Orang Tua Untuk Bayiku

Orang Tua Untuk Bayiku
Tertipu


__ADS_3

Dengan langkah kesal Chyntia masuk ke dalam pesawat dan menghempaskan tubuhnya pada kursi pesawat. Tiba-tiba dia melihat Bianca ikut duduk di sampingnya.


"Eh.. Eh apa-apaan ini? Siapa yang menyuruhmu duduk di sampingku Bianca? Seharusnya Anton yang duduk di kursi ini."


"Emh maaf Bu, tapi Pak Anton dan saya sudah bertukar tempat duduk dan kami sudah bilang pada pramugari di pesawat ini."


"Dasar Anton, ku*ang aj*r." gerutu Chyntia, moodnya begitu kacau dan berantakan karena apa yang dia pikirkan hari ini untuk dekat dengan Anton sangat jauh dari kenyataan.


Anton tampak tersenyum di kursinya yang bersebelahan dengan Dimas. "Pak, kok masih banyak juga cewe yang ngejar-ngejar Bapak, saya dikasih satu kenapa sih Pak. Atau kalau Bapak ikhlas, saya dikasih Ibu Kamila juga gapapa Pak."


"Enak saja kamu Dimas!" kata Anton sambil memukul kepala Dimas, Dimas hanya terkekeh melihat tingkah bosnya. Perjalanan selama dua jam, Chyntia lalui dengan perasaan yang begitu dongkol, dia pikir selama di dalam pesawat akan membuat dirinya dan Anton menjadi semakin dekat karena bersebelahan tempat duduk, namun rencana itu gagal karena Anton sudah menukar tempat duduknya dengan Bianca.


"Dimas, apa kamu sudah persiapkan mobil untuk menjemput kita?"


"Sudah Pak, sebentar saya hubungi mereka dulu."


Setelah menunggu selama lima belas menit, mobil yang mereka tunggu pun datang. "Chyntia, perjalanan kita menuju pabrik masih jauh, lebih baik kamu banyak beristirahat di dalam mobil ditemani oleh Bianca. Aku dan Dimas, akan duduk di kursi depan." kata Anton sambil tersenyum.


'S*it. Bahkan untuk berduaan sebentar saja pun aku tak pernah bisa, sungguh perjalanan yang sia-sia.'gumam Chyntia.


Mereka akhirnya selesai meninjau pembangunan pabrik pada sore hari, malam ini mereka akan menginap di hotel dan keesokan harinya baru akan pulang ke Jogja.


"Bagaimana Chyntia lokasi pabrik yang akan kita bangun?" tanya Anton.


"Bagus Anton, lokasinya strategis, tidak terlalu ramai, dan SDMnya juga menunjang. Kerja bagus Anton, kamu memang tak pernah mengecewakanku." jawab Chyntia sambil mendekatkan wajahnya pada Anton.


"Karena kau bekerja dengan sangat baik, maka malam ini aku akan memberi kamu hadiah." katanya lagi.


"Hadiah?"


"Ya, hadiah. Datanglah ke kamarku nanti malam Anton." kata Chyntia sambil masuk ke dalam hotel. Anton hanya tersenyum kecut melihatnya.


Chyntia menunggu kedatangan Anton dengan perasaan cemas dan tak menentu. Jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 08.00 malam namun Anton tak kunjung datang ke kamarnya, sejak tiba di hotel ini Anton memang begitu sulit untuk dihubungi. "Kemana Anton?" geram Chyntia.


Akhirnya dia pun berjalan keluar kamar dan mengetuk kamar Anton yang ada di sampingnya. Beberapa saat kemudian pintu kamar itu pun terbuka, namun saat itu yang keluar dari dalam kamar adalah Bianca.

__ADS_1


"Bianca, apa yang kau lakukan di kamar Anton? Apa kau sudah berani mencoba menggoda bosmu sendiri Bianca?"


"Maaf Bu, tapi ini kamar saya."


"Kamar kamu?"


"Iya Bu, ini kamar saya."


"Lalu dimana kamar Anton?"


"Maaf Bu, bukankah Pak Anton tidak ikut menginap bersama kita?"


"Apa maksudmu tidak ikut menginap?"


"Tadi sore, saat kita masuk ke dalam hotel, Pak Anton tidak ikut turun dari mobil dan langsung menuju Bandara untuk terbang ke Jambi, menyusul Ibu Kamila yang sudah terlebih dahulu pergi ke sana, mungkin sekarang Pak Anton sudah sampai di Jambi."


