Orang Tua Untuk Bayiku

Orang Tua Untuk Bayiku
Permohonan


__ADS_3

"Tenang sayang, aku kan ga ngapa-ngapain!"


"Kalian pelukan Mas, bahkan bib*rnya sudah berani menyentuh bi*irmu!!!"


"Kamila sayang tenangkan dirimu, dia yang berusaha memelukku dan menciumku tapi aku berhasil menghindarinya bahkan tubuhnya sampai kuhempaskan ke lantai. Sayang mengertilah, aku tak pernah berniat untuk berduaan ataupun bermesraan dengannya, kamu tahu aku begitu mencintaimu, bahkan aku tak segan memamerkan kemesraan kita dihadapan Sandra agar dia tahu jika cintaku hanya untukmu!"


Mendengar penjelasan dariku, akhirnya Kamila sedikit tenang. Namun mulutnya masih teruss mengomel mengucapkan sumpah serapah pada Sandra. "Kalau saja dari dulu aku tahu dia menyukaimu, tentu aku tak akan pernah merasa sedih ketika dia tak lagi bekerja di kantormu. Sia-sia aku mengeluarkan air mata untuknya saat itu."


"Sudahlah sayang, semua kan sudah berlalu, bahkan kita tak tahu kini dimana Sandra berada, yang kudengar dia sudah menikah dua tahun lalu dengan seorang pengacara di Surabaya."


"Oh syukurlah, tapi darimana kamu tahu Mas? Atau jangan-jangan kamu masih berhubungan dengannya?" kata Kamila sambil menatapku penuh curiga.


"Dengarkan dulu sayang, aku tak mungkin membuka komunikasi lagi dengannya. Aku tahu semua ini dari karyawanku yang ramai membicarakannya dua tahun lalu saat dia menikah."


"Ooohhh... Ya sudah ayo lanjut!"


"Apa belum cukup sayang?"


"Belum dong, masa gantung sih! Tuh kan belum apa-apa udah bikin kesel lagi."


"Iya... Iya sayang ini dilanjutin."


Tak terasa waktu beranjak sore, aku yang masih berada di lobi hotel akhirnya melihat istriku pulang dengan setumpuk belanjaan.


"Banyak banget sayang?"


"Iya dong, ini semua kan buat Manda, dan ini aku belikan juga untuk Dimas dan Sandra."


"Wah terimaksih banyak Bu, Ibu baik banget. Dimas doakan Ibu dan Bapak selalu langgeng sampai maut memisahkan."


"Aamiin." kata kami serempak.


"Loh kok Sandra ga keliatan Mas?"


"Emh... Sandra tadi kurang enak badan, makanya kusuruh istirahat saja di dalam kamar."


"Oohh ya sudah, kalau gitu aku ke kamar dulu ya."


"Ayo sayang, aku juga udah selesai."


"Beneran nih?"


"Bener... Tanya aja Dimas kalo ga percaya."


"Bohong Bu, tadi Pak Anton bilang masih banyak revisi untuk besok." kata Dimas sambil terkekeh.

__ADS_1


"Tuhhh kan!!"


"Dimas, berani-beraninya kamu!!!" kataku sambil melotot.


"Canda Bu, kita udah selesai dari tadi, Pak Anton saja yang kurang kerjaan nyuruh saya temenin dia di lobi nungguin Ibu pulang belanja, padahal saya kan mau jalan-jalan Bu!"


Kamila hanya tersenyum melihatku yang tampak salah tingkah. "Ya sudah kamu boleh pergi jalan-jalan Dimas, kalau Sandra udah agak baikan, kamu sekalian ajak dia."


"Siap Bu Bos!!" jawab Dimas lalu melangkah pergi meninggalkan kami berdua. Kami pun kemudian masuk ke dalam kamar.


"Sayang." kataku sambil mendekap pinggang istriku.


"Mau ngapain lagi nih? Aku cape Mas mau tidur!"


katanya sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Kamu gimana sih sayang, nanti bisa-bisa Manda kecewa loh kita pulang belum bisa kasih dia adik."


"Dasar modus!" kata istriku, namun dia tak menolak saat aku mulai memainkan tanganku di di tubuhnya.


Keesokan harinya kami bertemu dengan Tuan Fredrich, akhirnya rencana kerjasama perusahaan kami pun berjalan dengan lancar. Pertemuan pun diakhiri dengan makan siang, sebelum akhirnya dia berpamitan untuk melanjutkan perjalanan bisnisnya lagi ke Jepang.


Selama pertemuan dengan Tuan Fredrich, Sandra hanya diam, tak sepatah katapun keluar dari bibirnya, kecuali masalah pekerjaan. Dimas yang beberapa kali meledeknya pun dia acuhkan.


