
"Mas... Mas Anton kita harus cepat Mas."
"Ada apa sayang, tenangkan dirimu dulu, tadi siapa yang menelpon?"
"Bu Sugeng Mas, kita harus cepat menemui mereka, tapi kita titipkan dulu anak-anak di rumah Ayah, biar nanti kuhubungi Mba Rani untuk menjaga mereka."
"Ya sudah Mila ayo kita cepat masuk ke dalam mobil."
Suamiku begitu mengerti keadaanku meskipun aku belum menjelaskan apa yang telah terjadi. Kami lalu bergerak cepat menitipkan anak-anak di rumah Ayah. Lalu bergegas menuju ke arah tujuan kami.
Anton mengendarai mobilnya begitu kencang, sepanjang perjalanan kami hanya terdiam, aku begitu panik, banyak sekali pikiran berkecamuk dalam benakku.
Kami lalu tiba di sebuah Rumah Sakit, kulihat Bu Sugeng sedang menangis. "Nak Mila." dia lalu memelukku sambil menangis tersedu-sedu.
"Dimana mereka Bu?"
"Bu Winda dan Kevin masih di ruang UGD, sedangankan Bapak.. Bapak Nak."
"Kenapa dengan Pak Arif?"
"Pak Arif sudah meninggal dalam perjalanan menuju Rumah Sakit."
"Innalillahi wa innailaihi rojiun." tubuhku begitu lemas, aku tak bisa berkata apa-apa mendengar yang telah terjadi pada keluarga mereka.
Seorang dokter keluar dari ruang UGD dan menghampiri kami. "Keluarga Ibu Winda?"
"Ya dok saya adiknya." jawabku berdusta.
"Begini kondisi Ibu Winda sebenarnya sangat kritis tapi dia meminta saya untuk mempertemukannya dengan Nyonya Kamila, apa disini ada yang bernama Nyonya Kamila?"
"Ya saya dok."
"Silahkan anda menemui Ibu Winda sebentar, dia ingin bertemu dengan anda, setelah itu dia harus mendapatkan penanganan lebih intensif di ruang ICU."
"Baik dok, lalu bagaimana keadaan putra mereka yang bernama Kevin?"
"Kevin sudah kami rawat di ruang ICU, kita berdoa saja semoga keadaannya bisa segera membaik."
__ADS_1
Rasanya tubuh ini begitu rapuh, namun aku mencoba untuk tetap tegar. Kulangkahkan kakiku mendekat pada seorang wanita yang terbaring di depanku. Tubuhnya penuh luka, merasakan kedatanganku di sampingnya, dia lalu menggenggam tanganku.
"Mi...Mil..aaa."
"Bu Winda tolong jangan banyak bergerak, kondisi anda sangat tidak memungkinkan."
Dia hanya tersenyum lalu mencoba kembali berbicara meskipun sulit. "Ma..af sudah mengambil Kevin."
"Iya Bu, sudah jangan dipikirkan yang terpenting Ibu bisa sembuh secepatnya dan bisa merawat Kevin kembali."
Namun kepalanya menggeleng "Jaga Kevin Mi..la."
"Bu Winda jangan berbicara seperti itu, Ibu pasti bisa sembuh." kataku sambil terus menangis.
"Terimakasih sudah memberikan kebahagiaan meskipun sebentar." namun diakhir kalimatnya kulihat matanya mulai menutup.
"Bu Winda... Bu Winda!" aku begitu panik lalu berlari keluar mencari dokter.
"Dokter, tolong dokter kondisi Ibu Winda semakin kritis dokter!"
Dari kejauhan kulihat Pak Sugeng datang. "Ibu bagaimana semua ini bisa terjadi?" katanya pada Bu Sugeng.
"Ibu juga tidak tahu kejadian sebenarnya Pak, pagi ini mereka berencana akan berlibur ke Singapura namun beberapa saat selelah mereka pergi meninggalkan rumah, ada polisi yang menelpon Ibu jika Pak Arif dan Bu Winda mengalami kecelakaan, ibu sempat mendengar sedikit kronologisnya jika Pak Arif membanting setir ke kanan setelah menghindari pemotor yang ugal-ugalan, namun dari arah berlawanan ada truk di depan mereka melaju dengan kecepatan yang lumayan tinggi, Pak Arif tidak bisa lagi menghindari truk di depan lalu mobil mereka masuk ke dalam kolong truk."
Hatiku begitu tercabik mendengar penjelasan dari Bu Sugeng, tak bisa kubayangkan betapa tragisnya kejadian yang telah mereka alami.
