
Tante Lusi yang menemui tamunya bersama sang suami, menyambut hangat papa Sanjaya dan Doni. Berbeda dengan sang suami, yang hanya tersenyum hangat pada papa Sanjaya saja. Sedangkan pada Doni, papanya Lili itu tersenyum masam.
Doni tersenyum kecut mendapat perlakuan seperti itu dari calon ayah mertuanya, nyali pemuda dewasa tersebut sedikit menciut dan rasa percaya diri yang telah di pupuk Doni, mulai menguap entah kemana.
"Ada angin apa nih, pak Sanjaya berkunjung ke rumah kami?" tanya tante Lusi dengan ramah karena sang suami yang biasanya rame dalam menyambut tamu sesama rekan bisnis, tiba-tiba menjadi bungkam.
Papa Sanjaya mendahuluinya dengan terkekeh pelan, sebelum kemudian mulai berbicara. "Iya, bu Lusi. Jadi kedatangan kami kemari untuk bersilaturahim karena sudah cukup lama, saya dan pak Devan tidak saling bertemu. Bukankah begitu, Pak Devan?" Papa Sanjaya sengaja mengajak om Devan untuk berbicara.
"Iya, benar Om San," balas papa Devan yang mau tak mau akhirnya mengeluarkan suaranya, "kalau tidak salah, terakhir ketika acara š§š¢š®šŖššŗ šØš¢šµš©š¦š³šŖšÆšØ malam itu," lanjut om Devan.
"Benar sekali Pak Devan karena setelah itu, saya sudah benar-benar mundur dari dunia bisnis dan memberikan kesempatan pada putra bungsu saya," timpal papa Sanjaya.
Om Devan hanya sekilas melihat kearah Doni tanpa sepatah katapun dan selanjutnya kembali asyik ngobrol dengan papa Sanjaya, papa dari Lili itu sengaja bersikap cuek pada Doni sebagai bentuk protesnya agar Doni merasa bahwa dia tidak merestui Doni untuk Lili.
Berbeda dengan tante Lusi, melihat sikap sang suami yang dingin terhadap Doni, mamanya Lili itu berinisiatif mengajak Doni untuk mengobrol. Hingga akhirnya mereka berdua terlibat pembicaraan yang seru, tak kalah seru dengan obrolan papa Sanjaya dan om Devan.
Tante Lusi yang mantan resepsionis di perusahaan šØš¢š³š®š¦šÆšµ, telah terbiasa bersikap ramah dengan semua orang tanpa membedakan. Begitupun dengan om Doni yang mantan direktur sebuah Bank ternama, dia pun terbiasa menghadapi berbagai macam karakter orang, sehingga mereka berdua bisa cepat akrab.
Sesekali terdengar tante Lusi dan Doni tertawa bersama, yang membuat om Devan melirik sang istri sambil mengerutkan dahi.
Obrolan tante Lusi dan Doni juga semakin melebar, tanpa sungkan mamanya Lili itu juga menanyakan masa lalu Doni. Sementara Doni, dengan jujur menceritakan semuanya karena bagi Doni terbuka sejak awal lebih baik, toh semua sudah berlalu dan Doni sudah bertekad untuk membuka lembaran baru.
"Oh, jadi sampai sekarang hubungan Mas Doni dan mantan masih berjalan dengan baik, ya?" tegas tante Lusi setelah mendengar penjelasan Doni yang panjang.
"Benar, Tante," balas Doni yang memanggil tante, seperti permintaan tante Lusi sendiri barusan.
"Ya, karena berawal dari persahabatan. Jadi kami sepakat untuk tetap bersahabat, Alhamdulillah suaminya juga mendukung," lanjut Doni seraya tersenyum, mengingat pertemuan terakhir kali dengan Mahmudi, suami Seruni, yang sangat akrab layaknya sahabat lama.
"Terus, kalau sama Lili? Hubungan kalian seperti apa? Tante dengar kalian lagi dekat?" pancing tante Lusi, karena sebagai seorang mama tante Lusi tidak mau putrinya hanya untuk main-main saja.
"Iya, Tante. Kami memang beberapa waktu terakhir dekat dan saya sudah memantapkan hati untuk .... " sejenak Doni menjeda ucapannya, pemuda dewasa itu melihat kearah om Devan yang masih asyik ngobrol dengan sang papa.
__ADS_1
"Pa, ada yang ingin disampaikan oleh Mas Doni," panggil tante Lusi pada suaminya.
Doni sempat terkejut mendengar mamanya Lili berbicara seperti itu, tetapi putra bungsu papa Sanjaya tersebut langsung dapat menguasai diri dan justru berterimakasih karena tante Lusi membukakan jalan untuk Doni agar bisa menyampaikan maksud kedatangannya kemari.
Om Devan mengerutkan kening dalam dan menatap tajam Doni, papa Sanjaya pun menoleh kearah sang putra.
