Om Doni, I Love You

Om Doni, I Love You
Bos Selalu Tahu


__ADS_3

"Selamat datang Pak Alvian, Pak Rehan, Pak Alex," sambut Doni dengan ramah seraya menjabat tangan rekan-rekan bisnis sang papa, yang sekarang juga menjadi rekan bisnisnya itu secara bergantian.


"Ini benar-benar satu kehormatan untuk saya," ucap Doni, "mari silahkan duduk," lanjut Doni mempersilahkan tamu-tamu istimewanya tersebut.


"Biasa saja, Mas Doni. Kalau lagi diluar gini, jangan terlalu formal. Panggil saja kami, Om," balas opa Alvian dengan bijak seperti biasanya, sesaat setelah duduk.


Daddy Rehan dan om Alex mengangguk, membenarkan perkataan opa Alvian.


Doni tersenyum lebar, "wah, terimakasih jika saya diperkenankan memanggil dengan sebutan Om," ucap Doni dengan senang hati.


"Mau minum apa, Om?" tanya Doni yang sudah memberikan kode pada seorang 𝘸𝘒π˜ͺ𝘡𝘦𝘳 agar mendekat.


"Cappucino saja, Mas Doni. Yang lain disamakan saja, nanti kalau ditanya banyak maunya mereka berdua," balas opa Alvian yang mewakili kedua keponakannya, sambil tersenyum.


Setelah mendengar permintaan tamu bosnya, 𝘸𝘒π˜ͺ𝘡𝘦𝘳 tersebut segera berlalu untuk menyiapkan minuman yang telah dipesan, yaitu Cappucino terbaik di cafe resto milik Doni.


Om Alex mencebik, "dia nih, yang suka banyak maunya. Kalau gue sih, enggak," sahut om Alex, menunjuk daddy Rehan.


"Ck ... " daddy Rehan hanya berdecak.


"Ngomong-ngomong, ada apa nih, Mas Doni. Kok kayaknya sangat 𝘢𝘳𝘨𝘦𝘯𝘡?" tanya opa Alvian.


Doni tersenyum dan sedikit salah tingkah, "maaf, Om, jika saya meminta waktunya," Doni mulai membuka suara.


"Om mungkin sedikit banyak sudah tahu mengenai hubungan saya dengan putrinya pak Devan?" Doni menghentikan ucapannya dan menatap ketiga sahabat papanya Lili, secara bergantian.


"Oh, si centil yang nembak Mas Doni malam itu? Memangnya, kalian sudah jadian?" tanya om Alex yang langsung pada intinya.


"Bagus dong, kalau benar sudah jadian. Jadi, si centil 'kan ada yang jagain?" sahut opa Alvian seraya menatap Doni karena pemuda di depannya hanya tersenyum dan belum menjawab pertanyaan om Alex.


"Dan si Kutu enggak perlu jadi botak karena mikirin bungsunya, hahaha .... " timpal daddy Rehan yang tergelak, mengingat sahabatnya yang satu itu ketika curhat tentang Lili yang sering membuat om Devan pusing tujuh keliling.


Opa Alvian dan om Alex ikut tergelak, sedangkan Doni mengernyitkan dahi karena tidak mengerti apa-apa.


"Dan Lu, Rey, yang bentar lagi botak karena mikirin si Mirza!" olok om Alex, karena Mirza juga sering membuat ulah.


"Sialan Lu, Lex! Mirza keponakan Lu juga kali? Kalau gue pusing, Lu juga harus ikut pusing!"


"Lex, ingat! Ngalah .... " Opa Alvian mengingatkan seraya terkekeh.


"Iya, iya. Bos selalu benar," balas om Alex dengan sewot.


"Nah tuh, Lu pinter. Habis dikasih makan apa, Lu, sama si Nisa?" ledek daddy Rehan.

__ADS_1


"Oseng kangkung sama tempe gembus, makanya otak gue jadi kebablasan cerdasnya," balas om Alex dengan asal, hingga membuat opa Alvian dan daddy Rehan kembali tergelak. Om Alex pun akhirnya ikut tertawa.


Doni tersenyum, dalam hati dia berguman, "apa pak Devan juga seperti ini, ya? Santai dan kocak?" Doni menatap mereka bertiga bergantian.


"Jangan bingung, Mas Doni. Kami kalau sedang ngumpul, ya seperti ini? Apalagi papanya si centil, paling 𝘒𝘣𝘴𝘢𝘳π˜₯ dia," terang opa Alvian yang mengerti kebingungan Doni.


Doni mengangguk, "persahabatan yang menyenangkan ya, Om?" ucap Doni. Pemuda matang itu tiba-tiba teringat akan sahabat-sahabatnya yang juga kompak dan kocak.


Daddy Rehan tersenyum, "jadi, kapan Mas Doni mau melamar Lili?" tanya daddy Rehan, yang membuat terkejut kedua sahabatnya termasuk Doni.


"Kenapa terkejut gitu, Bang? Lex? Biasa aja kali? Kalian lupa, bos pasti tahu dan bos selalu di depan?" Daddy Rehan tersenyum seringai menatap kedua sahabatnya bergantian.


"Ck ... kayak iklan motor aja, selalu di depan!" sahut om Alex seraya mencibir.


"Lu tahu darimana, Rey?" tanya opa Alvian.


"Mirza yang semalam cerita, mereka habis nonton bareng," balas daddy Rehan.


Doni tersenyum malu, "iya benar, Om. Kami sudah jadian dan rencana nanti malam, saya dan papa akan bersilaturahim ke kediaman pak Devan sekaligus untuk meminta restu," terang Doni.


"Bagus, memang harus 𝘨𝘦𝘯𝘡𝘭𝘦 dan lebih cepat lebih baik," ucap opa Alvian.


