Orang Tua Untuk Bayiku

Orang Tua Untuk Bayiku
Kedatangan Istri Randi


__ADS_3

"Mba Rani, kita bawa ibu ke rumah sakit saja." kataku, Mba Rani lalu mengangguk, kami dibantu Bi Sumi lalu membawa ibu masuk ke dalam mobilku.


Setengah jam kemudian kami sudah sampai, aku dan Mba Rani menunggu di depan ruang UGD. Keheningan tercipta diantara kami berdua, kami sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Kamu sudah lihat kan Mila, semua ini karena mu, orang tua kita sudah menanggung malu karena pernikahanmu dulu dan hidupmu yang sering kali bermasalah, sekarang kamu menambah beban Ibu lagi dengan kehamilanmu."


"Ini sudah takdir Mba."


"Jangan selalu berlindung di balik kata takdir Mila, masalah ini seharusnya bisa kamu hindari jika kamu bersikap dewasa, kamu hanya menuruti nafsumu, kamu tidak pernah memikirkan dampak perbuatanmu pada orang tua dan anakmu, pikirkan dampak psikologis bagi Amanda jika dia diolok anak seorang pelakor, pikirkan orang tuamu yang harus menanggung malu dan hinaan orang-orang akibat perbuatanmu!"


Aku hanya bisa menangis mendengar perkataan Mba Rani yang begitu pedas padaku. "Cukup Mba kita pikirkan kesembuhan Ibu dulu Mba."


Tiba-tiba seorang perawat keluar dari ruang IGD dan memanggil kami berdua "Keluarga Ibu Martini ditunggu dokter Anwar di ruangannya."


Aku dan Mba Rani lalu bergegas masuk ke ruangan dokter Anwar. Setelah kami dipersilahkan masuk kami lalu duduk di depan dokter Anwar.


"Keluarga Bu Martini?"


"Iya dok kami putrinya."


"Begini Bu, Ibu Martini menderita serangan jantung, untuk saat ini kondisinya masih harus dalam pengawasan, kami meminta pada kalian berdua sebagai pihak keluarga agar Bu Martini dijauhkan dari pikiran yang berat karena dapat mengganggu kesehatan jantungnya, jika satu kali lagi dia mendapat serangan jantung seperti ini, maka nyawanya akan sulit diselamatkan."


Deggggg


Jantungku juga seakan berhenti mendengar penjelasan dokter, ternyata Ibu menderita penyakit jantung. Setelah mendengar penjelasan dokter kami lalu pamit, kami harus mengurus administrasi untuk memindahkan Ibu ke ruang perawatan.


Selama menunggu ibu siuman, tak sengaja kulangkahkan kaki ini menuju poli kandungan. Meski kehadirannya tak diinginkan tapi bagaimanapun juga dia adalah anakku, saat dokter mempelihatkan hasil USGnya, aku begitu bahagia melihat janin yang sedang tumbuh di dalam rahimku.


"Maaf dok, jadi usia kehamilan saya berapa minggu ya dok?"

__ADS_1


"Usia kehamilan ibu sudah masuk tujuh minggu, semua sehat ya Bu, ini foto hasil USGnya, jangan lupa mengkonsumsi makanan bergizi dan minum susu kehamilan serta vitamin yang sudah saya resepkan."


"Oh iya dok, terimakasih."


Aku lalu pergi ke ruangan Ibu kembali, sebuah kebahagiaan dan kesedihan bercampur menjadi satu. Saat aku kembali aku melihat Ibu sudah siuman dan sedang berbicara dengan Mba Rani. Mba Rani lalu menghampiriku "Kamu jangan bilang apa-apa pada Ibu, Ibu sudah lupa kejadian tadi pagi, jangan menambah masalah lagi!"


"I..i..iya Mba"


Selama satu minggu Ibu dirawat di rumah sakit, hari ini akhirnya Ibu diperbolehkan pulang oleh dokter. Mba Rani berulangkali memperingatkanku agar tidak menceritakan kondisi kehamilanku pada Ibu. Kamipun membuat kesepakatan jika Ibu benar-benar sudah pulih aku harus segera angkat kaki dari rumah agar tidak timbul kecurigaan pada orang tuaku.


Selama aku hamil, cafe ku juga sudah lama tidak kuurus dan akhirnya kututup sementara. Masa kehamilan di trimester pertama memang begitu menyiksaku, sehingga aku tak bisa beraktifitas seperti biasa, dan tubuhku pun sering merasa lemas. Namun aku masih bisa menyembunyikan kondisiku ini pada Ayah dan Ibu.


Jika mereka bertanya mengapa aku sering aada di rumah, aku cukup menjawab jika aku ingin merawat ibu yang kondisinya tak seperti dulu. Kadang kupandangi perut ini yang mulai membesar, kuelus dan kuajak dia berbicara.


"Nak, Mama mungkin tidak bisa berjanji untuk bisa merawatmu, namun Mama janji akan memberikan kebahagiaan padamu, entah kita bisa hidup bersama atau tidak kau adalah anakku, darah dagingku dan sampai kapanpun kamu akan selalu menjadi bagian dalam hidup Mama."


