
Pelan-pelan mata ini kubuka, kucium aroma obat-obatan yang menyengat, dinding di sekeling dan warna tirai di depanku pun berwarna putih, dapat kupastikan sekarang aku berada di Rumah Sakit.
Tampak Mba Rani duduk di sebelahku, tatapannya tajam dan terlihat lebih menakutkan dibandingkan dengan tadi sore 'Ada apa ini?' batinku dalam hati. Aku mencoba tersenyum padanya.
"Mba." kataku lirih.
"Mila mba minta kamu secepatnya pergi dari rumah, biar mba yang mengurus Amanda sebelum kami semua menanggung aib mu lebih jauh, pergilah Mila!"
"Apa maksud mba?"
" Kamu hamil Mila, dan bayi itu adalah aib bagi keluarga, kamu tahu kan siapa Ayah? dia adalah salah satu orang terpandang di kota ini, aku juga tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada Ayah dan Ibu jika mereka tahu keadaanmu!"
"Aku hamil Mba?"
"Ya, kamu hamil anak Randi, bayi itu adalah buah kebodohanmu, bayi itu akan menjadi aib keluarga karena lahir tanpa ayah!!!"
"Jangan berkata seperti itu Mba, dia juga keponakanmu, kenapa hubunganku menjadi terasa sulit dengannya? kami saling mencintai dan ingat Randi belum memiliki istri seperti yang Mba Rani katakan!"
"Aku tidak sudi memiliki keponakan hasil dari zina, ayahnya saja masih memiliki istri sah, mau ditaruh dimana muka mba! dasar kamu wanita bodoh, mau saja diperdaya oleh ba*ingan seperti Randi."
"Apa perlu kukatakan sekali lagi Mba jika Randi belum memiliki istri. Apa mba lupa, aku juga melahirkan Amanda tanpa suami, ga ada Anton di sisiku!"
"Kondisinya berbeda Mila, Amanda lahir karena sebelumnya kamu memiliki ikatan suami istri yang sah, sedangkan bayi ini? Dia adalah hasil perbuatan kotormu Mila, buktikan sendiri kata-kata Mba jika Randi sudah memiliki istri, kamu yang bodoh sudah diperdaya oleh buaya seperti Randi!"
"Tunggu dulu Mba jangan gegabah, aku mau bicara dengan Randi, dia berjanjj akan menikahiku secepatnya, dia pasti akan bertanggung jawab."
"Bicaralah padanya, tapi bisa kupastikan dia pasti akan membuangmu" katanya sinis.
Mba Rani lalu pergi meninggalkanku di Rumah Sakit. Aku menangis, ingin rasanya aku berlari dan menemui Randi, tapi kami terpisahkan oleh jarak yang cukup jauh.
Tak lama perawat datang dan mengizinkanku untuk pulang. Aku mencoba mengejar Mba Rani, namun sudah tak kutemukan lagi sosoknya di rumah sakit ini. Aku lalu pulang ke rumah, saat kaki ini melangkah ke dalam rumah, tampak Ayah dan Ibu sedang duduk di depan televisi.
"Kamila, kamu sudah pulang Nak? kok kamu ga kasih tau Ayah dan Ibu?"
__ADS_1
"Iya Bu, tadi waktu Mila pulang, ga ada Ayah dan Ibu di rumah jadi Mila langsung pergi ke cafe."
"Oh tadi Ayah dan Ibu sedang pergi ke acara hajatan Nak, kami lupa tidak memberi tahu kamu, tapi sebelum ibu pergi, Rani tadi ke sini katanya dia ada urusan sama kamu, kamu udah ketemu dia belum?"
"O..o..oh udah kok bu, tadi Mila udah ketemu Mba Rani." kataku sambil tersenyum lalu mencoba masuk ke dalam kamar, sebelum ibu menanyakan hal yang lebih jauh.
Namun sebelum aku melangkah tiba-tiba Amanda berlari memelukku. "Mama, Amanda udah pulang, kangen banget deh sama Mama."
Aku lalu memeluk Amanda, "Mama juga kangen banget sama Manda, Manda seneng liburan di Jakarta?"
"Seneng dong kan ada Papa, Oma sama Opa, sayang ga ada Mama, kapan-kapan kita ke sana bareng ya, pasti Papa seneng banget bisa ketemu Mama."
Mendengar kata-kata Amanda hatiku begitu sakit, jika orang-orang di rumah ini tahu keadaanku yang sebenarnya. 'Apakah mereka akan menyayangiku? atau akan membenciku?' batinku dalam hati.
"Amanda biarkan mama istirahat dulu." kata Ayah menimpali. Amanda lalu kembali bermain bersama boneka-bonekanya, sedangkan aku berjalan ke kamar. Di dalam kamar hatiku sangat kacau, aku berulangkali menghubungi Randi, tapi ponselnya sangat sulit kuhubungi. Menjelang sore barulah dia menjawab panggilan dariku.
"Ran kamu kemana saja? Dari tadi aku menghubungimu?"
"Maaf Mila tadi aku lagi rapat sama klien, kamu kenapa kok panik gitu?"
"Kenapa Mila, sudah kangen ya? kita kan terakhir ketemu tadi pagi?" jawabnya sambil meledek.
