
Setelah pertemuan Doni dengan sahabat-sahabatnya om Devan, putra bungsu papa Sanjaya itu merasa sedikit lega karena ternyata papanya Lili tak seperti yang ada dalam bayangan Doni, orang tua yang serius dan otoriter.
Sore harinya, Doni pulang lebih awal untuk mempersiapkan diri karena nanti malam dia akan berkunjung ke rumah si centil yang telah mampu mencairkan hati Doni yang beku.
Doni melangkah dengan pasti memasuki rumah megah orang tuanya dengan bersiul-siul, wajah putihnya semakin bersinar cerah seakan menggambarkan suasana hati Doni yang sedang berbunga-bunga.
Sang papa yang sedang duduk di sofa ruang keluarga sambil menikmati teh hangat, tersenyum simpul melihat sikap sang putra yang sempat membuat papa Sanjaya prihatin sebab Doni tak juga mau membuka pintu hati untuk seorang wanita hingga di usianya yang semakin bertambah.
"Pa, assalamu'alaikum," sapa Doni, mengucap salam. Pemuda dewasa itu kemudian mencium punggung tangan sang papa dengan takdzim.
"Ceria sekali wajah kamu, Nak?" tanya papa Sanjaya masih dengan tersenyum.
Doni hanya membalasnya dengan senyuman dan kemudian ikut duduk di samping sang papa, "Kak Tanti enggak kesini lagi, Pa?" tanya Doni.
"Tadi kesini, mengantarkan parcel itu," tunjuk papa Sanjaya pada dua parcel cantik yang berada di atas meja bulat, di sudut ruangan. "Belum lama kok, kakakmu keluar. Sekitar lima menit yang lalu," lanjutnya kemudian.
Kedua pria berbeda usia itu untuk sejenak saling diam, fokus mereka ada pada layar televisi yang menayangkan berita terpanas akhir-akhir ini. Kabar pertikaian rumah tangga artis papan seluncuran yang mengalahkan berita-berita penting lain, seperti kericuhan di sebuah stadion yang menyebabkan hilangnya banyak nyawa.
"Kelak jika kamu sudah menikah, perlakukan lah istrimu dengan baik karena istri adalah matahari dalam rumah tangga. Jika sinarnya redup maka suram lah semua penghuni rumah tersebut dan jika matahari itu bersinar cerah, maka seisi rumah juga pasti akan berbahagia," pesan papa Sanjaya, yang nampak miris menyaksikan informasi pertikaian artis tersebut.
Doni mengangguk, "InsyaAllah, Pa. Doni akan berusaha untuk menjadi imam dan suami yang baik," balas Doni sungguh-sungguh.
'Jika ada masalah dengan pasangan, bicarakan dengan cara yang baik dan jangan sampai melibatkan orang lain. Bisa jadi, orang lain yang tidak tahu masalah yang sebenarnya malah akan semakin memperkeruh keadaan. Masalah kalian bukannya selesai tapi malah akan semakin runyam." lanjut Papa Sanjaya menasehati.
Kembali Doni mengangguk, membenarkan nasehat papanya.
"Ya, sudah. Kamu mandi dulu sana," titah sang papa.
&&&&&
Tepat bakda maghrib, Doni nampak tengah bersiap. Pemuda dewasa yang malam ini nampak lebih segar dan terlihat sepuluh tahun lebih muda itu mengenakan kemeja lengan pendek, yang dipadukan dengan celana jeans berwarna gelap.
__ADS_1
Penampilan Doni terlihat sempurna dengan potongan rambut baru yang dipoles pomade dan disisir rapi, layaknya anak kuliahan yang hendak berkencan dengan sang pacar.
Setelah mematut diri sebentar di depan cermin, Doni segera keluar dari kamar untuk menghampiri sang papa yang juga telah bersiap.
"Udah siap, Pa?" tanya Doni.
"Ayo!" ajak sang papa, yang juga tampil rapi dengan baju batik lengan panjang.
"Bi, tolong bawakan parcel-nya ke mobil," pinta Doni pada salah satu asisten rumah tangga.
"Nggih, Mas Doni," jawab asisten tersebut yang berasal dari kota dimana Doni menetap sebelum memutuskan untuk pindah ke Jakarta mengikuti kemauan sang papa.
