
Setelah membasuh muka dan merapikan pakaian, Doni menunggu opa Alvian di sebuah sofa di ruang tunggu. Tak berapa lama, opa Alvian datang dan kemudian menyerahkan jas kepada Doni.
"Terimakasih banyak, Om." ucap Doni dengan tulus, dia kemudian segera memakai jas tersebut yang ukurannya pas di badan Doni dan kebetulan warnanya matching dengan kemeja yang dikenakan oleh Bos Muda SANJAYA GROUP tersebut.
Kemeja yang telah basah oleh keringat karena Doni berpanas-panasan menaiki sepeda motor, untuk dapat segera sampai di kantor sang calon papa mertua.
"Ayo, kita masuk bareng!" ajak opa Alvian, "Mas Doni sudah terlambat lima menit tapi jangan khawatir, biar nanti saya yang jelaskan sama Devan," ucap opa Alvian sembari melihat jam di pergelangan tangannya.
"Sekali lagi, terimakasih, Om." balas Doni seraya tersenyum dan berjalan bersisihan dengan opa Alvian menuju ruangan om Devan.
Opa Alvian hanya mengangguk, ingin rasanya dia meledek tapi opa Alvian tak tega demi melihat kesungguhan Doni dalam mendapatkan restu dari sahabatnya sampai rela panas-panasan. Pemuda tampan itu sampai bela-belain menaiki motor dibawah terik matahari dan tanpa mengenakan jaket.
Tanpa mengetuk pintu, opa Alvian mengajak Doni untuk masuk kedalam ruangan om Devan.
"Sorry Dev, tadi di depan gue ketemu sama menantu lu dan gue minta sama Mas Doni untuk nunggu gue." Opa Alvian langsung menjelaskan duduk perkaranya sebelum om Devan mencecar Doni dengan berbagai macam pertanyaan atas keterlambatan Doni.
Doni tersenyum kepada papanya Lili dan menyalami om Devan dengan takdzim, putra bungsu papa Sanjaya itu juga menyalami kedua sahabat om Devan yang duduk di sofa bersama sang calon mertua.
"Silahkan duduk, Mas Doni," ucap om Alex mempersilahkan karena sang tuan rumah malah diam saja.
"Iya, Om. Terimakasih," balas Doni dan kemudian duduk di samping opa Alvian.
"Jadi, lu ngundang kami kemari untuk mempertemukan kami dengan calon menantu lu ini, Dev?" tanya opa Alvian.
Om Devan mengangguk, "ya, begitulah," balasnya malas-malasan.
Doni tetap tersenyum menerima perlakuan om Devan, seperti yang diminta oleh Lili semalam ketika Doni pamit.
"Tetap semangat, Lili yakin sebenarnya papa udah setuju tapi papa hanya gengsi untuk mengakuinya." Begitu kata Lili semalam yang menyemangati Doni.
"Lu mau ngenalin dia, ke kita?" pancing daddy Rehan.
"Kalian 'kan udah saling kenal, sewaktu acara š§š¢š®šŖššŗ šØš¢šµš©š¦š³šŖšÆšØ? Ngapain gue kenalin lagi?" ketus Om Devan yang kali ini š®š°š°š„-nya sedang buruk.
"Ya 'kan beda, kenalin sebagai mantu?" balas daddy Rehan tak mau kalah.
__ADS_1
"Terus, kalau enggak mau dikenalin, apa mau lu pamerin ke kita? Kalau lu udah punya calon mantu?" ledek om Alex.
"Ck,,," om Devan berdecak.
"Tuh, bilangin sama dia. Kalau Lili itu masih belum cukup umur untuk menikah? Suruh dia jauhi Lili dulu?" pinta om Devan pada sahabat-sahabatnya.
Daddy Rehan terkekeh, begitu pun dengan kedua sahabatnya. Sedangkan Doni tersenyum simpul.
"Ngapain lu nyuruh kita? Barusan 'kan, lu udah mengatakannya sendiri pada Mas Doni?" protes opa Alvian.
"Lagian ya, Dev. Anak lu itu udah gede, udah kuliah? Lili udah tahu mana cinta yang sesungguhnya dan mana yang hanya iseng semata?" lanjut opa Alvian.
"Hem, bener tuh apa kata Bang Vian. Dulu Malika aja masih duduk di bangku sekolah, waktu memutuskan untuk serius sama Rahman? Dan gue enggak masalah, tuh?" timpal daddy Rehan.
"Beda, Bro! Icha sama Rahman 'kan jarak usianya ideal? Nah, kalau Lili sama dia 'kan, jauh?" protes om Devan yang tidak terima kasus Lili dibandingkan dengan kasus Malika.