"Ran aku lagi ga pengen becanda, kita harus ketemu, kamu besok harus udah disini pake penerbangan paling pagi!"
"Oke Mila aku usahakan sayang."
Aku lalu menutup teleponnya, hatiku dipenuhi kegundahan. Tak sabar rasanya menunggu esok hari. Keesokan harinya aku sudah menunggu Randi di depan rumahnya, namun di juga belum datang. Akhirnya aku masuk ke dalam rumahnya, dia memang telah memberiku kunci cadangan. Tak berapa lama aku menunggu akhirnya dia pun datang.
"Sudah lama sayang?"
"Ran aku ga mau basa-basi, disini aku cuma mau ngasih tahu kamu kalau aku hamil, kamu harus tanggung jawab Randi!"
Kulihat Randi diam, wajahnya dipenuhi kebimbangan "Aku tidak yakin itu anakku Mila, bukankah suami pertamamu juga tidak percaya Amanda adalah darah dagingnya, apalagi aku yang tidak memiliki ikatan pernikahan denganmu!" katanya padaku dengan nada mencibir dan tersenyum sinis.
__ADS_1
"Apa kamu bilang Ran? Seenaknya saja kamu berbicara seperti itu padaku? Bukankah kamu yang selama ini sudah merayuku hingga akhirnya aku terpedaya oleh mulut manismu, lalu apa arti hubungan kita selama ini jika kau tak percaya padaku Randi?"
"Maaf Mila sebenarnya aku sudah memiliki istri, dan aku tak mungkin bercerai dengannya, kamu gugurkan saja kandungan itu, setelah itu kita bisa bersenang-senang lagi seperti biasa." katanya sambil mencolek daguku.
Rasanya hatiku begitu perih, tak kupercaya Randi telah membohongiku dan bisa berkata seperti itu padaku, aku pikir dia tulus mencintaiku namun ternyata dia hanya ingin memperalatku untuk kesenangannya, 'Bodoh..bodoh..bodoh' batinku dalam hati.'
"Dasar kurang ajar kamu Randi!!!"
PLAKK...PLAKKKK
Aku menamparnya dan menumpahkan amarahku pada tubuhnya, namun dia hanya terdiam dan tersenyum sinis sambil memandangku, tatapannya seolah mengejek keadaanku. " Terimakasih Kamila, telah memberikan tubuhmu padaku, aku begitu menikmati kebersamaan kita, jika kamu sudah siap bersenang-senang lagi denganku, datanglah padaku kapan engkau mau."
Aku sudah tidak kuat lagi mendengar kata-katanya, dengan air mata yang berderai aku lalu pulang mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Ingin rasanya kutabrakkan mobil ini ke sebuah truk yang ada di depanku.
Tapi saat aku akan melakukannya terbayang wajah Amanda. Aku lantas beristighfar dan menepikan motorku. Benar kata Mba Rani jika Randi hanya mempermainkanku, kenapa aku terlalu bodoh percaya pada bujuk rayunya.
Sungguh aku begitu menyesal, tapi penyesalan selalu datang terlambat. Ada janin di dalam rahimku, aku harus menanggung semua ini, aku harus bertanggung jawab atas semua perbuatan bejadku. Aku menangis di tepi jalan cukup lama, sampai hati ini merasa agak tenang lalu aku pulang.
Aku langsung merebahkan tubuhku di atas tempat tidur, semalaman aku hanya bisa menangis sampai lelah dan tertidur, aku bangun dengan wajah yang begitu lengket kerena air mata yang mengering di wajahku.
Tiba-tiba aku merasa begitu mual. Aku lalu bergegas ke kamar mandi dan muntah-muntah. Amanda lalu menghampiriku "Mama kenapa? Mama sakit? Manda bikinkan teh ya."
"Ga perlu Manda, ini sudah siang kamu berangkat sekolah saja, nanti kamu terlambat."
"Ya udah Manda berangkat dulu ya Ma, Mama jaga kesehatan mama ya"
"Iya Manda" kataku sambil mengantar Amanda masuk ke dalam mobil Ayah. Tiba-tiba Mba Rani sudah ada datang dan berdiri di sampingku. Saat Ayah dan Amanda sudah pergi, tanpa basa-basi Mba Rani langsung menginterogasiku. "Bagaimana kamu sudah ketemu Randi? dia menolakmu kan?". Aku hanya bisa menangis mendengar kata-katanya.
"Mba ga perlu jawabanmu Mila, mba tahu lelaki macam apa itu Randi dia hanya memanfaatkanmu untuk bersenang-senang, kamu saja yang terlalu bodoh menyerahkan tubuhmu dan sekarang kamu hamil akibat kebodohanmu."
Aku hanya bisa menangis, tiba-tiba sebuah seuara mengagetkan kami. Ternyata Ibu telah berdiri tak jauh dari kami dan mendengar semua percakapan kami.
"Apa ha,,ha,,hamil? Kamila ka,,kamu hamil? Jadi tadi kamu muntah karena sedang hamil?" katanya terbata lalu jatuh pingsan.
__ADS_1
"Ibuuuuuuuu" aku dan Mba Rani panik melihat Ibu yang jatuh tak sadarkan diri.