Om Doni, I Love You

Om Doni, I Love You
Permintaan yang Aneh


__ADS_3

Lili masih terus merajuk, mengharap pada sang papa agar memberikan restunya untuk Doni, pemuda dewasa yang telah membuat Lili jatuh cinta pada pandangan pertama.


Namun sepertinya usaha Lili, yang dibantu oleh saudari kembarnya dan juga sang mama, belum juga berhasil karena sang papa masih kekeuh dengan pendirian yang belum bisa menerima kenyataan bahwa pemuda dewasa seusia Doni lah yang datang meminang sang putri bungsu.


"Pa, masak hanya karena faktor usia, Om Doni enggak dikasih restu, sih?" protes Lili pada sang papa, sambil mengerucutkan bibir.


"Lili Sayang, ini bukan hanya sekedar faktor usia, Nak? Tetapi karena usia kalian terpautnya terlalu jauh?" Om Devan menatap sang putri dengan dalam, untuk meminta pengertian dari si bungsu tersebut.


"Asal kamu tahu, Nak .... " Perkataan om Devan menggantung di udara.


"Ah, Papa enggak asyik! Lili marah sama, Papa!" sergah Lili sambil berlari menaiki anak tangga untuk menuju ke kamarnya di lantai dua, setelah cukup lama merayu sang papa namun belum berhasil juga.


"Lah, orang marah kok ngomong?" Om Devan terkekeh pelan, melihat sikap putri bungsunya.


"Papa?" protes Lila dan sang mama bersamaan.


"Ma, Lila naik dulu, ya? Takut ada apa-apa sama, Lili," pamit Lila pada sang mama.


Tante Lusi mengangguk, "hibur adikmu ya, Kak. Urusan Papa, biar mama yang handle," titah tante Lusi.


Lila segera berlari menaiki anak tangga, mengejar saudari kembarnya yang sedang galau karena sang papa enggan memberikan restu untuk sang pujaan hati.


Om Devan mengernyitkan kening, "handle gimana, maksud Mama? Mama mau merayu papa, seperti bisanya?" goda om Devan seraya mengerling, sebab itulah kebiasaan tante Lusi jika meminta sesuatu, yaitu dengan merayu sang suami.


Maka setelah itu, bisa dipastikan om Devan akan menuruti semua keinginan istri tercinta.


Tante Lusi menggeleng, "enggak, mama enggak akan merayu Papa," balas tante Lusi.


"Lantas?" kejar om Devan.


"Mulai malam ini, mama akan tidur di kamar adik," jawab tante Lusi dengan santai, namun bagi om Devan hal itu merupakan sebuah ancaman besar.


"Enggak bisa gitu dong, Ma? Ini enggak adil buat papa? Ini 'kan masalah si adik, Ma ... kenapa malah papa yang kena imbasnya, sih?" protes om Devan.


"Papa sih enggak takut, kalau kehilangan saham ataupun kehilangan salah satu cabang perusahaan papa. Tetapi kalau kehilangan pelukan mama meski hanya semalam, papa enggak sanggup, Ma?" rayu om Devan.

__ADS_1


"Makanya Papa pikirin dulu, sebelum langsung memutuskan untuk menolak Doni?" balas tante Lusi seraya tersenyum senang, karena ancamannya pasti akan dipertimbangkan oleh sang suami.


Ya, semenjak mengenal istrinya itu, om Devan yang dulu terkenal sebagai playboy langsung berubah menjadi suami yang bucin. Dia menjadi pria yang sangat tergantung pada istri dan tak bisa sedetik saja jauh dari istri cantiknya itu.


"Ayo, kita temui mereka lagi!" ajak tante Lusi pada sang suami.


"Bentar, Mama?" Om Devan menarik tangan sang istri dan mendudukkan kembali istrinya itu tepat di atas pangkuan.


"Ih, Papa? Cari-cari kesempatan aja sih, sukanya?" protes tante Lusi yang ingin melepaskan diri.


"Papa kalau di ajak ngobrol dengan cara seperti ini, baru bisa mikir dengan jernih, Mama?" kilahnya, sambil tersenyum menggoda.


Tante Lusi cemberut, "Pala atas mungkin bisa berpikir dengan jernih, tapi bagaimana dengan pala bawah?" cecar tante Lusi, yang bisa merasakan pala bawah ayah dari ketiga anaknya mulai beraksi.


Om Devan terkekeh senang, "dia pun bisa berpikir jernih, Mama Sayang? Asal kamu yang menuntunnya untuk berpikir," balas om Devan yang semakin ngaco bicaranya.


"Udah, ah! Nanti mama tuntun, sekarang kita temui dulu mereka di depan!" Tante Lusi segera beranjak dari pangkuan sang suami.