Doni mensejajarkan langkahnya dengan langkah sang papa untuk menuju mobil yang telah disiapkan oleh sopir pribadi papa Sanjaya.
Melihat papa Sanjaya datang, dengan sigap sopir itu membukakan pintu untuk sang majikan. "Silahkan, Tuan," ucapnya sopan.
Papa Sanjaya mengangguk dan kemudian segera masuk kedalam mobil. Doni pun ikut masuk dari sisi yang lain.
Mobil mewah papa Sanjaya segera bergerak, meninggalkan kediamannya untuk menuju kediaman calon besan.
Sepanjang perjalanan, tak henti Doni berdo'a. Semoga apa yang diinginkan, dimudahkan jalannya oleh Yang Maha Kuasa. Besar harapan Doni agar bisa bersanding dengan Lili, gadis belia yang centil tetapi telah mampu memporak-porandakan hati Doni.
"Bagaimana perasaan kamu, Nak?" tanya papa Sanjaya memecah kesunyian yang sedari tadi tercipta.
Doni menghela napas dalam-dalam, kemudian menghembusnya perlahan. "Agak khawatir, Pa. Tapi lebih baik daripada tadi pagi," balas Doni jujur.
"Tadi, Doni menemui pak Alvian dan beliau datang bersama pak Rehan dan pak Alex," lanjutnya.
Papa Sanjaya menoleh dan menatap sang putra, "menemui sahabat-sahabatnya pak Devan? Untuk?" tanya papa Sanjaya.
"Doni tadi bingung, Pa. Doni 'kan sama sekali belum pernah ngobrol berdua sama pak Devan? Jadi, Doni meminta pertimbangan sama sahabat-sahabat beliau," terang Doni.
__ADS_1
Papa Sanjaya terkekeh pelan, membuat Doni mengerutkan kening. "Papa kok malah tertawa?"
"Kenapa tidak tanya papa? Papa kenal pak Devan sudah sangat lama, Doni dan papa paham betul beliau itu seperti apa?" balas papa Sanjaya masih dengan tawanya.
"Iya, ya. Kenapa Doni enggak kepikiran?" Doni menepuk jidatnya sendiri.
"Karena di kepalamu, sudah penuh dengan nama Lili," ledek papa Sanjaya, yang membuat Doni tersenyum malu.
Tak berapa lama, mobil yang mereka tumpangi berbelok memasuki pintu gerbang kediaman orang tua Lili yang memiliki halaman luas.
Sopir pribadi papa Sanjaya segera memarkir mobilnya, berjajar dengan mobil pemilik rumah yang masih terparkir di halaman.
Doni dan papa Sanjaya segera turun dari mobil, kehadiran mereka disambut oleh Lili dan Lila yang memang sudah mengetahui rencana kedatangan Doni.
"Opa Sanjay? Opa juga ikut?" tanya Lili yang nampak terkejut karena Doni tidak mengatakan bahwa sang papa juga ikut.
"Iya, Nak. Opa kan juga kangen, sama papa kalian," balas papa Sanjaya seraya tersenyum hangat.
Kedua gadis cantik itu menyalami papa Sanjaya dengan takdzim dan kemudian menyalami Doni.
"Salim nya, mau pakai kiss, enggak?" bisik Lili, yang menggoda sang kekasih.
Doni tersenyum sambil geleng-geleng kepala. "Kamu cantik sekali, Lil," puji Doni jujur, membuat Lili tersenyum malu.
Malam ini, Lili memang nampak lebih dewasa. Memakai gaun panjang motif bunga-bunga, dengan pasmina polos yang menutupi rambutnya. Make-up nya tipis dan terlihat natural, membuat Lili terlihat anggun.
"Mari, silahkan masuk, Opa. Om," ajak Lila pada kedua tamu saudari kembarnya.
"Lil, tunggu. Ini sekadar oleh-oleh," Doni mengambil parcel dari tangan pak sopir dan memberikan pada Lili, sedangkan yang satunya diterima oleh Lila.
"Oh, ini nyicil hantaran pernikahan ya, Om," canda Lili, yang membuat mereka semua tertawa.
__ADS_1
tobe continue,,,