
Anton belum juga beranjak pergi, dia masih berdiri di halaman rumahku. Sesekali aku melihatnya dari balik jendela, kulihat raut wajahnya yang begitu penuh penyesalan. Hingga akhinya Ayah dan Ibu pulang setelah menghadiri acara serah terima jabatan di kantor Ayah yang baru.
Mereka akhirnya mengajak Anton masuk ke dalam rumah, kudengar Anton meminta maaf akan sikapnya terdahulu, cukup lama Anton berada di rumah ini, bahkan Ayah dan Ibu sengaja memintanya menginap di rumah ini, dan Anton menyetujuinya.
Ayah dan Ibu pun memintaku untuk mempertemukannya dengan Amanda. Setelah puas bermain dengan Amanda, lalu Ayah memanggilku untuk menyelesaikan masalah di antara kami.
"Sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi yah, semua sudah selesai."
"Kamila kamu tidak boleh seperti itu, tolong pikirkan kembali dengan baik masa depan Amanda, dia juga memerlukan sosok ayah." kata Ibu.
Aku melirik Mas Anton dengan tatapan penuh kebencian, dia hanya diam dan tertunduk.
"Kamu boleh bertemu dengan Amanda kapanpun engkau mau Mas, tapi maaf sampai kapanpun aku tidak bisa kembali padamu."
Anton hanya tertunduk sesekali air mata jatuh dari pelupuk matanya.
"Nak Anton, maafkan Ayah, ini sudah menjadi keputusan Mila, tapi Ayah janji pintu rumah ini selalu terbuka jika Nak Anton ingin bertemu dengan Amanda."
"Baik yah, saya mengerti dan saya hargai keputusan Mila, saya pamit, terimakasih sudah mau menerima permintaan maaf dari saya".
"Loh Nak Anton tidak jadi menginap disini?"
"Maaf Ayah, Ibu di lain kesempatan saja, Anton permisi. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." jawab Ayah dan Ibu.
__ADS_1
Anton dengan langkah gontai akhirnya pergi dari rumahku. Namun rupanya kata-kata Ayah membawa angin segar baginya, nyatanya sejak diperbolehkan untuk mengunjungi rumahku hampir tiga hari sekali dia mengunjungi rumah ini. Alasannya memang klasik, untuk bertemu dengan Amanda tetapi aku tahu, dia sedang berusaha meluluhkan hatiku.
Bahkan perusahaan Anton yang ada di Jakarta dia alihkan kepemilikannya pada Caesar, adiknya. Sedangkan Anton hanya mengurusi kantor cabang yang ada di Yogyakarta.
Semua memang dia lakukan untuk bisa menjadi lebih dekat denganku dan Amanda. Namun hatiku yang telah membeku merasa risih akan kedatangannya. Aku sudah trauma menjalani rumah tangga dengannya, sikap Ibunya yang sudah memfitnahku serta pelecehan yang kualami oleh laki-laki yang tidak kukenal belum dapat kuterima.
Saat aku terpuruk, dia bahkan mengusirku dan tak mau mendengar penjelasan dariku. Sangat sulit bagiku membangun kepercayaan diri setelah semua yang kualami. Lalu dia dengan mudahnya memintaku kembali, aku tidak mau mengambil resiko jika aku kembali padanya hal buruk tak mungkin terjadi lagi padaku, bahkan mungkin saja bisa menimpa Amanda.
"Kamu kenapa Mila? Kok kayaknya cemas banget?"
"Aku lagi pengen punya pekerjaan Mba, Manda kan sudah besar aku tidak mungkin bergantung terus sama Ayah, aku juga ingin memiliki penghasilan sendiri, aku juga ingin mandiri Mba." kataku.
"Pengin kerja atau mau ngindarin Anton?" kata Mba Rani sambil terkekeh.
"Di kantor Mba Rani ada lowongan ga?"
"Ga ada Mila, kantor mba malah lagi ada pengurangan tenaga kerja, dan mba salah satu yang terkena dampaknya, tapi ga masalah sih, lagian Mas Ardi juga sekarang ga memperbolehkan mba kerja lagi."