"Memangnya kalau jarak usia mereka jauh kenapa, Dev? Tidak masalah 'kan, selagi dia itu pemuda yang baik? Dan yang dipilih Lili, memang pemuda yang bener, Dev? Kita semua sudah mengenal keluarga om Sanjaya dengan baik, 'kan? Apalagi yang lu risau kan?" cecar opa Alvian, yang membela Doni.
"Setuju gue dengan yang dikatakan Bang Vian, yang penting dia pemuda yang baik? Susah loh Dev, jaman sekarang nyari pemuda baik-baik?" timpal om Alex.
"Kok, kalian malah berpihak pada dia, sih?" protes om Devan, seraya menunjuk Doni dengan dagunya.
Sementara pemuda yang ditunjuk, tetap tenang dan memasang wajah full senyum. Benar apa yang dikatakan Mirza tadi pagi melalui sambungan telepon, yang berpesan pada dirinya untuk tetap š¤š°š°š mendengar apapun yang dikatakan oleh sang calon papa mertua.
"Om Don, nanti siang kalau ketemu sama om Devan, Om Doni jangan kaget ya? Dia itu sebenarnya baik, hanya saja kadang-kadang kalau bicara suka enggak jelas? Kata daddy, om Devan tuh orang paling absurd se-Dunia, hahaha .... " Begitu kata Mirza, yang mengatakan dengan tertawa terbahak.
Doni sampai geleng-geleng kepala mendengar celoteh dari Mirza tadi pagi, tapi sekarang Doni membuktikannya sendiri. Mana ada coba, orang waras yang membicarakan orang lain tepat di depan hidungnya? Tetapi Doni bersyukur, itu artinya om Devan menganggap keberadaan Doni.
"Bukan berpihak, Devan? Kami hanya menilai apa yang kami tahu? Dan gue pikir, ini untuk kebaikan Lili juga, 'kan?" Daddy Rehan menatap sahabatnya dengan tatapan tak mengerti.
"Tahu nih, orang satu? Susah amat dikasih pengertian?" timpal opa Alvian.
"Gue tahu, lu sebenarnya juga gak masalah 'kan, Lili sama Mas Doni? Tapi lu kayak belum rela untuk melepaskan putri kesayangan lu, itu?" duga om Alex.
Om Devan kembali menghela napas panjang, sedetik kemudian mengangguk pelan.
__ADS_1
"Tuh, bener 'kan dugaan gue!" seru om Alex.
Doni tersenyum lega, setidaknya dari obrolan papanya Lili dan para sahabat, Doni bisa menyimpulkan bahwa om Devan bisa menerima kehadiran Doni meski sedikit berat.
"Ya udah, š¤šš¦š¢š³ 'kan semuanya? Tapi kenapa wajah lu masih kusut gitu, Dev?" tanya opa Alvian tak mengerti.
"Enggak semudah itu, Bang? Enak aja, mau dapetin putri gue masak enggak ada tantangannya?" protes om Devan.
Doni mengernyitkan kening, 'drama apalagi sih, ini?' batin Doni yang belum bisa memahami jalan pikiran sang calon mertua.
"Katakan aja Dev, kalau memang lu minta syarat! Jangan berbelit-belit, biar cepat kelar nih masalah! Gue udah lapar!" omel daddy Rehan, yang sudah mulai gelisah dan berkali-kali melihat jam mewah di pergelangan tangan kanan.
"Lu, Rey? Makan aja yang dipikirin?" gerutu om Devan.
"Istri tercinta udah masak buat gue, dia juga udah telponin gue dari tadi disuruh pulang," balas daddy Rehan.
"Alah, bukan mbak Billa yang telepon lu, Rey. Tapi lu nya yang telepon rumah terus?" sangkal om Alex seraya geleng-geleng kepala.
"Udah-udah, malah ngomongin yang enggak penting!" protes opa Alvian.
"Enggak penting gimana sih, Bang? Istri gue orang penting nomor satu di dunia!" protes daddy Rehan pada om dari istrinya itu.
"Di iyakan aja deh, Bang? Yang tua ngalah," saran om Alex seraya terkekeh.
"Lu, Lex. Malah ngatain gue tua!"
"Kalian kenapa pada bercanda sendiri, sih? Masalah gue belum kelar, ini?" protes om Devan, yang malah disambut tawa oleh sahabat-sahabatnya.
Om Devan hanya bisa menghela napas panjang.
"Katakan saja, apa syarat yang akan lu ajukan untuk Mas Doni, Dev?" suruh opa Alvian pada om Devan, sesaat setelah tawa mereka reda.
Doni menunggu dengan hati berdebar, syarat dari sang calon mertua. 'Kira-kira syarat apa ya, yang akan diminta oleh papanya Lili?' tanya Doni dalam hati.
"Ehm,,," om Devan berdeham, seraya menatap Doni dengan tersenyum tengil.
__ADS_1
tobe continue,,,