"Tapi Papa harus janji, kalaupun belum bisa menerima Doni sekarang, Papa bisa kasih dia waktu untuk meyakinkan Papa. Jangan langsung di tolak, entar Papa nyesel kalau terjadi apa-apa sama adik!" ancam tante Lusi dan om Devan hanya bisa mengangguk.


"Iya, Sayang ... jangan marah-marah gitu, ah? Jadi pengin nyium?" goda om Devan sambil berjalan menuju ruang tamu, mengiringi langkah sang istri.


Papa Sanjaya yang tadinya ngobrol dengan sang putra langsung diam, setelah melihat tuan rumah sudah keluar kembali.


"Iya, Bu Lusi. Tidak mengapa," balas papa Sanjaya, "lantas, bagaimana dengan permintaan Putra saya tadi, yang ingin meminang putri bungsu Pak Devan dan Bu Lusi?" tanya papa Sanjaya kemudian, seraya menatap om Devan dan tante Lusi bergantian.


Om Devan menghela napas panjang, jujur dia masih sangat keberatan jika sang putri yang sangat disayanginya itu dipinang oleh pria dewasa seperti Doni. Namun, dia pun tidak dapat berkutik jika ternyata sang istri membela Lili dan kemudian mengancamnya.


Sementara Doni menunggu keputusan papa dari gadis belia yang dicintainya dengan berdebar-debar, 'apa benar firasat ku tadi? Kalau pak Devan tidak akan merestui kami?' batin Doni yang tidak berani menatap kearah om Devan.


Doni hanya berani sesekali menatap tante Lusi, yang selalu memberikan senyuman hangat jika pandangan mata mereka beradu.


"Maaf sebelumnya, Om San." Setelah beberapa saat hening, om Devan mulai membuka suara.


"Untuk saat ini, jujur saya belum bisa merestui Mas Doni dan putri saya, Lili," ucap om Devan pelan, namun bagi Doni serasa bagai runtuhan bukit batu yang menimpa kepala dan tubuhnya.

__ADS_1


Pening, itulah yang dirasakan Doni. Dada pemuda dewasa itu juga menjadi sesak, dan dia tiba-tiba mengalami kesulitan bernapas.


Berulangkali Doni menarik napas panjang dan kemudian mengeluarkan perlahan, berharap sesak di dadanya yang bagai dihimpit batu basar segera menghilang.


Doni bahkan sampai tidak bisa berpikir untuk menanyakan, kenapa papanya Lili tersebut belum bisa memberikan restu?


"Maaf, Pak Devan. Apakah ini ada hubungannya dengan usia Doni?" tanya papa Sanjaya dengan bijak, yang dapat memaklumi jika om Devan menolak Doni sebab alasan tersebut.


Om Devan terdiam, papanya Lili itu tak langsung menjawab karena khawatir jika akan menyinggung perasaan Doni. Karena sang istri tadi sudah mewanti-wanti, agar sang suami tidak berbicara hal yang kurang berkenan bagi Doni.


"Sebelumnya, saya mohon maaf, Om San." Kembali om Devan menghela napas panjang, "jujur, memang benar itu menjadi salah satu faktor .... " Om Devan menjeda sejenak ucapannya.


Tante Lusi terus menatap sang suami, dengan tatapan yang mengintimidasi.


"Aku akan turuti kemauan Mama, tapi setelah ini Mama juga harus menuruti keinginan papa," bisik om Devan tepat di telinga sang istri.


"Tante Lusi megerutkan kening dengan dalam, "menuruti apa?"


"Kita buat adik untuk Lili,' balas Om Devan masih dengan berbisik, seraya tersenyum menggoda.


"Ck ... " mama cantik itu berdecak, "permintaan yang aneh!" kesal tante Lusi, tapi wanita anggun itu mengangguk juga karena tak mau membuat tamu putrinya menunggu dalam ketidakpastian.


tobe continue,,,


🌷🌷🌷🌷🌷


Nitip i'Lan πŸ₯° mampir yah πŸ™πŸ™


Blurb.


β€œBuat apa kamu menikahi ku, Mas? Jika ternyata kamu sudah memiliki seorang kekasih?” isak Ana, seraya mengusap kasar air mata yang mengucur deras membasahi riasan di wajah ayunya.


Dinikahi oleh pria tampan dan mapan, nyatanya tak lantas membuat Ana hidup bahagia karena ternyata, Yoga menjerat hati dan menikahi Ana dengan terpaksa.


Cinta Yoga masih terbelenggu pada sang kekasih, yang kini lebih memilih meniti karir sebagai seorang model di Luar Negeri.

__ADS_1


Sanggupkah Ana bertahan, ketika kekasih Yoga telah kembali dan mereka secara terang-terangan menjalin hubungan mesra di depan mata Ana?


(only on. f1 zz 0)


__ADS_2