Om Doni, I Love You

Om Doni, I Love You
Dokter Cinta


__ADS_3

Mulai hari itu juga, Lili dan Doni tak lagi menjalin komunikasi. Mereka berdua patuh pada titah om Devan demi restu yang telah mereka dapatkan.


Doni yang tetap aktif menjadi asisten sang calon mertua dan meskipun hampir setiap hari menjemput dan mengantarkan papanya Lili tersebut, tetapi Doni tidak mencuri-curi kesempatan untuk bertemu dengan Lili.


Begitu pula dengan Lili, gadis centil itupun menuruti nasehat sang mama kala Lili merajuk meminta sang papa untuk membatalkan syarat yang diberikan.


"Adik, maksud papa itu baik loh. Agar nanti saat kalian menikah, kalian memiliki rasa rindu yang mendalam. Sehingga pertemuan Adik dan Mas Doni di pelaminan, akan terasa sangat berkesan." Nasehat sang mama pagi itu.


Meskipun Lili hafal kapan sang papa pulang, dengan sekuat hati Lili memendam rindunya dan menahan diri untuk tidak menemui ataupun sekadar mengintip Doni.


Seperti malam ini, Doni mengantarkan om Devan yang pulang agak terlambat karena ada undangan š˜„š˜Ŗš˜Æš˜Æš˜¦š˜³ dari rekan bisnisnya. Lili yang baru saja selesai makan malam yang terlambat dengan ditemani sang mama karena sejak sore tadi Lili merasa pusing dan awalnya enggan untuk makan, buru-buru berlari naik ke lantai atas demi untuk menghindari Doni.


Sang papa yang sempat melihat sekelebat Lili berlari, mengernyitkan kening. "Adik kenapa, Ma?" tanya om Devan pada sang istri yang menyambutnya di ruang keluarga.


"Tadi baru selesai makan malam, terus buru-buru mau mengerjakan tugas katanya," balas tante Lusi berbohong karena ada Doni di sana.


"Duduk dulu, Mas Doni," titah tante Lusi, yang dijawab Doni dengan anggukan kepala.


"Adik jam segini kok baru makan, Ma?" tanya om Devan seraya melihat jam di pergelangan tangan kanannya, waktu telah menunjukkan jam sembilan lewat.


"Iya, Pa. Tadinya, adik tidak mau makan karena dari tadi sore ngeluh kepalanya pusing. Mama paksa, terus mau makan dia meskipun hanya sedikit," terang tante Lusi.


"Lili sakit, Ma?" tanya Doni yang nampak khawatir, "apa sudah dipanggilkan dokter, Ma?" lanjut Doni bertanya.


Tante Lusi menggeleng, "Lili itu malas kalau berurusan sama dokter, Mas Doni. Dia paling tidak suka kalau disuruh minum obat," jelasnya.


"Papa keatas dulu ya, Ma. Mau lihat adik," ucap om Devan yang juga nampak khawatir mendengar sang putri kesayangan sakit.


"Iya, Pa." balas mama Lusi.


Sementara Doni hanya bisa menghela napas berat, seraya berdo'a dalam hati agar Lili segera diberikan kesembuhan. 'Andai kita bisa bertemu ya, Li. Aku pasti akan memijat kepalamu, agar berkurang pusingnya,' batin Doni.


"Mama buatkan kopi dulu ya, Mas Doni," tawar tante Lusi seraya beranjak.


"Tidak perlu repot-repot, Ma. Bentar lagi, Doni juga pulang. Mau nunggu papa sebentar, katanya ada yang mau dibicarakan," cegah Doni.


"Tidak apa-apa, Mas Doni. Papa mungkin akan lama di atas, biasanya kalau sakit Lili suka manja sama Papa," terang tante Lusi. Mamanya Lili itu kemudian segera berlalu menuju dapur, untuk membuat kopi.


Doni yang duduk sendirian di ruang keluarga yang luas tersebut nampak gelisah, pemuda matang itu berdiri dan kemudian berjalan mondar-mandir sambil mengusap kasar wajah dengan kasar.


