Om Doni, I Love You

Om Doni, I Love You
Tamu-tamu Istimewa


__ADS_3

Doni terbangun ketika suara ketukan pintu terdengar terus di gedor dari luar, rupanya Doni bangun kesiangan sehingga sang kakak yang kebetulan singgah setelah mengantar putrinya ke sekolah, berinisiatif membangunkan adiknya meski papa Sanjaya telah melarang.


"Om, Om Doni. Sudah siang lho ini. Kamu berangkat kerja enggak, sih?" suara Tanti terdengar memanggil-manggil nama Doni.


Doni beringsut dan kemudian segera beranjak membuka pintu kamar, "Kakak pagi-pagi udah berisik, aja," gerutu Doni.


Tanti geleng-geleng kepala, "jam tujuh sudah lewat, Om. Masih bilang pagi?" bantah Tanti sambil menunjuk jam di tangan kirinya.


"Iya, iya. Doni mau mandi dulu," ucap Doni sambil berlalu menuju kamar mandi.


"Jangan lama-lama, papa udah nunggu di meja makan!" seru Tanti dan Doni hanya menganggukkan kepala.


Tanti menutup kembali pintu kamar sang adik, putri sulung papa Sanjaya itu kemudian segera turun untuk menemani sang papa yang telah menunggu di meja makan.


Doni mandi dengan cepat, pemuda itu sampai melupakan mencukur bulu-bulu kasar yang mulai tumbuh disekitar rahang. Setelah berpakaian, Doni menyambar dasi dan jas, kemudian segera keluar dari kamar untuk sarapan bersama papa dan kakak satu-satunya.


"Lama banget sih, Om?" protes Tanti.


"Ah, Kakak cerewet deh," balas Doni sambil mencium pipi sang kakak seperti biasa, jika Tanti datang berkunjung. Karena tadi sewaktu di atas Doni baru saja bangun tidur, makanya Doni tak mencium sang kakak.


"Nanti kalau kamu sudah menikah, setiap pagi istrimu juga bakalan cerewet apalagi kalau sudah punya anak?" balas Tanti.


Doni tersenyum, "sekarang aja dia udah cerewet, apalagi nanti?" gumam Doni dalam hati.


"Kamu itu lho, Dik. Calon pengantin kok lelet!" cibir Tanti sambil mengambilkan nasi untuk sang adik.


"Calon pengantin?" Doni mengerutkan kening.


"Iya," balas Tanti, "kata Papa, nanti malam Om akan melamar Lili, 'kan?" tanya Tanti memastikan.


Doni menggeleng, "belum, Kak. Sekadar mau silaturrahim aja," terang Doni, sambil mulai menyendok nasi dan menyuapkan kedalam mulutnya.


"Tapi kalau sambutan pak Devan bagus, sekalian melamar juga boleh," sahut papa Sanjaya seraya tersenyum.


Wajah tua itu pagi ini nampak bersemangat setelah mengetahui dari sang putra semalam, bahwa malam nanti Doni akan meminta restu pada orang tua Lili.


"Ke sana mau bawa apa, Om? Biar kakak yang belikan?" tawar Tanti.

__ADS_1


Doni mengernyit, "memang, harus bawa-bawa ya, Kak?" tanya Doni yang tak mengerti hal-hal demikian.


"Ya, baiknya begitu?" balas sang papa, mewakili Tanti.


"Kalau gitu, terserah Kak Tanti aja deh. Bagaimana baiknya," balas Doni pasrah.


"Kakak belikan parcel buah sama kue aja, ya?" ucap Tanti meminta persetujuan Doni.


Doni mengangguk, begitupun dengan papa Sanjaya.


Sarapan pagi yang disertai obrolan hangat itupun usai, Tanti segera pamit untuk berbelanja agar tidak kesiangan dan masih bisa menjemput putrinya. Sementara Doni, masih betah duduk di tempatnya semula.


"Kamu tidak berangkat?" tanya sang papa.


"Hari ini agak santai, Pa. Tidak ada jadwal š˜®š˜¦š˜¦š˜µš˜Ŗš˜Æš˜Ø sama š˜¬š˜­š˜Ŗš˜¦š˜Æ dan semua berkas juga sudah Doni tandatangani kemarin. Paling nunggu laporan š˜±š˜³š˜°š˜Øš˜³š˜¦š˜“š˜“ dari proyek di Bitung," terang Doni.


Papa Sanjaya manggut-manggut, "sesekali tak mengapa berangkat terlambat, asal jangan keseringan. Meski itu kantor milik kita sendiri, tetapi kita harus memberi contoh yang baik untuk karyawan dengan berdisiplin diri," nasehat papa Sanjaya pada sang putra.


Doni mengangguk setuju, "iya, Pa. Doni juga berprinsip seperti itu, hanya saja pagi ini Doni benar-benar merasa lelah," balas Doni.