"Mau jalan-jalan lagi dong Pak, mumpung lagi disini, besok pagi kan kita sudah harus pulang."


"Neng Sandra, nanti mau kemana? Jalan-jalan yuk, sama aa Dimas, masa dari kemarin menyendiri di kamar terus."


"Maaf, saya sedang tidak enak badan."


"Masa ga enak badan terus, apa kita ke dokter saja yuk, masa kamu ga iri sama Pak Anton dan Bu Mila, mereka aja selalu bisa romantis dimanapun dan kapanpun."


Aku tertawa mendengar kata-kata Dimas, namun Sandra tampak semakin cemberut. "Ngomong-ngomong Pak, kok bisa Bapak begitu cinta sama Ibu Kamila sampai mau nunggu Ibu menerima Bapak lagi."


"Kamila itu cinta pertama dan terakhir saya Dimas, kami dulu berpisah karena kesalahan yang diperbuat oleh saya dan keluarga saya. Sejak saat itu saya berjanji akan selalu menunggunya."


"Bener-bener romantis ya Pak, kaya cerita dongeng hahhahhaha."


"Ada-ada saja kamu, ya sudah saya permisi dulu. Kasihan istri saya menunggu terlalu lama."


"Cie... cie...baru aja pisah setengah hari, udah kaya ga ketemu setahun aja." kata Dimas sambil terkekeh.


Aku hanya tersenyum mendengarnya, Dimas lalu juga pamit untuk berjalan-jalan, sedangkan aku melangkahkan kakiku pulang menuju hotel yang tak begitu jauh dari restauran tempat kami bertemu dengan Tuan Fredrich. Tanpa sadar, Sandra sudah berada di sampingku.


"Maaf Pak Anton, saya perlu bicara."

__ADS_1


"Sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi Sandra, kamu tidak usah khawatir karena besok saya juga akan memberikan pesangon yang cukup besar untukmu, karena bagaimanapun juga dedikasimu cukup besar di perusahaan saya."


"Bukan itu yang saya inginkan Pak."


"Lalu apa? Bukankah sudah kukatakan aku tak bisa menerima cintamu? bukankah tadi kamu sudah mendengar jika Kamila adalah cinta pertama dan terakhirku, dan aku juga sudah berjanji selama hidupku, aku hanya akan menikah dengan Kamila saja!"


"Saya minta maaf, beri saya satu kesempatan lagi Pak, saya tidak akan berbuat macam-macam lagi."


"Maaf keputusan saya sudah bulat."


"Tapi Pak Anton, saya tidak bisa hidup tanpa Bapak."


"Carilah laki-laki lain yang mencintaimu Sandra, percuma kau berharap padaku, kamu cantik dan pintar, pasti banyak laki-laki yang mau denganmu, waktumu akan terbuang percuma jika kau masih berharap padaku."


"Apa Bapak tidak pernah bisa membuka hati Bapak sedikit saja? Apa karena Ibu Kamila lebih cantik, Bapak tidak mau memberi kesempatan pada saya? Lihatlah perjuangan yang telah saya lakukan untuk mendapatkan hati Bapak."


"Berapa kali harus kukatakan jika aku tak akan pernah bisa menerima cintamu Sandra?"


"Bahkan saya mau menjadi istri kedua Bapak, tanpa diketahui Ibu Kamila."


Aku lalu menghampirinya. "Jangan pernah bermimpi sedikitpun Sandra, karena hanya akan membuatmu merasa semakin sakit!"


Aku lalu meninggalkannya yang sedang menangis. Kupercepat langkahku untuk menemui istriku. Aku sudah berjanji untuk mengajaknya menghabiskan sisa bulan madu ini dengan berjalan-jalan menyusuri kota ini. Ketika aku sampai di dalam kamar, istriku sudah menantikan kedatanganku.


"Gimana tadi Mas?"


"Alhamdulillah lancar sayang. Aku istirahat sebentar ya sayang, nanti sore kita baru jalan-jalan."


"Iya Mas."


Kamila lalu mendekat padaku dan memijat tubuh dan kakiku. Sudah lama aku tak merasakan suasana seperti ini, akhirnya aku pun tertidur. Aku baru terbangun saat jam menunjukkan pukul tiga sore.


"Maaf sayang aku ketiduran."


"Gapapa Mas, aku tahu kamu pasti begitu lelah."


"Ya sudah kita berangkat sekarang yuk." kataku.


"Beneran nih kamu udah ga cape Mas?"


"Iya sayang, aku juga pengin buang penat, masa kalah sama Dimas hahahaha." kataku sambil tertawa.


Kamila ikut tersenyum, kemudian mengangguk, namun saat kami akan keluar dari kamar tiba-tiba seorang wanita telah berdiri di depan pintu kamar kami.


"Sandra."

__ADS_1


__ADS_2