
Semenjak obrolan malam itu, om Devan terlihat semakin protektif terhadap sang putri bungsu. Jika biasanya Lila dan Lili pergi kuliah dengan diantarkan sopir dan akan pulang bareng sahabat-sahabatnya, mulai hari ini om Devan sendiri yang menjemput mereka berdua.
"Ah, enggak asyik papa kalian berdua!" protes Mirza ketika mereka baru saja selesai kelas sambil berjalan menuju parkiran mobil, begitu mengetahui kalau kedua gadis kembar sahabatnya itu tidak bisa pulang bareng seperti biasa.
"Iya nih, masak kita cuma pulang bertiga?" timpal Nezia seraya cemberut, "aku jadi enggak ada temen ngobrol, deh? Secara, Bang Attar sama Bang Mirza pasti sibuk sendiri ngebahas cewek?" lanjutnya menggerutu.
"Eh, aku enggak kali, Nez? Mirza tuh, yang bahas cewek melulu?" sahut Attar, yang tidak terima.
"Bang Attar sih emang enggak suka bahas cewek, Nez. Tapi suka kepo dan stalking media sosial cewek-cewek," balas Mirza seraya terkekeh.
Attar hanya membalas dengan meninju pelan lengan keponakannya itu, sedangkan yang lain tertawa karena mereka memang sudah tahu kebiasaan dari Attar tersebut.
"Mirza, tolong dong bilangin sama daddy agar bujuk papa biar enggak kolot?" pinta Lili, sesaat setelah mereka duduk di bangku panjang yang terdapat diparkiran mobil untuk menemani Lila dan Lili menunggu sang papa.
Mirza terdiam, beberapa saat kemudian Mirza berdiri, "oke Li, aku coba ya? Setelah ini, kami akan langsung ke kantor daddy," balas Mirza.
"Makasih, Za. Kamu memang sohib yang bisa diandalkan," balas Lili seraya memeluk Mirza sekilas.
"Lili! Enggak boleh peluk-peluk gitu, ah! Ingat pesan kakek, kita ini bukan saudara sedarah jadi enggak boleh sembarangan peluk!" Lila memperingatkan saudari kembarnya.
"Iya, iya, Bu Ustadzah," balas Lili, "lama-lama kamu jadi seperti istrinya bang Zaki, deh La. Tapi kalau kak Ning Laila itu ustadzah beneran, kalau kamu ustadzah kacangan," ledek Lili seraya terkekeh.
Lila mencebik, sedangkan yang lain tersenyum.
"Tuh, kalian udah di jemput," tunjuk Attar pada mobil om Devan, yang memasuki area parkiran.
Mereka berlima segera menghampiri mobil om Devan dan satu persatu menyalami papanya Lila dan Lili itu dengan takdzim.
"Kalian juga langsung pulang, 'kan?" tanya om Devan seraya menatap Mirza, karena Mirza lah yang selalu mengajak saudara-saudaranya itu untuk nongkrong terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah.
"Rencananya, kami mau ke kantor daddy, Om," balas Mirza jujur.
Om Devan mengernyit, sedangkan Lili nampak cemas. Gadis centil itu khawatir, Mirza akan mengatakan rencananya tadi.
"Cuma pengin main saja, Om. Sudah lama Mirza tidak ke kantor daddy," lanjut Mirza yang bisa menangkap kekhawatiran Lili.
__ADS_1
Om Devan mengangguk, "bagus," balasnya setuju, "lebih baik main ke kantor orang tua kalian sekaligus untuk belajar bagaimana menjalankan bisnis, daripada kalian nongkrong di tempat-tempat yang tidak jelas," saran om Devan.
"Ya sudah, ayo Nak, kita pulang," ajak om Devan pada kedua putri kembarnya, "kalian hati-hatilah di jalan. Jangan ngebut, Bang Mirza," pesan om Devan pada Mirza, sambil kembali naik ke dalam mobilnya.
Mirza dan dua saudaranya pun segera masuk kedalam mobil Mirza, untuk menuju ke kantor daddy Rehan.
Om Devan yang duduk di depan di samping kemudi, menoleh ke belakang, "mau makan dulu, apa langsung pulang?" tanya papanya Lila dan Lili itu menatap kedua putri kembarnya bergantian.
Lila dan Lili saling pandang, "makan dulu deh, Pa," pinta Lili, penuh rencana. Gadis centil putri kesayangan om Devan itu sedari tadi memikirkan Doni, apakah sang pujaan hati sudah makan atau belum?
Mendengar sang papa menawarinya untuk makan, Lili tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Kembaran Lila itu merencanakan akan mengirimkan makan siang untuk Doni.
&&&&&
Sementara di kantor Doni, pemuda matang tersebut baru saja selesai rapat dengan segenap petinggi perusahaan. Doni masih didampingi oleh kakak iparnya, Adiputra.
Begitu memasuki ruangannya, Bos Muda PT. SANJAYA GROUP itu langsung mendudukkan diri di sofa empuk. Doni melonggarkan dasi dan kemudian menyandarkan tubuh yang terasa lelah, tak seperti biasanya.
Doni melihat jam tangan mewah di pergelangan tangan kanannya, waktu menunjukkan hampir pukul satu siang. "Hem, sudah waktunya makan siang," gumam Doni dalam hati.
