Om Doni, I Love You

Om Doni, I Love You
Bahan Ledekan


__ADS_3

Malam itu om Devan memutuskan untuk menerima Doni dengan syarat dan syaratnya baru akan diberitahukan pada Doni siang ini, bertempat di kantor om Devan di bilangan Jakarta Selatan.


Doni yang semalaman tak dapat tidur karena memikirkan syarat apa kiranya yang akan diberikan oleh papanya Lili tersebut, sejak pagi tadi menjadi lesu. Sepanjang mengerjakan pekerjaan di kantor, pemuda dewasa itu sering melakukan kesalahan hingga membuat sang sekretaris jadi bertanya-tanya.


"Maaf, Pak Doni. Bapak kenapa, ya?" tanya Rissa karena lagi-lagi Doni salah dalam menandatangani sebuah dokumen, sehingga Rissa harus mencetak ulang dokumen tersebut.


Doni menghela napas kasar, "tidak apa-apa, Rissa," balas Doni.


Rissa menyipitkan matanya, menatap atasannya itu dengan menyelidik. "Pak Doni lagi ada masalah, ya?" kejar Rissa, "kalau Bapak butuh teman curhat, Rissa bisa kok jadi teman curhat yang baik?" lanjut Rissa menawarkan diri.


Doni menggeleng, "tidak perlu, Ris. Aku baik-baik saja," tolak Doni.


"Pasti karena masalah Lili ya, Pak?" tebak Rissa yang tetap kepo dengan masalah Doni, bos yang diincarnya. "Dari awal saya sudah enggak setuju sih, kalau Pak Doni sama dia! Lili itu kayak masih kekanak-kanakan banget, benar 'kan, Pak?" Rissa menatap Doni seraya tersenyum simpul, entah apa yang ada dalam otaknya.


Doni masih terdiam, entah apa yang dipikirkan oleh Bos Muda itu.


"Pak Doni 'kan seorang 𝘊𝘩π˜ͺ𝘦𝘧 𝘌𝘹𝘦𝘀𝘢𝘡π˜ͺ𝘷𝘦 π˜–π˜§π˜§π˜ͺ𝘀𝘦𝘳 nih, menurut Rissa Pak Doni harusnya cari pasangan yang bisa mengimbangi Bapak dan bukan ABG yang seperti Lili?" lanjut Rissa.


"Ris, saya ingin sendiri." ucap Doni dingin.


"Maaf, Pak Doni. Dalam kondisi seperti ini, tidak baik berdiam diri tanpa teman. Biar Rissa tetap disini dan menemani Pak Doni, ya?" kekeuh Rissa sambil mendekati Doni dan mulai menyentuh bahu Doni hendak memijat.


Doni menghindar dan langsung berdiri, "keluar dari ruangan saya sekarang atau saya panggilkan 𝘴𝘦𝘀𝘢𝘳π˜ͺ𝘡𝘺 untuk mengusir kamu dari perusahaan!" seru Doni karena Rissa terus saja menggodanya.


Nyali Rissa seketika menciut, sekretaris yang setiap kali berjalan selalu mendongak itu, kini menunduk lesu. Harapan Rissa untuk bisa menggaet Bos Muda yang kaya raya seperti Doni Sanjaya, musnah sudah. Meski berbagai cara telah Rissa lakukan, tapi nyatanya Doni tak pernah melihat keberadaan dirinya.


"Maafkan saya, Pak Doni. Tolong, jangan pecat saya. Saya benar-benar menyesal telah mengoda, Bapak," sesal Rissa seraya menunduk dalam.


Doni menghela napas kasar, tangan pemuda tampan itu masih mengepal karena mendengar gadis belia yang dicintainya dihina sedemikian rupa oleh sang sekertaris.


"Kali ini, kamu saya maafkan. Tetapi jika saya mendengar atau melihat sekali saja kamu menghina Lili, saya tidak akan segan untuk memecat kamu!" ancam Doni.


"Sekarang, keluar dari ruangan saya dan jangan pernah berani masuk kalau saya tidak memanggil!" tegas Doni.


Rissa hanya mampu mengangguk dan segera berlalu dari hadapan Doni.

__ADS_1


Sepeninggal Rissa, Doni mendudukkan diri di sofa empuk yang ada di sudut ruangan. Doni menyandarkan punggung dan kemudian memejamkan mata. Pemuda itu merasa sangat lelah, lelah jiwa dan raga menanti keputusan dari sang calon mertua.


Rupanya, Bos Muda Sanjaya itu ketiduran. Dering ponsel di saku celana Doni, membangunkannya dari mimpi indah bersama Lili.


Buru-buru Doni mengambil ponsel, wajah tampan itu tersenyum kala melihat nama 'Gadis Ingusan' di layar ponselnya.


"Halo, Lil," sapa Doni.


"Assalamu'alaikum, Om. Ucap salam dulu dong, Om?" ucap salam Lili seraya protes.


Doni terkekeh, "iya, Lili sayang ... wa'alaikumsalam," balas Doni.


"Om sudah jalan, ke kantor Papa?" tanya Lili.


Sontak, Doni melihat kearah jam dinding dan laki-laki dewasa itu menepuk jidatnya dengan keras. 'Astaghfirullah, aku ketiduran?' batin Doni.


"Lil, aku tutup dulu ya teleponnya. Lagi 𝘀𝘳𝘰𝘸π˜₯𝘦π˜₯ ini? Assalamu'alaikum, Lili sayang .... " Doni langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak.


