Om Doni, I Love You

Om Doni, I Love You
Masa Depan Doni


__ADS_3

Lila dan Lili yang tiba di rumah menjelang maghrib, langsung meminta maaf pada papa mamanya dan memberikan alasan bahwa mereka ada tugas dadakan yang harus mereka kerjakan di perpustakaan bersama sahabat-sahabatnya.


"Kenapa kalian tidak kasih kabar dulu sama kami, Nak?" tanya sang mama seraya menatap kedua putri kembarnya bergantian.


"Maaf, Ma. Kami pikir hanya sebentar dan enggak sampai sore, makanya kami enggak kasih kabar sama Mama." balas Lila yang terpaksa berbohong demi menutupi perbuatan saudari kembarnya yang tadi siang memaksa ingin berkunjung ke kantor Doni, sedangkan Lila dan saudara yang lain harus menunggu lama di kafe.


"Kalau hanya mengerjakan tugas, kenapa ponsel kalian juga tidak ada yang aktif?" tanya om Devan penuh kecurigaan.


"Mengerjakan tugasnya kan di perpustakaan, Papa sayang. Jadi ponsel harus di nonaktifkan, agar tidak mengganggu pengunjung yang lain," balas Lili seraya memeluk lengan sang papa dengan manja.


Om Devan mengernyitkan dahi, "sejak kapan ke perpustakaan, ponsel harus dimatikan? Dulu jaman papa tidak seperti itu, cukup di silent?"


"Itu kan dulu, Pa. Peraturan sekarang beda, kali?" balas Lili.


"Masak sih, papa enggak percaya." Om Devan menatap putri kesayangannya itu dengan penuh selidik.


"Kalau Papa enggak percaya, Papa tanya aja sama bang Attar atau Nezia. Mereka kan selalu jujur?" kekeuh Lili, yang tak ingin kebohongannya diketahui sang papa.


"Sudah, sudah. Kalian buruan mandi sana, sudah maghrib. Kita jama'ah sama-sama," titah sang mama, mengakhiri perdebatan kecil tersebut.


Lila dan Lili mengangguk patuh, mereka berdua segera naik ke lantai atas untuk menuju kamar masing-masing sambil tertawa cekikikan.


"Ma, kenapa dilepas begitu saja? Mereka enggak jujur, Ma?" protes om Devan pada sang istri.


Tante Lusi tersenyum manis, " mama tahu, Papa sayang. Tapi ini bukan saat yang tepat untuk mengorek informasi dari mereka? Putri-putri kita baru saja datang, pasti mereka capek kan? Mereka juga belum mandi, sedangkan adzan maghrib sudah berkumandang?"


"Kita akan bicarakan lagi nanti, Pa. Kalau mereka berdua sedang santai, jadi kita bisa bicara dari hati ke hati." terang tante Lusi.


"Yuk, Pa. Kita wudhu dulu, kita tunggu anak-anak di Mushola," ajak tante Lusi pada sang suami, yang diikuti oleh om Devan dengan patuh.


Istri cantik om Devan itu memang selalu punya cara untuk bisa membuat sang suami menuruti perkataannya, tante Lusi juga telah berhasil membuat sang suami menjadi laki-laki yang setia dan tidak pernah lagi berbuat aneh-aneh di luar sana.


Setibanya Lila dan Lili di lantai atas, "gila kamu, Li. Lain kali aku ogah ah, bantuin kamu kalau harus bohong sama Papa dan Mama," tolak Lila sebelum masuk ke kamarnya.


"Yaelah, cuma bohong gitu doang? Enggak dosa kali, La? Kalaupun dosa, pasti dikit?"


"Yang namanya dosa, dikit atau banyak, tetap aja dosa, Li!" bantah Lila.


"Yah, La. Please ... ya? Bantuin aku?" rajuk Lili, aku benar-benar suka tahu, La, sama om Doni? Aku bisa mati kalau enggak bisa jadian sama om tampan itu?" lanjutnya merajuk, seraya mengerucutkan bibir.

__ADS_1


"Iya deh, iya. Tapi kita cari cara, agar tidak terus menerus bohong sama papa dan mama," balas Lila yang akhirnya mengalah.


Saudari kembar Lili itu memang berhati lembut, perilakunya juga santun dan sangat mirip dengan sang mama. Berbeda jauh dengan sang adik kembar, yang lahirnya hanya selisih sepuluh menit tersebut.


"Yey, kamu memang saudara yang terbaik, Lila sayang," rayu Lili seperti biasanya, sambil menghambur memeluk Lila.


Di keluarga om Devan itu, Lili memang terkenal suka merajuk dan merayu. Gadis centil itu juga ekspresif dan pandai menghidupkan suasana.


"Udah, udah. Lepasin, aku mau mandi," pinta Lila sambil melepaskan pelukan saudari kembarnya.