"Mba kita bikin usaha bareng aja yuk! Kita bikin cafe untuk anak muda!"
"Usaha cafe Mila? Kamu aja deh, mba cukup bantu aja, kan tadi kan mba udah bilang kalo Mas Ardi sekarang ga memperbolehkan mba kerja lagi."
"Oh ya udah deh kalo gitu, tapi beneran ya Mba Rani harus bantuin aku."
"Beres deh, konsep cafe mu apa Mila?"
__ADS_1
"Kita buka cafe untuk tongkrongan anak muda aja mba, di sekitar kampus, konsepnya rooftop yang lagi kekiniaan terus kita juga desain interior cafe dengan desain estetik biar instagramable."
"Wah bagus juga tuh idemu Mila, besok kita mulai survei tempat ya."
Aku pun mengangguk, keesokan harinya kami mulai menjalankan rencana kami mulai dar survei tempat, desain interior, konsep kafe, serta menu yang akan kami sediakan. Akhirnya satu bulan kemudian, kami berhasil membuka cafe yang kami beri nama "Miracle Cafe".
Selama masa grand opening, cafe ini cukup ramai, bahkan aku dan Mba Rani cukup kewalahan melayani pengunjung yang datang, menu yang kami sajikan adalah western food yang simpel dan sesuai dengan selera anak muda.
Anton masih sering berkunjung ke rumahku, meskipun kini kami jarang bertemu, dia memang sangat menyayangi Amanda. Sebenarnya aku merasa bahagia meskipun kami sudah tidak bersama namun Amanda tidak kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Suatu hari saat aku akan pergi berangkat ke cafe tak sengaja kami bertemu, dia mencegatku ketika aku akan masuk ke dalam mobil.
"Mila kamu mau pergi kemana?"
"Aku sekarang mengelola cafe Mas, aku pergi dulu ya Mas, Amanda ada di dalam lagi main sama Bi Sumi." kataku.
Tiba-tiba Anton mencengkeram tubuhku dengan sangat kuat.
"Maafkan aku Mila jika kehadiranku membuatmu terusik, tapi apakah kamu tak pernah melihat kesungguhan dalam hatiku Mila untuk memperbaiki rumah tangga kita? begitu besarkah kesalahanku sehingga kamu tak pernah bisa memaafkanku? Bagaimana caranya agar kita bisa berdamai dan menjalin hubungan yang baik? Apakah sudah tidak ada kesempatan untukku lagi Mila?"
"Maaf Mas aku bekerja bukan untuk menghindarimu, aku memang sudah lama berniat untuk membuka usaha, aku tidak mau berdiam terus di dalam rumah, sekarang Amanda juga sudah besar, aku tidak selalu harus ada di sampingnya, aku juga harus memikirkan masa depan Amanda, dan sepertinya sudah tidak perlu ada yang aku bicarakan lagi denganmu tentang hubungan kita Mas, kamu sudah tahu jawabannya saat kita pertama bertemu lagi di rumah ini, selamanya hubungan kita tak akan pernah bisa diperbaiki, mengertilah Mas, kamu dan orang tuamu telah membuat luka yang begitu dalam pada hatiku dan luka itu tak akan pernah bisa terobati sampai kapanpun."
Anton menangis mendengar kata-kataku, cukup lama keheningan terjadi diantara kami berdua.
"Baik Mila, maaf jika aku sudah begitu mengganggumu dan membuatmu terusik akan kehadiranku, aku akan pergi selamanya dari hidupmu, aku pastikan kamu tak kan pernah lagi melihat wajahku di rumah ini, tapi satu hal yang harus kau ingat Mila, ingatlah janjiku jika aku hanya akan menikah denganmu, ingat janjiku saat kita masih dalam ikatan pernikahan dulu jika hanya kaulah satu-satunya wanita yang menjadi istriku."
Tak kuindahkan kata-kata Anton yang terucap, aku lalu masuk ke dalam mobil dan berlalu pergi dari hadapannya. Anton yang melihat kepergian ku hanya termenung sambil sesekali mengusap air mata yang jatuh.
__ADS_1