Padahal sejatinya pemuda matang itu berharap, ketika dirinya kembali ke ruangan, sudah ada gadis centil yang menanti di dalam ruang kerjanya.
"Tumben dia enggak kesini?" gumam Doni, sambil menghembus kasar nafasnya. Pemuda matang itu kemudian memejamkan mata, sedangkan pikirannya menerawang jauh.
Semalam, setelah menerima panggilan video dari sahabat-sahabatnya dan juga setelah mendengar penuturan papa Sanjaya, Doni mulai berpikir tentang Lili.
Apakah benar, dirinya memiliki perasaan dengan gadis belia tersebut? Ataukah, Doni hanya merasa terhibur dengan kehadiran Lili yang centil itu?
Doni juga memikirkan saran dari sang mantan, agar dirinya memberikan kesempatan pada Lili untuk masuk kedalam kehidupannya.
Doni membuka mata dan kembali melihat jam tangan, "kemana ya, dia? Tumben belum datang? Biasanya jam segini, dia akan datang sambil membawakan makan siang?" Doni bertanya-tanya pada diri sendiri, perasaannya mulai gelisah.
Putra bungsu papa Sanjaya itu kemudian mengambil ponsel dari dalam saku dan membuka-buka kontaknya, "huff,,, ternyata, aku belum punya nomor Lili," gerutu Doni.
Pemuda matang itu kemudian beranjak, hendak menelepon OB agar membelikan makan siang di kantin untuknya. Ketika terdengar pintu ruangannya di ketuk dari luar.
__ADS_1
Senyum Doni terulas sempurna, "pasti dia?" gumam Doni, "tapi kenapa pakai ketuk pintu? Enggak, enggak, itu enggak mungkin Lili. Gadis itu tak pernah mengetuk pintu jika datang," lanjutnya yang kembali merasa kecewa.
Benar saja, pintu ruangannya pun dibuka dari luar. Nampak lah Rissa dan seorang laki-laki berseragam kurir masuk ke ruangan Doni.
"Selamat siang, Pak Doni," sapa Rissa ramah, sekretaris Doni itu puji kini memakai busana yang sopan. Sedangkan kurir yang bersama Rissa, mengangguk hormat pada Doni.
"Maaf, Pak Doni, jika saya lancang mengganggu istirahat siang Bapak. Kurir ini membawakan makan siang untuk Pak Doni," terang Rissa, sambil menunjuk kurir yang berdiri di sampingnya.
Doni mengernyitkan dahi, "darimana? Saya merasa belum memesan makanan?"
Kurir tersebut maju mendekati Doni dan kemudian menyodorkan paper bag yang bertuliskan nama sebuah restoran kekinian, seperti yang biasa dibawa oleh Lili.
Bibir Doni menyunggingkan senyum, pemuda matang yang digandrungi oleh Lili itu sudah bisa menebak bahwa makanan itu pastilah dari putri bungsu om Devan.
"Makan siang ini, spesial dari non Lili, Tuan," ucap kurir tersebut, "dan rekaman ini, non Lili berpesan agar saya tunjukkan pada Tuan," lanjutnya seraya menyodorkan ponsel dengan sedikit ragu, setelah mengetahui bahwa konsumennya adalah seorang Bos Besar.
Setelah Doni menerima ponsel dari kurir tersebut, Pemuda matang itu segera memencet tombol play untuk mendengarkan suara Lili.
"Halo, om Doni sayang. Maaf yah, Lili enggak bisa menemui om Doni ke kantor dan membawakan makan siang. Tapi om Doni jangan khawatir, karena Lili sudah mengirim makanan untuk om ke kantor." Doni tersenyum mendengarkan suara centil Lili dari ponsel butut milik kurir, yang membawakan makanan untuk putra bungsu papa Sanjaya tersebut.
"Segera dimakan yah, jangan sampai om Doni telat makan dan sakit. Cukup Lili saja yang merasakan sakit karena menahan rindu pada om Doni. Sementara Lili tidak tahu sampai kapan rindu ini harus Lili pendam seorang diri, karena saat ini Lili sedang dipingit sama papa dan tidak diijinkan untuk bertemu dengan calon mempelai pria." Doni mengernyitkan dahinya dengan dalam.
"Udah dulu ya, Om. Selamat makan om Doni sayang ... muach," Lili mengakhiri rekaman suaranya dengan ciuman jauh, yang membuat Doni kembali tersenyum.
"Terimakasih, mas," Doni mengembalikan ponsel milik kurir sambil menyelipkan selembaran uang kertas merah.
"Rissa, tolong antar kan mas ini keluar. Saya mau makan," titah Doni.
Rissa yang sedari tadi cemberut ketika sang bos mendengarkan rekaman suara rivalnya, segera mengajak kurir tersebut untuk meninggalkan ruangan Doni.
Setelah keduanya menghilang dibalik pintu, Doni mulai membuka makanan kiriman dari Lili. Tiba-tiba, Doni menghentikan aktifitas.
"Tadi Lili bilang, lagi di pingit? Apa dia mau dijodohkan? Dengan siapa? Kok Lili enggak pernah cerita sebelumnya?"
tobe continue,,,
__ADS_1