Om Doni, I Love You

Om Doni, I Love You
Mami Baru Seumuran Sama Cinta


__ADS_3

Hari bahagia yang ditunggu-tunggu oleh Lili dan Doni pun tiba. Lili yang dari semalam sudah menginap di hotel bintang lima milik Doni karena harus menjalani serangkaian perawatan, pagi ini bangun dalam keadaan yang segar bugar.


Rupanya, š˜µš˜³š˜¦š˜¢š˜µš˜®š˜¦š˜Æš˜µ yang diberikan oleh terapis kemarin benar-benar membawa manfaat yang luar biasa untuk tubuhnya. Mulai dari š˜§š˜¢š˜¤š˜Ŗš˜¢š˜­, š˜®š˜¢š˜“š˜“š˜¢š˜Øš˜¦ š˜±š˜­š˜¶š˜“ lulur, š˜¤š˜³š˜¦š˜¢š˜®š˜£š˜¢š˜µš˜©, š˜®š˜¦š˜Æš˜Ŗš˜¤š˜¶š˜³š˜¦, š˜±š˜¦š˜„š˜Ŗš˜¤š˜¶š˜³š˜¦ hingga gurah va*gina. Lili benar-benar merasa seperti terlahir kembali.


Tidak sia-sia Doni merogoh kocek mahal, karena pemuda matang itu juga yang nanti malam akan menikmati hasil š˜µš˜³š˜¦š˜¢š˜µš˜®š˜¦š˜Æš˜µ yang dilakukan oleh sang calon istri.


Sedangkan pagi ini, Lili masih harus menjalani perawatan wajah khusus untuk pengantin, agar nanti malam Lili terlihat š˜®š˜¢š˜Æš˜Øš˜­š˜Ŗš˜Æš˜Øš˜Ŗ.


Masker khusus kini sudah diaplikasikan ke wajah Lili, yang sedang berbaring di kasur yang empuk. Sementara telapak kaki Lili, dipijat oleh terapis khusus ahli refleksi yang membuat Lili marasa rileks.


Gadis centil itu sampai ketiduran, saking keenakan dipijat.


Sementara di dalam kamar š˜—š˜³š˜¦š˜“š˜Ŗš˜„š˜¦š˜Æš˜µš˜Ŗš˜¢š˜­ š˜šš˜¶š˜Ŗš˜µš˜¦š˜“, yang nantinya akan menjadi kamar pengantin, Doni tengah menjalani perawatan wajah dan rambut. Pemuda matang itu juga ingin terlihat segar di hadapan sang istri yang masih sangat belia nanti malam.


Doni juga sampai ketiduran, bahkan putra bungsu papa Sanjaya itu sampai tidak tahu ketika terapis meninggalkan kamar mewah yang Doni tempati.


Sementara keluarga besar Doni dan Keluarga besar Lili, beserta seluruh keluarga Alamsyah dan Antonia, tengah berkumpul di Ballroom hotel untuk sekadar beramah tamah.


Mereka semua nanti malam juga akan menginap di hotel milik keluarga Sanjaya tersebut, pihak manager hotel bahkan telah mengosongkan satu lantai š˜§š˜¶š˜­š˜­ dari kemarin, khusus untuk menyambut keluarga besar Doni dan Lili. Termasuk sahabat-sahabat lama Doni.


Doni dan Lili sama-sama terbangun ketika siang telah menjelang dan mereka berdua bertemu di š˜­š˜°š˜¶š˜Æš˜Øš˜¦, ketika acara makan siang bersama kedua keluarga besar.


Mereka berdua sengaja duduk berjauhan dan hanya saling melempar senyum, dari tempat duduk masing-masing.


Makan siang yang sangat meriah, yang diwarnai dengan canda tawa anak-anak dan obrolan hangat para orang tua.


Geng tampan bersaudara termasuk om Ilham dan ayah Yusuf, dengan segala kekonyolannya, membuat suasana makan siang menjadi hangat.


Kekompakan geng TTM beserta Zaki, menambah meriah tempat tersebut. Belum lagi, Malik dan para sahabat, serta Mirza dan geng-nya, membuat acara makan siang itu semakin gaduh.


Kehadiran Seruni dan sahabat Doni yang lain, yang menjadi pusat perhatian semua orang, juga menambah meriah acara makan siang tersebut.


Kekonyolan Dewa, satu-satunya laki-laki di geng sahabat Doni setelah Doni hijrah ke Jakarta, membuat semua yang berada di sana tertawa dan melihat kearah Doni.


Ya, Dewa meledek Doni habis-habisan di depan calon istri dan keluarga besarnya. Sementara Doni hanya tersenyum dikulum seraya menatap Seruni, yang sedang menyuapi baby Cinta Donita.

__ADS_1


Sementara Lili pun ikut tertawa karena Doni sudah pernah menceritakan semua tentang masa lalunya, pada calon istrinya itu. Semuanya tanpa terkecuali, termasuk peran Doni saat menemani Seruni melahirkan.