Biarlah jika Lili ngambek, yang penting Doni bisa tepat waktu sampai ke kantor papanya Lili yang jaraknya cukup jauh dari kantor Doni. Mengatasi Lili lebih mudah, ketimbang perjuangan Doni untuk mendapatkan restu dari om Devan.


Tanpa mencuci muka terlebih dahulu, Doni langsung menyambar jas dan segera mengayunkan langkah dengan cepat keluar dari ruangannya.


Sepanjang jalan, tak henti Doni membunyikan klakson agar diberikan jalan oleh pengguna jalan lain sebab Doni harus mengejar waktu.


Tersisa waktu lima belas menit, ketika mobil Doni terjebak kemacetan di daerah Kebayoran. "Sial! Aku bisa terlambat sampai ke SCBD!" gerutu Doni sambil memukul-mukul setir mobil.


Disaat Doni sedang gelisah karena terjebak kemacetan, tepat di samping mobil Doni melintas ojek online yang tak berpenumpang. Doni segera memanggil pengendara Ojol tersebut, "Bang, ojek."


"Abang bisa nyetir mobil?" tanya Doni ketika sudah mendekati bang Ojol.


"Bisa, Pak," balas pengendara motor tersebut.


Doni nampak mengeluarkan sebuah kartu nama dan sejumlah uang, kemudian menyodorkan pada π˜₯𝘳π˜ͺ𝘷𝘦𝘳 Ojol. "Saya pinjam motor Abang dan Abang silahkan bawa mobil saya, tolong antar mobilnya ke kawasan Sudirman Central Business District." pinta Doni seraya menunjuk mobilnya yang masih terjebak kemacetan.


π˜‹π˜³π˜ͺ𝘷𝘦𝘳 Ojek online itu masih nampak kebingungan tetapi mau menerima uang yang jumlahnya banyak tersebut.

__ADS_1


"Itu ada kartu nama saya, kalau Abang sudah sampai kawasan Sudirman, Abang bisa telepon saya," lanjut Doni menjelaskan kebingungan abang Ojol.


"Baik, Pak," balas sang π˜₯𝘳π˜ͺ𝘷𝘦𝘳 penuh semangat setelah melihat kartu nama dan mengamati mobil mewah Doni.


'Kapan lagi bisa mengendarai mobil mewah, di bayar pula sama pemiliknya. Udah gitu, banyak lagi bayarannya. Gue bisa libur satu minggu ini,' batin π˜₯𝘳π˜ͺ𝘷𝘦𝘳 Ojol tersenyum senang.


Doni segera memakai helm yang bertuliskan nama perusahaan ojek online dan dengan tergesa Bos Muda SANJAYA GROUP itu segera melajukan motor matic dengan kecepatan tinggi untuk menuju kantor Om Devan.


Kurang lebih sepuluh menit Doni melaju di bawah teriknya sinar mentari, tanpa mengenakan jaket. Kulit putih Doni serasa terbakar tapi pemuda tampan itu tak peduli, yang penting dirinya bisa segera sampai di gedung perkantoran milik sang calon mertua dengan tepat waktu.


Tersisa waktu tiga menit ketika Doni tiba di depan lobi gedung pencakar langit milik papanya Lili, Doni segera menghampiri satpam dan menitipkan motor tersebut dengan menunjukkan kartu namanya.


Satpam tersebut mengangguk hormat dan Doni segera berlari kecil masuk kedalam lobi untuk menuju lift. Napas pemuda tampan itu memburu dengan keringat yang bercucuran membasahi keningnya.


Tatapan dari orang-orang yang berlalu lalang di lobi tersebut, tidak Doni hiraukan. Putra bungsu papa Sanjaya itu terus mempercepat langkahnya untuk menuju lift.


Tiba di depan lift, bertepatan dengan pintu lift yang terbuka. "Mas Doni?" sapa opa Alvian sambil menatap Doni dengan penuh tanya.


"Maaf, Om Vian. Apa Om dari ruangan Pak Devan? Beliaunya ada, kan?" tanya Doni.


Opa Alvian mengangguk, "ada, kedatangan Mas Doni sudah di tunggu. Saya keluar sebentar, mau ambil dokumen yang ketinggalan di mobil." terang opa Alvian.


Doni mengangguk sopan, "baik, Om. Doni masuk dulu," pamit Doni yang langsung masuk kedalam lift.


"Mas Doni, tunggu," cegah opa Alvian.


"Memangnya, Mas Doni habis darimana? Kok penampilannya berantakan begini?" tanya opa Alvian yang sudah penasaran semenjak pertama melihat Doni tadi.


"Iya, Om. Mobil saya terjebak kemacetan dan saya kesini bawa motornya bang Ojol," balas Doni seraya tersenyum kecut.


Opa Alvian terkekeh pelan, "pantesan, berantakan gini? Sebelum masuk ke ruangan Devan, rapikan dulu penampilan Mas Doni di toilet. Agar Mas Doni tidak menjadi bahan ledekan mereka nanti."


"Saya masih ada satu jas yang belum saya pakai di mobil, tunggu saja di sana nanti sekalian saya ambilkan jas-nya." Opa Alvian segera berlalu meninggalkan Doni yang sudah berada di dalam kotak besi.


Doni tersenyum lega, bersyukur bertemu dengan opa Alvian yang menjadi dewa penyelamat Doni siang ini. Tetapi sedetik kemudian, kening Doni mengernyit dalam.

__ADS_1


'Jadi bahan ledekan mereka? Mereka siapa? Apa Om Devan mengundang keluarganya yang lain?' bisik Doni dalam hati.


tobe continue,,,


__ADS_2