Orang Tua Untuk Bayiku

Orang Tua Untuk Bayiku
Sebuah Pertanyaan


__ADS_3

Aku lalu membawa Ibu ke rumah sakit, dia langsung masuk ke dalam ruang ICU karena keadaannya yang semakin menurun dan detak jantungnya pun lemah. Ibu memang menderita penyakit jantung, sudah dua tahun terakhir ini keadaannya memburuk. Dokter yang menangani Ibu akhirnya keluar dari ruang ICU.


"Maaf, anda keluarga Ibu Angela?"


"Ya dok, saya Anton putranya."


"Begini Tuan Anton, kami telah memeriksa kembali keadaan Ibu Angela sepertinya dia tidak hanya menderita penyakit jantung, setelah melalui beberapa tes, kami mengambil kesimpulan jika ginjal Ibu Angela juga bermasalah."


"Jadi Ibu saya juga menderita penyakit ginjal dok?"


"Benar Tuan Anto, dan kondisi ginjalnya sudah sangat parah, kerusakan tersebut sudah mencapai 70%."


"Dok, bukankah penyakit ginjal masih memiliki kesempatan untuk sembuh jika ada pendonornya?"


"Benar Tuan, apakah anda sudah memiliki calon pendonor untuk Ibu Angela?"


"Ambil salah satu ginjal saya saja dok."


"Anda sudah siap dengan segala resikonya?"


"Siap dok."


"Baik, kami akan melakukan pemeriksaan."


Akhirnya aku melakukan pemeriksaan untuk mengetahui kecocokan ginjalku dengan Ibu. Namun sayang ginjalku tidak cocok dengannya, begitu pula dengan Caecar. Ditengah keputusasaan tiba-tiba Ibu bangun.


"Anton... Anton bawa Ibu ke Jogja Nak."


"Bu, kesehatan Ibu sangat tidak memungkinkan untuk kita pergi ke Jogja. Ibu sedang sakit, harus dirawat secara intensif, dan kualitas pelayanan kesehatan di sini jauh lebih lengkap dibandingkan dengan di Jogja.


"Tapi Ibu mau pulang Anton. Tolong kamu penuhi permintaan Ibu, waktu ibu sudah tidak banyak."


Aku menatap pada Ayah dan Caecar. Mereka lalu mendekat pada Ibu dan merayunya kembali. Namun tekad Ibu sudah bulat, Jogja adalah tanah kelahirannya, mungkin dia ingin menghabiskan sisa-sisa waktunya di kota tersebut. Setelah mendapat ijin dari dokter akhirnya kami memindahkan Ibu ke Jogja, dan kami terbang menggunakan jet pribadi yang telah kami sewa dengan membawa beberapa tenaga kesehatan.


Sesampainya di Jogja, aku terlebih dahulu mengantar Amanda pulang. Jantungku berdetak begitu kencang saat masuk ke dalam pekarangan rumah Kamila.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."

__ADS_1


"Eh Amanda sudah pulang, gimana liburannya di Jakarta sayang?"


"Manda cuma bisa jalan-jalan sebentar Nek, soalnya Oma masuk rumah sakit. Jadi Papa nemenin Oma terus di rumah sakit."


"Ibumu sakit apa Anton?"


"Komplikasi jantung dan ginjal Bu."


"Innalillahi, ya sudah nanti kalau Ayah sudah pulang kami akan jenguk Ibumu ke rumah sakit."


"Tidak usah Bu, Anton tidak mau merepotkan Ibu dan Ayah."


"Jangan bicara seperti itu Anton, kita adalah keluarga. Yuk masuk dulu, Kamila sedang tidak ada di rumah. Dia pergi ke Jambi menjenguk temannya yang sakit."


DEGGGGG


Perasaanku semakin berkecamuk, pikiran buruk pun menari dalam benakku. 'Bukankah Kamila tidak memiliki teman yang berasal dari Jambi? Bukankah Randi juga berasal dari Jambi?' Apakah Kamila kembali lagi pada Randi?' batinku dalam hati.


"Tidak usah Bu, Anton sedang banyak urusan, beberapa pekerjaan banyak yang tertunda saat Anton pergi ke Jakarta."


"Ya sudah kalau begitu, kamu hati-hati di jalan ya Nak"


Dalam perjalanan pulang hatiku begitu kacau memikirkan Kamila. 'Apakah Kamila kembali pada Randi?' pertanyaan itu selalu berputar-putar di kepalaku.


"Astaghfirullah Anton, ikhlas." kataku.


"Permisi Pak Anton, apa ada yang bisa saya bantu?" suara seorang wanita membuyarkan lamunanku. Ternyata dia adalah Sandra, sekretarisku.


"Oh tidak Sandra, saya baik-baik saja."


Namun tiba-tiba Sandra mendekat padaku, dan duduk di depanku. "Pak Anton, jangan sungkan pada saya. Saya bisa jadi teman curhat yang baik untuk Bapak."


"Tidak Sandra, terimakasih, sebaiknya kamu kembali bekerja saja."


"Ya sudah tapi kalau ada apa-apa, Sandra selalu siap bantu Bapak."