'Kamu pusing kenapa sih, Li? Apa kamu enggak menjaga pola makan dengan baik? Atau, kamu juga kurang tidur seperti aku, yang setiap malam ingat kamu terus?' Doni bermonolog dalam diam.


Terdengar derap langkah kaki menuruni anak tangga dengan tergesa, "Mas Doni, mama mana?" tanya om Devan.


"Ada apa, Pa? Mama bikin kopi nih, buat Papa dan Mas Doni." Tante Lusi yang baru dari dapur, kemudian menyimpan dua cangkir kopi di atas meja.


"Lili badannya demam, Ma. Mama ambil kompres, gih," titah om Devan yang nampak sangat khawatir.


"Lili demam, Pa?" tanya Doni panik.


Om Devan hanya mampu mengangguk.


"Papa tunggu di atas ya, Ma," ucap om Devan.


"Ayo, Mas Doni!" ajak om Devan, yang kembali naik ke lantai atas.


Doni tak langsung naik, pemuda tampan itu terlihat bingung. 'Benarkah yang aku dengar? Papa Devan mengajak aku naik ke atas?' batin Doni bertanya-tanya.

__ADS_1


"Ayo, Mas Doni!" ulang om Devan, karena Doni tak juga menyusulnya.


"I-iya, Pa," balas Doni gugup dan segera menyusul sang calon mertua.


Om Devan menuju ke kamar Lili yang diikuti oleh Doni, seketika Doni tertegun melihat Lili yang meringkuk di dalam selimut tebal. Badan gadis itu menggigil seperti kedinginan dan bibir Lili bergetar.


Sang papa yang langsung mendekat, menyentuh pelan kening Lili seraya lirih berkata, "panas sekali, Dik. Papa panggilkan dokter, ya?"


Lili menggeleng lemah.


"Pa, maaf. Boleh saya mendekati Lili?" pinta Doni penuh harap.


Nampak om Devan menghela napas panjang, sedetik kemudian mengangguk. Papanya Lili itu kemudian memberikan ruang kepada Doni untuk mendekati sang putri.


Dani duduk di tepi pembaringan dan menatap Lili yang tengah membuka sedikit matanya, dengan penuh kasih. Lili terlihat memaksakan diri untuk tersenyum, melihat keberadaan Doni disisinya.


Doni memberanikan diri menyentuh kening Lili, seperti apa yang dilakukan om Devan tadi. "Sayang, mau ya di periksa sama dokter?" bujuk Doni dengan lembut.


Kembali Lili menggeleng.


"Badan kamu panas sekali, Lil? Kami semua takut, kamu kenapa-napa? Mau ya, Sayang?" bujuk Doni kembali.


"Benar apa kata Mas Doni, Nak. Papa khawatir kamu kenapa-napa," timpal om Devan yang berdiri di samping Doni.


"Dokternya 'kan udah disini, Pa," balas Lili lemah, seraya menatap Doni dengan penuh cinta.


Om Devan mengernyit.


"Lili enggak butuh dokter lain, Pa. Lili hanya butuh dokter cinta karena Lili sakit mala rindu tropi kangen," lanjut Lili seraya terkekeh pelan.


Doni tertawa tanpa bersuara, "ada-ada aja kamu, Lil," ucap Doni.


"Sayang, mama kompres dulu, ya?" Sang mama yang baru datang sambil membawa baskom berisi air hangat dan handuk kecil, mendekati ranjang Lili.


Doni langsung berdiri, untuk memberikan tempat pada calon ibu mertuanya.


"Ma, biar dokternya saja yang kompres Adik," tutur om Devan.


Doni dan Lili saling pandang, sementara tante Lusi mengernyitkan kening.


"Papa sudah telepon dokter keluarga?" tanya tante Lusi.


Om Devan menggeleng.


"Putri kita hanya butuh dokter cinta," balas om Devan seraya menunjuk Doni dengan dagunya.