"Tidur jam berapa, semalam? Apa kalian melanjutkan mengobrol?" tebak papa Sanjaya.


Papa Sanjaya ikut tersenyum, laki-laki yang rambutnya telah memutih itu turut berbahagia atas kebahagiaan sang putra.


"Begitulah, Nak, indahnya jatuh cinta. Papa senang kamu sudah menemukan seseorang, yang bisa membuat hidupmu lebih berwarna. Semoga Allah memudahkan jalan kalian berdua," pungkas papa Sanjaya dan laki-laki tua itu segera menyuruh sang putra untuk berangkat ke kantor.


Doni mencium punggung tangan orang tua satu-satunya yang masih tersisa dengan takdzim dan kemudian segera berlalu.


"Jangan lupa pakai dasinya dengan benar," papa Sanjaya memperingatkan, karena Doni belum memasang dasinya dengan baik.


"Iya, Pa. Nanti di mobil," balas Doni sambil lalu.


&&&&&


Waktu berlalu begitu lama dirasakan oleh Doni, sepanjang pagi ini pemuda matang itu nampak selalu gelisah dan netranya terus saja melihat kearah jarum jam yang lambat bergerak.


Doni melakukan pekerjaan didalam ruangan yang dingin, namun keringat pemuda matang itu terus mengucur membasahi keningnya. Rupanya Doni mengalami demam panggung, memikirkan bagaimana nanti malam tanggapan om Devan ketika dirinya berkunjung ke kediaman orang tua Lili tersebut.

__ADS_1


"Huff ...." Doni menghela nafas kasar, "aku enggak bisa begini terus, aku harus melakukan sesuatu," gumam Doni.


"Sebaiknya, aku telepon Lili untuk menanyakan semua hal tentang papanya." Doni mengambil ponsel dari dalam saku dan mencari nomor sang kekasih, ketika hendak mendial nomor Lili tiba-tiba Doni mengurungkan niatnya.


"Tidak, tidak. Lili bisa tahu kalau aku grogi dan gadis centil itu akan meledekku habis-habisan kalau aku bertanya." Doni menggeleng-gelengkan kepala.


"Siapa ya, kira-kira?" Bos Muda SANJAYA GROUP itu meneliti satu persatu nama rekan bisnisnya yang tertera di layar ponsel, tatapan Doni tertuju pada sebuah nama dan senyum pemuda matang itu langsung mengembang.


"Pak Alvian, beliau salah satu sahabat pak Devan. Aku yakin, beliau pasti bisa membantuku." Tanpa membuang waktu, Doni langsung menghubungi nomor tersebut.


Tepat pada panggilan pertama, telepon Doni diterima oleh pemilik nomor yang dituju.


"Halo, Mas Doni." sapa suara di seberang sana.


"Selamat siang, Pak Alvian. Maaf jika saya mengganggu waktu Anda, Pak." ucap Doni.


"Iya, tidak mengganggu kok, Mas. Ada apa?" tanya opa Alvian.


"Jika Pak Alvian nanti siang tidak sibuk, bolehkah saya meminta waktunya?" pinta Doni, "maaf, Pak. Ini tidak ada hubungannya dengan bisnis kita," imbuh Doni sebelum opa Alvian bertanya lebih lanjut.


"Baik, Mas Doni. Tentukan saja, dimana kita bertemu?" Opa Alvian terdengar menyanggupi.


"Bagaimana kalau di Restoran saya saja, Pak. Dari kantor Pak Alvian tidak terlalu jauh, bukan?" Doni meminta persetujuan.


"Boleh-boleh," balas opa Alvian.


"Terimakasih banyak, Pak Alvian." pungkas Doni dengan senyumnya yang mengembang.


Setelah menutup panggilan telepon, Doni menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi yang empuk. Pemuda matang itu bisa bernapas sedikit lega sekarang, setelah menelepon salah satu sahabat sang calon mertua. Doni berharap, akan mendapatkan pencerahan nantinya.


&&&&&


Sebelum jam makan siang, Doni telah meluncur menuju restoran miliknya. Restoran yang menjadi satu dengan hotel, tempat dimana acara family gathering malam itu diadakan dan di sanalah Lili menembak Doni untuk pertama kali.


Doni masih harus menunggu tiga puluh menit karena memang dia datang lebih awal, rupanya putra bungsu papa Sanjaya tersebut benar-benar sudah tidak sabar untuk mencari tahu banyak hal mengenai papanya Lili, agar nanti bisa mengambil hati om Devan.


Tepat pukul dua belas, nampak tiga orang paruh baya yang masih terlihat gagah dan berwibawa berjalan kearah Doni yang duduk di meja khusus yang menghadap kolam ikan kecil.

__ADS_1


Doni yang tidak menyangka, bahwa opa Alvian akan mengajak serta dua sahabat baiknya, segera berdiri untuk menyambut tamu-tamu istimewa tersebut.


tobe continue,,,


__ADS_2