Usia kehamilanku sudah memasuki bulan kelima, perutku sudah terlihat membesar, akupun berniat memenuhi janjiku pada Mba Rani untuk meninggalkan rumah ini sementara.


Aku pun akhirnya keluar, betapa terkejutnya aku takkala melihat seorang wanita di depan rumahku berteriak sambil menantangku. Untungnya Amanda sedang sekolah sehingga dia tidak melihat keributan ini.


"Heiiiii wanita ****** keluar kamu!!"


"Ada apa Mba, tidak usah teriak-teriak seperti itu di depan rumah orang."


"Oohhh jadi kamu wanita simpanan Randi, pantas saja selama enam bulan terakhir ini dia sering bolak balik Jambi-Solo, cuma untuk bertemu wanita rendahan seperti kamu?"


"Jaga bicara anda dan maaf saya tidak memiliki hubungan apapun dengan Randi!"


"Alasan saja kamu, aku tahu kamu adalah kekasih Randi, liat ini aku sudah memiliki semua buktinya, mau alasan apa lagi kamu untuk menutupi kebusukanmu, bahkan kamu mengejar suamiku sampai kalian menginap di resort mewah kan, dasar tidak tahu diri!"

__ADS_1


"Ya itu dulu Mba, sekarang aku sudah tidak memiliki urusan apapun dengan Randi!"


"Akhirnya, mengaku juga kamu wanita ja*ang, kamu memang pelakor, wanita munafik, dimana kamu sembunyikan suamiku?"


"Sudah kubilang aku tak tahu, aku sudah lama tidak menjalin hubungan dan berkomunikasi dengan laki-laki hidung belang macam suamimu!"


Tiba-tiba dia memperhatikan tubuhku. Aku yang khawatir dia tahu akan kehamilanku lalu menutup tubuku rapat dengan sweater yang kukenakan.


"Kamu hamil? Kamu hamil wanita j*lang? Kamu hamil anak Randi? Dasar pelakor, sudah berapa kali kamu tidur dengan suamiku?". Dia lalu mendekat padaku dan menjambak rambutku. Dia juga mencakar wajahku, kukunya yang tajam membuat wajahku terasa begitu perih. Aku yang tengah hamil begitu kesulitan untuk membela diri.


Mba Rani lalu datang melerai kami berdua, Ibu yang tadi sedang tertidur pun akhirnya bangun mendengar keributan yang terjadi.


"Ada masalah apa ini? Apa tidak bisa dibicarakan baik-baik dengan anak saya?"


"Bicara baik-baik bagaimana maksud Ibu? anak Ibu sedang mengandung anak dari suami saya, tolong nasehati anaknya agar jangan sampai mengganggu suami orang!" 


Ibu lalu terdiam dan menatapku "Benarkah yang dia katakan Nak? Kamu sedang hamil anak suaminya? Kenapa kamu bertindak sebodoh itu Nak?" Aku hanya terdiam ketika melihat Ibuku mulai terisak, Ibu memegang dadanya raut wajahnya menunjukkan jika Ibu sedang begitu kesakitan, dadanya naik turun terengah-engah seperti kesulitan untuk bernafas, lalu tubuh ibu jatuh terkulai di tanah. Aku dan Mba Rani panik, sedangkan istri Randi langsung pergi takut disalahkan jika terjadi apa-apa pada Ibuku.


Kami lalu bergegas membawa Ibu ke Rumah Sakit, Ayah yang saat ini sedang di perjalanan setelah mengantar Amanda ke sekolah lalu bergegas menyusul kami.


Dua jam lebih kami berdiri di depan pintu ICU, tapi tak ada tanda-tanda keadaan ibu akan membaik. Akhirnya salah seorang dokter keluar dari ruang ICU. Raut wajahnya menyiratkan sebuah kesedihan. 'Oh Tuhan tegarkan aku jika sesuatu terjadi pada Ibu' gumamku dalam hati.


"Maaf jika saya harus menyampaikan berita ini, kami sudah berusaha sebaik mungkin, semua cara telah kami lakukan untuk menyelamatkan nyawanya, namun Ibu Martini sudah tidak dapat diselamatkan. Dia meninggal tepat pukul 11.37. Sekarang kalian boleh melihatnya sebentar sebelum dibawa ke ruang jenazah, dan baru diperbolehkan dibawa pulang ke rumah setelah 2 jam kemudian."


Semua orang berteriak dan menangis, kami lalu berhambur masuk dan melihat jenazah Ibu. Semua menangis di depan janezah Ibu bahkan Ayah pun terkulai lemas. Begitupun aku, rasanya sulit sekali kutopang tubuh ini, tubuhku terasa begitu lemah untuk menerima kenyataan ini.


'Maafkan aku Ibu, semua ini terjadi karena kesalahanku.' gumamku disela derai air mata yang keluar.


Saat ibu sudah dibawa ke ruang jenazah, tiba-tiba Ayah mendekatiku.

__ADS_1


PLAAAAKKKK


__ADS_2