Orang Tua Untuk Bayiku

Orang Tua Untuk Bayiku
Penyesalan


__ADS_3

Dengan langkah gontai aku keluar dari apartemen Anton, begitu berat rasanya meninggalkan tempat yang selama beberapa bulan ini penuh kenangan manis bagi kami berdua. Aku tak percaya, Anton yang begitu mencintaiku dengan mudahnya meragukan kesetiaanku padanya.


Rumah Mba Tari yang tak jauh dari apartemen Anton adalah tujuanku saat ini, aku berharap seiring berjalannya waktu Anton bisa mendengarkan penjelasanku dan mau memaafkan aku. Sebenarnya tubuhku masih terasa begitu lemas, tapi aku tak berdaya, kulangkahkan kaki keluar apartemen lalu masuk ke dalam taksi yang telah kupesan.


Akhirnya aku sampai di rumah Mba Tari, begitu aku berdiri di depan rumah, ketika tanganku baru akan mengetuk pintu, kepalaku semakin sakit rasanya aku sudah tak sanggup lagi berdiri, lalu semuanya menjadi gelap.


Ketika kubuka mata, sudah ada Mba Tari duduk di samping tempat tidurku, raut wajahnya menunjukkan kepanikan.


"Mila, kamu kenapa Mila? Wajahmu begitu pucat lalu kenapa kamu membawa barang-barang sebanyak ini? Kemana Anton? Apa kamu sudah ijin pergi ke rumah mba? Hubungan kalian baik-baik saja kan Mila?" kata-kata Mba Tari semakin membuatku merasa pusing.


Lalu aku hanya bisa menangis dan menggeleng. "Mba kepala Mila pusing."


"Sabar ya mba sudah memanggil dokter, sebentar lagi dokter pasti datang."


Beberapa menit kemudian, seorang dokter pun datang. Lalu dokter tersebut langsung memeriksaku.


"Bagaimana keadaan adik saya dok?" tanya Mba Tari dengan penuh kecemasan.


"Sebenarnya tidak ada yang terlalu dikhawatirkan Bu, dugaan saya Ibu Kamila sedang hamil, untuk lebih memastikan coba nanti di USG saja ke rumah sakit, atau jika kondisinya belum memungkinkan bisa menggunakan alat test kehamilan yang dijual di apotek."


Raut wajah Mba Tari begitu bahagia, tapi tidak denganku. Anton sudah menalakku, entah dia mau mengakui anak ini atau tidak aku pun tak tahu.


" Selamat ya Mila, sebentar lagi kamu akan jadi ibu, sekarang kamu harus beritahu Anton secepatnya, dia pasti juga sangat bahagia mendengar kehamilanmu."


Mendengar perkataan Mba Tari aku hanya bisa menangis. "Ngga Mba, Mas Anton sudah menalak Mila, dia pasti tidak percaya anak yang Mila kandung adalah darah dagingnya."

__ADS_1


"Loh kok bisa, sebenarnya apa yang sudah terjadi pada rumah tangga kalian berdua Mila?".


Aku langsung menceritakan semua yang terjadi pada Mba Tari. Dia lalu mengambil nafas panjang "Mila Mba Tari dan Mas Raka akan mencoba berbicara dengan Anton besok, semoga dia mau mendengar penjelasan mba, rumah tangga itu bukanlah sebuah permainan, kamu harus bisa mempertahankan rumah tanggamu."


Aku hanya mengangguk lalu kemudian menangis. 'Mengapa kemalangan ini terjadi dalam rumah tanggaku Ya Allah?' batinku dalam hati. Aku sudah berulangkali menghubungi Anton tapi ternyata nomerku sudah diblokir olehnya.


Keesokan harinya Mba Tari dan Mas Raka pergi menemui Anton, tapi saat aku melihat mereka pulang dengan raut wajah kecewa, tanpa bercerita aku tahu apa jawaban Anton untuk mereka.


Mba Tari selalu menemaniku dan memberikan semangat padaku. Namun rasanya hatiku sudah sangat rapuh, aku sudah pasrah. Sudah tak ada lagi harapan untuk mempertahankan rumah tanggaku dengan Anton.


Kuraba perutku "Nak kita akan baik-baik saja tanpa kehadiran Papamu, kita pasti hidup bahagia berdua, mari kita membuka lembaran baru."


