
Pagi-pagi buta, Doni sudah keluar dari kediamannya untuk menuju kediaman sang calon mertua. Doni membawakan bubur ayam buatan sang kakak, yang sangat disukai Lili.
Demi Lili, malam itu juga, Doni merajuk pada Tanti untuk menginap di rumah sang papa, agar dapat membuatkan bubur ayam. Hingga dengan terpaksa, putri sulung papa Sanjaya tersebut mengikuti kemauan sang adik.
Doni segera melajukan kuda besinya dengan kecepatan tinggi, agar bisa cepat sampai di kediaman sang calon mertua dan melihat keadaan Lili.
"Moga kamu udah sehat, Lil," gumam Doni, sambil pandangannya fokus ke jalan raya yang sudah mulai padat, meski matahari masih malu-malu menampakkan sinarnya.
Setelah berjibaku dengan kemacetan di jalan raya Ibukota, sampailah Doni di kediaman om Devan.
Satpam penjaga rumah yang sudah sangat hafal dengan mobil Doni, langsung membukakan pintu gerbang dan menyambut kedatangan calon menantu sang majikan.
"Selamat pagi, Mas Doni," sapa satpam tersebut dengan hormat, setelah Doni turun dari mobil.
"Pagi, Pak." balas Doni ramah, "ini, Pak. Ada bubur ayam buat Bapak, buatan kakak saya, moga Bapak suka," ucap Doni sambil menyodorkan satu rantang kecil kepada satpam.
"Ini, buat saya, Mas Doni?" tanya satpam memastikan.
Doni hanya mengangguk.
"Wah, terimakasih, Mas Doni," ucap satpam tersebut penuh rasa syukur karena selain rantang yang berisi bubur ayam, di atasnya terdapat uang lembaran berwarna merah.
"Mari, Pak. Saya kedalam dulu," pamit Doni yang kemudian bergegas masuk ke rumah megah om Devan.
Satpam tersebut mengangguk, 'Neng Lili gadis yang baik, sudah pasti ketemunya juga sama laki-laki yang baik. Semoga mereka bahagia selalu,' do'a satpam tersebut dalam hati.
Sementara Doni memasuki rumah megah tersebut seraya mengucapkan salam, "assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam," balas tante Lusi yang akan melakukan š«š°šØšØšŖšÆšØ bersama sang suami.
"Pagi benar, Mas Doni?" tanya tante Lusi kemudian.
"Iya, Ma. Semalam, saya sudah janji mau membawakan bubur ayam buat Lili. Apa Lili-nya sudah bangun, Ma?" tanya Doni.
"Tadi sih, ikut jama'ah sholat shubuh. Mungkin lagi ngobrol sama abangnya di teras atas." terang tante Lusi, "Mas Doni samperin saja ke atas," titahnya kemudian.
,"Baik, Ma. Saya ke atas dulu," pamit Doni.
Baru saja pemuda matang itu hendak beranjak, om Devan nampak berjalan mendekat. Pria paruh baya yang mengenakan stelan training yang warnanya senada dengan yang dipakai oleh tante Lusi itu tersenyum hangat menyapa Doni.
"Sudah datang?" tanya sang calon papa mertua dengan ramah.
"Iya, Pa. Baru saja," balas Doni menjelaskan.
"Ya, sudah. Silahkan ke atas, Lagi pada di teras atas paling," lanjut om Devan, yang segera berlalu mengajak sang istri untuk š«š°šØšØšŖšÆšØ di seputar tempat tinggalnya di kawasan š¦ššŖšµš¦
__ADS_1
Doni pun segera naik ke atas untuk menemui Lili.
Kehadiran Doni di teras atas disambut bahagia oleh Lili, "ah, Om Doni so sweet ... langsung tepati janji," ucap Lili seraya mengambil rantang dari tangan Doni.
Sementara Lila yang belum memakai hijab karena rambutnya masih basah, langsung berlari masuk kedalam kamar begitu melihat kehadiran Doni.
"Lebay kamu, Dik," cibir sang abang.
"Biarin, daripada Abang, gabut mulu kerjaannya gara-gara ditinggal liburan ke luar negeri," sahut Lili, "susulin sana, gih?" lanjut Lili memberi saran.
"Kerjaan abang lagi banyak, Li?" balas Damian, "ya udah, abang tinggal dulu ya? Mau siap-siap," lanjut Damian yang langsung meninggalkan teras sambil menepuk pundak Doni pelan.
Kini hanya ada Doni dan Lili, tanpa banyak bersuara, Doni segera menyuapi gadis centil yang telah berhasil memporak-porandakan hatinya itu dengan penuh kasih.
&&&&&
Seusai rapat, om Devan mengajak Doni untuk makan siang bersama sahabat-sahabatnya, sekaligus untuk membahas tempat resepsi pernikahan Lili dan Doni.
Mereka menuju tempat yang telah dijanjikan sesuai obrolan semalam di group š¤š©š¢šµ, yang selama ini mereka jadikan sebagai wahana untuk berbagi banyak hal. Mulai dari kekonyolan hingga hal yang sangat serius, seperti masalah bisnis ataupun masalah keluarga.
Rupanya Om Devan dan Doni datang lebih awal, sehingga belum nampak ada tanda-tanda para sahabat yang hadir di resto yang ternyata milik Doni.
Ya, Om Devan yang memutuskan mengajak sahabat-sahabatnya untuk makan siang bersama di resto Doni untuk mengurangi š£š¶š„šØš¦šµ anggaran rumah tangga. Alasan yang membuat para sahabat terbahak karena itu sama sekali tidak logis menurut ukuran kantong mereka, yang pastinya super tebal.