Lili juga tengah menatap Seruni dengan tersenyum bangga, 'pantas saja, Om Doni susah move on. Tante Uun cantik gitu, lembut dan anggun pula,' batin Lili.


'Tapi itu artinya, Lili lebih mempesona di mata Om Doni. Kalau tidak, pasti Om Doni tidak akan mau sama Lili,' lanjutnya penuh percaya diri.


Acara makan siang yang penuh warna itu pun usai, semua kembali pada aktivitas masing-masing.


Ada yang menuju Ballroom hotel untuk membantu menyiapkan segala sesuatunya untuk acara nanti malam, ada juga yang langsung menuju kamar untuk beristirahat, termasuk Lili yang kembali kedalam kamarnya bersama Lila.


Sementara Doni memilih mendekati sahabat-sahabatnya yang sudah datang sejak semalam, tetapi Doni baru sempat menyapa dan belum ngobrol banyak.


"Sini, sama papi," Doni mengulurkan tangan kearah baby Cinta dan bayi berusia tujuh bulan itu langsung merespon ajakan Doni.


Doni kemudian memangku baby Cinta sambil menimang-nimang putri bungsu Seruni tersebut.


"Istri kecil kamu memangnya enggak marah, kamu dipanggil papi sama Cinta?" tanya Tiwi khawatir.


Doni menggeleng, "santai saja, Kak. Lili sudah tahu semuanya, kok," balas Doni.


"Doni 'kan enggak nyari, Rin? Tuh cewek yang nyamperin Doni?" balas Nila.


"Kamu kayak ande-ande lumut berarti ya, Don?" timpal Vina, yang disambut tawa oleh sahabat-sahabatnya.


"Iya, kamu benar Vin. Hilang Ande-nya tinggal lumut-nya. Doni 'kan perjaka tua, sampai lumutan dia!" ledek Dewa masih dengan tawanya.


"Sialan kamu, Wa. Jago banget kalau ngeledek?" protes Doni, yang kemudian ikut tertawa.


"Un, kok dari tadi diam aja?" tanya Doni, yang melihat Seruni sedari tadi hanya tersenyum tanpa mengeluarkan suara.


"Nyesel kali dia, kamu dah laku?" sahut Rindi, yang suka ceplas-ceplos.


"Memangnya Om Doni dagangan? Laku!" protes Tiwi, yang membela adik sepupunya.


"Bukan dagangan emang, tapi obralan," sahut Dewa yang kembali meledek Doni, membuat semua kembali tertawa.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih, Wa? Sentimen banget sama aku?" gerutu Doni, pura-pura ngambek.


"Runi tuh saking senangnya, Don. Lihat kamu akhirnya bisa menemukan seseorang yang mengisi kekosongan hatimu," ucap Nila, mewakili Seruni, "makanya dia sampai enggak bisa berkata-kata," lanjut Nila.


"Iya, benar. Kemarin aja sepanjang jalan, Runi nangis melulu. Dia terharu banget, dapat undangan dari kamu," timpal Vina.


Doni menatap Seruni, "bener, Un?" tanya Doni tak percaya.


Seruni mengangguk, "Iya, benar. Aku ikut bahagia, Don." balas Seruni dengan mengulas senyuman manis.


Doni pun tersenyum dan terus menatap Seruni, "sayangnya, ini di tempat umum, Un. Kalau tidak, aku pasti sudah memelukmu," ucap Doni.


"Ingat, udah punya calon istri! Jangan modus terus sama Runi!" seru Dewa.


"Siapa yang modus?" elak Doni.


"Tuh, barusan! Pengin peluk!"


"Yah, 'kan pelukan adik-kakak?" protes Doni.


"Enggak ada ya, istilah adik-kakak yang benar-benar tulus dalam pertemanan laki perempuan! Pasti salah satu baper!" sahut Rindi.


"Kayak kamu sama Dewa, ya? Awalnya adik-kakak, adik-kakak ... endingnya, jadian?" olok Vina.


"Udah putus, udah lama! Jangan di inget-inget!" balas Rindi, "dia udah nemu adik-adikan baru dan lanjut nikah," sambungnya.


"Yah, sama 'kan? Kamu juga nemu kakak-kakakan baru dan nikah?" sahut Dewa tak mau kalah.


"Udah, udah! Malah saling olok?" Tiwi menengahi kedua sahabatnya itu.


Tiba-tiba Cinta merengek, "eh, anak papi kenapa nangis, sayang?" Doni menimang-nimang baby Cinta kembali, dengan penuh kasih.


"Cinta tahu tuh, kalau papinya mau punya istri baru. Makanya dia enggak rela dan nangis, apalagi mami barunya seumuran sama Cinta!" celoteh Dewa, yang disambut tawa oleh sahabat-sahabatnya.


tobe continue,,,

__ADS_1


__ADS_2