"Hallah ... siapa bilang, lebih cepat lebih baik? Tante Susan pasti ngamuk 'kan, kalau abang mainnya cepat?" sahut om Alex, yang mendapat hadiah lemparan gulungan tissue dari opa Alvian.


"Tahu nih, si Alex. Mesum aja otaknya," timpal daddy Rehan.


"Terus Mas Doni minta kita ketemu, untuk?" Opa Alvian kembali menatap Doni.


"Maaf, Om. Saya pengin meminta nasehat dari Om-om semua, bagaimana menghadapi pak Devan nanti karena jujur saya belum pernah bersinggungan langsung dengan beliau?" tanya Doni.


"Kalau sama Om Vian 'kan sudah pernah ya, Om? Meski baru sekali. Sama Om Alex juga pernah sekali, cuma sama Om Rehan belum pernah," lanjut Doni.


Daddy Rehan manggut-manggut, "maaf, waktu itu saya tidak bisa datang karena harus terbang ke Singapura, papa saya lagi sakit," terang daddy Rehan.


"Iya, Om. Tidak apa-apa, sudah diwakili juga sama mas Malik," balas Doni.


"Devan itu orangnya santai, apalagi kalau sudah paham dengan karakter lawan bicaranya. Dia memang ceplas-ceplos tapi itu hanya sekadar candaan semata, jadi Mas Doni jangan kaget nantinya kalau Devan bicaranya kelewatan," pesan daddy Rehan dengan bijak.


"Kalau Om pribadi sih yakin, ya. Mas Doni pasti bakal direstui, tapi mungkin akan rada alot untuk mendapatkan restunya. Mengingat usia Lili yang masih terlalu muda dan masih labil." Opa Alvian menatap Doni.


Doni mengangguk mengerti, itu juga yang menjadi kekhawatiran Doni beberapa hari ini.


"Yang jelas, Devan itu bakalan kasih restu jika memang putrinya sudah benar-benar cinta. Masalahnya saat ini si Lili 'kan masih labil, bisa enggak dia meyakinkan papanya kalau dia enggak cuma iseng menjalin hubungan sama Mas Doni?" timpal om Alex yang malah membuat Doni menjadi ragu.

__ADS_1


"Lu, Lex. Malah menjatuhkan mental Mas Doni!" protes opa Alvian.


"Gue cuma menyampaikan yang sejujurnya, Bang?" Om Alex membela diri.


"Kata Mirza, Lili serius kok. Dia enggak main-main dengan perasaannya, buktinya mereka sampai bela-belain loh bohongin Devan cuma buat bantuin si Lili kencan." terang daddy Rehan.


"Kapan?" tanya om Alex dan opa Alvian bersamaan.


"Kemarin sore," balas daddy Rehan, "Attar sama Nezia pulang malam 'kan?"


Kedua orang tua Attar dan Nezia itu mengangguk bersamaan.


"Aku pikir, mereka nonton berlima seperti biasa?" Om Alex mengernyit, "ternyata, ngantar Lili kencan?"


"Bertujuh," sahut daddy Rehan cepat.


"Yang satu siapa? Mas Doni ngajak teman?" tanya opa Alvian.


Doni juga mengerutkan kening, tidak mengerti siapa yang dimaksudkan daddy Rehan.


Sementara daddy Rehan tersenyum dikulum, karena semalam mendengar cerita dari sang putra yang ternyata disuruh sang daddy untuk memata-matai Lili dan Doni.


Meski kemarin sore daddy Rehan ikut andil dalam membohongi om Devan, bahwa si kembar akan diajak jalan sama Mirza dan saudara-saudaranya tetapi daddy Rehan tetap menjaga keselamatan putri om Devan tersebut melalui Mirza.


Dari situlah daddy Rehan tahu, bahwa Lili dan Doni sudah jadian. Daddy Rehan juga tahu, Doni menyatakan cinta dengan sebuah kecupan. Dan ketika didalam gedung bioskop, tanpa sepengetahuan Doni, Mirza pindah tempat duduk sejajar dengan Doni dan Lili, hanya agar bisa melihat apa yang mereka berdua lakukan.


Sepanjang film diputar, netra Mirza terus mengawasi gerak-gerik si centil yang meresahkan hati Mirza. Sebagai sahabat bahkan persahabatan mereka sudah seperti saudara, Mirza khawatir si Lili akan dimanfaatkan oleh laki-laki yang dekat dengannya karena putri bungsu om Devan tersebut terlalu agresif.


Mirza baru bisa bernapas dengan lega, ketika mendengar Doni mengajak Lili untuk menunggu di luar dan mengatakan bahwa di dalam banyak setan.


"Tanya saja sama Mas Doni, siapa yang satu lagi?" balas daddy Rehan masih dengan senyuman.


"Ck ... jangan main teka-teki lah, Rey. Mas Doni saja enggak tahu gitu, kok?" protes opa Alvian yang penasaran.


"Iya nih, anak-anak kita 'kan biasanya berlima? Kalau sama Mas Doni, jadi berenam?" timpal om Alex.


"Kalau ada orang duduk berduaan di pojokan dalam keremangan cahaya, kira-kira ada yang suka ngikut enggak?" sindir daddy Rehan seraya melirik Doni.


"Setan?" Om Alex dan opa Alvian kompak menyebutkan nama sosok pengganggu seraya menatap Doni penuh selidik.


Doni terkejut dan tertunduk malu, karena ternyata kencannya diketahui secara detail oleh daddy Rehan. "Assem, kok Om Rehan bisa tahu, ya? Ya, ya. Om Rehan benar, bos selalu tahu," bisik nya dalam hati.


tobe continue,,,

__ADS_1


__ADS_2