
"Kenapa Om Doni diam saja? Atau, jangan-jangan Om enggak suka ya, sama perempuan?" tuduh Lili, setelah beberapa saat menanti jawaban, tetapi Doni masih diam saja.
"Apa kamu bilang? Kamu nuduh aku jeruk yang suka makan jeruk, begitu?" Doni mendekatkan wajahnya dan menatap Lili dengan tajam.
"Ya, kali aja seperti itu? Habisnya, Om Doni kayak cuek banget sama Lili? Padahal 'kan Lili cantik, Om?" protes Lili sambil mengerucutkan bibir merahnya.
Membuat Doni, yang berjarak sangat dekat dengan wajah Lili menelan saliva dengan susah payah. Netra Doni kini bahkan telah turun ke bibir gadis centil itu dan entah kekuatan darimana, dengan berani Doni mencium sekilas bibir Lili.
Lembut, kenyal dan manis. Itulah yang dirasakan oleh Doni, bahkan jika saja Doni tidak segera tersadar ingin rasanya pemuda matang itu berlama-lama menyesap bibir tipis Lili.
Apalagi si empunya juga nampak terlena, meski di awal sempat terkejut tetapi kemudian Lili membiarkan saja pemuda matang yang dicintainya tersebut ******* bibirnya. Meskipun Lili tidak memberikan respon balik, tetapi gadis centil itu menikmati apa yang diberikan oleh Doni.
Jantung Doni seakan hendak lepas dari tempatnya, sesaat setelah menyadari apa yang baru saja dia lakukan pada Lili. "Maaf ... Aku, aku reflek melakukannya." lirih Doni dengan penuh penyesalan.
"Ah, Om Doni telah merenggut kesucian bibir Lili. Lili enggak terima, Om. Om Doni harus menikahi Lili secepatnya," rajuk Lili, "Lili enggak mau hamil tanpa suami, Om," lanjutnya sambil memukul-mukul pelan dada Doni, Lili sengaja mendramatisir keadaan.
Doni mengernyit sambil menangkap tangan lembut Lili, "hai bocah, dengerin. Mana ada orang cuma ciuman, hamil?" Doni menatap Lili dalam, pemuda itu tak habis pikir dengan apa yang dikatakan gadis centil yang baru saja diciumnya itu.
"Ya, 'kan semua berawal dari ciuman, Om?" balas Lili, "setelah asyik ciuman, terus lanjut ke adegan ranjang," lanjut Lili blak-blakan, yang membuat Doni geleng-geleng kepala.
"Itu, tidak akan terjadi, Lili. Aku masih waras dan aku tidak mau merusak orang yang aku sayang," ucap Doni tanpa sadar, masih sambil menggenggam tangan Lili.
Lili terdiam, mencerna kembali ucapan Doni barusan. Sedetik kemudian Lili tersenyum lebar, "oh, Om Doni π΄π° π΄πΈπ¦π¦π΅. Manis sekali sih, Om. Lili jadi makin cinta deh, sama Om," Lili reflek memeluk Doni.
"Lili, please ... jangan seperti ini?" Doni melepaskan diri dari jerat pelukan Lili dan kemudian menggeser duduknya agak jauh.
Lili tersenyum menggoda, "kenapa, Om. Om Doni takut ya, enggak bisa kontrol diri terus langsung nyerang Lili?" goda Lili.
Doni menghela nafas panjang, "benar-benar bahaya, dekat sama gadis ini. Kuatkan iman mu, Don," bisik Doni dalam hati, senyum tipis terbit di sudut bibirnya membayangkan kegilaannya barusan. Tetapi sesaat kemudian, senyuman itu berubah menjadi kerutan dahi yang dalam.
Tiba-tiba saja, kekhawatiran Doni yang sudah dipikirkannya sepanjang perjalanan menuju danau resto ini muncul kembali. Apakah papanya Lili akan merestui hubungan mereka berdua?
"Om Doni mikirin apa, sih?" tanya Lili yang membuyarkan lamunan Doni.
__ADS_1
Doni menoleh kearah Lili, menatap lama gadis disampingnya dengan tatapan menyelidik.
"Om, jangan liatin Lili seperti itu, ah? Lili ngeri, kayak jadi tersangka deh rasanya?" tegur Lili.
"Lili, aku mau ngomong serius. Bisa?" tanya Doni.
"Dari awal kita bertemu, Lili tuh selalu ngomong serius sama Om Doni? Lili serius kok, cinta sama Om Doni. Lili juga serius, mau menikah sama Om Doni. Om Doni aja yang enggak mau diajak ngomong serius?" cerocos Lili panjang, sepanjang gerbong kereta api listrik.
"Bukan begitu, Lili? Karena saat itu aku pikir, kamu hanya iseng?" balas Doni.
"Ya udah, mau ngomong apa? Mau nentuin tanggal pernikahan kita, ya?" tanya Lili sambil tersenyum nyengir, membuat Doni mencubit sayang pipi Lili.
"Dih, Om. Jangan cubit-cubit? Kita belum jadi mahrom?" protes Lili.