Kedua gadis cantik yang memiliki wajah yang sangat mirip tetapi dengan karakter yang jauh berbeda itu, segera masuk ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri.


&&&&&


Di kediaman keluarga Sanjaya, ponsel Doni yang tergeletak di atas meja makan itu terus menggelepar karena ada panggilan masuk. Sementara sang empunya, sedang menjalankan ibadah sholat isya' di dalam kamarnya.


Sang kakak, Tanti, yang kebetulan berada di kediaman sang papa dan sedang menyiapkan makan malam, mengambil ponsel sang adik dan melihat kalau ada panggilan video dari group chat Doni.


Tanti yang sudah akrab dengan mereka semua, langsung menerima VC tersebut. "Halo, selamat malam semua. Maaf ya, kakak yang angkat, karena Doni masih sholat." sapa Tanti pada sahabat-sahabat Doni.


"Aunty, apa kabar?" tanya salah seorang dari mereka.


"Alhamdulillah, Mbak Tiwi, kabar baik," balas Tanti.


"Iya om, lama banget. Om Dewa main kesini, ayo semua kesini biar ramai," pinta Tanti.


"Iya kak, nanti kalau Doni nikah," balas Dewa, "eh, gimana, Kak? Doni udah dapat gebetan, belum?" lanjutnya bertanya.


"Udah, udah. Udah ada kok, Om. Masih muda, centil lagi," balas Tanti seraya terkekeh.


"Yang benar, Kak?" Tanya Rindi dan Nila berbarengan.


Sementara salah seorang teman Doni, sedari tadi menyunggingkan senyuman manisnya.


"Hem,,," balas Tanti sambil mengangguk.


"Masak selera Doni langsung berubah gitu, Kak?" tanya Fina yang masih tak percaya itu, memastikan.


"Benar, Fin. Kalau enggak percaya, tanya sendiri nih sama orangnya," balas Tanti yang langsung memberikan ponsel tersebut kepada sang pemilik.

__ADS_1


Doni yang baru datang mengernyitkan dahinya, "siapa, Kak?" tanya Doni.


"Sohib-sohib kamu, Om," balas Tanti, masih dengan senyumnya yang lebar.


"Wah, selamat ya Don. Kamu udah enggak jomblo lagi, sekarang," ucap mereka kompak, begitu melihat wajah Doni di layar ponsel dan terlihat begitu segar.


"Ngomong apaan sih, kalian?" protes Doni, sambil melirik tajam kearah sang kakak yang telah membuka rahasianya di hadapan sahabat-sahabat Doni yang suka rese.


"Dapet Abege centil kan, kamu? Gimana rasanya, Don, dapat daun muda?" cecar Dewa seraya tersenyum tengil.


"Ya pastinya seger lah, Wa. Kamu, pakai nanya segala?" sahut Rindi.


"Lihat aja tuh, wajah Doni? Nampak lebih muda dari usianya, kan?" goda Fina seraya terkekeh kecil.


"Hem,,, bener tuh, jadi kayak personil boyband Korea," timpal Nila, semakin meledek Doni.


Sementara Tiwi dan salah seorang sahabat Doni, hanya tersenyum mendengar sahabat-sahabatnya meledek Doni.


"Udah, puas ngeledek aku?" sungut Doni, sambil menatap wajah sahabat-sahabatnya satu-persatu.


Tatapan Doni terpaku pada sosok wanita yang sedang tersenyum manis padanya, wanita yang pernah mengisi hati Doni dengan cinta hingga penuh, sampai-sampai tak ada lagi tempat tersisa untuk wanita lain.


Wanita yang tengah diusahakan Doni, agar menghilang dari hati dan pikirannya dan berganti dengan wanita lain yang akan menjadi masa depan Doni.


"Un, jangan menatapku seperti itu, Un?" lirih Doni seraya tersenyum malu.


"Don, aku senang mendengar berita barusan. Selamat ya," ucap Seruni dengan tersenyum tulus.


"Ah, itu enggak benar, Un. Gadis itu masih terlalu muda, dia belum dewasa, Un," gumam Doni.


"Memangnya, kamu sudah mengenal dia dengan baik, Don?" tanya Seruni.


Doni menggeleng, "aku tidak memberinya kesempatan, setiap kali dia ngajak aku jalan, Un," balas Doni.


"Cobalah, Don. Jangan menilai dulu, sebelum kamu mengenal dia." ucap Seruni, "beri dia kesempatan untuk masuk dalam kehidupan kamu, Don," saran Seruni.


"Hem,,, bener tuh, saran Runi," timpal yang lain kompak.


Doni nampak masih ragu.

__ADS_1


"Don, sejatinya kedewasaan tidak bisa dilihat dari seberapa banyak usia seseorang." Seruni menatap Doni dengan tatapan memberi semangat, "fighting, Don."


tobe continue,,,


__ADS_2