"Lalu bagaimana kondisi mereka Bu?"
"Pak Arif sudah meninggal Pak, sekarang berada di ruang jenazah, Ibu sedang menunggu kedatangan Pak Ilham, adik Pak Arif yang sedang dalam perjalanan dari Singapura untuk mengurus pemakaman Pak Arif."
Belum selesai Bu Sugeng bercerita, seorang dokter keluar dari dalam ruang UGD "Keluarga Ibu Winda, maaf jika saya harus menyampaikan ini, saya sudah berusaha semaksimal mungkin namun ternyata Tuhan berkehendak lain, Ibu Winda sudah meninggal satu menit yang lalu pada pukul 15.25."
Aku dan Bu Sugeng hanya bisa menangis tersedu-sedu sambil terus berpelukan "Mengapa orang sebaik mereka pergi begitu cepat Bu?"
"Sudah takdir Nak Mila, bagaimanapun juga kita harus ikhlas."
Kupandangi dua pusara di depanku, tertulis nama yang begitu berjasa dalam hidupku. "Terimakasih banyak, telah hadir dan menjadi penyelamat dalam hidupku, terimakasih telah merawat dan menjaga Kevin dengan baik, Pak Arif dan Bu Winda, semoga amal kebaikan kalian diterima Tuhan."
__ADS_1
Tiba-tiba seorang lelaki muda seusia Anton mendekat padaku. "Maaf anda yang bernama Kamila?"
Aku mengangguk. "Saya Ilham adik Mas Arif, beberapa hari yang lalu Mas Arif menghubungi saya, dia mungkin sudah merasa jika ajalnya sudah dekat, dia berpesan jika sesuatu hal terjadi padanya, dia meminta saya untuk mengembalikan Kevin pada Ibu kandungnya, Kamila. Mas Arif juga memberikan semua saham serta semua aset miliknya pada Kevin dan akan diberikan semua saat Kevin sudah cukup umur, untuk saat ini prosesnya sedang diurus oleh notaris."
Aku begitu terkejut mendengar semua penjelasan dari Ilham begitu pula Anton yang kini berdiri di sampingku. " Ini nomor saya yang bisa anda hubungi, jika ada sesuatu terjadi pada Kevin anda bisa menghubungi saya, jangan sungkan saya juga sudah menganggap Kevin seperti anak saya sendiri, ya sudah saya pamit dulu, terimakasih."
Aku mengangguk sambil menatapnya pergi.
Aku memandang sosok mungil yang terbaring di atas ruang ICU, sudah tiga hari ini dia di rawat namun belum menunjukkan sebuah kemajuan.
"Dokter sebenarnya apa yang telah terjadi pada Kevin, kenapa dia masih belum bisa sadar dok?"
"Begini Ibu Kamila setelah melakukan pemeriksaan Intensif ternyata ginjal Kevin mengalami kerusakan akibat benturan benda keras saat kecelakaan, hal ini membuat kondisinya belum bisa menunjukkan adanya perkembangan."
Hatiku begitu sakit mendengarnya. "Ambil ginjal saya dok."
Tiba-tiba suara Anton mengagetkanku.
"Tidak semudah itu, apakah anda orang tua kandungnya?"
Anton hanya terdiam mendengar kata-kata dokter. "Saya Ibu kandungnya dok."
Baik kami akan melakukan pemeriksaan pada kalian berdua, semoga diantara kalian ada yang cocok. Namun setelah menjalani pemeriksaan diantara aku dan Anton tidak ada yang cocok.
Tak kehilangan akal, aku lalu menghubungi Mba Rani dan Ayah untuk meminta pertolongan mereka, bahkan Pak Sugeng beserta istrinya ikut menjalani tes namun hasilnya nihil, diantara kami semua tidak ada ginjal yang cocok dengan Kevin.
Ditengah keputusasaan, Anton duduk di sampingku. " Kita temui dia Mila."
"Tidak Mas, aku tidak sudi lelaki jahat seperti dia menyumbangkan bagian tubuhnya untuk anakku."
"Jangan berkata seperti itu Mila, bagaimanapun juga dia adalah Ayah kandung Kevin."
Aku hanya menangis tersedu-sedu. "Benar apa yang dikatakan Anton, kamu harus menemui Randi."
"Lelaki itu begitu jahat dan tidak punya hati, mengakui anaknya saja dia tidak mau, apalagi menyumbangkan organ tubuhnya."
"Kita belum mencobanya Mila, kita berdoa saja." kata Anton sambil menggenggam tanganku.
__ADS_1