Om Doni, I Love You

Om Doni, I Love You
Kencan Sama Om Doni


__ADS_3

Setelah menerima panggilan telepon dari Lili melalui sambungan telepon kantor, Doni langsung berkemas karena hari ini pemuda matang itu sedang tidak bisa fokus dengan pekerjaannya.


Doni berencana pergi ke suatu tempat, untuk menyegarkan hati dan pikiran. Baru saja Doni hendak beranjak, ponsel didalam sakunya bergetar pertanda ada panggilan masuk.


Bos Muda SANJAYA GROUP itu langsung memeriksa ponsel, bibir Doni mengulas senyum kala melihat nama 'Bocah Ingusan' muncul di layar ponsel miliknya yang berlogo buah bekas gigitan serangga. "Dia beneran 𝘝π˜ͺπ˜₯𝘀𝘒𝘭𝘭?" gumam Doni.


Doni membetulkan duduk dan bersandar dengan nyaman di kursi kebesarannya, pemuda matang itu kemudian menerima panggilan video dari gadis belia yang beberapa minggu ini selalu berkunjung ke kantor.


Putra bungsu papa Sanjaya tersebut kembali memasang wajah serius, "ada apa lagi?" tanya Doni, begitu wajah ceria Lili nampak memenuhi layar ponselnya.


Lili mengerucutkan bibir, "Om Doni kok gitu? Seharian ini 'kan kita enggak ketemu, Om? Bilang kangen atau rindu, gitu?"


"Ck,,," Doni berdecak, "aku bukan ABG seperti kamu?" balas Doni sedikit ketus.


Lili tersenyum mendengar jawaban Doni dan justru sikap Doni yang dingin itu, membuat putri kesayangan om Devan tersebut semakin penasaran pada Doni. "Iya, Om Doni sayang .... Lili tahu, Om Doni bukan ABG. Itu sebabnya, Lili memilih Om diantara ribuan cowok di luar sana yang ngejar-ngejar Lili," balas Lili penuh percaya diri, tentu saja dengan gayanya yang centil.


Doni tersenyum sinis.


"Beneran, Om? Dengerin ya? Demi Om Doni nih, Lili rela mutusin tiga pacar Lili. Padahal, mereka 𝘀𝘢𝘡𝘦 loh, Om." lanjut Lili, yang membuat Doni mengernyitkan kening.


"Kamu 𝘱𝘭𝘒𝘺𝘦𝘳?" tanya Doni.


Lili terkekeh menampakkan deretan giginya yang rapi dan putih bersih, menambah kecantikan gadis belia itu. "Enggak, Om. Cuma tiga kok, biasanya lebih. Kemarin karena menjelang ujian nasional dan ujian masuk Perguruan Tinggi aja, jadinya Lili putusin sebagian," balas Lili tanpa dosa.


Doni semakin mengernyit dalam, "kamu ini perempuan, loh? Enggak takut apa, kalau kamu cuma dimanfaatkan?" selidik Doni, yang mulai khawatir dengan pergaulan gadis belia yang wajahnya memenuhi layar ponsel Doni.


Lili semakin terkekeh, tawanya terdengar merdu di telinga Doni. "Ya enggak mungkin lah, Om. Bukan Lili yang dimanfaatin, tapi mereka yang Lili manfaatin," balas Lili masih dengan tawanya.


Doni geleng-geleng kepala, "parah kamu, Li," lirih Doni.


Lili menghentikan tawanya, gadis belia itu mengernyitkan kening. "Om Doni barusan bilang apa?" tanya Lili.


Doni menggeleng, "enggak ada," balas Doni datar, sambil menatap wajah cantik di layar ponselnya sekilas dan kemudian buru-buru membuang pandangan kearah lain.


Sesungguhnya netra Doni enggan beralih ke tempat lain, namun pemuda matang itu masih bimbang dengan hatinya. Doni juga tidak mau, jika Lili mengetahui bahwa dirinya memperhatikan saudari kembar Lila tersebut.


"Tapi Om Doni jangan khawatir, Lili sama mereka semua enggak benar-benar serius kok. π˜‘π˜Άπ˜΄π˜΅ 𝘩𝘒𝘷𝘦 𝘧𝘢𝘯, 𝘭𝘒𝘩. Berbeda kalau sama Om, Lili bener-bener sayang lho sama Om Doni," terang Lili dengan sejujurnya, seraya menatap Doni dengan tatapan penuh cinta.

__ADS_1


Jantung Doni berdesir mendapat tatapan seperti itu dari Lili, karena jauh di dasar hatinya pemuda itu pun sebenarnya telah memiliki rasa pada gadis belia tersebut.


"Ehm,,," Doni berdeham untuk menetralkan debaran jantungnya, debaran yang sama yang pernah dia rasakan ketika berdekatan dengan Seruni kala itu. "Pinter gombal ya, kamu," ucap Doni masih dengan wajah datarnya.


"Sudah ya, aku mau pulang. Aku tutup teleponnya," lanjut Doni yang ingin segera mengakhiri panggilan video tersebut karena bertatap muka seperti ini dengan Lili, membuat jantung Doni berlompatan.


"Jangan dulu, Om?" cegah Lili, "Om Doni 'kan belum bilang sayang, kangen atau rindu gitu sama Lili?" rajuk Lili dengan mengerucutkan bibir merahnya yang menggoda, membuat Doni menghela nafas panjang.


"Beneran, Om Doni mau pulang?" tanya Lili.


Doni mengangguk, "tadinya mau ke suatu tempat sekedar untuk 𝘳𝘦𝘧𝘳𝘦𝘴𝘩π˜ͺ𝘯𝘨 gitu, tapi sekarang aku berubah pikiran," balas Doni dengan jujur.