"Br*ngsek kamu Anton." gerutu Chyntia, hari ini bahkan dia merasa begitu bodoh dan dipecundangi oleh Anton. Saat masuk ke dalam hotel, memang dia tidak memastikan Anton ikut menginap di hotel tersebut atau tidak, karena masih merasa kesal sehingga Chyntia langsung check in dan masuk ke dalam kamarnya tanpa memedulikan jika di belakangnya hanya ada Bianca dan Dimas.


Chyntia akhirnya menelpon Anton. "Anton, apa-apaan ini?"


"Apa-apaan bagaimana Chyntia?"


"Chyntia, aku hanya berjanji untuk menemanimu meninjau pembangunan pabrik, dan bukankah itu sudah kulakukan? Lalu dimana letak kesalahanku?"


"Bre*gsek kamu Anton, hal ini bisa kulaporkan sebagai bentuk wan prestasi karena kamu tak menuruti perintahku."


"Silahkan Chyntia, tidak ada tindakan wan prestasi yang kulakukan karena urusan pekerjaan sudah kuselesaikan, jika kamu melaporkan kejadian ini, hanya akan mencemarkan namamu sendiri Chyntia, bagaiman mungkin seorang wanita bersuami menyuruh laki-laki yang sudah beristri untuk menemani di hotel itu sebagai tindakan wan prestasi? Hahahaha, kamu bisa ditertawakan seluruh orang Chyntia." kata Anton sambil tertawa.


"Dasar licik!" kata Chyntia sambil menutup teleponnya.


Anton hanya bisa tersenyum melihat kelakuan Chyntia. "Kamu sudah salah jika mau bermain-main denganku Chyntia."


Anton lalu tiba di sebuah rumah besar yang masih tampak ramai meski jam sudah menunjukkan hampir pukul sembilan malam. Dia lalu masuk ke rumah tersebut dan mengetuk pintunya.


"Assalamualaikum."

__ADS_1


"Waalaikumsalam. Akhirnya kamu datang Anton."


"Tentu, kamu tidak bilang pada istriku kan jika aku akan kesini?"


"Tidak Anton, sesuai perintahmu." kata Wina sambil terkekeh.


"Baik, terimakasih banyak Win."


"Ayo ikut, kami sedang pesta barbeque di belakang rumah."


Anton lalu mengikuti Wina masuk ke dalam rumah, tampak Kamila sedang asyik memanggang daging dikelilingi oleh anak-anak mereka. Anton lalu menghampirinya dan memeluk tubuh Kamila dari belakang. "Kejutan." bisik Anton di telinga Kamila.


"Mas, kok kamu ada di sini?" kata Kamila disertai raut wajah bahagia.


"Aku tak ingin berlama-lama pergi jauh darimu sayang.".


"Lalu bagaimana pekerjaanmu dengan Chyntia?"


"Sudah beres semua sayang dan tak perlu ada yang dikhawatirkan." kata Anton sambil tersenyum nakal.


Melihat gelagat suaminya Kamila ikut tersenyum. "Mas, kamu pasti sudah mengerjainya?"


Anton lalu mengangguk sambil tertawa. "Dia salah jika ingin bermain-main denganku sayang, menghadapi wanita seperti dia adalah keahlianku." kata Anton sambil mencium pipi istrinya.


"Papa, Mama, tuh kan, ini rumah orang, malu jangan mesra-mesraan di tempat umum seperti ini. Lihat Tante Wina, Tante lihat sendiri kan kelakuan Papa sama Mama." kata Amanda.


"Tak apa sayang, kita harus maklum karena dunia ini memang milik orang tuamu." jawab Wina sambil tertawa.


Di sebuah sudut rumah, tampak Fatma mengamati mereka semua. "Kenapa Ma?" tiba-tiba suara Rusli mengagetkannya.


"Pa, lihat anak itu mengapa semakin aku melihatnya semakin mirip dengan Randi?" kata Fatma sambil menangis.


"Sudah jangan sedih Ma."


"Melihat dia yang begitu mirip dengan Randi, membuat Mama semakin penasaran akan asal usul anak itu Pa."

__ADS_1


"Ma, sudahlah, apa Mama tidak lihat jika Kamila dan suaminya terlihat sangat romantis? mereka begitu mencintai satu sama lain, bagaimana Kamila bisa memiliki anak dengan orang lain jika dia sangat mencintai suaminya? Lihatlah mereka juga sangat mirip dengan Anton."


"Ya, Amanda dan Brian memang mirip dengan Anton, tapi tidak dengan Kevin, sadar Pa, buka mata Papa! Bagaimanapun caranya mama harus tahu siapa itu Kamila dan Kevin sebenarnya." kata Fatma dengan tatapan mata yang begitu tajam


__ADS_2