
Atas bantuan Mirza yang meminta tolong pada sang daddy untuk mengatakan pada om Devan, bahwa Lila dan Lili akan diajak Mirza, Attar dan Nezia untuk nonton dan makan malam di luar, akhirnya Lili bisa keluar dengan leluasa.
Kini, kedua gadis cantik itu tengah bersiap. Lili nampak sangat antusias sedangkan Lila terlihat bermalas-malasan. "Kenapa sih, wajah kamu di tekuk terus dari tadi?" tanya Lili, ketika menghampiri ke kamar saudari kembarnya.
Lila baru saja selesai mengenakan hijab, "aku tuh sebenarnya capek banget, Li. Gara-gara kamu nih, mau enggak mau aku harus ikut keluar," balas Lila sambil mengerucutkan bibir.
"Udah jangan cemberut, nanti aku traktir hijab baru," rayu Lili.
Lila mencebik, "entar, kalau pas mau bayar duit kamu kurang, endingnya minta juga sama aku? Lagu lama!"
Lili terkekeh sambil merangkul pundak Lila, "udah ah, ayo. Kasihan om Doni kalau nunggu kelamaan," ajak Lili dan mereka berdua kemudian keluar dari kamar Lila dengan bergandengan tangan.
Kedua gadis cantik dengan wajah kembar identik itu menuruni anak tangga, keduanya disambut sang papa di bawah tangga yang sedang berdiri seraya bersidekap dan memasang wajah berwibawa.
Lili langsung menghampiri sang papa dan memeluk lengan papanya itu, "makasih, Papa sayang ...." rayu Lili.
"Jangan pulang terlalu malam," pesan sang papa.
"Siap, Bos," balas Lili dengan hormat, layaknya siswa yang sedang hormat pada pembina upacara di sekolah.
"Halah, kamu itu lho, Dik. Siap, siap tapi enggak pernah ditepati," balas om Devan seraya menjitak pelan kening sang putri.
"Aw,,, Papa, sakit tau," rajuk Lili.
"Sudah sana, tuh si Mirza dan yang lain sudah menunggu di depan." Terdengar suara lembut sang mama dari arah ruang tamu.
"Jaga Adik ya, Kak?" pinta tante Lusi sambil memeluk pundak Lila.
"InsyaAllah, Ma," balas Lila sambil memberikan ciuman di pipi sang mama, "kami pergi dulu ya, Ma," pamitnya kemudian.
Lila juga pamit pada sang papa, yang diikuti oleh Lili. Mereka berempat kemudian berjalan menuju teras depan.
Mirza, Attar dan Nezia segera menyalami om Devan, "om, kami pamit dulu." Mirza, meskipun yang paling tengil diantara mereka berlima tetapi remaja itu yang selalu dijadikan panutan oleh sahabat-sahabatnya.
"Hati-hati ya, Bang Mirza," pesan tante Lusi.
Mirza mengangguk patuh, "iya, Tante," balasnya dengan sopan.
__ADS_1
Mereka berlima kemudian segera naik ke mobil Mirza dan remaja berkulit putih itu langsung tancap gas meninggalkan kediaman orang tua Lila dan Lili.
"Za, di halte depan nanti berhenti ya?" pinta Lili.
"Mau apa, berhenti di halte?" tanya Lila.
"Aku mau naik taksi online saja, La? Dan kalian, bebas kalau mau pergi kemanapun? Mau pada nonton, shopping atau hanya jalan-jalan, silahkan. Nanti pulangnya, kita janjian lagi," balas Lili.
"Enggak, enggak!" tolak Lila, "kami akan ikut kemanapun kamu pergi, nanti kalau papa tiba-tiba video call dan kita berpisah, papa pasti bakalan curiga," lanjutnya.
"Bener tuh, apa kata ustadzah," timpal Mirza, yang senang ngeledekin Lila dengan sebutan ustadzah karena sikap gadis itu yang kalem dan selalu bisa membuat siapa saja yang ngobrol dengannya merasa nyaman.
"Ck,,," Lili berdecak kesal, "baiklah, tapi nanti kalian harus jauh-jauh ya? Jaga jarak lima ratus meter," pinta Lili.
"Lima ratus meter? Memangnya, kamu mau kencan di stadion, Li? Apa di sirkuit?" ledek Attar.
"Nol nya ilangin satu kali ya, Li. Cukup aman lah segitu?" sahut Nezia.
"Kalau lima puluh meter, entar kalian bisa dengerin obrolan kami?" protes Lili.
"Kami akan makan sambil mendengarkan musik melalui headset, bagaimana? Deal, kan?" balas Mirza.
"Beres, Li. Kalau perlu, kami bakal bantuin kamu," ucap Attar.
Mobil mewah yang dikendarai Mirza terus melaju di jalanan ibukota yang padat dan setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, sampailah mereka berlima di tempat yang mereka tuju. Danau resto yang berada di pinggiran utara kota Jakarta.
Lili yang sudah tidak sabar, langsung turun dan berlari kecil masuk ke area restauran yang sekaligus sebagai tempat wisata keluarga tersebut. Panggilan dari saudari kembarnya, tak dihiraukan dan gadis centil itu terus berlari.
