
Lili menjawab lamaran pribadi Doni dengan anggukan kepala pasti, senyum manis tersungging di bibir merah Lili yang rasanya manis menurut Doni. Doni pun tersenyum, netra keduanya saling bertaut seperti jemari mereka yang saling bertautan dan saling menggenggam.
Jantung dua sejoli yang berbeda usia delapan belas tahun itu berdebar kencang, darah mereka berdesir dan mengalir hangat, menghangatkan hati mereka berdua yang baru saja menasbihkan diri menjadi pasangan.
Senyum Lili semakin lebar, hatinya serasa berbunga-bunga. Penantian cinta Lili akhirnya terbalas, lunas. Bahkan Lili mendapatkan bonus kecupan mesra, karena Doni tidak menyatakan perasaannya melalui kata-kata melainkan dengan perbuatan yang tak pernah Lili sangka.
Pemuda dewasa yang masih menggenggam jemari tangan Lili itupun tersenyum bahagia, akhirnya setelah sekian lama Doni menutup diri, kini dia menemukan seseorang yang mampu mencairkan hati yang membeku melalui sikap Lili yang periang dan menggemaskan.
Lili, tidak hanya meruntuhkan ego Doni tetapi sekaligus mampu menjadikan Doni sebagai pribadi yang berbeda. Doni yang lebih ekspresif dalam mengungkapkan perasaan, berbeda dengan sikapnya selama ini yang tenang dan penuh perhitungan.
"Lil, berarti mulai sekarang kita jadian, nih?" tanya Doni, "boleh dong, minta sun lagi?" lanjutnya seraya tersenyum menggoda dan memainkan cincin indah di jemari Lili.
"Enggak boleh! 'Kan Lili udah bilang tadi, kalau kita belum jadi mahrom!" tegas Lili, sambil menarik tangannya dari genggaman Doni. Berlama-lama bersentuhan tangan dengan pemuda yang dicintainya itu, membuat Lili merasa ingin menjatuhkan diri dalam pelukan Doni.
Doni terkekeh, "iya, Lili sayang. Aku tahu itu, aku hanya menggoda mu," balas Doni seraya mengacak lembut puncak kepala Lili yang tertutup hijab.
"Tapi kalau misal beneran dikasih sun, Om pasti mau, 'kan?" Lili balas menggoda.
"Hahaha,,, memangnya, kamu berani?" tantang Doni seraya tergelak dan Lili menggeleng cepat. Mereka berdua kemudian tertawa bersama.
Hening sejenak menyapa, setelah tawa keduanya mereda.
"Om, mungkin setelah ini kita akan jarang bertemu deh," ucap Lili mengurai keheningan.
Doni mengernyitkan kening dan menatap Lili dengan tatapan protes, "kenapa?" tanya Doni.
"Lili takut, tidak bisa mengontrol perasaan Lili saat bersama Om Doni. Lili takut khilaf, Om? Karena setiap berdekatan sama Om, Lili bawaannya pengin nempel melulu?" terang Lili dengan wajah serius.
Doni menghela nafas panjang, dalam hati pemuda dewasa itu membenarkan apa yang dikatakan Lili. Karena sesungguhnya Doni pun senang jika Lili terus nempel, apalagi kini mereka berdua telah resmi jadian. Pastinya, Doni tidak akan menolak lagi jika Lili mendekat dan itu sangat berbahaya.
"Lil," panggil Doni dengan lembut.
Lili menoleh dan disaat yang sama, Doni pun menatapnya.
"Ada apa, Om?" tanya Lili dengan hati berdebar.
"Apa kamu siap, jika kita menikah dalam waktu dekat?" tanya Doni hati-hati, karena bagi Doni Lili masih sangat muda yang pastinya masih ingin bebas dan berhura-hura.
Lili tersenyum, "sekarang pun Om mengajak Lili ke penghulu, Lili mau kok, Om," balas Lili yang tak pernah bisa serius itu.
"Ck,,," Doni berdecak, "aku serius, Lil," protes Doni.
__ADS_1
"Lili juga serius, Om. Semakin cepat Om Doni menikahi Lili, akan semakin cepat pula kita bisa bebas berpacaran, 'kan?" balas Lili, "Lili maunya kita pacaran setelah menikah, Om. Pasti seru, deh." lanjutnya dengan mata berbinar.
Doni tersenyum dan mengangguk, menyetujui perkataan Lili barusan. Pacaran setelah menikah, yang pastinya lebih bebas dan dapat melakukan apapun yang mereka mau.
"Om cepetan lamar Lili ke papa, ya?" pinta Lili dengan tidak sabar.
Putra bungsu papa Sanjaya itu menghela nafas panjang, sepertinya ini adalah awal perjuangan Doni.
Bukan perjuangan untuk membuka hati bagi seorang wanita, yang pastinya sangat mudah jika Doni memang telah membulatkan tekad untuk membuka hati. Melainkan perjuangan untuk mendapatkan restu, dari calon mertuanya.
"Aku akan secepatnya menemui papa kamu, Lil. Do'akan aku, ya?" pinta Doni serius, karena terselip kekhawatiran di hati pemuda matang itu, jika om Devan tidak akan memberikan restu untuknya.