"Oh, alah ... iya, iya. Ini Mas Doni, silahkan." Tante Lusi mengangsurkan handuk kecil kepada Doni.


Doni nampak terdiam, pemuda matang itu masih belum percaya dengan pendengarannya.


"Mas Doni," panggil tante Lusi kembali.


"Eh, iya, Ma." balas Doni tergagap seraya menerima handuk kecil tersebut dari tangan sang calon mama mertua.


Doni kembali duduk dan dengan telaten mulai mengompres kening Lili.


"Mas Doni, kami tunggu di bawah, ya?" Om Devan menepuk pelan pundak Doni dan hendak berlalu.

__ADS_1


"Papa yakin?" Tante Lusi menatap sang suami tak percaya.


"Mas Doni sudah dewasa, papa yakin dia bisa menjaga putri kita dengan baik," balas om Devan.


"Tolong, jaga kepercayaan papa ya, Mas," pesan om Devan sambil menepuk kembali pundak Doni.


"Iya, Pa," balas Doni, nampak ragu. Pemuda matang itu masih belum percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Ayo, Ma," ajak om Devan seraya menarik pelan tangan sang istri dan mengajaknya keluar dari kamar Lili.


Sepeninggal kedua orang tua tersebut, Doni melanjutkan mengompres dahi Lili dengan penuh kasih.


"Lil, cepet sembuh, ya? Sepuluh hari lagi 'kan, kita nikah? Masak calon mempelai wanita malah sakit?" Doni mencoba mengajak Lili berkomunikasi.


Lili mengangguk, "setelah ini, Lili pasti sembuh, Om. Lili enggak kenapa-napa, kok. Lili cuma kangen banget sama Om," balas Lili lirih.


"Om, boleh peluk enggak?" pinta Lili.


Doni menghela napas panjang, "jangan, Li. Ingat pesan papa, ya?" tolak Doni dengan halus.


Lili cemberut, "ya udah kalau enggak mau. Om Doni keluar sana!" usir Lili yang langsung membalikkan badan memunggungi Doni.


Doni tersenyum seraya geleng-geleng kepala, "dasar bocah," gumamnya.


Lili kembali berbalik, "Lili bukan bocah, Om. Lili udah gede, udah mau kawin!" protes Lili.


"Nikah, Sayang," ralat Doni.


"Iya, nikah. Habis nikah ngapain? Kawin 'kan?" kekeuh Lili, membuat Doni terkekeh pelan.


"Iya, iya. Nyonya muda Sanjaya selalu benar," balas Doni masih dengan tawanya.


Kata-kata Doni barusan membuat Lili pun ikut tertawa bahagia, "Om, Lili suka sebutan itu," ucap Lili dengan mata berbinar.


"Sungguh?" tanya Doni memastikan.


Lili mengangguk pasti.


Hening sejenak menyapa ruangan tersebut.


"Lil, aku pamit, ya? Sudah malam," pamit Doni.


Kembali Lili mengerucutkan bibir.


"Besok pagi-pagi sekali, aku akan kesini lagi bawain bubur ayam kesukaan kamu. Tapi sekarang, aku harus balik dulu, Lil." bujuk Doni.


"Iya, deh. Tapi sun dulu, Om?" rajuk Lili.


"Cup,,," Doni melabuhkan ciuman di kening Lili dengan dalam, hanya ciuman di kening karena pemuda matang itu tak ingin memanfaatkan kesempatan yang ada.


"Kok udahan? Cuma di kening, pula? Kayak papa aja!" protes Lili.


Doni tersenyum, 'amanah yang diberikan papamu sungguh berat, Lil, tapi aku harus menjaganya. Jika saja papa Devan tidak memberikan kepercayaan padaku, aku pasti akan memanfaatkan kesempatan yang ada dengan bertindak lebih seperti yang kamu mau,' batin Doni.


tobe continue,,,


🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


Yeay,,, bocil Lili, otw kawin šŸ˜„šŸ˜„šŸ¤­


__ADS_2