"Sudah, La. Biarin aja, nanti kita cari dia sama-sama," cegah Nezia, ketika Lila ingin mengejar Lili.
Sementara Lili yang sudah berkomunikasi melalui chat dengan Doni sewaktu di dalam mobil tadi, langsung dapat menemukan posisi pemuda matang dan mapan yang sudah menguasai hati dan pikiran Lili semenjak pertama kali melihat Doni.
Dari jauh, Lili melihat Doni sedang duduk seorang diri sambil memainkan ponsel. Lili kemudian memetik setangkai mawar merah yang banyak terdapat di taman di sepanjang jalan setapak yang dilaluinya, sama persis ketika malam pertama kali dia bertemu dengan Doni dan menyatakan cinta di hadapan banyak orang.
Gadis berhijab motif bunga-bunga dengan warna cerah, yang menggambarkan perasaannya saat ini yang sedang bahagia dan berbunga-bunga itu melangkah dengan pasti mendekati Doni.
Lili sengaja menghampiri Doni dari arah belakang, karena ingin memberikan kejutan untuk laki-laki dewasa yang dicintainya itu.
__ADS_1
"Love you so much, Hubby," lirih Lili tepat di telinga Doni, sambil tangannya mengulurkan setangkai bunga mawar di depan wajah Doni.
Sontak, Doni terlonjak kaget. "Astaghfirullah," seru Doni.
"Hihihi, kaget ya, Om?" Lili terkikik tanpa dosa.
"Om Doni sudah lama?" tanya Lili yang langsung duduk di samping Doni, tanpa menunggu di persilahkan.
"Hem, lumayan. Nih, udah mau pulang," balas Doni yang sengaja memancing.
"Ah,,, Lili 'kan baru nyampai, Om. Masak udah mau pulang aja, sih?" protes Lili.
"Udah sore, Li. Aku harus pulang, harus istirahat karena besok masih banyak pekerjaan di kantor," terang Doni.
"Enggak boleh, Om harus nemenin Lili makan dan nonton," rajuk Lili, yang reflek memeluk lengan Doni.
Pemuda berusia matang itu terkesiap, untuk sesaat Doni terdiam. Ritme jantung Doni mulai tak beraturan, debarannya terasa semakin kencang. Darahnya pun berdesir dan mengalir hangat, "please, jangan seperti ini, Lili," bisik Doni.
Lili yang baru menyadari sikapnya, segera melepaskan pelukan. "Hehe,,, maaf, Lili enggak sadar," ucap Lili sambil tertawa canggung, "habisnya, Lili merasa nyaman sih kalau ada di dekat Om," lanjutnya merayu.
Doni menarik nafas dalam dan menghembusnya perlahan, "Li," panggil Doni lirih.
"Iya," Lili menatap Doni, yang langsung mengalihkan pandangannya kearah lain. "Ada apa, Om?" tanya Lili, sambil menjawil lengan Doni, karena laki-laki disampingnya itu tidak mau menatap kearah Lili.
Doni hanya menoleh sekilas dan buru-buru menatap kearah lain, pemuda matang itu kembali bimbang dengan perasaannya. Padahal tadi, sewaktu dalam perjalanan menuju tempat tersebut, Doni telah memikirkan segala sesuatunya. Baik dan buruk, serta konsekuensi yang harus dia terima nanti.
"Om, Om Doni mau ngomong apa?" kejar Lili, karena setelah beberapa saat menunggu, Doni tak kunjung bersuara. "Om Doni lagi sibuk merangkai kata, ya? Untuk mengungkapkan perasaan Om, sama Lili?"
"Enggak perlu puitis, Om. Enggak perlu juga pakai lirik lagu? Karena apapun yang Om Doni ungkapkan, pasti terdengar indah di telinga Lili," goda Lili seraya mengerling nakal.
"Kalau dengan kata-kata yang sederhana Om Doni tetap enggak bisa, dengan perbuatan aja, Om?" tantang Lili. Putri bungsu om Devan ini memang sangat berbahaya, jika Doni tak kuat iman.
Mendengar perkataan Lili, Doni menatap gadis cantik yang sikapnya sangat menggemaskan menurut Doni itu, dengan intens. "Perlu kamu tahu, Li. Aku tidak mencari pacar. Jadi, jika kamu hanya ingin bermain-main denganku, lupakan saja." ucap Doni dengan tegas.
"Lili juga tidak mencari pacar, Om? Lili mencari calon suami, dan nurani Lili menuntun Lili pada Om Doni?" balas Lili serius.
Doni tersenyum sinis, pemuda matang itu masih belum percaya jika gadis belia seperti Lili bisa serius dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis.
__ADS_1
"Om enggak percaya? Ayo, kita nikah?" ajak Lili dengan santainya, seperti mengajak teman masa kecil untuk bermain lompat tali. Tetapi kali ini, bukan Lili yang berlompatan melintasi tali yang dirangkai dari gelang karet. Jantung Doni-lah yang saat ini berlompatan ke sana kemari, mendengar ajakan Lili.
tobe continue,,,