Tak berapa lama setelah mereka minum šøš¦ššš¤š°š®š¦ š„š³šŖšÆš¬, nampak opa Alvian berjalan mendekat kearah mereka. "Sudah lama, Dev. Mas Doni?" sapa opa Alvian seraya menyalami keduanya, opa Alvian kemudian duduk tepat di samping Doni.
"šš¦š“ š“š¶šøšŖ, šš¢šÆšØ. ššØš¢šÆšµšŖ šØš¢š³šŖšÆšØ šøšŖšµ, š¢š¬š¶ šÆšØš¦šÆšµš¦šÆšŖ," balas om Devan dengan bahasa Jawa, yang membuat Doni mengernyitkan kening.
_Sudah lama, Bang. Sampai kering di pohon, aku menunggu_
"Papa š“š¢šØš¦šµ šÆšØš¦šÆš„šŖš¬š¢šÆ šš°šøš°, šµš©š°?" tanya Doni tak percaya.
_Papa bisa bicara bahasa Jawa, ya?_
"Maksudnya?" tanya om Devan menatap Doni.
"Tadi, Papa bicara bahasa Jawa, 'kan? Berarti, Papa bisa bahasa Jawa?" tegas Doni.
Opa Alvian terkekeh, "makanya jangan sok-sokan ngomong Jawa, giliran ketemu sama ahlinya bingung, 'kan?" olok opa Alvian pada sahabatnya.
"Mertuamu ini cuma bisa ngomong sedikit, Mas Doni, tapi udah gaya!" Kembali opa Alvian meledek om Devan.
Om Devan hanya tersenyum masam.
"Papa dan mama 'kan, tidak ada yang berasal dari Jawa? Bisa bahasa Jawa, darimana?" tanya Doni, yang masih penasaran.
__ADS_1
Opa Alvian kemudian menceritakan bahwa istri daddy Rehan dan om Alex, berasal dari Jawa. Begitu juga dengan mamanya daddy Rehan, yang asli orang Jawa.
Doni nampak mengangguk-angguk.
"Ada apa, nih. Ngomongin mama?" tanya daddy Rehan yang baru datang bersama asisten seumur hidup, om Alex.
"Enggak apa-apa, Rey," balas opa Alvian sambil menyambut jabat tangan kedua keponakannya.
Setelah semuanya duduk, šøš¦ššš¤š°š®š¦ š„š³šŖšÆš¬ untuk tamu yang baru saja hadir segera datang dan di susul dengan menu makan siang yang sudah di pesan oleh sang empunya resto. Makan siang spesial, dengan menu terbaik di restoran Doni tersebut.
"Silahkan, Pa, Om. Ini, menu baru di restoran kami," Doni mempromosikan menu baru di restorannya.
Mereka mulai menikmati makan siang, dengan diselingi canda dan tawa seperti biasa. Hubungan Doni dengan keempat sahabat itu pun semakin akrab dan layaknya teman lama, Doni dapat menimpali setiap obrolan mereka dan hal itu membuat geng tampan menjadi semakin rame.
Usai makan siang, mereka bersantai sejenak sambil membahas apa yang diinginkan om Devan.
"Emang, lu maunya ngadain pesta dimana, Dev?" tanya daddy Rehan.
"Mau di pulau Keluarga AA? Atau, di kediaman lu? Atau, di hotel?" lanjut daddy Rehan.
Om Devan nampak masih menimbang-nimbang.
"Di pulau kita juga bagus, Dev. Sekalian anak-anak liburan semester, 'kan?" usul opa Alvian.
"Benar tuh, Dev? Nanti untuk sarana transportasi, kayak waktu nikahannya Icha aja?" timpal om Alex.
Om Devan menggeleng-gelengkan kepala, "gue pengin suasana yang beda," balas om Devan seraya menatap sahabat-sahabatnya bergantian.
"Kalau Papa setuju, di hotel sini gimana? Di ballroom atau di š³š°š°š§šµš°š±?" tawar Doni.
Om Devan masih terdiam, dengan kening yang mengernyit semakin dalam.
"Udah, enggak usah kelamaan mikir!" seru opa Alvian, membuyarkan keseriusan om Devan. "Di hotelnya mas Doni aja, kalau pengin suasana yang beda. Keluarga kita 'kan, belum pernah ada yang pesta di sini?" saran opa Alvian kemudian.
"Hem, gue setuju sama Bang Vian. Lumayan Dev, menghemat š£š¶š„šØš¦šµ anggaran rumah tangga lu, 'kan?" ledek daddy Rehan, hingga membuat mereka semua tergelak.
Kecuali om Devan yang tersenyum masam tetapi mengangguk juga, menyetujui ide dari Doni. "Ya udah, di rooftop aja. Kita bikin acaranya malam," pungkas om Devan memutuskan.
"Tapi, Pa? Kalau acaranya malam, berarti 'kan selesainya bisa sampai dinihari, Pa?" protes Doni.
Semua menatap kearah Doni, "kenapa memangnya, kalau sampai dinihari, Mas Doni?" tanya opa Alvian tak mengerti.
"Oh, gue tahu. Pasti dia takut, malam pertamanya bakalan gak bisa maksimal karena kurang panjang. Benar, 'kan?" sahut om Alex seraya bertanya, yang disambut tawa oleh para sahabat.
"Asal bukan anu-nya yang kurang panjang ya, Mas Doni?" timpal daddy Rehan, membuat tawa mereka semakin terbahak.
__ADS_1
Sementara Doni hanya bisa tersenyum kecut, 'sialan, senjataku diragukan,' gerutu Doni dalam hati.
tobe continue,,,