"Kenapa enggak jadi, Om? Jadi aja, Om. Lili tahu kok tempat yang asyik untuk 𝘳𝘦𝘧𝘳𝘦𝘴𝘩π˜ͺ𝘯𝘨, nanti Lili antar deh ke sananya?" Lili memainkan kedua alisnya, turun-naik.


"Bukannya tadi kamu bilang, kalau lagi dipingit ya? Memangnya, kamu sudah mau menikah? Bukankah kamu baru masuk kuliah? Kok udah mau nikah aja?" cecar Doni tanpa sadar, yang mengorek tentang Lili.


"Iya, Om. Lili dipingit enggak boleh ketemu sama calon suami di kantornya tapi kalau di tempat lain, boleh-boleh aja kok. Boleh banget malah," balas Lili yang tak pernah bisa serius tersebut.


"Kenapa bisa begitu?" tanya Doni serius.


Perkataan Lili barusan membuat Doni sedikit lega karena itu artinya, gadis belia yang wajahnya nampak menggemaskan di layar ponsel yang tak bisa Doni sentuh itu, ternyata tidak benar-benar dipingit seperti yang Doni pikirkan semenjak tadi.


"Gimana, Om? Jadi 𝘳𝘦𝘧𝘳𝘦𝘴𝘩π˜ͺ𝘯𝘨, kan?" kejar Lili sesaat kemudian, yang membuyarkan lamunan Doni.


"Boleh deh, kirimkan saja alamatnya. Aku bisa ke sana sendiri," pinta Doni.


"Enggak bisa begitu, Om! Harus sama Lili, biar asyik!"


"Kamu 'kan enggak diperbolehkan bertemu dengan aku? Bagaimana caranya, kamu akan keluar?" tanya Doni yang sedikit khawatir, kenapa om Devan melarang putri bungsunya bertemu dengan dirinya.


Pemuda itu mulai khawatir, jika dia benar-benar serius dengan Lili, mungkinkah cinta mereka nanti akan terhalang restu orang tua? Seperti kisah cinta Doni di masa lalu, yang berakhir menyedihkan?


"Nanti Lili pikirin caranya, kalau Om Doni mau ke sana dulu silahkan. Habis ini, Lili akan kirimkan alamatnya," terang Lili.


"Oke, Om. 𝘚𝘦𝘦 𝘺𝘰𝘢, 𝘴𝘰𝘰𝘯," pungkas Lili mengakhiri panggilan videonya bersama Doni, seraya memberikan 𝘬π˜ͺ𝘴𝘴 𝘣𝘺𝘦 pada Doni.


Doni tersenyum dan senyumnya semakin lebar, seiring menghilangnya wajah Lili dari layar ponsel.

__ADS_1


&&&&&


Di dalam kamar Lila, setelah menutup panggilan videonya bersama Doni dan mengirimkan alamat tempat 𝘳𝘦𝘧𝘳𝘦𝘴𝘩π˜ͺ𝘯𝘨 seperti yang dia katakan pada Doni tadi, putri bungsu om Devan tersebut kemudian mendekati Lila yang sedang tidur.


"La, bangun. Bantuin aku, dong? Please ...." Lili menggoyang-goyang tubuh saudarinya yang sedang lelap itu.


Lila menggeliat, "ada apa sih, Li? Ganggu aja deh, kamu?" protes Lila.


"Aku mau ke Danau resto yang ada di Jakarta utara, tolong bantu cariin alasan untuk pamit sama papa dan mama, please?" pinta Lili.


Lila membulatkan matanya, kantuk saudari kembar Lili itu langsung menghilang. "Mau ngapain, La? Itu 'kan tempatnya jauh?"


"Aku mau kencan, sama Om Doni," balas Lili sambil tersenyum bahagia, Lili merasa bahwa selangkah lagi keinginannya untuk bisa jalan berdua dengan laki-laki dewasa yang telah mencuri hatinya itu akan segera terwujud.


"Jangan gila kamu, Li! Tadi aja papa jemput kita karena papa enggak ngijinin kamu ngapelin om Doni! Lah sekarang, kamu malah nekat mau kencan!" seru Lila yang nampak khawatir.


"Makanya aku minta bantuan sama kamu, Li? Mau ya, bantu? Please?" Lili menangkup kedua tangannya di depan dada.


"Ck,,," Lila berdecak, "nyusahin aja sih?" gerutu Lila, sambil mengambil ponselnya yang tergeletak di atas kasur.


"Kok, kamu malah mau main ponsel?" Kening Lili mengkerut.


"Mau telepon Mirza sama bang Attar, agar ikut bantuin kamu," balas Lila, dan saudari kembar Lili itu kemudian menelepon sahabat-sahabatnya di group chat.


Mirza langsung merespon panggilan tersebut, yang segera disusul oleh Attar dan Nezia.


Seperti biasa, setelah saling berbasa-basi sebentar, Lila kemudian menceritakan pada sahabat-sahabatnya, apa yang sedang di alami oleh Lili saat ini.


Mirza dan Attar nampak mendengarkan dengan seksama, begitu pun dengan Nezia.


"Gimana, Za, menurut kamu? Bisa bantu, 'kan?" tanya Lila.


Sejenak hening menyapa, tak ada obrolan diantara mereka berlima. Mereka hanya saling tatap melalui layar ponsel masing-masing.


"𝘠𝘦𝘴, 𝘐 𝘩𝘒𝘷𝘦 𝘒 𝘨𝘰𝘰π˜₯ 𝘐π˜₯𝘦𝘒," ucap Mirza mengurai keheningan.


tobe continue,,,

__ADS_1


__ADS_2