Doni mengangguk dengan sopan, membenarkan ucapan tante Lusi. "Iya, Pak Devan. Kedatangan kami kemari selain untuk bersilaturahim juga untuk, emm ... saya bermaksud untuk melamar putri bungsu Pak Devan, Laily." tegas Doni yang akhirnya dapat menyampaikan maksud kedatangannya dengan lancar.
"Uhuk ... " Papa dari Lili itu tersedak air liurnya sendiri saking terkejut mendengar keberanian Doni, padahal dia sudah memberikan kode melalui sikap bahwa dirinya tidak setuju atas hubungan Doni dan Lili.
"Berani sekali dia? Apa dia enggak ngaca? Tampangnya sih, oke? Gue akui itu, tapi umur 'kan sudah banyak?" Om Devan bermonolog dalam diam.
"Wah, beruntung sekali putri saya jika Mas Doni memang serius untuk menjalin hubungan dengan Lili?" ucap tante Lusi yang tanpa disangka oleh om Devan.
"Ma?" lirih om Devan tetapi penuh penekanan sebagai bentuk protes.
"Benar seperti itu 'kan, Pa? Sebagai orang tua, kita pasti akan senang dan tenang jika putri kita ada yang serius ingin melamarnya bukan?"
"Maaf, Om San. Ada yang perlu saya bicarakan dengan istri saya sebentar," pamit om Devan dan kemudian segera mengajak sang istri untuk masuk kedalam.
Doni mengangguk setuju.
Sementara di ruang keluarga, ternyata Lili dan Lila masih berada di sana. Om Devan yang tadinya mau berbicara dengan sang istri di ruangan tersebut mengurungkan dan hendak menuju ke kamar, namun Lili mencegah.
"Papa dan mama mau kemana?" tanya Lili curiga.
"Tau nih, papa mau ngajak mama bicara katanya," balas tante Lusi jujur, membuat om Devan frustasi.
"Ma, kok malah bilang sama Lili, sih?" bisik Om Devan yang lagi-lagi protes sama sang istri.
Tante Lusi hanya mengedikkan bahu.
__ADS_1
"Disini aja ngobrolnya, Pa. Lili mau dengar?" pinta Lili seraya menarik tangan sang papa.
Sang papa nampak enggan tapi si bungsu terus memaksa, hingga akhirnya om Devan mengalah dan menuruti keinginan putri kesayangannya itu.
"Papa akan membicarakan masa depan Lili, 'kan? Jadi papa juga harus melibatkan Lili, dong?" tegas Lili setelah sang papa duduk.
Om Devan menarik napas panjang, putri bungsunya itu jika sudah punya kemauan, selalu tak sanggup untuk dia tolak. "Ya sudah, kita bicara di sini," ucap om Devan yang akhirnya mengalah untuk sang putri.
Om Devan duduk diapit oleh dua putri kembarnya, sementara tante Lusi duduk di samping Lili.
"Tadi Om Doni ngomong apa, Pa?" tanya Lili mulai kepo, meski dia sudah tahu maksud kedatangan Doni tapi tetap saja Lili ingin mendengar secara langsung dari mulut sang papa.
"Tidak ada apa-apa, Opa Sanjay cuma ingin bersilaturahim," balas sang papa mencoba mengulur waktu.
"Cuma itu?" kejar Lili.
"Terus mau kamu, mereka mesti bagaimana?" Om Devan mengerutkan kening menoleh kearah Lili.
"Om Doni melamar Lili?" balas Lili dengan cepat.
Om Devan menggeleng, "kamu itu masih terlalu muda Lili sayang, lebih baik kamu fokus kuliah saja dulu."
"Lagipula, Doni itu usianya jauh di atas kamu, Lili? Dia lebih pantas menjadi om kamu ketimbang menjadi suami?" Om Devan menatap putri kesayangan nya dengan dalam, berharap sang putri mau mendengarkan nasehatnya.
"Tapi Lili cinta sama om Doni, Papa? Lili enggak mau sama yang lain? Lili juga tetap bisa kuliah, meski udah menikah? Om Doni dukung Lili, kok?" kekeuh Lili sambil menggenggam tangan sang papa.
"Iya, Pa. Lili kali ini serius kok, Pa. Tidak seperti jika sama cowok lain? Dan semenjak sama om Doni, Lili jadi rajin kuliah dan sikapnya juga lebih dewasa," timpal Lila yang membela saudari kembarnya.
"Biar saja lah, Pa. Toh Doni orangnya baik dan mama lihat tadi, dia benar-benar serius sama Lili?" Sang mama ikut membela si bungsu.
"Papa memang selalu tak berkutik jika sudah dihadapkan pada wanita-wanita cantik seperti kalian, tapi kali ini tidak semudah itu marimar ... " pungkas om Devan yang menirukan sang istri jika ngobrol sama oma Susan dan sahabatnya yang lain, seraya tersenyum jahil.
__ADS_1
"Ih, papa ... kenapa bawa-bawa marimar segala?" protes ketiga wanita cantik yang sangat disayangi om Devan tersebut dengan kompak.
tobe continue,,,