Semangatku akhirnya tumbuh saat aku mulai merasakan kehadiran anakku dalam rahimku. Aku lalu memutuskan untuk pulang ke rumah Ayah dan Ibu. Aku ingin membuka kehidupan baru dengan anakku tanpa memikirkan Anton dan berusaha membuangnya jauh-jauh dari ingatanku.


Saat aku menginjakkan kaki di depan pintu rumah, mereka sudah menungguku disertai raut wajah penuh kecemasan. Aku hanya bisa menangis saat mereka memelukku.


"Mila kami semua ada untukmu, kita adalah keluarga, anakmu adalah cucu ibu nak."


Aku hanya bisa menangis dan mengangguk mendengar kata-kata kedua orang tuaku. Semangat dari mereka terasa begitu berarti untukku. Akhirnya pada suatu hari sebuah dokumen berisi putusan cerai kuterima. Aku sebenarnya begitu hancur tapi aku mencoba untuk tegar dan bangkit untuk anakku.


Hari dan bulan berlalu, aku melahirkan seorang bayi perempuan yang begitu cantik. Bayi itu kini disampingku, kulitnya putih, matanya begitu teduh, dan hidungnya sangat mirip dengan Mas Anton. Dia kuberi nama Amanda. Tak henti-hentinya aku memandang wajahnya, sebuah kerinduan muncul saat aku menatap wajah Amanda yang begitu mirip dengan Anton, tapi aku berusaha menepis semua rasa ini.


'Mas Anton, anakmu sudah lahir, dia begitu mirip denganmu.' batinku dalam hati.


Amanda tumbuh menjadi bayi yang begitu lucu, tubuhnya berisi, dan tingkahnya pun sangat menggemaskan. Kedua orang tuaku sangat menyayanginya, begitu pula dengan Mba Rani yang telah memiliki seorang anak laki-laki bernama Rayhan yang usianya tak berselisih jauh dengan Amanda, Mba Rani tak pernah membeda-bedakan Amanda dan Rayhan. Kami sering menghabiskan waktu bersama untuk merawat anak kami. Tak terasa kini Amanda sudah berusia satu tahun.

__ADS_1


Pada suatu siang saat aku dan Amanda sedang bermain dengannya di halaman rumah, tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti. Jantungku berdetak cukup kencang, saat kulihat seseorang keluar dari dalam mobil. Sosok yang sangat kubenci saat ini berjalan menghampiriku, ingin rasanya berlari untuk menghindar darinya tapi kaki ini terasa begitu kaku.


Akhinya tubuh ini hanya bisa diam mematung, seketika tubuhnya mendekap dan memelukku.


"Kamila maafkan aku!"


Anton lalu bersimpuh dan memohon maaf padaku, namun hatiku sudah sangat sakit, dan aku begitu membencinya.


"Lepaskan aku Mas, sekarang kamu pergi dari sini, aku sudah tak sudi melihatmu!"


"Mila tolong maafkan aku, aku baru saja mengetahui jika dulu Ibuku yang sudah memfitnahmu Mila!"


Jantungku terasa berhenti berdetak mendengar pengakuannya. "Oh jadi dulu ibumu yang memfitnahku Mas? Sungguh sangat picik kelakuan ibumu Mas."


Anton hanya menangis, lalu dia melihat Amanda yang sedari tadi bersembunyi di balik tubuhku.


"Kamila ini anakku kan Mila?"


"Bukan Mas, jangan sentuh, dia itu anakku bukan anakmu, bukankah kamu sudah menolaknya saat Mba Tari memberi tahu kehamilanku padamu!"


"Kamila aku mohon Mila, ampuni aku, beri aku waktu untuk memperbaiki semua kesalahanku padamu dan anak kita!"


Anton menangis tersedu-sedu sambil bersimpuh di depanku, tapi hati ini rasanya sudah membatu, tak sedikitpun aku luluh dan merasa kasihan melihatnya.


"Sudah cukup Mas, silahkan kamu pergi, aku dan Amanda tak punya banyak waktu bertemu denganmu."

__ADS_1


Aku lalu masuk ke dalam, kubiarkan Anton masih menangis dan bersimpuh di depan rumahku.


__ADS_2