Aku hanya mengangguk. Selama menjadi sekretarisku dua tahun terkahir ini, Sandra memang begitu baik dan selalu memberikan perhatian lebih padaku. Mungkin benar rumor yang beredar di kantor ini jika Sandra menyukaiku, tapi aku tak mau memberikan sedikit harapan padanya.


Waktu berganti, keadaan Ibu sekarang jauh lebih baik dan diperbolehkan pulang ke rumah, setelah hampir satu bulan menjalani perawatan di rumah sakit. Sebenarnya aku ingin meluangkan waktu untuk bermain bersama Amanda, karena sejak Ibu di rumah sakit, aku begitu sibuk mengurus Ibu disela pekerjaanku yang begitu padat. Namun saat aku akan meminta ijin ke Mba Ranj. tiba-tiba dia memberiku kabar jika Ibunya meninggal.

__ADS_1


Aku bergegas pergi ke rumah mereka, aku tak peduli jika Kamila akan marah melihat keberadaanku. Sesampainya di rumah mereka, aku melihat Kamila menangis di depan jenazah Ibunya, aku tak berani mendekat dan hanya berkumpul dengan Mas Ardi dan Mas Raka, kakak ipar Kamila.


Mas Ardi pun membuka pembicaraan denganku.


"Anton, apa kamu tidak ingin memulai hubunganmu lagi dengan Kamila?"


"Kamila yang tak pernah bisa menerimaku Mas."


"Coba kamu mulai mendekat padanya dan terimalah dia apa adanya dengan kodisi dia saat ini, jika kamu benar-benar mencintainya dan mau menerima keadaan Kamila saat ini, kamu berpeluang besar untuk mendapatkan Kamila kembali."


"Apa maksud Mas Ardi?"


"Bukankan kau masih mencintainya Anton?" sahut Mas Raka, suami Mba Tari.


"Tentu aku sangat mencintai Kamila, aku mau menerima Kamila apapun keadaannya Mas, apa sebenarnya maksud kalian?"


"Maaf Anton, kami tidak bisa menceritakan kondisi Kamila saat ini, lebih baik kamu yang menanyakan langsung pada Kamila." kata Ardi.


Mas Raka kemudian menepuk bahuku. "Kembalilah pada Kamila Anton, Mas yakin Kamila adalah jodohmu dan akan kembali padamu, bukalah kembali komunikasi dengannya."


Aku hanya mengangguk dan diam mendengar kata-kata mereka, berbagai tanda tanya memenuhi benakku. Beberapa bulan yang lalu aku mendengar jika Kamila tengah dekat dengan seseorang, bahkan Ibu Kamila pun bercerita jika Kamila pergi ke Jambi, lalu mengapa tiba-tiba Mas Raka dan Mas Ardi begitu yakin Kamila akan kembali padaku.


Satu minggu setelah Ibu Kamila meninggal, aku merasa begitu penasaran dengan yang dialami Kamila, aku lalu mendatangi rumahnya. Saat itu kulihat dia tengah duduk di halaman rumah dan tertawa penuh canda dengan Amanda. Melihatnya hatiku bagai teriris. 'Jika saja aku tak begitu bodoh dan terbawa emosi saat itu, aku pasti masih bisa hidup bahagia bersama mereka' batinku dalam hati. Akhirnya kuurungkan niatku untuk menemui Kamila, dan kembali pada tekad awalku untuk berusaha melupakannya.


Bulan berikutnya ternyata kondisi Ibu memburuk, namun dia tidak mau dirawat di rumah sakit. Akhirnya dia mendapatkan perawatan di rumah dengan didampingi oleh seorang perawat dan dokter yang datang setiap harinya.


"Anton tolong bawa Kamila ke sini. Ibu ingin bertemu dengannya." katanya suatu hari padaku.


Sebenarnya permintaan Ibu begitu berat, tapi aku mencoba untuk mengabulkannya. Saat itu juga aku pergi ke rumah Kamila. Namun ternyata Kamila sedang tidak berada di rumah, bahkan Mba Rani bilang jika dia sedang berada di Madiun. Aku semakin bertanya-tanya sebenarnya apa yang sedang terjadi pada Kamila, bahkan Amanda bercerita jika Kamila pergi begitu saja meninggalkan rumah ini.


"Nak Anton, lebih baik kamu menginap di rumah ini, Amanda membutuhkanmu, dia begitu kesepian karena Kamlila tidak berada di rumah."


"Baik yah, sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan Kamila?"


"Dia baik-baik saja Nak Anton, dia pasti akan kembali menunggu saat yang tepat. Ini semua demi kebaikan Kamila, dan saat dia kembali jika kamu mau menerima keadaan Kamila apa adanya kamu pasti bisa memperbaiki pernikahan kalian Nak."


Hatiku makin bertanya-tanya mengapa semua orang di keluarga ini berkata hal yang sama padaku. Kupandangi foto Kamila yang ada di Kamar ini. 'Apa yang sebenarnya terjadi padamu sayang?'


"Papa, ayo tidur jangan liatin foto Mama terus, besok-besok juga Mama pulang."

__ADS_1


__ADS_2