"Tadi aja udah di π¬πͺπ΄π΄ dan kamu nya menikmati?" ledek Doni sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Ish, Om. Lili bukan menikmati tapi kaget. Lagian, Om Doni main nyosor aja!" gerutu Lili pura-pura kesal.
"Iya, maaf," sesal Doni, "habisnya, kamu juga yang mancing. Kamu bilang, kalau aku enggak bisa merangkai kata untuk mengungkapkan cinta, boleh dengan perbuatan, 'kan?" Doni mengingatkan Lili atas ucapannya tadi.
"Tapi awas, ya. Setelah ini, Lili enggak mau kalau Om Doni main nyosor-nyosor lagi!" ancam Lili serius.
"Ya enggak, lah. Aku kan bukan angsa, yang suka nyosor, tapi kalau ijin boleh dong?" balas Doni dengan asal, sepertinya dia sudah mulai ketularan Lili yang kalau ngomong asal membuka mulut saja.
"Eh, tetap enggak boleh! Nikahin dulu, Lili! Enak aja, udah minta DP ciuman bibir tapi enggak mau cepat nikah!"
Doni terkekeh mendengar perkataan Lili dan kembali pemuda dewasa itu mencubit pipi halus Lili, kali ini yang sebelah kanan.
"Om! Udah dibilangin, jangan nyubit! Nanti kalau mereka lihat kita, bisa diceramahi satu bulan penuh Lili sama mereka?" protes Lili, seraya menunjuk sahabat-sahabatnya yang duduk agak jauh dari tempat Lili dan Doni.
Doni mengernyit, "mereka ikut?"
"Ya, iyalah. Mana boleh Lili keluar tanpa mereka? Apalagi keluarnya untuk kencan sama Om Doni?" balas Lili.
__ADS_1
"Tadi, mereka lihat enggak ya, aku cium kamu?" Doni menatap Lili khawatir.
Lili mengedikkan bahunya, "tahu?" balasnya cemberut, "Om Doni, sih. Sukanya di tempat terbuka?"
Doni tersenyum, "aku pernah kok, mau nyium kamu di ruangan tertutup. Tapi kamu nya yang langsung kabur," balas Doni seraya tergelak, mengingat kejadian siang itu di dalam ruangannya.
Lili ikut tersenyum sambil menatap Doni, yang semakin terlihat tampan dengan stelan casuπ’l seperti saat ini. Doni terlihat lebih fresh dan lebih muda dari usianya, serasi jika jalan bareng Lili.
Doni memang sempat membersihkan tubuhnya dahulu dan berganti pakaian santai, sebelum memutuskan untuk menuju tempat yang lokasinya sudah di π΄π©π’π³π¦ oleh Lili melalui pesan chat tadi.
"Om, tadi Om Doni mau ngomong apa?" tanya Lili dengan nada serius.
Doni kembali menatap Lili dengan intens, seolah melalui netra Lili, Doni ingin tahu kejujuran dari jawaban Lili. "Lili, apa benar kamu mau menikah denganku?" tanya Doni dan Lili langsung mengangguk pasti.
"π π¦π΄π΄, Om. Lili mau, mau banget," balas Lili dengan netra berbinar.
Doni menggeleng, "jangan buru-buru menjawabnya, Lili. Pikirkan kembali, sebelum semuanya terlalu jauh? Aku pria dewasa, Lili. Bahkan usia kita, terpaut sangat jauh? Aku enggak mau, kamu menyesal nantinya."
"Ssst,,," Lili menempelkan jari telunjuknya di bibir Doni, "Lili sudah memikirkannya selama berminggu-minggu, Om. Harusnya pertanyaan itu untuk, Om. Apakah benar, Om Doni mau menikah dengan Lili? Gadis ingusan yang centil dan labil?" Lili menatap dalam netra tajam Doni.
Doni terdiam, netra keduanya masih saling bertaut. Seolah sedang bercengkrama dalam diam dan berbicara dari hati ke hati.
"Bagaimana dengan papa kamu, Lili? Bukankah, pak Devan tidak setuju jika kamu dekat denganku?" Pertanyaan Doni mengurai keheningan yang sejenak tercipta diantara mereka berdua.
"Apa, Om Doni nyerah? Enggak mau merjuangin Lili?" cecar Lili.
Doni menggeleng, "bukan begitu, Lili. Aku hanya butuh meyakinkan diri ...." Doni menjeda ucapannya, pemuda itu semakin dalam menatap Lili.
Lili mengernyitkan dahinya.
Doni kemudian mengambil tangan Lili dan menggenggamnya erat, "meyakinkan diriku, apakah benar kamu mau menjadi Nyonya Doni Sanjaya, Laili?" tanya Doni.
Angin senja serasa menyapu lembut wajah Lili, memberikan kesejukan bagi jiwanya yang menanti ungkapan dari sang kekasih hati. Dan sore ini, entah keajaiban darimana, Lili mendengar suara seksi dari pemuda yang selalu diimpikannya yang meminta Lili secara terang-terangan untuk menjadi istri Doni.
__ADS_1
tobe continue,,,