Lili mengangguk, "Lili akan selalu berdo'a, agar jalan kita dimudahkan," balas Lili.
Kembali suasana menjadi hening, masing-masing sibuk dengan pikirannya. Hingga suara Mirza, mengurai keheningan tersebut.
"Li, jadi nonton enggak?" tanya Mirza.
"Eh, jadi dong?" balas Lili.
"Om, kita nonton rame-rame ya?" ajak Lili.
"Kamu 'kan belum makan, Lil? Makan dulu, ya?" tawar Doni.
Lili tersenyum, "hehe,,, asyik pacaran kita, Za. Sampai lupa kalau salah satu tujuan kemari adalah untuk mengisi perut." balas Lili selengekan.
"Seriusan, Li? Kalian udah jadian?" tanya Mirza tak percaya.
"Hemm,,," balas Lili hanya dengan gumaman.
"Wah, selamat ya, Lili sayang," ucap Mirza yang hampir memeluk Lili, tapi segera diurungkan. "Hehe,,, lupa, kamu 'kan bukan Nezia, ya?" Mirza menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ya udah, Li. Cepetan makan, bakda maghrib kita langsung cabut. Kita sholat disini sekalian, biar enggak ribet. Aku balik ke sana dulu. mari, Om Doni" pamit Mirza.
Doni tersenyum dan mengangguk.
Doni kemudian memanggil waiters dan memesan makanan untuk mereka berdua.
"Kalian sudah lama, bersahabat?" tanya Doni.
Lili mengangguk, "sudah, bahkan kami bersahabat sejak masih dalam kandungan," balas Lili asal, hingga Doni memberikan hadiah cubitan di dagu lancip Lili.
__ADS_1
"Yang bener kalau ngomong?" protes Doni.
Lili terkekeh, "serius, Om? Kami dicetak berdasar atas perjanjian para orang tua, itu makanya bulan lahir kami berdekatan?" balas Lili.
Doni mengernyit, masih belum mengerti dengan perkataan Lili yang semakin absurd menurut Doni.
"Orang tua kami bersahabat, Om? Bahkan, Opa-opa kami dulu juga sahabatan? Jadi, persahabatan kami tuh, kayak turun temurun, gitu?" ucap Lili.
"Kalau opa Sanjay sih, udah paham banget dengan orang tua kami. Jadi papa tuh, berempat sama sahabat-sahabatnya dan mereka menamai gengnya 'geng tampan'. Ada papa, daddy Rehan, om Alex dan opa Alvian," terang Lili.
Doni mengangguk-angguk, baru mengerti setelah Lili menyebutkan nama-nama orang tua mereka. Karena dari papa Sanjaya, Doni juga sering mendengar nama-nama mereka disebut.
"Narsis juga, ya? Papa kamu, dulu?" ucap Doni sambil tersenyum.
"Yah begitulah, Om." balas Lili yang ikutan tersenyum.
Makanan yang dipesan Doni telah tersaji di atas meja, mereka berdua kemudian makan sambil bercerita banyak hal. Saling terbuka dan menceritakan pergaulan serta pertemanan, juga mengenai kesukaan dan ketidaksukaan mereka.
Berharap, agar ke depan tidak ada lagi perbedaan yang tidak mereka ketahui. Karena sejatinya, menjalin sebuah hubungan bukan untuk menyatukan perbedaan tetapi untuk saling memahami dan mengerti perbedaan yang ada.
Dua kepala dengan pemikiran yang berbeda, dua hati dengan ego masing-masing. Pastinya tidak akan pernah bisa disatukan tetapi dengan sama-sama belajar untuk menyatukan persepsi, maka keduanya akan bisa berjalan dengan beriringan.
"Buka mulutmu," titah Doni tiba-tiba, yang hendak menyuapi Lili dengan tangannya.
Dengan senang hati Lili membuka mulut dan menerima suapan pertama dari Doni.
"Li, papa video call!" seru Lila sambil berlari kecil menghampiri saudari kembarnya, yang diikuti oleh Mirza dan yang lain.
Lili buru-buru menelan makanan yang telah masuk kedalam mulutnya dan kemudian minum dengan cepat, "kita, terima telepon papa dimana enaknya, La?" tanya Lili panik.
Kelima remaja tersebut terdengar kasak-kusuk, untuk mencari aman agar kebohongan mereka tak diketahui oleh papanya Lila dan Lili.
Doni menggeleng-geleng kan kepala seraya tersenyum mendengar perdebatan kecil mereka.
"Udah, enggak usah bingung. Di sini aja, biar aku yang bicara sama papa kamu." ucap Doni dengan tegas, membuat mereka semua terkejut mendengarnya.
Lili menatap Doni untuk memastikan apa yang di dengarnya barusan, "Om Doni serius?" tanya Lili.
Doni mengangguk pasti. "Ya, aku serius, Lil."
Lili tersenyum lebar, "aah,,, Om, Lili makin cinta deh, sama Om Doni."
__ADS_1
tobe continue,,,