendapatkan restu dari om Devan," balas Mirza.


"Kalau itu sih, aku juga bisa sendiri kali?" gerutu Lili.


"Ya udah, silahkan berjuang sendiri, Girl!" tantang Mirza.


"Siapa takut?" balas Lili dengan yakin.


"Menaklukkan pria dewasa macam om Doni sih, urusan kecil," pungkas Lili, mengakhiri obrolan mereka di sore itu.


Ada banyak rencana di benak Lili untuk bisa mendapatkan hati Doni dan putri bungsu om Devan itu sangat yakin, dengan gayanya yang centil, pemuda matang yang Lili incar itu pasti akan segera bertekuk lutut padanya.

__ADS_1


tobe continue,,,


__ADS_2